إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنَادَوْنَ لَمَقْتُ اللَّهِ أَكْبَرُ مِنْ مَقْتِكُمْ أَنْفُسَكُمْ إِذْ تُدْعَوْنَ إِلَى الْإِيمَانِ فَتَكْفُرُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang kufur akan diseru, “Sungguh, kemurkaan Allah lebih besar daripada kemurkaan kalian kepada diri kalian sendiri ketika kalian diseru untuk beriman, lalu kalian kufur.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنَادَوْنَinna lladziina kafaruu yunaadawnasesungguhnya orang-orang yang kufur akan diseru
- لَمَقْتُ اللَّهِ أَكْبَرُ مِنْ مَقْتِكُمْ أَنْفُسَكُمْla-maqtu llaahi akbaru min maqtikum anfusakumsungguh, kemurkaan Allah lebih besar daripada kemurkaan kalian kepada diri kalian sendiri
- إِذْ تُدْعَوْنَ إِلَى الْإِيمَانِ فَتَكْفُرُونَidz tud'awna ilaa l-iimaani fa-takfuruunaketika kalian diseru untuk beriman, lalu kalian kufur
Terjemahan per kata (15 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- يُنَادَوْنَyunaadawnamereka diseru
- لَمَقْتُla-maqtusungguh kemurkaan
- اللَّهِllaahiAllah
- أَكْبَرُakbarulebih besar
- مِنْmindari
- مَقْتِكُمْmaqtikumkemurkaan kalian
- أَنْفُسَكُمْanfusakumdiri kalian
- إِذْidzketika
- تُدْعَوْنَtud'awnakalian diseru
- إِلَىilaakepada
- الْإِيمَانِl-iimaanikeimanan
- فَتَكْفُرُونَfa-takfuruunamaka kalian kufur
Inti bacaan
Susunan (لَمَقْتُ اللَّهِ, la-maqtu llaahi) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 40:10, dan akar م-ق-ت hanya ada di lima ayat, yaitu 4:22, 35:39, 40:10, 40:35, dan 61:3.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنَادَوْنَ, inna lladziina kafaruu yunaadawna) yang berarti "sesungguhnya orang-orang yang kufur akan diseru". Kata kerja (يُنَادَوْنَ, yunaadawna) berakar ن-د-ي dan berbentuk pasif, sehingga pelaku yang menyeru tidak disebut. Bentuk persis ini muncul dua kali, yaitu di 40:10 dan 41:44. Di 41:44, (أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ, ulaa'ika yunaadawna min makaanin ba'iidin) yang berarti "mereka itu diseru dari tempat yang jauh", pelakunya juga tidak disebut. Terjemahan 40:10 tidak menambahkan pelaku, karena kata kerjanya sendiri tidak memuat satu pun.
Isi seruan dibuka oleh (لَمَقْتُ اللَّهِ أَكْبَرُ مِنْ مَقْتِكُمْ أَنْفُسَكُمْ, la-maqtu llaahi akbaru min maqtikum anfusakum) yang berarti "sungguh, kemurkaan Allah lebih besar daripada kemurkaan kalian kepada diri kalian sendiri". Kata (مَقْتُ, maqtu) berakar م-ق-ت, dan akar itu hanya ada di lima ayat, yaitu 4:22, 35:39, 40:10, 40:35, dan 61:3, dengan 40:10 memuatnya dua kali. Bentuk (مَقْتًا, maqtan) muncul empat kali, yaitu di 4:22, 35:39, 40:35, dan 61:3. Di tiga ayat terakhir terjemahan memakai "kemurkaan": di 35:39 (إِلَّا مَقْتًا, illaa maqtan) berarti "kecuali kemurkaan", dan di 40:35 serta 61:3 (كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ, kabura maqtan 'inda llaahi) berarti "sangat besar kemurkaan di sisi Allah". Di 4:22 (وَمَقْتًا, wa-maqtan) berarti "dan dibenci", karena di sana kata itu menjadi sifat sebuah perbuatan. Terjemahan 40:10 memakai "kemurkaan" seperti di 35:39, 40:35, dan 61:3, sebab di sini kata itu juga menyangkut perasaan sebuah pihak, dan kata yang sama dipakai untuk kedua sisi perbandingannya.
Kata (أَكْبَرُ مِنْ, akbaru min) yang berarti "lebih besar daripada" muncul empat kali, yaitu di 2:219, 40:10, 40:57, dan 43:48. Bentuk dengan huruf la- di depan kata bendanya muncul dua kali, dan keduanya ada di surah ini: (لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ, la-khalqu s-samaawaati wa-l-ardhi akbaru min khalqi n-naasi) yang berarti "sungguh, penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia" di 40:57, dan kalimat di ayat ini. Terjemahan memakai "Sungguh," untuk huruf la- di keduanya dan "lebih besar daripada" untuk akbaru min. Kata (أَنْفُسَكُمْ, anfusakum) berarti "diri kalian" dan di teks Arab langsung mengikuti maqtikum tanpa kata depan, sehingga kata "kepada" pada terjemahan ditambahkan agar kalimat Indonesianya wajar.
Bagian akhir berbunyi (إِذْ تُدْعَوْنَ إِلَى الْإِيمَانِ فَتَكْفُرُونَ, idz tud'awna ilaa l-iimaani fa-takfuruuna) yang berarti "ketika kalian diseru untuk beriman, lalu kalian kufur". Kata (إِذْ, idz) berarti "ketika" dan menunjuk waktu lampau. Kata kerja (تُدْعَوْنَ, tud'awna) berakar د-ع-و, berbentuk pasif, dan muncul tiga kali, yaitu di 40:10, 47:38, dan 48:16. Di 47:38 bunyinya (تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا, tud'awna li-tunfiquu) yang berarti "kalian diseru untuk berinfak", dan di 48:16 (سَتُدْعَوْنَ إِلَىٰ قَوْمٍ, sa-tud'awna ilaa qawmin) yang berarti "kalian akan diseru kepada kaum". Hanya 40:10 yang menaruh iman sebagai tujuan seruan, (إِلَى الْإِيمَانِ, ilaa l-iimaani). Di 3:193 iman juga menjadi tujuan seruan, tetapi dengan kata kerja lain dan pelaku yang disebut: (يُنَادِي لِلْإِيمَانِ, yunaadii li-l-iimaani) yang berarti "menyeru kepada keimanan". Kata kerja (فَتَكْفُرُونَ, fa-takfuruuna) berakar ك-ف-ر dan muncul sekali; huruf fa-nya menjadi "lalu". Dua kata kerja di bagian ini, diseru dan kufur, berbentuk sedang berlangsung, sehingga terbaca sebagai peristiwa yang sedang berjalan.
Tafsiran
Ayat ini mengutip seruan kepada orang-orang yang kufur, dan isinya perbandingan antara dua kemurkaan. Pembicaranya berpindah dari orang ketiga ke orang kedua: kalimat pembuka masih membicarakan orang-orang yang kufur, sedangkan isi seruan menyapa mereka dengan kata kalian. Seruan itu menyebut Allah dengan namanya, bukan dengan kata ganti pembicara.
Ukuran yang dipakai dalam perbandingan itu adalah perasaan orang-orang yang diseru sendiri. Ayat ini memperlakukan kemurkaan mereka kepada diri mereka sebagai sesuatu yang sudah ada, dan kemurkaan Allah ditaruh di sampingnya sebagai yang lebih besar. Teks tidak menerangkan kapan atau mengapa mereka bermurka kepada diri sendiri; kemurkaan itu hanya menjadi alat banding. Keterangan waktu di akhir ayat, ketika mereka diseru untuk beriman lalu kufur, dapat dibaca menempel pada kemurkaan Allah, sehingga kemurkaan itu terjadi pada saat penolakan, dan dapat pula dibaca menempel pada kemurkaan mereka kepada diri sendiri. Teks tidak memilih salah satunya, dan terjemahan mempertahankan urutan kata Arabnya.
Ayat 40:10 juga terhubung dengan 40:35 di surah yang sama, tempat (كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ, kabura maqtan 'inda llaahi) dilanjutkan oleh (وَعِنْدَ الَّذِينَ آمَنُوا, wa-'inda lladziina aamanuu) yang berarti "dan di sisi orang-orang yang beriman". Dua ayat itu membicarakan golongan yang berbeda, yaitu orang-orang yang menolak seruan beriman di 40:10 dan orang-orang yang memperdebatkan tanda-tanda Allah di 40:35, jadi keduanya tidak disamakan. Kesamaan keduanya terletak pada bentuk ukurannya: kemurkaan disebut besar.
Ayat 40:10 juga terletak di antara dua ucapan. Ayat 40:7 sampai 40:9 memuat ucapan kepada Tuhan oleh mereka yang memikul 'Arasy, dan 40:11 memuat jawaban orang-orang yang diseru di sini, yang dibuka dengan (قَالُوا رَبَّنَا, qaaluu rabbanaa). Ayat ini berhenti pada kata kufur tanpa memuat jawaban.
Renungan dan Hikmah
- Seruan ini memakai kemurkaan orang-orang itu kepada diri mereka sebagai satuan, lalu menaruh kemurkaan Allah di sampingnya sebagai yang lebih besar. Ayat memakai kemurkaan terhadap diri sendiri sebagai ukuran yang masih berada di bawah ukuran lain. Ayat menyandingkan dua ukuran itu dan tidak menggambarkan keadaan batin orang-orang itu lebih jauh. Pembaca yang pernah menghukum diri sendiri dengan keras dapat memperhatikan bahwa ukuran yang dikenalnya tentang diri sendiri disebut di sini sebagai pembanding. Penilaian mana tentang diri sendiri yang pembaca anggap paling tinggi, dan apakah di atasnya masih ada penilaian lain yang belum pernah didengarnya?
- Ayat ini memakai kata kerja pasif untuk seruan itu, sehingga penyerunya tak muncul dan seruan terdengar tanpa wajah. Isi seruan menyebut Allah dengan namanya, sehingga penyeru terdengar berdiri di luar perkara yang disebutnya. Pembaca dapat membandingkan hal itu dengan seruan menuju iman yang pernah diterimanya: lewat orang, lewat bacaan, atau lewat sebuah kejadian. Bila seruan semacam itu dicatat tanpa nama penyerunya, apa yang masih dapat pembaca kenali dari seruan itu selain isinya, dan bagaimana kemurkaan Allah yang disebut di dalamnya terdengar tanpa wajah penyampainya?
- Ayat ini menaruh satu saat sebagai titik ukur, yaitu saat orang-orang itu diseru untuk beriman lalu kufur. Kemurkaan Allah dan kemurkaan mereka terhadap diri sendiri dibandingkan dengan rujukan ke saat itu, sehingga masa lampau dijadikan sandaran penilaian yang besar. Pembaca dapat mengingat saat-saat ketika pembaca sendiri diseru dan memberi jawaban, besar atau kecil, dan memperhatikan bahwa bagi orang-orang di ayat ini saat menjawab itu yang dirujuk kemudian. Saat mana dalam hidup pembaca yang paling ingin dirujuknya, dan saat mana yang paling ingin dilewatkannya, bila kemurkaan Allah diukur dari saat-saat seperti itu?
- Ayat ini berawal dengan membicarakan orang-orang yang kufur dan berpindah menyapa mereka dengan kata kalian. Jarak antara dibicarakan dan disapa itu hanya satu kata, tetapi bagi pembaca kata itu dapat terasa berbeda ketika pembaca sendiri disebut dalam sapaan. Pembaca yang biasa membaca ayat tentang orang kafir sebagai uraian tentang pihak lain dapat memperhatikan kapan sapaan pertama muncul, dan di bagian mana kata kalian terasa menunjuk pembaca. Bila isi seruan itu menyebut kemurkaan Allah dan ditujukan kepada kalian, siapa yang pembaca bayangkan mendengar sapaan itu?
- Kata kerja diseru dan kufur sama-sama berbentuk sedang berlangsung, jadi seruan dan penolakan terlihat sebagai gerak bersambung, dan satu peristiwa yang dihitung dari awal sampai akhir tidak tampak di sana. Ayat tidak menyebut berapa kali orang-orang itu diseru. Pembaca yang pernah menolak sesuatu yang baik untuknya dapat membedakan antara menolak sekali dan menolak dalam rangkaian panjang, yang pada tiap titiknya tampak kecil. Jika seruan datang berulang dan jawaban pembaca juga berulang, adakah satu titik dalam rangkaian itu yang pembaca anggap sebagai jawaban yang sebenarnya, dan bagaimana titik itu terlihat dari sisi Allah?
- Iman dalam ayat ini disebut sebagai tujuan yang dituju oleh seruan, yaitu seruan menuju keimanan. Dengan susunan itu iman terlihat sebagai tempat yang dituju dari tempat lain, sehingga ada jarak antara posisi orang yang diseru dan tempat yang diserukan. Pembaca dapat bertanya di titik mana pembaca merasa berdiri terhadap jarak itu: sudah di tempat yang dituju, di tengah, atau masih di tempat semula. Bila iman adalah tempat yang dituju oleh seruan, dari sisi mana jarak itu paling sulit dilihat oleh pembaca sendiri?