تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
Diturunkannya Kitab dari Allah, Sang Digdaya, Sang Berilmu,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِtanziilu l-kitaabi mina llaahiditurunkannya Kitab dari Allah
- الْعَزِيزِ الْعَلِيمِal-'aziizi l-'aliimiSang Digdaya, Sang Berilmu
Terjemahan per kata (6 kata)
- تَنْزِيلُtanziiluturunnya
- الْكِتَابِl-kitaabiKitab
- مِنَminadari
- اللَّهِllaahiAllah
- الْعَزِيزِal-'aziiziSang Digdaya
- الْعَلِيمِl-'aliimiSang Berilmu
Inti bacaan
Rangkaian (الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ, l-kitaabi mina llaahi) muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 39:1, 40:2, 45:2, dan 46:2.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (تَنْزِيلُ, tanziilu) yang berarti "diturunkannya", kata benda dari akar ن-ز-ل. Kata ini muncul lima belas kali di lima belas ayat dari empat belas surah, yaitu 17:106, 20:4, 25:25, 26:192, 32:2, 36:5, 39:1, 40:2, 41:2, 41:42, 45:2, 46:2, 56:80, 69:43, dan 76:23. Surah 41 memuatnya dua kali, sehingga jumlah ayat dan jumlah surahnya berbeda. Dua belas dari lima belas kemunculan itu menyebut pihak asal penurunan di dekatnya: (مِنَ اللَّهِ, mina llaahi) yang berarti "dari Allah" di 39:1, 40:2, 45:2, dan 46:2; (مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ, min rabbi l-'aalamiina) yang berarti "dari Tuhan seisi alam" di 32:2, 56:80, dan 69:43; serta pihak asal lain di 20:4, 26:192, 36:5, 41:2, dan 41:42. Tiga sisanya, yaitu 17:106, 25:25, dan 76:23, berdampingan dengan kata kerja menurunkan. Karena ayat ini menyebut pihak asalnya, terjemahan memakai "diturunkannya", bentuk yang memperlihatkan adanya pihak yang menurunkan, sedangkan arti per kata mencatat "turunnya" untuk kata yang sama.
Susunan (تَنْزِيلُ الْكِتَابِ, tanziilu l-kitaabi) yang berarti "diturunkannya Kitab" muncul lima kali di lima surah, yaitu 32:2, 39:1, 40:2, 45:2, dan 46:2. Di 32:2 pihak asal didahului (لَا رَيْبَ فِيهِ, laa rayba fiihi) yang berarti "tidak ada keraguan di dalamnya", sedangkan di 39:1, 40:2, 45:2, dan 46:2 pihak asal langsung menyusul, sehingga rangkaian (الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ, l-kitaabi mina llaahi) yang berarti "Kitab dari Allah" muncul empat kali. Kata Kitab berakar ك-ت-ب dan di ayat ini ditulis dengan kata sandang al- tanpa kata penunjuk. Terjemahan karena itu memakai "Kitab" saja, tanpa keterangan dalam kurung dan tanpa kata "ini", sama dengan 39:1, sebab tidak ada kata Arab yang melahirkannya.
Dua sifat di ujung ayat membentuk (الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ, al-'aziizi l-'aliimi) yang berarti "Sang Digdaya, Sang Berilmu". Kata (الْعَزِيزِ, al-'aziizi) berakar ع-ز-ز dan kata (الْعَلِيمِ, l-'aliimi) berakar ع-ل-م. Pasangan itu dalam bentuk yang persis sama muncul empat kali, yaitu di 6:96, 36:38, 40:2, dan 41:12. Di tiga ayat yang lain pasangan itu mengikuti (ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ, dzaalika taqdiiru) yang berarti "yang demikian itu ketetapan", sedangkan 40:2 memakainya sebagai sebutan bagi pihak asal sebuah Kitab. Kalimat serupa ditutup pula oleh (الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ, al-'aziizi l-hakiimi) yang berarti "Sang Digdaya, Sang Penuh Hikmah", dan bentuk persisnya muncul lima kali, yaitu di 3:126, 39:1, 45:2, 46:2, dan 62:1. Tiga di antaranya, yaitu 39:1, 45:2, dan 46:2, sama dengan 40:2 dari awal kalimat sampai (مِنَ اللَّهِ, mina llaahi), dan perbedaannya terletak pada sifat terakhir, "Berilmu" di sini dan "Penuh Hikmah" di tiga ayat itu. Kalimatnya tetap sama sedangkan sifat terakhirnya berganti, sehingga sifat itu tidak bisa dibaca sebagai bagian dari rumus yang tetap.
Terjemahan memakai "Sang" untuk kedua sifat karena keduanya bertanda takrif, dan tidak memakai awalan "Maha" karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya, sejalan dengan 6:96 dan 36:38. Koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat berlanjut ke 40:3.
Tafsiran
Ayat ini menyebut asal Kitab dan dua sifat pemiliknya sebelum menyebut isi apa pun. Ayat 40:1 berisi dua huruf, jadi 40:2 adalah tempat pertama Surah 40 menyampaikan sesuatu yang dapat diterjemahkan. Ayat ini tidak memuat kata kerja, dan kalimatnya berlanjut ke 40:3 dengan (غَافِرِ الذَّنْبِ, ghaafiri dz-dzanbi) yang berarti "pengampun dosa", sehingga 40:2 dan 40:3 terbaca sebagai satu kalimat panjang yang memuat asal, sifat, dan tujuan akhir.
Surah 39 membuka dengan kalimat yang sama sampai (مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ, mina llaahi al-'aziizi l-hakiimi) yang berarti "dari Allah, Sang Digdaya, Sang Penuh Hikmah", lalu 39:2 berbalik ke orang pertama dengan (إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ, innaa anzalnaa ilayka l-kitaaba) yang berarti "sesungguhnya Kami menurunkan Kitab kepadamu". Ayat 45:2 dan 46:2 membuka dengan kalimat yang sama dengan 39:1, lalu 45:3 beralih ke tanda-tanda di langit dan bumi bagi orang-orang mukmin, dan 46:3 beralih ke penciptaan langit dan bumi dengan kebenaran. Surah 40 mengambil jalan lain. Sesudah asal Kitab, ayat ketiga memperpanjang sifat pemilik asal itu, dari pengampunan sampai hukuman yang keras dan tujuan akhir, dan ayat keempat baru berbicara tentang orang-orang yang memperdebatkan tanda-tanda Allah. Susunan ini membuat pembaca surah ini mengenal lebih dulu pihak yang menurunkan Kitab, sebelum bertemu orang yang memperdebatkannya.
Renungan dan Hikmah
- Surah ini menyebut dari siapa Kitab diturunkan sebelum menyebut apa yang dikatakannya. Kalimat pertama yang dapat diterjemahkan memuat Kitab dan Allah, dan tidak memuat satu perintah pun. Pembaca dapat menimbang urutan yang dipakainya sendiri ketika menerima pesan yang penting, yaitu menanyakan asalnya lebih dulu atau membahas isinya lebih dulu, karena isi yang sama dapat dinilai berbeda tergantung pengirim yang dipercaya. Apa yang berubah pada cara seseorang menimbang sebuah pesan bila pengirimnya sudah diketahui sebelum isinya dibaca?
- Ayat 40:2 menyebut dua sifat pada satu pihak, yaitu Sang Digdaya dan Sang Berilmu. Di 40:19 pengetahuan itu diperinci, “Dia mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan dada.” Pembaca dapat menanyakan pihak mana dalam hidupnya yang dianggapnya kuat tetapi tidak mengetahui keadaannya, dan pihak mana yang mengetahui tetapi tidak mampu berbuat apa-apa. Dari dua pengalaman itu pembaca dapat menimbang bagaimana membawa diri di hadapan pihak yang memiliki kuasa dan pengetahuan sekaligus, apalagi pengetahuan yang menjangkau isi dada.
- Di 40:7 para pemikul ‘Arasy dan yang berada di sekelilingnya berkata kepada Tuhan mereka, “rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu,” lalu memohonkan ampunan bagi orang-orang yang bertobat. Akar yang sama dengan Sang Berilmu di 40:2 muncul di sana berdampingan dengan rahmat dan menjadi dasar sebuah permohonan. Ayat 40:2 dan 40:7 diucapkan oleh pihak yang berbeda, sehingga keduanya tidak disamakan. Pembaca dapat bertanya, apakah sifat berilmu yang dibaca sendirian di kalimat pembuka terasa seperti pengawasan, dan apakah rasanya berubah ketika pengetahuan itu dibayangkan bersama rahmat?
- Sang Digdaya muncul tiga kali di Surah 40 dan setiap kali bersanding dengan sifat yang berbeda, yaitu Sang Berilmu di 40:2, Sang Penuh Hikmah di 40:8 dalam permohonan para pemikul ‘Arasy, dan Sang Pengampun di 40:42 dalam ucapan orang yang beriman kepada kaumnya. Tiga penutur menyebut Tuhan yang sama dari arah yang berlainan: kalimat pembuka surah, doa, dan ajakan kepada kaum. Pembaca yang membayangkan kuasa sebagai sesuatu yang berdiri sendiri mendapati surah ini tidak pernah menyebut kedigdayaan tanpa pendamping. Pasangan mana yang paling sering terlintas ketika kata digdaya didengar?
- Dua ayat pertama yang dapat diterjemahkan, yaitu 40:2 dan 40:3, tidak menyapa siapa pun. Kata ganti “engkau” baru muncul di 40:4, dalam “janganlah engkau tertipu”. Surah sebelumnya langsung berbalik kepada penerima di 39:2 dengan “kepadamu”, sedangkan Surah 40 lebih dulu menyebut Allah beserta sifat-sifat-Nya. Selama dua ayat itu pembaca berada di luar kalimat, sebagai pendengar tentang pihak yang menurunkan Kitab. Bagaimana kebiasaan membaca berubah bila pembaca diberi waktu mengenal pihak yang berbicara sebelum ada yang ditujukan kepadanya?
- Akar yang sama dengan diturunkannya Kitab di 40:2 dipakai lagi di 40:13 untuk rezeki, “Dialah yang memperlihatkan tanda-tanda-Nya kepadamu dan menurunkan rezeki dari langit untukmu.” Dua hal yang berbeda wujudnya, Kitab dan rezeki, sama-sama disebut diturunkan dalam satu surah. Ayat 40:13 menutup dengan pernyataan tentang siapa yang mendapat pelajaran, yaitu orang-orang yang kembali. Pembaca yang menerima makanan setiap hari dan membaca teks ini dapat menimbang apakah keduanya pernah ditempatkannya dalam satu pandangan, dan kapan terakhir kali pembaca menyadari bahwa makanan di meja pun disebut sesuatu yang diturunkan.