قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

Dikatakan, “Masuklah pintu-pintu Jahanam, kekal di dalamnya!” Maka, seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang takabur.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَاqiila dkhuluu abwaaba jahannama khaalidiina fiihaadikatakan, masuklah pintu-pintu Jahanam, kekal di dalamnya
  2. فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَfa-bi'sa matswaa l-mutakabbiriinamaka, seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang takabur

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. قِيلَqiiladikatakan
  2. ادْخُلُواdkhuluumasuklah kalian
  3. أَبْوَابَabwaabapintu-pintu
  4. جَهَنَّمَjahannamaJahanam
  5. خَالِدِينَkhaalidiinakekal
  6. فِيهَاfiihaadi dalamnya
  7. فَبِئْسَfa-bi'samaka seburuk-buruk
  8. مَثْوَىmatswaatempat tinggal
  9. الْمُتَكَبِّرِينَl-mutakabbiriinaorang-orang yang sombong

Inti bacaan

Kalimat (ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا, dkhuluu abwaaba jahannama khaalidiina fiihaa) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 16:29, 39:72, dan 40:76, dan hanya di 39:72 kata qiila mendahuluinya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (قِيلَ, qiila) yang berarti "dikatakan", bentuk pasif dari kata kerja berakar ق-و-ل yang tidak menyebut siapa yang berkata. Di surah ini qiila muncul tiga kali, yaitu di 39:24, 39:72, dan 39:75. Di ayat sebelumnya pembicara disebut jelas, (وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا, wa-qaala lahum khazanatuhaa) yang berarti "dan para penjaganya berkata kepada mereka", sedangkan perintah masuk di ayat ini datang tanpa pembicara. Perintah masuk ke taman di 39:73, (فَادْخُلُوهَا, fa-dkhuluuhaa) yang berarti "maka masuklah ke dalamnya", termasuk dalam ucapan para penjaga. Terjemahan ayat ini memakai "Dikatakan" dan tidak menambah pelaku.

Perintahnya berbunyi (ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا, dkhuluu abwaaba jahannama khaalidiina fiihaa) yang berarti "masuklah pintu-pintu Jahanam, kekal di dalamnya". Kalimat ini muncul tiga kali, yaitu di 16:29, 39:72, dan 40:76. Kata kerja (ادْخُلُوا, dkhuluu) berakar د-خ-ل, dan kata (أَبْوَابَ, abwaaba) mengikutinya langsung tanpa kata depan. Bentuk jamak abwaab menyatakan lebih dari satu pintu, dan jumlahnya disebut di 15:44, (لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ, lahaa sab'atu abwaabin) yang berarti "baginya ada tujuh pintu". Kata (خَالِدِينَ, khaalidiina) berakar خ-ل-د dan diterjemahkan "kekal". Kata yang sama menutup perintah masuk di 39:73, sehingga kedua perintah masuk dalam rangkaian ini berakhir dengan kata itu.

Kata (فَبِئْسَ, fa-bi'sa) yang berarti "maka seburuk-buruk" muncul tujuh kali di enam surah, yaitu di 3:187, 38:56, 38:60, 39:72, 40:76, 43:38, dan 58:8. Susunan (فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ, fa-bi'sa matswaa l-mutakabbiriina) yang berarti "maka seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang takabur" muncul dua kali, yaitu di 39:72 dan 40:76, sedangkan 16:29 memakai bentuk (فَلَبِئْسَ, fa-la-bi'sa) dengan huruf lam tambahan. Kata (مَثْوَى, matswaa) berakar ث-و-ي dan muncul empat kali, yaitu di 3:151, 16:29, 39:72, dan 40:76. Bentuk tak tentunya, (مَثْوًى, matswan), muncul lima kali di empat surah, yaitu di 29:68, 39:32, 39:60, 41:24, dan 47:12. Terjemahan memakai "tempat tinggal" di 16:29, 39:32, 39:60, 40:76, 41:24, dan 47:12, dan ayat ini mengikutinya.

Kata terakhir, (الْمُتَكَبِّرِينَ, l-mutakabbiriina) yang berarti "orang-orang yang takabur", berakar ك-ب-ر dan merupakan kata pelaku. Lema mutakabbir muncul tujuh kali, yaitu di 16:29, 39:60, 39:72, 40:27, 40:35, 40:76, dan 59:23. Bentuk jamak dengan kata sandang al- ada tiga, yaitu di 16:29, 39:72, dan 40:76, dan bentuk jamak dengan huruf li- ada di 39:60. Bentuk tunggalnya di 40:27 dan 40:35 menyebut orang, sedangkan di 59:23, (الْمُتَكَبِّرُ, l-mutakabbiru), kata yang sama menjadi salah satu sebutan bagi Allah dan diterjemahkan "Sang Pemilik Kebesaran". Padanan untuk bentuk jamaknya berbeda-beda: "takabur" di 39:60, "sombong" di 40:76, dan "menyombongkan diri" di 16:29. Ayat ini memakai "takabur" agar sejalan dengan 39:60, pertanyaan yang dijawabnya.

Tafsiran

Ayat ini menutup bagian pertama dari penggambaran dua rombongan: pintu yang dibuka di 39:71 sekarang dimasuki, dan sesudah itu tidak ada ucapan lagi dari pihak yang digiring. Jawaban balaa di 39:71 menjadi kata terakhir mereka dalam adegan ini, dan dari titik itu ayat hanya memuat perintah dan penilaian. Keduanya dipisahkan oleh kata "maka", dan ayat tidak menandai apakah kalimat sesudahnya masih bagian dari ucapan "dikatakan" atau sudah suara narator. Terjemahan menutup kutipan sebelum fa-bi'sa dan membaca kalimat itu sebagai penilaian penutup.

Penilaian "seburuk-buruk" menjawab pertanyaan yang diajukan lebih awal dalam surah yang sama. Di 39:60, (أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِينَ, a-laysa fii jahannama matswan li-l-mutakabbiriina) yang berarti "Bukankah di Jahanam ada tempat tinggal bagi orang-orang yang takabur?" muncul sebagai pertanyaan, dan 39:72 mengisinya dengan penilaian atas tempat itu. Penilaian atas tempat bagi orang-orang yang takabur itu baru tertulis di bagian akhir surah, sesudah rangkaian peristiwa dari 39:68 sampai 39:71.

Ayat 39:71 dan 39:72 juga menempatkan pintu pada dua kedudukan. Di 39:71 pintu adalah sesuatu yang dibuka oleh pihak lain, sedangkan di 39:72 pintu adalah sesuatu yang dimasuki oleh orang-orang itu sendiri. Perintah masuk tidak menyebut pintu yang mana bagi siapa. Ayat 15:44 menyebut tujuh pintu dan, dalam (لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُومٌ, li-kulli baabin minhum juz'un maqsuumun) yang berarti "untuk setiap pintu ada bagian tertentu dari mereka", menyatakan bahwa tiap pintu punya bagiannya sendiri. Ayat 39:72 tidak merinci pembagian itu.

Renungan dan Hikmah

  • Perintah masuk di ayat ini disampaikan dengan kata "dikatakan", sedangkan di ayat sebelumnya para penjaga disebut jelas sebagai pembicara. Pembaca dapat membandingkannya dengan keputusan yang pernah diterimanya tanpa tahu siapa yang mengucapkannya, misalnya surat tanpa tanda tangan atau kabar yang diteruskan dari mulut ke mulut. Dua ayat sebelumnya, 39:70, menyatakan bahwa Dia lebih mengetahui apa yang mereka lakukan, sehingga ketiadaan nama pembicara di 39:72 tidak berarti ketiadaan pengetahuan. Perintah tanpa nama membuat pendengarnya menghadapi isinya langsung, tanpa tempat untuk menawar kepada pengucapnya. Dari keputusan yang pernah diterima pembaca, mana yang isinya terasa lebih jelas daripada pembicaranya?
  • Perintah yang sama muncul sesudah tiga pembuka yang berbeda. Di 16:28 orang-orang yang dicabut nyawanya berkata, "Kami tidak pernah mengerjakan suatu keburukan pun", dan ayat itu melanjutkan dengan pernyataan bahwa Allah berilmu akan apa yang mereka kerjakan. Di 40:75 perintah itu datang sesudah teguran bahwa mereka bersuka ria di bumi tanpa hak. Di 39:71 perintah itu datang sesudah satu kata pengakuan. Menyangkal, ditegur, dan mengaku adalah tiga jalan yang berbeda, dan kalimat perintahnya sama. Dari tiga jalan itu, mana yang paling dekat dengan cara pembaca menjawab sebuah teguran, dan apakah jalan itu mengubah sesuatu pada ujungnya?
  • Kata pelaku dari akar yang sama dengan "takabur" muncul di 59:23 sebagai salah satu sebutan bagi Allah, dan di 39:72 sebagai sebutan bagi orang-orang yang tempat tinggalnya seburuk-buruk. Kedua ayat itu berlainan konteks dan tidak saling menjelaskan, sehingga perbedaan maknanya tidak dapat disimpulkan dari ayat ini. Pembaca dapat memperhatikan bahwa kata yang dipakai bagi Allah di satu tempat dipakai juga bagi manusia di tempat lain, dan ayat ini menaruh penilaian buruk pada tempat tinggal manusianya. Kata besar apa yang pernah pembaca pakai untuk menggambarkan dirinya, dan sejauh mana kata itu masih sesuai bila dibaca di samping Allah?
  • Kata khaalidiina, "kekal", menutup perintah masuk Jahanam di ayat ini dan perintah masuk taman di 39:73. Kedua rombongan mendengar kata yang sama sebagai kata terakhir perintahnya, jadi kata itu tidak membedakan isi kedua tempat. Perbedaannya tertulis di bagian lain: penilaian "seburuk-buruk" di ayat ini dan salam sejahtera di ayat berikutnya. Pembaca yang menimbang sebuah pilihan dapat mengajukan dua pertanyaan, yaitu berapa lama akibatnya bertahan dan tempat macam apa yang diantarkannya. Kata "kekal" hanya menjawab pertanyaan pertama. Dari dua pertanyaan itu, mana yang lebih sering pembaca ajukan saat memilih?
  • Pertanyaan di 39:60 tentang tempat bagi orang-orang yang takabur diajukan dalam konteks orang-orang yang berdusta kepada Allah dan wajahnya menghitam, dan pertanyaan itu baru dijawab oleh 39:72, dua belas ayat kemudian. Surah ini membiarkan sebuah pertanyaan menunggu selama itu. Pembaca dapat membandingkannya dengan pertanyaan dalam hidupnya sendiri yang jawabannya datang jauh sesudah ditanyakan. Jawaban yang datang di ujung rangkaian tidak mengurangi bobot pertanyaannya. Pertanyaan manakah dalam hidup pembaca yang sedang menunggu jawaban, dan kepada siapa penantian itu diserahkan?
  • Kalimat penutup ayat ini menilai tempatnya, yaitu matswaa, dan tidak menilai orangnya satu per satu. Penilaian "seburuk-buruk" dijatuhkan pada tempat tinggal, tidak pada kata-kata yang pernah diucapkan para penghuninya. Pembaca dapat membaca bahwa sebuah akhir diukur dari tempat yang ditinggali sesudahnya, dan bukan dari apa yang pernah dikatakan tentang diri sendiri. Dengan ukuran itu, pilihan harian yang tampak kecil ikut membangun tempat tinggal. Tempat tinggal semacam apa yang sekarang sedang dibangun oleh pilihan-pilihan pembaca, dan apakah pembaca akan menyebutnya baik bila kelak harus menempatinya?