غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ

Pengampun dosa, Penerima tobat, Pemberi hukuman yang keras, Pemilik karunia. Tidak ada tuhan selain Dia. Kepada-Nyalah tempat kembali.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِghaafiri dz-dzanbi wa-qaabili t-tawbiPengampun dosa, Penerima tobat
  2. شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِsyadiidi l-'iqaabi dzii th-thawliPemberi hukuman yang keras, Pemilik karunia
  3. لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَlaa ilaaha illaa huwatidak ada tuhan selain Dia
  4. إِلَيْهِ الْمَصِيرُilayhi l-mashiirukepada-Nyalah tempat kembali

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. غَافِرِghaafiriYang Mengampuni
  2. الذَّنْبِdz-dzanbidosa
  3. وَقَابِلِwa-qaabilidan Yang Menerima
  4. التَّوْبِt-tawbitobat
  5. شَدِيدِsyadiidiyang keras
  6. الْعِقَابِl-'iqaabihukuman
  7. ذِيdziipemilik
  8. الطَّوْلِth-thawlikemampuan
  9. لَاlaatidak
  10. إِلَٰهَilaahatuhan
  11. إِلَّاillaakecuali
  12. هُوَhuwaDia
  13. إِلَيْهِilayhikepada-Nya
  14. الْمَصِيرُl-mashiirutempat kembali

Inti bacaan

Rangkaian (غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ, ghaafiri dz-dzanbi wa-qaabili t-tawbi) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 40:3.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari empat sebutan dan dua pernyataan. Sebutan pertama, (غَافِرِ الذَّنْبِ, ghaafiri dz-dzanbi) yang berarti "pengampun dosa", memakai (غَافِرِ, ghaafiri) yang berakar غ-ف-ر dan menunjuk pelaku yang mengampuni. Kata pelaku ini ada dua kali dalam Al-Qur'an, yaitu (الْغَافِرِينَ, l-ghaafiriina) yang berarti "para pengampun" di 7:155 dan bentuk tunggalnya di 40:3. Kata (الذَّنْبِ, dz-dzanbi) yang berarti "dosa" berakar ذ-ن-ب. Dengan kata sandang al- dan dalam bentuk tunggal, kata ini muncul satu kali saja, yaitu di sini, sedangkan di 3:135 dan 39:53 dosa yang diampuni disebut jamak dalam (يَغْفِرُ الذُّنُوبَ, yaghfiru dz-dzunuuba) yang berarti "mengampuni dosa-dosa". Terjemahan tidak memakai "Sang" di sini karena (غَافِرِ, ghaafiri) tidak bersandang al- dan terikat pada kata dosa sesudahnya.

Sebutan kedua, (وَقَابِلِ التَّوْبِ, wa-qaabili t-tawbi) yang berarti "dan penerima tobat", memakai (قَابِلِ, qaabili) yang berakar ق-ب-ل dan (التَّوْبِ, t-tawbi) yang berakar ت-و-ب. Masing-masing kata ini muncul dalam bentuk tersebut satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, dan rangkaian (غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ, ghaafiri dz-dzanbi wa-qaabili t-tawbi) hanya ada di 40:3. Akar ق-ب-ل dipakai bersama tobat dalam kata kerja di (يَقْبَلُ التَّوْبَةَ, yaqbalu t-tawbata) yang berarti "menerima tobat", yaitu di 9:104 dan 42:25. Akar ت-و-ب dipakai untuk sebutan lain bagi Allah di 9:104, (التَّوَّابُ الرَّحِيمُ, t-tawwaabu r-rahiimu), yang diterjemahkan "penyambut tobat lagi pengasih", dan untuk gerak Allah di 9:118, (ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا, tsumma taaba 'alayhim li-yatuubuu) yang berarti "kemudian Dia menyambut mereka agar mereka bertobat". Dua akar itu dibedakan dalam terjemahan, yang satu menjadi "menerima" dan yang lain "menyambut", sehingga (قَابِلِ, qaabili) di sini menjadi "penerima".

Sebutan ketiga, (شَدِيدِ الْعِقَابِ, syadiidi l-'iqaabi) yang berarti "pemberi hukuman yang keras", tersusun dari (شَدِيدِ, syadiidi) yang berakar ش-د-د dan (الْعِقَابِ, l-'iqaabi) yang berakar ع-ق-ب. Pasangan ini muncul empat belas kali di tujuh surah, yaitu 2:196, 2:211, 3:11, 5:2, 5:98, 8:13, 8:25, 8:48, 8:52, 13:6, 40:3, 40:22, 59:4, dan 59:7. Tiga belas di antaranya berbentuk (شَدِيدُ الْعِقَابِ, syadiidu l-'iqaabi), misalnya di 5:98 dalam kalimat "Allah keras hukuman-Nya", yaitu pernyataan tentang Allah. Pasangan itu dipakai sebagai sebutan dalam deret di 40:3 saja, sehingga terjemahan di sini berbentuk "pemberi hukuman yang keras" dan terjemahan di ayat lain berbentuk "keras hukuman-Nya".

Sebutan keempat, (ذِي الطَّوْلِ, dzii th-thawli), diterjemahkan "pemilik karunia". Kata (الطَّوْلِ, th-thawli) berakar ط-و-ل dan, sebagai kata benda bertakrif, muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 40:3 dan di 9:86 dalam (أُولُو الطَّوْلِ, uluu th-thawli) yang berarti "orang-orang yang berkemampuan", yaitu mereka yang meminta izin untuk tinggal ketika sebuah surah menyeru berjihad. Bentuk tak bertakrif (طَوْلًا, thawlan) muncul di 4:25 dalam kalimat tentang orang yang tidak mempunyai biaya untuk menikahi perempuan merdeka yang mukmin. Di dua ayat itu kata ini menunjuk sesuatu yang dimiliki seseorang sehingga pemiliknya mampu melakukan sebuah tindakan. Ayat 40:3 tidak menyebut tindakan yang dimampukan oleh milik Allah itu. Terjemahan memakai "karunia" dan arti per kata mencatat "kemampuan". Teksnya tidak memutuskan salah satunya.

Dua pernyataan penutup berdiri tanpa penghubung. Pernyataan (لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ, laa ilaaha illaa huwa) yang berarti "tidak ada tuhan selain Dia" muncul tiga puluh kali di dua puluh sembilan ayat dari sembilan belas surah, tiga ayat di antaranya di surah ini, yaitu 40:3, 40:62, dan 40:65. Pernyataan terakhir, (إِلَيْهِ الْمَصِيرُ, ilayhi l-mashiiru), memuat (الْمَصِيرُ, l-mashiiru) yang berakar ص-ي-ر dan berarti "tempat kembali". Rangkaian ini muncul empat kali, yaitu di 5:18, 40:3, 42:15, dan 64:3, dan di 42:15 serta 64:3, (وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ, wa-ilayhi l-mashiiru), terjemahannya "kepada-Nyalah tempat kembali". Terjemahan 40:3 memakai padanan yang sama dan tidak menambahkan "hanya", karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya.

Dua sebutan pertama disambung huruf wa- yang berarti "dan", sedangkan dua sebutan berikutnya ditulis berdampingan tanpa penyambung. Terjemahan mempertahankan susunan itu dengan koma dan tidak menambahkan "dan".

Tafsiran

Ayat ini menyambung kalimat 40:2 dengan empat sebutan lalu menutupnya dengan dua pernyataan, sehingga 40:2 dan 40:3 bersama-sama tidak memuat satu kata kerja pun dan seluruhnya berupa pengenalan. Empat sebutan itu terbagi dua pasang. Pasangan pertama, pengampun dosa dan penerima tobat, disambung dengan wa-, dan pasangan kedua, pemberi hukuman yang keras dan pemilik karunia, ditulis berdampingan. Hukuman yang keras karena itu tidak ditaruh di ujung deret. Ampunan dan tobat mendahuluinya, dan sebutan tentang kepemilikan menyusulnya.

Urutan ampunan lalu hukuman dipakai juga di 13:6, dalam (وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ, wa-inna rabbaka la-dzuu maghfiratin) yang berarti "dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan", yang disusul (وَإِنَّ رَبَّكَ لَشَدِيدُ الْعِقَابِ, wa-inna rabbaka la-syadiidu l-'iqaabi) yang berarti "dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar keras hukuman-Nya". Ayat 5:98 membalik urutannya: hukuman disebut lebih dulu, lalu Allah pengampun lagi pengasih. Di tiga ayat itu kedua sifat disebut milik pihak yang sama, dan tidak dibagi kepada dua pelaku.

Sebutan-sebutan di 40:3 menemukan tempatnya di bagian surah yang lain. Hukuman yang keras muncul lagi di 40:22, sesudah penuturan tentang orang-orang yang rasul-rasulnya datang dengan bukti-bukti yang nyata lalu mereka kufur, dengan kalimat penutup "sesungguhnya Dia kuat, keras hukuman-Nya". Pengampunan muncul sebagai permohonan di 40:7 dan sebagai sebutan di 40:42, (الْعَزِيزِ الْغَفَّارِ, al-'aziizi l-ghaffaari) yang berarti "Sang Digdaya, Sang Pengampun", dalam seruan seorang beriman kepada kaumnya.

Ayat ini ditutup dengan tempat kembali, dan 40:4 segera menyebut orang-orang yang kufur beserta bolak-balik mereka di negeri-negeri. Dapat dibaca bahwa urutan ayat menaruh dua gerak berdampingan: tempat kembali yang disebut lebih dulu, lalu gerak yang berputar di sekitarnya. Teks tidak menghubungkan keduanya dengan kata penghubung.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 40:3 menaruh pengampunan dan hukuman yang keras dalam satu kalimat dan menyebut keduanya milik pihak yang sama. Pembaca yang biasa membayangkan Allah dari satu sisi saja mendapati kalimat ini memuat dua sisi sekaligus, tanpa kata yang meredam salah satunya. Gambaran yang terbentuk di kepala pembaca tentang Allah sering mengikuti keadaan pembaca sendiri pada saat itu. Sebutan mana yang lebih dulu terlintas ketika pembaca baru saja berbuat salah, dan apa yang terjadi pada rasa takut maupun harapannya bila sebutan yang lain dibacakan bersamanya?
  • Di 40:3 Allah disebut penerima tobat, dan di 9:118 Allah menyambut tiga orang yang bumi terasa sempit bagi mereka, agar mereka bertobat, dengan akar kata yang berlainan di kedua ayat. Di 9:118 gerak Allah mendahului gerak mereka, sedangkan di 40:3 yang disebut adalah penerimaan tobat. Kedua ayat berbicara tentang keadaan yang berbeda, sehingga keduanya tidak disamakan. Orang yang pernah merasa terlambat untuk kembali dapat bertanya, gerak mana yang dibayangkannya sedang berlangsung ketika memutuskan kembali: menyusul pihak yang lebih dulu bergerak, atau menunggu diterima?
  • Ayat 40:3 ditutup dengan kepada-Nyalah tempat kembali, dan 40:4 segera menyebut bolak-balik orang-orang yang kufur di negeri-negeri. Pembaca dapat membayangkan hidup yang sibuk berpindah dari satu negeri ke negeri lain dengan tempat kembali yang sudah dinyatakan sebelum perjalanan dimulai. Ke mana arah sebuah hidup yang bergerak ke mana-mana bila tempat kembalinya sudah disebut lebih dulu, dan bagaimana rasanya kesibukan itu bila dinilai dari sana?
  • Pernyataan tidak ada tuhan selain Dia muncul tiga kali di Surah 40 dan setiap kali menutup gambaran yang berbeda. Di 40:3 pernyataan itu menutup sebutan pengampun, penerima tobat, pemberi hukuman, dan pemilik karunia. Di 40:62 pernyataan itu menutup sebutan Pencipta segala sesuatu, dan di 40:65 menutup sebutan Yang Hidup. Pembaca yang hafal kalimat itu dapat memperhatikan apa yang mendahuluinya setiap kali. Kalimat yang sama mengikat tiga gambaran Allah yang berlainan, dan pembaca bisa bertanya gambaran mana yang paling jarang ia hubungkan dengan kalimat itu.
  • Ayat 3:135 bertanya, “siapa yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah?” dalam kalimat tentang orang yang mengingat Allah lalu memohon ampunan setelah berbuat keji. Ayat 40:3 menyebut Allah sebagai pengampun dosa, tanpa syarat yang tertulis di ayatnya. Pembaca dapat memperhatikan kepada siapa saja ia pernah meminta beban kesalahannya diringankan, dan apa yang masih tersisa di dalam dirinya sesudah mereka menjawab. Apakah pertanyaan di 3:135 terasa seperti tantangan atau seperti pintu yang dibiarkan terbuka?
  • Di 40:7 para pemikul ‘Arasy memohon kepada Tuhan mereka, “berikanlah ampunan kepada orang-orang yang bertobat serta mengikuti jalan-Mu.” Permohonan itu memakai akar kata ampunan yang sama dengan pengampun di 40:3, dan diucapkan oleh pihak lain bagi orang-orang yang beriman. Pembaca yang pernah merasa harus meminta ampun sendirian dapat memperhatikan bahwa ayat ini menampakkan permohonan yang diajukan oleh pihak lain atas namanya. Siapa yang mungkin pernah memohonkan sesuatu bagi pembaca tanpa pembaca mengetahuinya?