وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

Dan sangkakala ditiup, maka, matilah siapa yang di langit dan siapa yang di bumi, kecuali yang Allah kehendaki; kemudian, ia ditiup sekali lagi, maka, seketika itu mereka berdiri memandang.

Terjemahan bertahap (5 jeda)

  1. وَنُفِخَ فِي الصُّورِwa-nufikha fii sh-shuuridan sangkakala ditiup
  2. فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِfa-sha'iqa man fii s-samaawaati wa-man fii l-ardhimaka, matilah siapa yang di langit dan siapa yang di bumi
  3. إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُillaa man syaa'a llaahukecuali yang Allah kehendaki
  4. ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰtsumma nufikha fiihi ukhraakemudian, ia ditiup sekali lagi
  5. فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَfa-idzaa hum qiyaamun yanzhuruunamaka, seketika itu mereka berdiri memandang

Terjemahan per kata (22 kata)

  1. وَنُفِخَwa-nufikhadan ditiup
  2. فِيfiipada
  3. الصُّورِsh-shuurisangkakala
  4. فَصَعِقَfa-sha'iqamaka pingsanlah
  5. مَنْmanorang yang
  6. فِيfiidi
  7. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  8. وَمَنْwa-mandan orang yang
  9. فِيfiidi
  10. الْأَرْضِl-ardhibumi
  11. إِلَّاillaakecuali
  12. مَنْmanorang yang
  13. شَاءَsyaa'amenghendaki
  14. اللَّهُllaahuAllah
  15. ثُمَّtsummakemudian
  16. نُفِخَnufikhaditiup
  17. فِيهِfiihidi dalamnya
  18. أُخْرَىٰukhraayang lain
  19. فَإِذَاfa-idzaamaka seketika itu
  20. هُمْhummereka
  21. قِيَامٌqiyaamunberdiri
  22. يَنْظُرُونَyanzhuruunamemandang

Inti bacaan

Pembuka (فَإِذَا هُمْ, fa-idzaa hum) dihitung 10 kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:44, 7:201, 27:45, 36:29, 36:37, 36:51, 36:53, 37:19, 39:68, dan 79:14, dengan 39:68 diikuti (قِيَامٌ, qiyaamun) yang tidak ditemukan di sembilan lainnya.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (وَنُفِخَ فِي الصُّورِ, wa-nufikha fii sh-shuuri) yang berarti "dan sangkakala ditiup" muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 18:99, 36:51, 39:68, dan 50:20. Tanpa awalan wa, bunyi nufikha fii sh-shuuri muncul enam kali, yaitu di 18:99, 23:101, 36:51, 39:68, 50:20, dan 69:13. Kata (الصُّورِ, sh-shuuri) yang berarti "sangkakala" berakar ص-و-ر dan ada di sepuluh ayat, yaitu 6:73, 18:99, 20:102, 23:101, 27:87, 36:51, 39:68, 50:20, 69:13, dan 78:18. Di kesepuluhnya kata kerja tiupnya berbentuk pasif, sehingga peniupnya tidak tertulis di satu pun. Akar ن-ف-خ menuliskan pelakunya ketika yang ditiup adalah roh, misalnya (وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي, wa-nafakhtu fiihi min ruuhii) yang berarti "dan Aku tiupkan padanya dari roh-Ku" di 15:29.

Bagian (ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ, tsumma nufikha fiihi ukhraa) yang berarti "kemudian ditiup di dalamnya sekali lagi" hanya ada di 39:68. Akhiran -hi pada (فِيهِ, fiihi) menunjuk sangkakala, dan kata (أُخْرَىٰ, ukhraa) yang berarti "yang lain" tidak disusul kata benda, sehingga yang ditiup tertulis sebagai "sekali lagi" saja. Kata benda untuk satu tiupan, (نَفْخَةٌ وَاحِدَةٌ, nafkhatun waahidatun) yang berarti "sekali tiupan", muncul di 69:13. Ayat itu dan 39:68 punya rumusan sendiri-sendiri dan teks tidak menyamakan keduanya.

Kata kerja (فَصَعِقَ, fa-sha'iqa) yang berarti "maka matilah" berakar ص-ع-ق. Akar ini ada di sepuluh ayat, yaitu 2:19, 2:55, 4:153, 7:143, 13:13, 39:68, 41:13, 41:17, 51:44, dan 52:45. Sebagai kata kerja akar ini hanya muncul di 39:68 dan di 52:45, yang berbentuk (يُصْعَقُونَ, yush'aquuna). Di ayat lain akar itu berupa kata benda (الصَّاعِقَةُ, sh-shaa'iqatu) atau (وَيُرْسِلُ الصَّوَاعِقَ, wa-yursilu sh-shawaa'iqa). Akibat dari sambaran itu tidak satu rupa. Di 7:143 tertulis (وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا, wa-kharra muusaa sha'iqan) yang berarti "dan Musa jatuh pingsan", lalu (فَلَمَّا أَفَاقَ, fa-lammaa afaaqa) yang berarti "maka ketika ia sadar". Di 2:55 sambaran (فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ, fa-akhadzatkumu sh-shaa'iqatu) disusul di 2:56 oleh (ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ, tsumma ba'atsnaakum min ba'di mawtikum) yang berarti "kemudian Kami membangkitkan kalian setelah kematian kalian". Terjemahan 39:68 memakai "matilah" karena urutan di 2:55 sampai 2:56, yaitu sambaran, kematian, lalu dibangkitkan, sejajar dengan urutan tiupan pertama, tiupan kedua, lalu berdiri. Ayat 39:68 sendiri tidak memakai kata mati maupun kata sadar, jadi pilihan itu bersandar pada ayat lain dan tidak pada 39:68.

Rangkaian (مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ, man fii s-samaawaati wa-man fii l-ardhi) yang berarti "siapa yang di langit dan siapa yang di bumi" muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 10:66, 22:18, 27:87, dan 39:68. Pengecualian (إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ, illaa man syaa'a llaahu) yang berarti "kecuali yang Allah kehendaki" muncul dua kali, yaitu di 27:87 dan 39:68. Ayat 27:87 menuliskan rangkaian dan pengecualian itu bersama, (فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ, fa-fazi'a man fii s-samaawaati wa-man fii l-ardhi illaa man syaa'a llaahu) yang berarti "maka terkejutlah siapa yang di langit dan siapa yang di bumi, kecuali yang Allah kehendaki". Kata kerja pertamanya berbeda, yaitu terkejut di 27:87 dan sha'iqa di 39:68. Pengecualian di 39:68 diletakkan sebelum tiupan kedua, sehingga siapa yang dikecualikan tidak tertulis, dan apakah pengecualian itu berlaku juga sesudah tiupan kedua tidak dinyatakan.

Rangkaian (فَإِذَا هُمْ, fa-idzaa hum) yang berarti "maka seketika itu mereka" muncul 10 kali di 7 surah, yaitu 6:44, 7:201, 27:45, 36:29, 36:37, 36:51, 36:53, 37:19, 39:68, dan 79:14. Kata (قِيَامٌ, qiyaamun) yang berarti "berdiri" berakar ق-و-م dan bentuk persisnya muncul satu kali, yaitu di 39:68. Kata kerja (يَنْظُرُونَ, yanzhuruuna) berakar ن-ظ-ر dan ada di sembilan belas ayat, yaitu 2:210, 6:158, 7:53, 7:198, 8:6, 16:33, 33:19, 35:43, 36:49, 37:19, 39:68, 42:45, 43:66, 47:18, 47:20, 51:44, 83:23, 83:35, dan 88:17. Delapan ayat memakai pola kata tanya atau penyangkal, kata kerja ini, lalu kata kecuali, seperti (هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا, hal yanzhuruuna illaa) di 6:158, dan semuanya berarti menunggu, yaitu 2:210, 6:158, 7:53, 16:33, 35:43, 36:49, 43:66, dan 47:18. Sebelas ayat lainnya tidak memakai pola itu dan berarti melihat atau memandang. Ayat 39:68 termasuk golongan kedua, dan bunyi terdekatnya adalah (فَإِذَا هُمْ يَنْظُرُونَ, fa-idzaa hum yanzhuruuna) yang berarti "maka seketika itu mereka melihat" di 37:19. Karena itu terjemahan memakai "memandang" dan tidak menambahkan apa yang ditunggu.

Tafsiran

Ayat ini menyusun peristiwa dalam tiga tahap yang dipisahkan oleh dua kata penghubung waktu, yaitu tiupan pertama dengan akibatnya, pengecualian, dan tiupan kedua dengan akibatnya. Semua kata kerja peristiwa berbentuk pasif atau berpokok pada orang yang terkena, sehingga peniup tidak pernah tampil. Allah muncul satu kali saja, yaitu sebagai pihak yang berkehendak dalam pengecualian. Ayat 6:73 menuliskan pihak itu sebagai pemilik, (وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ, wa-lahu l-mulku yawma yunfakhu fii sh-shuuri) yang berarti "dan milik-Nyalah kekuasaan pada hari sangkakala ditiup".

Di 36:51 orang-orang yang tadinya di kubur digambarkan bergerak, (فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ, fa-idzaa hum mina l-ajdaatsi ilaa rabbihim yansiluuna) yang berarti "maka seketika itu mereka dari kubur-kubur bergegas menuju Tuhan mereka". Di 39:68 mereka berdiri dan memandang. Kedua ayat dibuka dengan rangkaian yang sama, tetapi 36:51 menuliskan gerak dan arah, sedangkan 39:68 menuliskan sikap tubuh tanpa arah. Perbedaan itu tidak diselaraskan oleh teks, dan keduanya dapat dibaca sebagai dua sudut pandang atas hari yang sama.

Hubungan dengan ayat sebelum dan sesudahnya jelas urutannya. Ayat 39:67 memberi skala, yaitu bumi dalam genggaman dan langit tergulung, dan 39:68 mulai menuturkan kejadian pada hari itu satu per satu. Ayat 39:69 sesudahnya menuliskan apa yang terjadi di bumi, yaitu bumi bersinar, kitab diletakkan, dan para saksi didatangkan. Ayat 39:68 tidak menyebut apa yang dipandang mereka, dan 39:69 menyediakan kemungkinan jawabannya, tetapi teks tidak menyambungkan keduanya dengan kata.

Renungan dan Hikmah

  • Di sepuluh ayat yang memuat sangkakala, kata kerja tiupnya berbentuk pasif dan peniupnya tidak pernah ditulis. Ayat 6:73 menyatakan bahwa pada hari sangkakala ditiup, kekuasaan adalah milik-Nya. Ketidakhadiran nama peniup membuat pembaca tidak punya tokoh untuk dilihat selain kejadiannya sendiri, sementara kepemilikan atas hari itu tertulis di ayat lain. Pembaca yang terbiasa mencari siapa yang bertindak sebelum menilai suatu peristiwa dapat memeriksa bagaimana rasanya membaca peristiwa tanpa pelaku yang tampak. Bila sebuah kejadian besar datang tanpa nama pelaku di depannya, ke mana perhatian pembaca bergerak pertama kali?
  • Pengecualian di 39:68 menaruh keputusan pada kehendak Allah, dan siapa yang dikecualikan tidak tertulis. Ayat 27:87 menuliskan pengecualian yang sama dengan kata kerja berbeda untuk keadaan semua yang lain. Pembaca ingin tahu siapa yang masuk kelompok pengecualian itu, tetapi ayat menolak memuaskannya, sehingga rasa penasaran itu tinggal sebagai batas pengetahuan. Seseorang yang menghitung dirinya termasuk atau tidak termasuk dalam kelompok itu menjawab pertanyaan yang tidak dijawab teks. Apa yang tersisa dari keyakinan tentang nasib diri bila daftar yang dikecualikan oleh Allah tidak pernah ditulis?
  • Tiupan pertama dan tiupan kedua dipisahkan oleh kata kemudian, dan ayat tidak mengukur panjang jeda itu. Kata sekali lagi di ayat ini tidak disusul kata benda, sedangkan 69:13 menyebut satu tiupan di rumusan lain. Pembaca mendapati dua ayat tentang tiupan dengan rumusan yang tidak persis sama, dan keduanya dapat dipegang tanpa memaksa keduanya cocok. Orang yang menyusun gambaran hari akhir menurut urutan tunggal yang rapi perlu menimbang bahwa teks sendiri memakai beberapa rumusan. Berapa banyak dari gambaran yang dipegangnya berasal dari ayat, dan berapa banyak dari kerapihan yang ia tambahkan?
  • Sesudah tiupan kedua, orang-orang di 39:68 digambarkan berdiri dan memandang, sedangkan di 36:51 mereka bergegas menuju Tuhan mereka. Satu ayat menaruh mereka dalam gerak, satu lagi dalam diam yang menghadap. Dua sikap itu cocok dengan dua keadaan yang dikenal pembaca ketika menghadapi sesuatu yang besar, yaitu bergegas dan terpaku. Ayat tidak mengatakan mana yang lebih tepat, dan tidak menyebut apa yang dilihat. Bila seseorang hanya bisa berdiri dan memandang di hadapan Tuhannya, apa yang akan mulai dipandangnya lebih dulu?
  • Rangkaian siapa yang di langit dan siapa yang di bumi di 39:68 muncul juga di 10:66, yang menyatakan bahwa mereka milik Allah, dan di 22:18, yang menyatakan bahwa mereka bersujud kepada-Nya. Tiga ayat memakai rangkaian yang sama untuk tiga hal berbeda, yaitu kepemilikan di 10:66, sujud di 22:18, dan kematian di 39:68. Pembaca melihat bahwa penghuni langit dan bumi dikelompokkan dalam satu frasa yang sama ketika ayat berbicara tentang kekuasaan Allah atas mereka. Pembaca yang membagi dunia menjadi yang dekat dan yang jauh dapat memeriksa apakah pembagian itu muncul di dalam kalimat ayat. Di antara dua kelompok yang disebut bersama itu, di sebelah mana pembaca biasa menaruh dirinya?
  • Kata memandang di 39:68 tidak disusul objek, dan di antara sembilan belas ayat yang memuat kata kerja ini, delapan ayat memakai pola kecuali dan berarti menunggu, sedangkan ayat ini termasuk yang tidak memakai pola itu. Terjemahan tidak menambahkan apa yang ditunggu karena ayat tidak menuliskannya. Pembaca sering mengisi bagian kosong dalam gambaran akhir dengan harapan atau ketakutannya sendiri, dan ayat membiarkan bagian itu kosong. Ketika ayat memberi ruang kosong, isi apa yang cenderung ditaruh seseorang di dalamnya?