أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا ۚ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ ۚ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلَّا فِي تَبَابٍ
jalan-jalan langit, lalu, aku dapat menengok tuhan Musa; dan sesungguhnya aku benar-benar mengiranya seorang pendusta.” Dan demikianlah dijadikan terasa indah bagi Firaun keburukan amalnya, dan ia dihalangi dari jalan; dan tidaklah siasat Firaun kecuali dalam kebinasaan.
Terjemahan bertahap (6 jeda)
- أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِasbaaba s-samaawaatijalan-jalan langit
- فَأَطَّلِعَ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰfa-aththali'a ilaa ilaahi muusaalalu, aku dapat menengok tuhan Musa
- وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًاwa-innii la-azhunnuhu kaadzibandan sesungguhnya aku benar-benar mengiranya seorang pendusta
- وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِwa-ka-dzaalika zuyyina li-fir'awna suu'u 'amalihidan demikianlah dijadikan terasa indah bagi Firaun keburukan amalnya
- وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِwa-shudda 'ani s-sabiilidan ia dihalangi dari jalan
- وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلَّا فِي تَبَابٍwa-maa kaydu fir'awna illaa fii tabaabindan tidaklah siasat Firaun kecuali dalam kebinasaan
Terjemahan per kata (23 kata)
- أَسْبَابَasbaabajalan-jalan
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- فَأَطَّلِعَfa-aththali'amaka aku menengok
- إِلَىٰilaakepada
- إِلَٰهِilaahiSembahan
- مُوسَىٰmuusaaMusa
- وَإِنِّيwa-inniidan sesungguhnya aku
- لَأَظُنُّهُla-azhunnuhusungguh aku mengiranya
- كَاذِبًاkaadzibandusta
- وَكَذَٰلِكَwa-ka-dzaalikadan demikianlah
- زُيِّنَzuyyinadihiasi
- لِفِرْعَوْنَli-fir'awnakepada Firaun
- سُوءُsuu'ukeburukan
- عَمَلِهِ'amalihiamalnya
- وَصُدَّwa-shuddadan dihalangi
- عَنِ'anidari
- السَّبِيلِs-sabiilijalan
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- كَيْدُkaydusiasat
- فِرْعَوْنَfir'awnaFiraun
- إِلَّاillaakecuali
- فِيfiidalam
- تَبَابٍtabaabinkerugian
Inti bacaan
Kata (تَبَابٍ, tabaabin) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 40:37, dan akarnya dipakai juga di 111:1 dan 11:101.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini melanjutkan ucapan Firaun di 40:36 tanpa kata pembuka baru. Kata (أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ, asbaaba s-samaawaati) yang berarti "jalan-jalan langit" mengisi apa yang di 40:36 baru disebut (الْأَسْبَابَ, l-asbaaba), yang berarti "jalan-jalan itu". Kata asbaab adalah jamak dari sabab, dan kedua bentuk itu muncul di sembilan ayat, yaitu 2:166, 18:84, 18:85, 18:89, 18:92, 22:15, 38:10, 40:36, dan 40:37. Padanan "jalan" dipakai di 18:85, (فَأَتْبَعَ سَبَبًا, fa-atba'a sababan) yang berarti "maka ia pun menyusuri suatu jalan", sehingga sabab di sana adalah sesuatu yang diikuti. Di 38:10 kata kerjanya menyebut naik, (فَلْيَرْتَقُوا فِي الْأَسْبَابِ, fa-l-yartaquu fii l-asbaabi) yang berarti "biarlah mereka menaiki tangga-tangga", dan di 22:15 kata kerjanya menyebut merentangkan, (فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ إِلَى السَّمَاءِ, fa-l-yamdud bi-sababin ilaa s-samaa'i) yang berarti "hendaklah merentangkan tali ke langit", sehingga padanan di dua tempat itu mengikuti kata kerjanya. Di 40:36 kata kerjanya (أَبْلُغُ, ablughu) yang berarti "aku sampai", sehingga sesuatu yang dicapai itu berupa tujuan di ujung jalan, dan terjemahan memakai "jalan-jalan" seperti di 18:85.
Kata (فَأَطَّلِعَ, fa-aththali'a) yang berarti "lalu, aku dapat menengok" tersusun dari (فَ, fa) yang berarti "lalu" dan kata kerja akar ط-ل-ع. Kata kerja akar ini dengan huruf ط yang digandakan muncul di tujuh ayat, yaitu 5:13, 18:18, 19:78, 28:38, 37:55, 40:37, dan 104:7. Di 37:55, (فَاطَّلَعَ فَرَآهُ, fa-ththala'a fa-ra'aahu) yang berarti "maka ia menengok, lalu melihatnya", menengok dan melihat dua kata kerja yang berurutan, sehingga terjemahan memakai "menengok" untuk kata kerja pertama dan menyisakan "melihat" bagi kata kerja kedua. Arah menengok tidak datang dari kata kerjanya. Di 37:55 orang itu menengok ke (فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ, fii sawaa'i l-jahiimi) yang berarti "di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala", sedangkan di 40:37 arah itu datang dari asbaab as-samaawaat. Kata "dapat" tidak punya kata Arab sendiri. Terjemahan memasukkannya karena (لَعَلِّي, la'allii) di 40:36 menyatakan menengok sebagai harapan, dan di 28:38 (لَعَلِّي أَطَّلِعُ, la'allii aththali'u) menyatakannya dengan cara yang sama.
Kata (إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ, ilaa ilaahi muusaa) yang berarti "kepada tuhan Musa" muncul dua kali, yaitu di 28:38 dan 40:37, dan dua-duanya diucapkan Firaun. Kata ilaahi tidak memakai al-, sehingga terjemahan memakai huruf kecil, sama seperti (أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ, a-ilaahun ma'a llaahi) di 27:61 yang berarti "apakah ada tuhan bersama Allah". Huruf kecil di sini mengikuti bentuk kata Arabnya dan cara Firaun menyebutnya.
Kata (لَأَظُنُّهُ, la-azhunnuhu) yang berarti "benar-benar mengiranya" berakar ظ-ن-ن, dengan awalan (لَ, la-) penguat dan akhiran (هُ, -hu) yang berarti "-nya". Bentuk la-azhunnu muncul empat kali di tiga surah, yaitu 17:101, 17:102, 28:38, dan 40:37. Di 17:101 Firaun berkata (لَأَظُنُّكَ يَا مُوسَىٰ مَسْحُورًا, la-azhunnuka yaa muusaa mashuuran) yang berarti "aku benar-benar menyangkamu, wahai Musa, terkena sihir", dan di 17:102 Musa memakai kata kerja yang sama kepada Firaun, (لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا, la-azhunnuka yaa fir'awnu matsbuuran) yang berarti "aku benar-benar menyangkamu, wahai Firaun, terlaknat". Terjemahan 40:37 memakai "mengira" dan tidak "yakin". Di 45:32 akar yang sama dipasangkan dengan penyangkalan atas keyakinan, (وَمَا نَحْنُ بِمُسْتَيْقِنِينَ, wa-maa nahnu bi-mustayqiniina) yang berarti "dan kami tidak yakin", dan kata bendanya, (ظَنًّا, zhannan), diterjemahkan "dugaan" di 10:36. Kata (كَاذِبًا, kaadziban) yang berarti "seorang pendusta" muncul dua kali di surah ini, yaitu di 40:28 dan 40:37.
Kata kerja (زُيِّنَ, zuyyina) yang berarti "dijadikan terasa indah" berakar ز-ي-ن dan berbentuk yang tidak menyebut siapa yang menjadikannya. Bentuk ini muncul di sepuluh ayat, yaitu 2:212, 3:14, 6:122, 9:37, 10:12, 13:33, 35:8, 40:37, 47:14, dan 48:12. Di 27:24 dan 29:38 pelakunya disebut, (وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ, wa-zayyana lahumu sy-syaythaanu a'maalahum) yang berarti "dan setan menjadikan indah bagi mereka perbuatan-perbuatan mereka". Di 40:37 tidak ada kata yang menyebut pelaku, dan terjemahan tidak menambahkannya. Frasa (سُوءُ عَمَلِهِ, suu'u 'amalihi) yang berarti "keburukan amalnya" muncul tiga kali, yaitu di 35:8, 40:37, dan 47:14. Padanan "terasa" ditopang oleh 35:8, tempat zuyyina disusul (فَرَآهُ حَسَنًا, fa-ra'aahu hasanan) yang berarti "lalu ia memandangnya baik", sehingga yang berubah adalah penilaian orangnya dan keburukan amalnya tetap buruk.
Kata (وَصُدَّ, wa-shudda) yang berarti "dan ia dihalangi" berakar ص-د-د dan juga berbentuk yang tidak menyebut pelakunya. Bentuk ini hanya muncul di 13:33, (وَصُدُّوا, wa-shudduu) yang berarti "dan mereka dihalangi", dan di 40:37. Dua ayat itu sama-sama memuat zuyyina lebih dulu dan wa-shudda sesudahnya. Pelakunya disebut di 27:24 dan 29:38, (فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ, fa-shaddahum 'ani s-sabiili) yang berarti "lalu menghalangi mereka dari jalan". Kata (السَّبِيلِ, s-sabiili) berakar س-ب-ل, berbeda dari asbaab di awal ayat yang berakar س-ب-ب. Terjemahan memakai "jalan" untuk keduanya, sehingga pembaca perlu tahu bahwa satu kata Indonesia itu mewakili dua kata Arab yang berbeda akar.
Kata (وَمَا كَيْدُ, wa-maa kaydu) yang berarti "dan tidaklah siasat" muncul dua kali, yaitu di 40:25 dan 40:37. Di 40:25 sambungannya (إِلَّا فِي ضَلَالٍ, illaa fii dhalaalin) yang berarti "kecuali dalam kesesatan", dan di 40:37 (إِلَّا فِي تَبَابٍ, illaa fii tabaabin) yang berarti "kecuali dalam kebinasaan". Kata tabaab berakar ت-ب-ب dan muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an. Akar yang sama dipakai di 111:1, (تَبَّتْ, tabbat) yang berarti "binasalah", dan di 11:101, (غَيْرَ تَتْبِيبٍ, ghayra tatbiibin) yang berarti "selain kebinasaan". Terjemahan memakai "kebinasaan" untuk tabaab dan tidak "kerugian". Kata kerugian dipakai untuk akar خ-س-ر, misalnya (غَيْرَ تَخْسِيرٍ, ghayra takhsiirin) yang berarti "selain kerugian" di 11:63, dan dua akar itu sama-sama berada dalam rumus "selain" di surah 11.
Tafsiran
Ayat ini memuat dua suara. Dari awal sampai kata pendusta, Firaun berbicara tentang dirinya dengan kata aku. Sesudah itu namanya disebut dua kali oleh suara lain, di (لِفِرْعَوْنَ, li-fir'awna) dan (كَيْدُ فِرْعَوْنَ, kaydu fir'awna), sehingga bagian akhir ayat berupa penilaian atas rencana yang baru diucapkan.
Rencana di 40:36 dan 40:37 disusun dari ujung ke pangkal. Firaun meminta menara, menara itu dimaksudkan untuk sampai ke jalan-jalan langit, jalan-jalan itu dimaksudkan untuk menengok tuhan Musa, dan alasan seluruhnya baru muncul di kalimat terakhir bagian ucapannya, yaitu bahwa Firaun mengira Musa seorang pendusta. Dasar rencana ditaruh paling akhir, dan dasar itu sebuah dugaan. Lelaki beriman di 40:28 memakai kata yang sama dengan cara lain, (وَإِنْ يَكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ, wa-in yaku kaadziban fa-'alayhi kadzibuhu) yang berarti "dan jika ia seorang pendusta, maka atasnyalah dustanya", lalu menyusul kemungkinan sebaliknya, (وَإِنْ يَكُ صَادِقًا, wa-in yaku shaadiqan) yang berarti "dan jika ia seorang yang benar". Lelaki itu membiarkan dua kemungkinan terbuka, sedangkan Firaun di 40:37 menutup satu kemungkinan sebelum menaranya berdiri.
Tiga kalimat penutup disambung dengan huruf wa dan menilai rencana itu dari luar. Kalimat pertama menyebut cara Firaun memandang amalnya, kalimat kedua menyebut kedudukannya terhadap jalan, dan kalimat ketiga menyebut ke mana siasatnya berakhir. Urutan itu bergerak dari penilaian di dalam diri, ke jarak terhadap jalan, ke hasil di luar. Surah ini memakai rumus yang sama dua kali. Di 40:25 siasat orang-orang kafir, yang di ayat itu memerintahkan pembunuhan anak laki-laki orang beriman, berakhir dalam kesesatan, dan di 40:37 siasat Firaun sendiri berakhir dalam kebinasaan. Siasat bersama dan siasat pribadi sama-sama ditutup dengan rumus yang bentuknya sama.
Ayat berikutnya, 40:38, langsung memuat lelaki beriman berbicara lagi, dan sampai 40:44 tidak ada jawaban dari pihak Firaun atas rencana menara. Sesudah 40:36 surah ini tidak menyebut menara itu lagi, sehingga tidak dituturkan apakah menara itu pernah berdiri.
Renungan dan Hikmah
- Rencana di 40:36 dan 40:37 membutuhkan menara, perintah kepada Haman, dan jalan-jalan langit, sedangkan dasarnya hanya satu kalimat di ujung ucapan, yaitu bahwa Firaun mengira Musa seorang pendusta. Lelaki beriman di 40:28 meninggalkan dua kemungkinan terbuka, bahwa dusta itu menimpa pelakunya atau bahwa sebagian ancaman menimpa pendengarnya, lalu menutup dengan pernyataan bahwa Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas lagi banyak berdusta. Orang yang sedang menyiapkan sesuatu yang besar dapat memeriksa apakah persiapan itu dimaksudkan untuk menguji dugaannya atau untuk menyelamatkan dugaan itu dari ujian. Bila hasil ujian itu berbalik, bagian mana dari rencananya yang ikut berubah?
- Di 35:8 ayat bertanya apakah orang yang keburukan amalnya dijadikan terasa indah baginya, sehingga ia memandang amal itu baik, sama dengan orang yang mendapat petunjuk, dan ayat yang sama bersambung dengan pernyataan bahwa Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Ayat 40:37 memuat bagian pertama dan tidak menyebut siapa yang menjadikan keburukan itu terasa indah. Keadaan batin yang digambarkan dua ayat itu sama: amal yang buruk dipandang baik oleh pelakunya. Pembaca dapat bertanya dari mana seseorang tahu bahwa sesuatu yang terasa seperti keberhasilan tidak sedang disebut keburukan oleh ayat-ayat ini, dan kepada siapa pertanyaan itu pantas diajukan lebih dulu, kepada orang lain atau kepada Allah?
- Firaun mengerahkan tenaga pada (أَسْبَابَ, asbaaba), jalan-jalan yang Firaun rencanakan sendiri, dan pada saat yang sama ayat ini mencatat bahwa Firaun dihalangi dari (السَّبِيلِ, s-sabiili), jalan yang sudah ada. Satu jalan dikerjakan oleh pelakunya, satu lagi dilalui, dan keduanya diterjemahkan dengan kata yang sama padahal bukan kata Arab yang sama. Jalan mana yang sedang dibangun seseorang, jalan mana yang sedang dilewatinya, dan apakah keduanya sama?
- Di 17:101 Firaun berkata la-azhunnuka kepada Musa, dan di 17:102 Musa membalas dengan kata kerja yang sama, tetapi sebelum itu Musa menyebut hal lain, yaitu (لَقَدْ عَلِمْتَ, la-qad 'alimta) yang berarti "sungguh engkau telah mengetahui", bahwa tidak ada yang menurunkan tanda-tanda itu kecuali Tuhan langit dan bumi. Satu pihak berbicara dari dugaan, dan pihak lain menyatakan ada sesuatu yang sudah diketahui lawan bicaranya. Dugaan Firaun di 40:37 diarahkan kepada tuhan Musa lewat jalan-jalan langit, sedangkan 17:102 menyebut Tuhan itu Tuhan langit dan bumi, sehingga dua ayat itu menyebut langit dari dua arah yang berlawanan. Orang yang memutuskan sesuatu dari dugaan dapat bertanya apa yang sebenarnya sudah diketahuinya tentang hal itu dan belum diakuinya?
- Ayat 22:15 bertanya tentang orang yang menyangka Allah tidak akan menolongnya di dunia dan akhirat: bila orang itu merentangkan tali ke langit lalu memutusnya, (هَلْ يُذْهِبَنَّ كَيْدُهُ مَا يَغِيظُ, hal yudzhibanna kayduhu maa yaghiizhu) yang berarti "apakah siasatnya melenyapkan apa yang menggusarkannya". Ayat itu tidak menyebut Firaun, dan 40:37 tidak mengutip pertanyaan itu, tetapi keduanya memuat sabab, langit, sangkaan, dan siasat. Ayat 22:15 menaruh hasil siasat dalam bentuk pertanyaan, sedangkan 40:37 menaruhnya dalam kalimat penutup yang menyebut alamat akhirnya. Orang yang menyusun siasat dapat menuliskan alamat yang diharapkannya, lalu membandingkannya dengan alamat yang disebut kedua ayat ini. Apakah alamat itu masih sama?
- Di bagian ucapan Firaun, kata aku dipakai tiga kali: dalam fa-aththali'a, dalam innii, dan dalam la-azhunnuhu. Di bagian penilaian, kata aku hilang dan yang tersisa adalah namanya, dua kali. Rencana ditulis dengan kata ganti orang pertama, sedangkan penilaian atas rencana itu ditulis dengan nama. Seseorang dapat mencoba menuliskan rencananya sendiri dengan kata aku, lalu membayangkan kalimat penutupnya ditulis oleh pihak lain yang hanya memakai namanya. Mana dari dua kalimat itu yang lebih dekat pada kenyataan hidupnya?