وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ
Dan Firaun berkata, “Biarkan aku, aku akan membunuh Musa, dan biarlah ia memohon kepada Tuhannya. Sesungguhnya aku khawatir ia akan menukar pertanggungjawaban kalian, atau menampakkan kerusakan di bumi.”
Terjemahan bertahap (5 jeda)
- وَقَالَ فِرْعَوْنُwa-qaala fir'awnudan Firaun berkata
- ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰdzaruunii aqtul muusaabiarkan aku, aku akan membunuh Musa
- وَلْيَدْعُ رَبَّهُwa-l-yad'u rabbahudan biarlah ia memohon kepada Tuhannya
- إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْinnii akhaafu an yubaddila diinakumsesungguhnya aku khawatir ia akan menukar pertanggungjawaban kalian
- أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَaw an yuzhhira fii l-ardhi l-fasaadaatau menampakkan kerusakan di bumi
Terjemahan per kata (18 kata)
- وَقَالَwa-qaaladan berkata
- فِرْعَوْنُfir'awnuFiraun
- ذَرُونِيdzaruuniibiarkanlah aku
- أَقْتُلْaqtulaku membunuh
- مُوسَىٰmuusaaMusa
- وَلْيَدْعُwa-l-yad'udan biarlah ia memanggil
- رَبَّهُrabbahuTuhannya
- إِنِّيinniisesungguhnya aku
- أَخَافُakhaafuaku takut
- أَنْanbahwa
- يُبَدِّلَyubaddilamengganti
- دِينَكُمْdiinakumpertanggungjawaban kalian
- أَوْawatau
- أَنْanbahwa
- يُظْهِرَyuzhhiramenampakkan
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- الْفَسَادَl-fasaadakerusakan
Inti bacaan
Kata kerja (يُظْهِرَ, yuzhhira) muncul empat kali di Al-Qur'an (9:33, 40:26, 48:28, 61:9), dan objeknya kerusakan di 40:26 saja.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَقَالَ فِرْعَوْنُ, wa-qaala fir'awnu) yang berarti "dan Firaun berkata". Ucapannya dimulai dengan (ذَرُونِي, dzaruunii) yang berarti "biarkan aku", kata perintah dari akar و-ذ-ر. Akhiran -uu menunjuk beberapa orang yang diajak bicara, dan akhiran -nii menunjuk "aku". Bentuk perintah untuk satu orang, (ذَرْنِي, dzarnii), ada tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 68:44, 73:11, dan 74:11, dan di ketiganya pembicaranya Allah. Kata (أَقْتُلْ, aqtul) dalam (ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ, dzaruunii aqtul muusaa) berarti "aku akan membunuh", dan terjemahan memakai "akan" karena tindakan itu belum terjadi dan bergantung pada permintaan di depannya.
Kalimat (وَلْيَدْعُ رَبَّهُ, wa-l-yad'u rabbahu) berarti "dan biarlah ia memohon kepada Tuhannya". Huruf (لْ, l-) yang berarti "biarlah" membuat kata kerja sesudahnya menjadi perintah bagi orang ketiga, yaitu Musa. Akar د-ع-و berarti memanggil dan berdoa, dan terjemahan memakai "memohon" karena Musa memanggil Tuhannya. Akhiran -hu pada (رَبَّهُ, rabbahu) menunjuk Musa, sehingga Firaun menyebut Tuhan itu dengan kata ganti Musa.
Kalimat (إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ, innii akhaafu an yubaddila diinakum) berarti "sesungguhnya aku khawatir ia akan menukar pertanggungjawaban kalian". Rangkaian (إِنِّي أَخَافُ, innii akhaafu) muncul delapan belas kali di tiga belas surah, yaitu 5:28, 6:15, 7:59, 8:48, 10:15, 11:3, 11:26, 11:84, 19:45, 26:12, 26:135, 28:34, 39:13, 40:26, 40:30, 40:32, 46:21, dan 59:16. Bila kata (أَنْ, an) yang berarti "bahwa" langsung mengikutinya, kata kerja itu dipakai tujuh kali, yaitu di 12:13, 19:45, 26:12, 26:14, 28:33, 28:34, dan 40:26. Empat di antaranya diucapkan Musa, yang mengkhawatirkan dirinya didustakan atau dibunuh, misalnya (أَنْ يُكَذِّبُونِ, an yukadzdzibuuni) yang berarti "mereka akan mendustakanku" di 26:12. Di 40:26 pengucapnya Firaun, yang mengkhawatirkan perubahan pada kaumnya.
Kata (دِينَكُمْ, diinakum) tersusun dari diin dan akhiran -kum yang berarti "kalian". Akar د-ي-ن diterjemahkan "pertanggungjawaban" untuk sistem nilai yang dipertanggungjawabkan seseorang, dan bentuk (دِينَكُمْ, diinakum) ada di empat ayat, yaitu 3:73, 5:3, 5:57, dan 40:26. Di 5:3 bunyinya (أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ, akmaltu lakum diinakum) yang berarti "Aku sempurnakan pertanggungjawaban kalian untuk kalian". Kata kerja (يُبَدِّلَ, yubaddila) dari akar ب-د-ل berarti membuat sesuatu berganti dengan yang lain. Di 25:70 kedua sisi pergantian disebut, yaitu (يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ, yubaddilu llaahu sayyi'aatihim hasanaatin) yang berarti "Allah mengganti keburukan mereka dengan kebaikan". Di 40:26 sisi yang diganti disebut, yaitu pertanggungjawaban kalian, dan penggantinya tidak disebut.
Frasa (أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ, aw an yuzhhira fii l-ardhi l-fasaada) berarti "atau menampakkan kerusakan di bumi". Kata kerja (يُظْهِرَ, yuzhhira) dari akar ظ-ه-ر muncul empat kali, yaitu di 9:33, 40:26, 48:28, dan 61:9. Di tiga ayat yang lain bunyinya (لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ, li-yuzhhirahu 'alaa d-diini) yang berarti "agar Dia mengunggulkannya atas pertanggungjawaban", dengan seorang rasul sebagai objek dan kata (عَلَى, 'alaa) yang berarti "atas". Di 40:26 objeknya kerusakan dan kata 'alaa tidak ada, sehingga terjemahan memakai "menampakkan", sama seperti kata kerja asalnya di 30:41, (ظَهَرَ الْفَسَادُ, zhahara l-fasaadu) yang berarti "telah tampak kerusakan". Kata (الْفَسَادَ, l-fasaada) dengan kata sandang al-, dalam berbagai kedudukan, muncul di enam ayat, yaitu 2:205, 11:116, 28:77, 30:41, 40:26, dan 89:12.
Tafsiran
Ayat ini pindah dari perintah kepada banyak orang di 40:25 ke keinginan seorang penguasa. Firaun meminta dibiarkan membunuh Musa dan memberi dua alasan, yaitu pertanggungjawaban kaumnya bisa berganti dan kerusakan bisa tampak di bumi. Kedua alasan itu berbicara tentang tatanan yang dipegangnya. Kebenaran yang dibawa Musa dari sisi Allah, seperti disebut di 40:25, tidak dibicarakan dalam ucapannya, dan jawaban atas kebenaran itu baru datang dari lelaki lain di 40:28.
Permintaan (ذَرُونِي, dzaruunii) menunjukkan ada pendengar yang perlu dimintai, tetapi ayat tidak menyebut siapa mereka dan apakah ada yang menahan Firaun. Tuduhan kerusakan di bumi juga bukan hal baru. Di 7:127 para pemuka kaum Firaun mengucapkan (لِيُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ, li-yufsiduu fi l-ardhi) yang berarti "untuk berbuat kerusakan di bumi" tentang Musa dan kaumnya. Di kedua ayat tuduhan itu keluar dari mulut pihak yang berkuasa, dan 40:26 menaruhnya pada Musa sebagai kekhawatiran akan masa depan.
Kata kerja untuk rasa takut juga berpindah pemakainya. Musa memakai (فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ, fa-akhaafu an yaqtuluuni) yang berarti "maka aku takut mereka akan membunuhku" di 26:14 dan 28:33, sehingga di kedua ayat itu Musa takut dibunuh. Di 40:26 kata kerja yang sama diucapkan oleh orang yang memegang kuasa membunuh dan sedang meminta izin untuk melakukannya. Lelaki beriman di 40:30 dan 40:32 memakai rangkaian (إِنِّي أَخَافُ, innii akhaafu) pula, dan yang dikhawatirkannya nasib kaumnya.
Jawaban Musa di 40:27 tidak membantah satu pun alasan itu. Musa menyebut Tuhannya yang sama dengan Tuhan para pendengarnya dan berlindung kepada-Nya, sehingga ucapan Firaun tentang "Tuhannya" dijawab dengan ucapan "Tuhanku dan Tuhan kalian". Kata kerja (يُظْهِرَ, yuzhhira) di 9:33, 48:28, dan 61:9 berpelaku Allah dan berobjek rasul-Nya yang diunggulkan, sedangkan di 40:26 objeknya kerusakan dalam kekhawatiran Firaun.
Renungan dan Hikmah
- Firaun membuka dengan permintaan, (ذَرُونِي, dzaruunii) yang berarti "biarkan aku", dan di kalimat yang sama sudah menyebut tindakannya: aku akan membunuh Musa. Permintaan izin dan keputusan berdiri berdampingan, sehingga para pendengar diminta merestui sesuatu yang tidak menunggu restu mereka. Di 68:44, 73:11, dan 74:11 permintaan yang sama dalam bentuk tunggal diucapkan Allah, misalnya (فَذَرْنِي, fa-dzarnii) yang berarti "maka biarkan Aku", dan yang menyusul di ayat-ayat itu adalah tindakan Allah sendiri terhadap para pendusta. Kalimat "biarkan aku" yang pernah didengar atau diucapkan pembaca dapat ditimbang dari sini: apakah kalimat itu sungguh permintaan, atau pemberitahuan yang diberi bentuk permintaan?
- Kalimat (وَلْيَدْعُ رَبَّهُ, wa-l-yad'u rabbahu) menyebut doa Musa sebagai sesuatu yang boleh dilakukan Musa di samping keputusan Firaun, dan Firaun tidak mengatakan apa pun tentang jawaban atas doa itu. Di 40:60 Tuhan berfirman (ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ, ud'uunii astajib lakum) yang berarti "berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian", dan kata (ادْعُونِي, ud'uunii) ada di ayat itu saja. Doa yang diletakkan di ujung kalimat seorang penguasa dan doa yang dijanjikan terkabul dalam firman Tuhan berada dalam satu surah. Ketika sebuah ajakan berdoa datang dari orang yang baru menyebut niat membunuh, apa yang tersisa dari ajakan itu?
- Dua alasan Firaun diucapkan dengan kata "kalian" dan "bumi", sehingga terdengar menyangkut orang banyak: pertanggungjawaban kalian berganti dan kerusakan tampak di bumi. Ayat ini tidak mencatat satu perbuatan Musa pun yang menjadi dasar kekhawatiran itu, dan tidak menyebut senjata atau pasukan di tangannya. Kekhawatiran akan sesuatu yang belum terjadi dipakai untuk membenarkan tindakan yang tidak dapat ditarik kembali. Pembaca dapat menimbang kapan sebuah kekhawatiran cukup menjadi dasar bagi tindakan sekeras itu, dan siapa yang menentukan cukupnya.
- Musa dan Firaun memakai kata kerja yang sama untuk rasa takut, dan alamat rasa takut itu berbeda. Di 28:33 Musa berkata (قَالَ رَبِّ إِنِّي قَتَلْتُ مِنْهُمْ نَفْسًا فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ, qaala rabbi innii qataltu minhum nafsan fa-akhaafu an yaqtuluuni) yang berarti "ia berkata, 'Tuhanku, sesungguhnya aku telah membunuh seorang dari mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku'", dan rasa takut itu dibawa kepada Tuhannya. Di 40:26 rasa takut dibawa kepada para pendengar dan berujung pada permintaan izin membunuh. Pembaca dapat memperhatikan ke mana rasa takutnya sendiri dibawa. Kepada siapa rasa takut itu diadukan, dan tindakan apa yang digerakkannya?
- Firaun mengkhawatirkan pertanggungjawaban kaumnya ditukar oleh Musa. Di 5:3 Allah berfirman (أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ, akmaltu lakum diinakum) yang berarti "Aku sempurnakan pertanggungjawaban kalian untuk kalian", dan kata itu ditujukan kepada orang-orang beriman, bukan kepada kaum Firaun. Dua ayat itu tidak membicarakan hal yang sama. Meski demikian keduanya menaruh pertanggungjawaban pada kata "kalian", sesuatu yang dimiliki pemegangnya dan dapat dicemaskan hilang atau disebut sudah disempurnakan. Pembaca dapat menanyakan apa yang dipegangnya sebagai pertanggungjawaban, dan siapa yang ditakutinya akan menukarnya. Apakah ketakutan itu lebih kuat daripada kepercayaannya kepada Allah yang menyempurnakan?
- Di 40:26 kata kerusakan keluar dari mulut Firaun untuk Musa, dan di 7:127 dari mulut para pemuka kaumnya untuk Musa dan kaumnya. Sebutan itu berasal dari pihak yang sedang memegang kuasa. Di 2:205 Allah berfirman (وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ, wa-llaahu laa yuhibbu l-fasaada) yang berarti "dan Allah tidak mencintai kerusakan", tanpa menyerahkan penamaannya kepada penguasa mana pun. Dari dua arah itu pembaca dapat menimbang, di sekitarnya, sebutan "kerusakan" dipakai oleh siapa dan untuk siapa. Apakah penamaan itu sejalan dengan apa yang tidak dicintai Allah?