بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

Sebaliknya, mengabdilah kepada Allah dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْbali llaaha fa-'budsebaliknya, mengabdilah kepada Allah
  2. وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَwa-kun mina sy-syaakiriinadan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. بَلِbalibahkan
  2. اللَّهَllaahaAllah
  3. فَاعْبُدْfa-'budmaka mengabdilah
  4. وَكُنْwa-kundan jadilah
  5. مِنَminadari
  6. الشَّاكِرِينَsy-syaakiriinaorang-orang yang bersyukur

Inti bacaan

Rangkaian (وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ, wa-kun mina sy-syaakiriina) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 7:144 dan 39:66, dan keduanya berbentuk perintah.

Penjelasan pilihan kata

Kata (بَلِ, bali) yang berarti "sebaliknya" membuka ayat ini dan membalik arah kalimat dari 39:64 dan 39:65. Bentuk (بَلِ اللَّهُ, bali llaahu) yang berarti "sebaliknya Allah" muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 3:150, 4:49, dan 49:17. Di ketiganya Allah menjadi pokok kalimat sesudah ayat yang menyebut pilihan atau klaim lain, yaitu menaati orang-orang yang kufur di 3:149, orang-orang yang menyucikan diri sendiri, (الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ, lladziina yuzakkuuna anfusahum), di 4:49, dan mereka yang merasa berjasa, (يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا, yamunnuuna 'alayka an aslamuu) yang berarti "mereka merasa berjasa kepadamu karena telah berserah", di 49:17. Di 39:66 bentuknya (بَلِ اللَّهَ, bali llaaha), dan morfologi menandai Allah di sini sebagai objek kata kerja sesudahnya.

Kata (اللَّهَ, llaaha) berada sebelum kata kerja (فَاعْبُدْ, fa-'bud) yang berarti "maka mengabdilah". Penaruhan objek di depan itu sama dengan 39:64, (أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ, a-fa-ghayra llaahi ta'muruunnii a'budu) yang berarti "maka, apakah selain Allah yang kalian perintahkan aku untuk mengabdi kepadanya", sehingga 39:66 terbaca sebagai jawaban dengan susunan yang sama dan nama yang berbeda. Di surah yang sama, 39:14 juga menaruh Allah di depan, (قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ, quli llaaha a'budu), sedangkan 39:2 dan 39:11 menaruhnya di belakang kata kerja, yaitu (فَاعْبُدِ اللَّهَ, fa-'budi llaaha) dan (أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ, an a'buda llaaha).

Kata kerja perintah fa-'bud berakar ع-ب-د, dan terjemahan memakai "mengabdilah" untuk semua perintah dari akar ini, dengan objek didahului "kepada". Bentuk fa-'bud muncul di 11:123, 19:65, 20:14, dan 39:66. Tiga ayat pertama menempelkan objek sebagai akhiran, misalnya (فَاعْبُدْنِي, fa-'budnii) yang berarti "maka mengabdilah kepada-Ku" di 20:14, sedangkan di 39:66 kata kerjanya berdiri tanpa akhiran karena objeknya sudah tertulis sebagai kata terpisah di depan. Awalan fa dibaca "maka" dalam padanan kata per kata. Terjemahan ayat menaruh "sebaliknya" untuk bal dan tidak menulis "maka" lagi, supaya kalimat perintahnya tidak memuat dua kata sambung yang bertumpuk. Perintah dari akar yang sama dipakai juga di 39:15, (فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ, fa-'buduu maa syi'tum min duunihi) yang berarti "maka mengabdilah kepada apa yang kalian kehendaki selain Dia", jadi kata perintahnya sendiri belum menentukan kepada siapa pengabdian itu, sedangkan objeknya yang menentukan.

Rangkaian (وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ, wa-kun mina sy-syaakiriina) yang berarti "dan jadilah termasuk orang-orang yang bersyukur" muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 7:144 dan 39:66. Awalan (وَكُنْ مِنَ, wa-kun mina) muncul tiga kali, yaitu di 7:144, 15:98, dan 39:66, dan di 15:98 golongan yang disebut berbeda, (وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ, wa-kun mina s-saajidiina) yang berarti "dan jadilah termasuk orang-orang yang tunduk". Kata (مِنَ الشَّاكِرِينَ, mina sy-syaakiriina) muncul lima kali di empat surah, yaitu 6:63, 7:144, 7:189, 10:22, dan 39:66, dengan surah 7 memuatnya dua kali. Di 6:63, 7:189, dan 10:22 kata itu ada dalam janji manusia yang bersyarat, (لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ, la-nakuunanna mina sy-syaakiriina) yang berarti "niscaya kami termasuk orang-orang yang bersyukur", didahului (لَئِنْ أَنْجَانَا مِنْ هَٰذِهِ, la-in anjaanaa min haadzihi) di 6:63. Di 7:144 dan 39:66 rangkaian itu hadir sebagai perintah, dan syaratnya tidak ada.

Kata (الشَّاكِرِينَ, sy-syaakiriina) berakar ش-ك-ر dan berbentuk pelaku jamak. Di ayat ini kata itu tidak disusul objek, sehingga apa atau siapa yang disyukuri tidak tertulis. Akar yang sama muncul sebagai kata kerja di 39:7, (وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ, wa-in tasykuruu yardhahu lakum) yang berarti "dan jika kalian bersyukur, Dia meridainya bagi kalian". Di dalam surah ini akar ش-ك-ر hanya ada di dua ayat itu, yaitu 39:7 dan 39:66.

Tafsiran

Ayat ini mengubah arah dari peringatan menjadi perintah. Terjemahan membacanya sebagai penutup kutipan wahyu yang dibuka di 39:65, dan teks Arab tidak memuat tanda kutip, jadi batas kutipan itu pembacaan. Di 39:64 ada tawaran untuk mengabdi kepada selain Allah, di 39:65 ada akibat yang menimpa bila persekutuan terjadi, dan di sini ada arah yang diperintahkan. Ketiga ayat itu membentuk satu lingkaran kecil, yaitu tawaran, peringatan, lalu perintah.

Urutan yang sama terdapat di 3:149 sampai 3:150. Ayat 3:149 menyebut akibat menaati orang-orang yang kufur dengan (فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ, fa-tanqalibuu khaasiriina) yang berarti "lalu kalian berbalik menjadi orang-orang yang merugi", dan 3:150 menjawab dengan (بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ, bali llaahu mawlaakum) yang berarti "sebaliknya Allah pelindung kalian". Dalam kedua rangkaian, kata rugi disusul langsung oleh kata sebaliknya dan nama Allah. Perbedaannya, di 3:150 Allah menjadi pokok kalimat, sedangkan di 39:66 Allah menjadi objek perintah.

Kata kerja kaana bentuk "engkau" muncul di dua ayat berurutan, yaitu (وَلَتَكُونَنَّ, wa-la-takuunanna) di 39:65 dan (كُنْ, kun) di 39:66, dan keduanya disusul mina dan sebuah kata pelaku jamak. Yang pertama menyebut kemungkinan menjadi bagian dari orang-orang yang rugi bila persekutuan terjadi, yang kedua memerintahkan menjadi bagian dari orang-orang yang bersyukur. Dua keanggotaan itu ditaruh berdampingan dengan status berbeda, yaitu yang pertama bersyarat dan yang kedua tidak bersyarat.

Perintah bersyukur di ayat ini juga berbeda dari tiga ayat lain yang menyebut kata yang sama. Di 6:63, 7:189, dan 10:22 bersyukur adalah janji yang diucapkan manusia dengan syarat diselamatkan atau diberi anak yang saleh. Di 39:66 tidak ada pemberian yang mendahului dan tidak ada janji yang menyusul, dan 39:67 langsung beralih ke orang ketiga.

Renungan dan Hikmah

  • Kata sebaliknya di 39:66 muncul sesudah tawaran di 39:64 dan peringatan di 39:65, dan di 3:150, 4:49, serta 49:17 kata yang sama menaruh Allah sebagai pokok sesudah sesuatu yang dikatakan pihak lain. Jawaban di ayat ini berupa pembalikan arah yang pendek, tanpa membantah tawaran itu satu per satu. Pembaca yang pernah ditawari jalan lain oleh orang-orang di sekitarnya dapat memperhatikan bentuk jawabannya sendiri, apakah terdengar seperti bantahan yang panjang atau seperti perubahan arah yang tenang. Ketika seseorang ditawari jalan lain, jawaban mana yang lebih jelas menunjukkan siapa yang diikuti, bantahan yang rinci atau arah yang dipilih?
  • Di 39:64 selain Allah ditaruh di depan kata kerja sebagai hal yang ditawarkan kepada pihak yang diajak bicara, dan di 39:66 nama Allah ditaruh di depan kata kerja yang sama akarnya. Urutan kalimatnya sama dan yang berganti adalah nama yang disebut pertama. Pembaca dapat memeriksa kalimat-kalimatnya sendiri ketika menjawab tawaran, apa yang disebut lebih dulu dan apa yang ditaruh di belakang. Urutan itu kecil, tetapi memperlihatkan nama mana yang diletakkan paling depan. Apa yang biasanya disebut pertama kali ketika seseorang ditanya kepada siapa pengabdiannya diarahkan?
  • Di 6:63 orang-orang yang berseru di kegelapan darat dan laut berjanji termasuk orang-orang yang bersyukur bila diselamatkan, di 7:189 dua orang yang memohon kepada Allah, Tuhan mereka, berjanji bila diberi anak yang saleh, dan di 10:22 orang-orang yang berdoa kepada Allah dengan memurnikan pertanggungjawaban berjanji bila diselamatkan. Di 39:66 bersyukur datang sebagai perintah tanpa janji dan tanpa pemberian yang disebut lebih dulu. Pembaca dapat menimbang kapan terima kasihnya biasa muncul, setelah sebuah pertolongan datang atau sebelum apa pun datang. Tanpa syarat, perintah di ayat ini terbaca tidak menunggu keadaan tertentu. Ketika syukur tidak lagi menunggu sebab, apa yang tersisa untuk disyukuri?
  • Kata orang-orang yang bersyukur di ayat ini tidak disusul objek, sehingga ayat tidak menyebut kepada siapa atau atas apa syukur itu ditujukan. Di 39:7, dalam surah yang sama, tertulis bahwa bila kalian bersyukur, Dia meridainya bagi kalian, dan ayat itu menjadi tempat lain di surah ini yang memuat akar syukur. Pembaca dapat membaca keduanya berdampingan tanpa mengisi bagian yang kosong dengan dugaan sendiri. Syukur yang diridai disebut di 39:7, sedangkan 39:66 hanya memerintahkan menjadi bagian dari mereka. Apa yang terjadi pada syukur seseorang ketika tidak ada daftar alasan yang menyertainya?
  • Perintah dari akar pengabdian muncul di 39:15 dalam bentuk jamak dengan objek apa saja yang dikehendaki pihak yang diajak bicara selain Dia, dan di 39:66 dalam bentuk tunggal dengan Allah sebagai objeknya. Kata perintahnya sama, sehingga kata itu sendiri tidak menunjukkan kepada siapa pengabdian itu mengarah. Objek yang menentukan arahnya. Pembaca yang menerima banyak perintah dalam hidupnya, dari atasan, dari kebiasaan, atau dari suara dalam dirinya, dapat memeriksa objek mana yang menentukan arah setiap perintah itu tanpa pernah ditanyakan, lalu menimbang apakah perintah itu menyebut nama atau hanya kata kerjanya. Perintah mana dalam hari seseorang yang objeknya paling jarang ditanyakan?
  • Ayat 39:65 menyebut kemungkinan menjadi bagian dari orang-orang yang rugi, dan 39:66 memerintahkan menjadi bagian dari orang-orang yang bersyukur, dengan kata kerja dan susunan yang sama. Dua kelompok itu berdiri berdampingan dan dapat dibaca sebagai dua hasil dari dua arah pengabdian, yang pertama bila diarahkan ke persekutuan dan yang kedua bila diarahkan kepada Allah. Pembaca dapat melihat bahwa ayat menaruh dua keanggotaan sekaligus di depannya. Bila seseorang menyebut dirinya tidak berada di salah satu kelompok itu, di mana pengabdiannya hari ini akan ditaruh?