وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya. Padahal, bumi seluruhnya genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia, dan Dia jauh lebih tinggi daripada apa yang mereka persekutukan.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِwa-maa qadaruu llaaha haqqa qadrihimereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya
- وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِwa-l-ardhu jamii'an qabdhatuhu yawma l-qiyaamatipadahal, bumi seluruhnya genggaman-Nya pada hari kiamat
- وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِwa-s-samaawaatu mathwiyyaatun bi-yamiinihidan langit digulung dengan tangan kanan-Nya
- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَsubhaanahu wa-ta'aalaa 'ammaa yusyrikuunaMahasuci Dia, dan Dia jauh lebih tinggi daripada apa yang mereka persekutukan
Terjemahan per kata (17 kata)
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- قَدَرُواqadaruumereka mengagungkan
- اللَّهَllaahaAllah
- حَقَّhaqqabenar
- قَدْرِهِqadrihikadar-Nya
- وَالْأَرْضُwa-l-ardhudan bumi
- جَمِيعًاjamii'ansemuanya
- قَبْضَتُهُqabdhatuhugenggaman-Nya
- يَوْمَyawmahari
- الْقِيَامَةِl-qiyaamatiKiamat
- وَالسَّمَاوَاتُwa-s-samaawaatudan langit
- مَطْوِيَّاتٌmathwiyyaatunyang tergulung
- بِيَمِينِهِbi-yamiinihidengan tangan kanan-Nya
- سُبْحَانَهُsubhaanahuMahasuci Dia
- وَتَعَالَىٰwa-ta'aalaadan Mahatinggi
- عَمَّا'ammaadari apa yang
- يُشْرِكُونَyusyrikuunamenyekutukan
Inti bacaan
Bunyi (مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ, maa qadaruu llaaha haqqa qadrihi) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:91, 22:74, dan 39:67, dengan kalimat sesudahnya yang berbeda pada tiap ayat.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ, wa-maa qadaruu llaaha haqqa qadrihi) yang berarti "dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya" muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:91 dan 39:67. Tanpa awalan wa, bunyi (مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ, maa qadaruu llaaha haqqa qadrihi) muncul tiga kali, yaitu di 6:91, 22:74, dan 39:67. Kata kerja (قَدَرُوا, qadaruu) berakar ق-د-ر, akar yang menyebut ukuran di (بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ, bi-qadarin ma'luumin) yang berarti "dengan ukuran tertentu" di 15:21 dan di (خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ, khalaqnaahu bi-qadarin) yang berarti "Kami menciptakannya dengan ukuran" di 54:49. Dengan Allah sebagai objeknya, kata kerja itu menyebut memberi ukuran kepada Allah, dan (حَقَّ قَدْرِهِ, haqqa qadrihi) menyebut ukuran-Nya yang sebenarnya. Terjemahan "mengagungkan ... sebagaimana mestinya" menyampaikan hal itu dengan kata yang lazim, yaitu ukuran yang diberikan kepada Allah dibandingkan dengan ukuran-Nya yang sebenarnya. Konteks ketiga ayat berbeda. Di 6:91 kalimat itu diikuti keterangan waktu, yaitu ketika mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan apa pun kepada manusia. Di 22:74 kalimat itu menyusul perumpamaan tentang yang diseru selain Allah dan seekor lalat di 22:73, lalu disusul pernyataan bahwa Allah kuat lagi digdaya. Di 39:67 kalimat itu diikuti gambaran bumi dan langit.
Kata (وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, wa-l-ardhu jamii'an qabdhatuhu yawma l-qiyaamati) yang berarti "padahal bumi seluruhnya genggaman-Nya pada hari kiamat" dibuka dengan wa yang oleh morfologi ditandai sebagai wa keadaan, sehingga terjemahan memakai "padahal". Kata (قَبْضَتُهُ, qabdhatuhu) yang berarti "genggaman-Nya" muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 39:67. Kata bendanya dalam bentuk lain, (قَبْضَةً, qabdhatan) yang berarti "segenggam", muncul di 20:96 untuk segenggam yang diambil dari jejak sang rasul. Kata kerja dari akar ق-ب-ض memiliki Allah sebagai pelaku di 2:245, (وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ, wa-llaahu yaqbidhu wa-yabsuthu) yang berarti "dan Allah menyempitkan dan melapangkan", dan memiliki Kami sebagai pelaku di 25:46, (ثُمَّ قَبَضْنَاهُ إِلَيْنَا, tsumma qabadhnaahu ilaynaa) yang berarti "kemudian Kami menariknya kepada Kami".
Kata (مَطْوِيَّاتٌ, mathwiyyaatun) yang berarti "tergulung" berakar ط-و-ي dan menyebut benda yang digulung. Kata ini muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 39:67. Akar yang sama menjadi kata kerja dengan Kami sebagai pelaku di 21:104, (يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ, yawma nathwii s-samaa'a) yang berarti "pada hari Kami menggulung langit". Di 39:67 pelaku penggulungan tidak ditulis, dan yang ditulis adalah alatnya, (بِيَمِينِهِ, bi-yamiinihi) yang berarti "dengan tangan kanan-Nya". Bentuk ini muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 17:71, 39:67, 69:19, dan 84:7. Tiga ayat lainnya memuat (أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ, uutiya kitaabahu bi-yamiinihi) yang berarti "diberi kitabnya dengan tangan kanannya", sehingga akhiran -hi menunjuk seseorang yang menerima kitab, dan hanya di 39:67 akhiran itu menunjuk Allah. Terjemahan menulis "tangan kanan-Nya" apa adanya, tanpa tafsir tambahan.
Kalimat penutup (سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ, subhaanahu wa-ta'aalaa 'ammaa yusyrikuuna) yang berarti "Mahasuci Dia, dan Dia jauh lebih tinggi daripada apa yang mereka persekutukan" muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 10:18, 16:1, 30:40, dan 39:67. Ketiga konteks lainnya berbeda. Ayat 10:18 menyebut yang disembah selain Allah yang tidak memberi mudarat dan manfaat, 16:1 menyebut ketetapan Allah yang telah datang, dan 30:40 menyebut penciptaan, rezeki, kematian, dan penghidupan yang dilakukan Allah. Sambungan (تَعَالَىٰ عَمَّا, ta'aalaa 'ammaa) muncul sembilan kali di delapan surah, yaitu 6:100, 10:18, 16:1, 16:3, 17:43, 23:92, 28:68, 30:40, dan 39:67, dengan surah 16 memuatnya dua kali. Kata (يُشْرِكُونَ, yusyrikuuna) berakar ش-ر-ك, akar yang sama dengan (أَشْرَكْتَ, asyrakta) di 39:65. Di surah ini kata kerja dari akar itu muncul dua kali, yaitu di 39:65 dan 39:67.
Tafsiran
Ayat ini beralih dari "engkau" di 39:65 dan 39:66 ke "mereka" tanpa menyebut siapa mereka. Pihak terdekat yang diberi nama sebelum ayat ini adalah orang-orang yang kufur kepada tanda-tanda Allah di 39:63 dan orang-orang yang memerintah di 39:64, tetapi ayat ini tidak menunjuk salah satunya. Pembacaan bahwa "mereka" adalah pihak yang sama dengan itu mungkin, dan tidak dinyatakan oleh teks.
Susunan ayat terdiri dari tiga langkah. Langkah pertama adalah kalimat tentang kekurangan, yaitu ukuran yang diberikan kepada Allah tidak sesuai dengan ukuran-Nya. Langkah kedua adalah gambaran skala, yaitu bumi seluruhnya dalam genggaman dan langit tergulung. Langkah ketiga adalah penutup yang menyucikan Allah dari apa yang dipersekutukan. Ketiganya membuat kekurangan itu diukur dengan skala yang tertulis di dalam ayat sendiri, sehingga kata "sebagaimana mestinya" diberi isi dengan gambaran, tidak dibiarkan menjadi tuntutan yang kosong.
Keterangan waktu "pada hari kiamat" menyusul bagian kalimat tentang bumi, dan ayat tidak menyatakan apakah keterangan itu juga berlaku untuk bagian tentang langit sesudahnya. Ayat 21:104 menaruh penggulungan langit pada sebuah hari, yaitu (يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ, yawma nathwii s-samaa'a), tanpa menyebut kiamat, sehingga kaitan waktu antara dua bagian kalimat di 39:67 dapat dibaca sebagai satu hari yang sama dan tetap merupakan pembacaan.
Kata akar syirik membingkai bagian ini. Ayat 39:65 membuka dengan syarat bahwa engkau menyekutukan, dan ayat 39:67 menutup dengan apa yang mereka persekutukan. Di antara keduanya ada perintah mengabdi kepada Allah di 39:66. Ayat 39:68 kemudian menuturkan peristiwa pada hari itu secara berurutan, sehingga 39:67 berfungsi sebagai gambaran skala sebelum urutan kejadian dimulai.
Renungan dan Hikmah
- Kalimat bahwa mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya menilai pihak yang dibicarakan dari ukuran yang mereka berikan kepada Allah. Ayat 22:74 mengulang kalimat itu sesudah perumpamaan tentang yang diseru selain Allah dan seekor lalat, lalu menyatakan bahwa Allah kuat lagi digdaya. Pembaca dapat bertanya ukuran apa yang sebenarnya diberikan kepada Allah ketika sebuah keputusan penting diambil, dan memeriksa apakah ukuran itu sepadan dengan bumi dalam genggaman. Seberapa besar sesuatu tampak di hadapannya ketika dua ukuran itu ditaruh berdampingan?
- Kalimat tentang ukuran itu ditaruh Al-Qur'an di tiga keadaan berbeda, yaitu bersama ucapan bahwa Allah tidak menurunkan apa pun kepada manusia di 6:91, sesudah perumpamaan lalat di 22:74, dan sesudah peringatan tentang persekutuan di 39:67. Tiga keadaan itu berlainan, sehingga kalimatnya tidak terkunci pada satu perbuatan saja. Pembaca yang hendak memeriksa dirinya dapat menaruh tiga keadaan itu berdampingan dan melihat mana yang paling dekat dengan hari-harinya. Di antara tiga keadaan itu, mana yang paling mudah terlewat dari pemeriksaan?
- Kata genggaman di 39:67 berasal dari akar yang di 20:96 menyebut segenggam yang diambil seseorang dari jejak sang rasul, yaitu isi satu telapak tangan manusia. Di ayat ini kata yang berukuran telapak tangan itu dipakai untuk seluruh bumi yang dipegang oleh Dia. Perbandingan dua ayat itu membuat pembaca mengukur sendiri jarak antara dua genggaman, dan jarak itu yang menjadi bahan kalimat tentang ukuran. Tanah yang dipijaknya setiap hari, yang tampak begitu luas dan tetap, dalam gambaran ayat ini berada dalam satu genggaman. Apa yang berubah pada pandangan seseorang terhadap tanah yang dipijaknya bila gambaran itu teringat?
- Ayat 21:104 menyamakan penggulungan langit oleh Kami dengan gulungan lembaran catatan, dan 39:67 menaruh penggulungan itu di tangan kanan-Nya tanpa menulis pelakunya. Benda yang paling lapang dalam pandangan manusia, yaitu langit, digambarkan sebagai lembaran yang dilipat dengan satu tangan. Pembaca yang sering menganggap sesuatu terlalu besar untuk berubah dapat menghitung berapa banyak hal yang diperlakukannya seperti langit, luas dan seolah tak terlipat, padahal tertulis dalam ayat ini sebagai gulungan. Apa dalam hidupnya yang dianggap terlalu besar untuk digulung?
- Ayat 30:40 menutup dengan kalimat yang sama sesudah daftar pekerjaan Allah, yaitu menciptakan, memberi rezeki, mematikan, dan menghidupkan, lalu bertanya apakah ada sekutu yang mengerjakan salah satunya. Di 39:67 daftar itu diganti gambaran bumi dalam genggaman dan langit tergulung. Pembaca bertemu penyucian yang sama lewat dua jalan, yang satu menimbang pekerjaan dan yang lain menimbang skala. Kalau seseorang mau menyerahkan kepada sekutu bagian dari daftar di 30:40, bagian mana yang dipilih, dan apakah pilihan itu masih bertahan ketika ditaruh di samping gambaran dalam ayat ini?
- Ayat ini memakai kata mereka tanpa memberi alamat, sehingga kekurangan ukuran itu tidak melekat pada kelompok bernama. Karena nama tidak tertulis, pembaca dapat membaca kalimat itu sebagai sesuatu yang berlaku bagi siapa saja yang memberi Allah ukuran yang kurang, termasuk dirinya sendiri bila ukurannya ternyata kurang. Pembacaan itu hanya pembacaan, dan teks tidak menegaskannya, tetapi kata ganti tanpa alamat membuka kemungkinan itu. Ketika sebuah kalimat tentang orang lain tidak menyebut nama, siapa yang diperiksa lebih dulu, orang yang jauh atau dirinya sendiri?