وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ

Dan sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda Kami dan keterangan yang nyata,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰwa-la-qad arsalnaa muusaadan sungguh, Kami telah mengutus Musa
  2. بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍbi-aayaatinaa wa-sulthaanin mubiinindengan tanda-tanda Kami dan keterangan yang nyata

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. أَرْسَلْنَاarsalnaaKami mengutus
  3. مُوسَىٰmuusaaMusa
  4. بِآيَاتِنَاbi-aayaatinaapada tanda-tanda Kami
  5. وَسُلْطَانٍwa-sulthaanindan keterangan
  6. مُبِينٍmubiininyang nyata

Inti bacaan

Rangkaian (بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ, bi-aayaatinaa wa-sulthaanin mubiinin) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 11:96, 23:45, dan 40:23.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ, wa-la-qad arsalnaa muusaa) yang berarti "dan sungguh, Kami telah mengutus Musa". Rangkaian itu ada di empat ayat, yaitu 11:96, 14:5, 40:23, dan 43:46, dan di keempatnya langsung disusul (بِآيَاتِنَا, bi-aayaatinaa) yang berarti "dengan tanda-tanda Kami". Kata kerja (أَرْسَلْنَا, arsalnaa) yang berarti "Kami mengutus" berakar ر-س-ل, akar yang sama dengan (رُسُلُهُمْ, rusuluhum) yang berarti "rasul-rasul mereka" di ayat sebelumnya. Pelaku ikut berpindah. Ayat 40:22 menyebut Allah dengan kata ganti orang ketiga dalam (إِنَّهُ, innahu) yang berarti "sesungguhnya Dia", sedangkan 40:23 memakai kata ganti Kami, baik pada kata kerja maupun pada tanda-tanda.

Kata (بِآيَاتِنَا, bi-aayaatinaa) berakar أ-ي-ي, dan susunan (مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا, muusaa bi-aayaatinaa) yang berarti "Musa dengan tanda-tanda Kami" ada di enam ayat, yaitu 7:103, 11:96, 14:5, 28:36, 40:23, dan 43:46. Akhiran -naa pada tanda-tanda menyandarkannya kepada Kami, sedangkan kata sesudahnya tidak diberi akhiran itu. Di surah ini tanda-tanda disandarkan kepada Allah dengan nama-Nya di enam ayat, yaitu 40:4, 40:35, 40:56, 40:63, 40:69, dan 40:81, misalnya (يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ, yujaadiluuna fii aayaati llaahi) yang berarti "memperdebatkan tanda-tanda Allah" di 40:35.

Kata (وَسُلْطَانٍ, wa-sulthaanin) yang berarti "dan keterangan" berakar س-ل-ط. Kata ini dipakai di tiga puluh tujuh ayat dan artinya mengikuti pokok yang dibicarakan: bila yang dibicarakan daya untuk bertindak, terjemahannya "kekuasaan" atau "kuasa", dan bila yang dibicarakan bukti dalam perbantahan, terjemahannya "keterangan", seperti di 7:71, 12:40, 52:38, dan 53:23. Di 40:23 yang dibicarakan adalah sesuatu yang dibawa seorang utusan bersama tanda-tanda, sehingga "keterangan" yang dipakai, sama dengan 11:96 dan 23:45. Surah ini sendiri memakai kata itu untuk sesuatu yang datang kepada pihak yang berdebat, yaitu (بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ, bi-ghayri sulthaanin ataahum) yang berarti "tanpa keterangan yang datang kepada mereka" di 40:35 dan 40:56.

Kata (مُبِينٍ, mubiinin) yang berarti "yang nyata" berakar ب-ي-ن, akar yang sama dengan (بِالْبَيِّنَاتِ, bi-l-bayyinaati) yang berarti "bukti-bukti yang nyata" di ayat sebelumnya, dan terjemahan memakai kata "nyata" untuk keduanya. Bentuk persis (مُبِينٍ, mubiinin) muncul tiga puluh sembilan kali. Gabungannya dengan kata sebelumnya, (وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ, wa-sulthaanin mubiinin) yang berarti "keterangan yang nyata", ada di tiga ayat, yaitu 11:96, 23:45, dan 40:23. Ketiganya memuat susunan lengkap (بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُبِينٍ, bi-aayaatinaa wa-sulthaanin mubiinin) yang berarti "dengan tanda-tanda Kami dan keterangan yang nyata".

Sasaran pengutusan belum tertulis di ayat ini. Sasaran itu ada di ayat berikutnya, (إِلَىٰ فِرْعَوْنَ, ilaa fir'awna) yang berarti "kepada Firaun", seperti 11:96 yang tujuannya ada di 11:97 dalam (إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ, ilaa fir'awna wa-mala'ihi) yang berarti "kepada Firaun dan para pemukanya". Tanda koma di ujung terjemahan menandai sambungan itu.

Tafsiran

Ayat ini membawa pernyataan umum di 40:22 ke satu kasus bernama. Ayat 40:22 berbicara tentang rasul-rasul yang datang kepada umat-umat terdahulu dengan bukti yang nyata, dan 40:23 menyebut Musa lengkap dengan bekalnya, yaitu tanda-tanda dan keterangan yang nyata. Urutan umum lebih dulu, kasus bernama sesudahnya, dapat dibaca sebagai cara surah ini memperlihatkan bahwa pola di 40:22 punya wujud yang bisa disebut namanya. Ayat tidak menyatakan Musa termasuk rasul-rasul di 40:22, dan hubungan itu hanya terbaca dari urutannya.

Bekal Musa dalam ayat ini berpasangan dengan keadaan pihak lain di surah yang sama. Di 40:35 dan 40:56 orang-orang yang memperdebatkan tanda-tanda Allah digambarkan melakukannya tanpa keterangan yang datang kepada mereka. Musa datang dengan kedua-duanya, tanda-tanda dan keterangan. Pertentangan itu tidak dinyatakan oleh teks sebagai satu rangkaian, tetapi dua ayat itu memakai dua kata yang sama dalam keadaan berlawanan: ada keterangan yang datang di 40:23, dan tidak ada di 40:35.

Ayat ini juga membuka bagian baru surah. Ayat 40:21 dan 40:22 berbicara tentang umat-umat terdahulu secara umum, dan sejak 40:23 pembicaraan beralih ke satu tokoh dan satu pihak yang ditujunya. Ayat 40:24 menyebut tiga nama sebagai tujuan, dan ayat-ayat sesudahnya menuturkan apa yang terjadi ketika Musa datang kepada mereka. Ayat ini belum memuat reaksi siapa pun, tetapi sudah menyiapkan dua hal yang kelak dihadapi reaksi itu, yaitu tanda-tanda dan keterangan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut tanda-tanda dengan akhiran Kami, sedangkan keterangan yang nyata datang tanpa akhiran itu. Alasan perbedaan itu tidak dijelaskan, dan keduanya tidak disusun menurut tingkat. Pembaca yang menimbang bukti dapat memperhatikan bahwa ayat ini menaruh dua jenis bekal dalam satu kalimat, satu yang disandarkan kepada Allah dengan jelas dan satu yang disebut sebagai keterangan saja. Bekal jenis apa yang paling mudah diterimanya, dan jenis apa yang paling jarang diperiksanya?
  • Ayat 40:22 menyebut bukti-bukti yang nyata dan 40:23 menyebut keterangan yang nyata, dua kata berbeda yang diterjemahkan dengan kata nyata yang sama. Pembaca yang menuntut bukti sebelum menerima sesuatu dapat memperhatikan bahwa kata nyata diulang dua kali berturut-turut, tanpa menyatakan seberapa nyata yang cukup. Ayat tidak memberi ukuran bagi cukupnya sebuah bukti. Apa yang dimintanya agar sesuatu menjadi nyata baginya, dan siapa yang menetapkan ukuran itu?
  • Di 40:35 dan 40:56 orang-orang yang memperdebatkan tanda-tanda Allah digambarkan melakukannya tanpa keterangan yang datang kepada mereka, sedangkan di 40:23 keterangan itu datang bersama Musa. Dua ayat itu berbicara tentang pihak dan keadaan yang berbeda, sehingga tidak disamakan. Pembaca yang pernah ikut berdebat tentang hal besar dapat memeriksa keterangan apa yang sudah sampai kepadanya sebelum mengambil pendapat. Dari yang pernah dikatakannya dengan yakin, mana yang berdiri di atas keterangan yang sampai kepadanya?
  • Dari 40:19 sampai 40:22 Allah dibicarakan dengan kata ganti orang ketiga, dan di 40:23 pelakunya berbicara dengan kata Kami. Ayat tidak menjelaskan alasan perpindahan itu. Pembaca yang membaca rangkaian sebelumnya sebagai laporan tentang Dia dari jauh mendapati bahwa kalimat pengutusan ini memakai suara pengutus sendiri. Apa yang berubah pada cara pembaca mendengar sebuah ayat ketika yang mengutus berbicara langsung dan tidak lagi dibicarakan?
  • Ayat ini berhenti setelah menyebut bekal dan belum menyebut kepada siapa Musa diutus, sebab tujuan itu baru ada di ayat berikutnya. Pembaca yang biasa menilai sebuah pesan sesudah mengetahui siapa penerimanya mendapati bahwa urutan di sini terbalik: bekal lebih dulu, penerima menyusul. Ayat 11:96 dan 11:97 memiliki pembagian yang sama. Bila pesan yang pernah diterimanya dibaca dengan urutan ini, bagian mana yang paling mudah terlupa, bekalnya atau penerimanya?
  • Kalimat pengutusan yang sama disambung ke tujuan berbeda di ayat lain. Di 14:5 Musa diutus dengan tanda-tanda Kami dan perintah (أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ, an akhrij qawmaka mina zh-zhulumaati ilaa n-nuuri) yang berarti "keluarkanlah kaummu dari berbagai kegelapan kepada cahaya", sedangkan di 40:23 tujuannya ada di 40:24, yaitu Firaun, Haman, dan Qarun. Pembaca yang mengingat kisah satu rasul sebagai satu tugas tunggal dapat memperhatikan bahwa Allah menyebut pengutusan yang sama dengan tujuan berbeda. Empat ayat memuat kalimat pengutusan yang sama, yaitu 11:96, 14:5, 40:23, dan 43:46, dengan tiga rumusan tujuan yang berbeda. Tugas manakah yang paling sering dibacanya sebagai seluruh kisah Musa?