يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ

Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya kesenangan, dan sesungguhnya akhirat adalah negeri tempat menetap.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌyaa qawmi innamaa haadzihi l-hayaatu d-dunyaa mataa'unwahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya kesenangan
  2. وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِwa-inna l-aakhirata hiya daaru l-qaraaridan sesungguhnya akhirat adalah negeri tempat menetap

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. قَوْمِqawmikaumku
  3. إِنَّمَاinnamaasesungguhnya hanyalah
  4. هَٰذِهِhaadzihiini
  5. الْحَيَاةُl-hayaatukehidupan
  6. الدُّنْيَاd-dunyaadunia
  7. مَتَاعٌmataa'unkesenangan
  8. وَإِنَّwa-innadan sungguh
  9. الْآخِرَةَl-aakhirataakhirat
  10. هِيَhiyaia
  11. دَارُdaarunegeri
  12. الْقَرَارِl-qaraaritempat menetap

Inti bacaan

Rangkaian (مَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ, mataa'un ilaa hiinin) muncul lima kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:36, 7:24, 16:80, 21:111, dan 36:44, dan tidak ada di 40:39 meski kata mataa' ada di sana.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari dua kalimat yang disambung dengan (وَإِنَّ, wa-inna) yang berarti "dan sesungguhnya". Kalimat pertama memuat (هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا, haadzihi l-hayaatu d-dunyaa) yang berarti "kehidupan dunia ini", dengan kata tunjuk dekat (هَٰذِهِ, haadzihi) yang berarti "ini", sehingga terjemahan menaruh "ini" sesudah "kehidupan dunia". Rangkaian haadzihi l-hayaatu muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 29:64 dan 40:39. Di 29:64 bunyinya (وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ, wa-maa haadzihi l-hayaatu d-dunyaa illaa lahwun wa-la'ibun) yang berarti "dan kehidupan dunia ini tidak lain senda gurau dan permainan", lalu kalimat sesudahnya membicarakan akhirat, (وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ, wa-inna d-daara l-aakhirata la-hiya l-hayawaanu) yang berarti "dan sesungguhnya negeri akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya". Susunan kedua ayat sejajar, yaitu kehidupan dunia ini disebut dulu, lalu akhirat dengan kata hiya. Isi dan pembicaranya berbeda, sehingga ayat yang satu tidak dipakai untuk menafsirkan yang lain.

Kata (مَتَاعٌ, mataa'un) yang berarti "kesenangan" berakar م-ت-ع dan berbentuk tak tentu, tanpa kata sandang, sehingga terjemahan memakai "kesenangan" tanpa "itu". Kata ini dipasangkan dengan kehidupan dunia di 3:185, 13:26, 28:60, dan 43:35, dan di keempat ayat itu terjemahan memakai "kesenangan" pula. Di 13:26 bunyinya (وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ, wa-maa l-hayaatu d-dunyaa fii l-aakhirati illaa mataa'un) yang berarti "dan kehidupan dunia dibandingkan akhirat tidak lain kesenangan". Ayat 13:26 menimbang dunia terhadap akhirat dalam satu kalimat, sedangkan 40:39 menaruh keduanya dalam dua kalimat yang masing-masing berdiri sendiri. Ayat lain memberi mataa' sifat: (مَتَاعُ الْغُرُورِ, mataa'u l-ghuruuri) di 3:185 yang berarti "kesenangan yang memperdaya", dan (مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ, mataa'u d-dunyaa qaliilun) di 4:77 yang berarti "kesenangan dunia itu sedikit". Di 40:39 kata mataa' berdiri tanpa sifat.

Di lima ayat kata mataa' disusul batas waktu, yaitu (إِلَىٰ حِينٍ, ilaa hiinin) yang berarti "sampai suatu waktu", di 2:36, 7:24, 16:80, 21:111, dan 36:44. Di 2:36 bunyinya (وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ, wa-lakum fii l-ardhi mustaqarrun wa-mataa'un ilaa hiinin) yang berarti "dan bagi kalian di bumi ada tempat menetap dan kesenangan sampai suatu waktu", dan kalimat yang sama ada di 7:24. Di 40:39 batas waktu itu tidak disebut, dan terjemahan tidak menambahkan "sementara" atau "sebentar", karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya.

Kata (دَارُ, daaru) yang berarti "negeri" berakar د-و-ر. Kata daar sendiri tidak membawa penilaian, dan nilainya datang dari kata yang menyusulnya. Sandingan sejenis ada di (دَارُ السَّلَامِ, daaru s-salaami) di 6:127 yang berarti "negeri kedamaian", (دَارَ الْبَوَارِ, daara l-bawaari) di 14:28 yang berarti "negeri kebinasaan", (دَارَ الْمُقَامَةِ, daara l-muqaamati) di 35:35 yang berarti "negeri tempat tinggal", dan (دَارُ الْخُلْدِ, daaru l-khuldi) di 41:28 yang berarti "negeri keabadian". Ayat 14:28 memakainya untuk orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekufuran, dan 41:28 untuk musuh-musuh Allah yang menerima balasan berupa api, sehingga kata daar dipakai untuk penghuni yang sangat berbeda. Terjemahan memakai "negeri" untuk daar di ayat ini seperti di 6:127 dan 14:28.

Kata (الْقَرَارِ, l-qaraari) yang berarti "tempat menetap" berakar ق-ر-ر dan muncul di sembilan ayat, yaitu 14:26, 14:29, 23:13, 23:50, 27:61, 38:60, 40:39, 40:64, dan 77:21. Terjemahan memakai "tempat menetap" di 14:29, 23:50, 38:60, dan 40:64. Di 14:29 dan 38:60 kata ini dipakai untuk Jahanam, (بِئْسَ الْقَرَارُ, bi'sa l-qaraaru) yang berarti "seburuk-buruk tempat menetap", sehingga kata qaraar sendiri tidak memuji. Di 40:64 kata yang sama dipakai untuk bumi, (جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا, ja'ala lakumu l-ardha qaraaran) yang berarti "menjadikan bumi untuk kalian sebagai tempat menetap". Karena itu terjemahan memakai "tempat menetap" dan tidak "kekal". Kata Arab untuk kekal adalah (الْخُلْدِ, l-khuldi) di 41:28, dan kata itu tidak ada di 40:39. Akar ق-ر-ر dan م-ت-ع bersanding pula di 2:36 dan 7:24, yaitu mustaqarrun dan mataa'un, dua-duanya untuk bumi.

Kata ganti (هِيَ, hiya) berdiri di antara "akhirat" dan "negeri". Data morfologi menandainya sebagai kata ganti bentuk perempuan tunggal, selaras dengan (الْآخِرَةَ, l-aakhirata) di depannya. Dengan kata ganti itu ucapan menegaskan bahwa negeri tempat menetap itu akhirat sendiri, sebagaimana la-hiya di 29:64 menegaskan bahwa kehidupan yang sebenarnya itu negeri akhirat sendiri.

Tafsiran

Ayat ini menaruh dua kalimat sesudah ajakan di 40:38, dan tidak ada kata penghubung sebab di antaranya. Ajakan (اتَّبِعُونِ, ittabi'uuni) yang berarti "ikutilah aku" berhenti di 40:38, lalu 40:39 membuka dengan sapaan yang sama dan langsung menyebut dua hal. Hubungan keduanya dengan ajakan itu hanya terbaca dari urutannya, karena ayat tidak memakai kata seperti "karena" atau "sebab".

Ucapan lelaki ini sampai 40:38 membicarakan hari: hari golongan-golongan yang bersekutu di 40:30, hari saling memanggil di 40:32, dan hari kaumnya berpaling ke belakang di 40:33. Kata dunia dan akhirat muncul di ucapannya untuk pertama kali di 40:39. Pasangan itu kembali di 40:43, (لَيْسَ لَهُ دَعْوَةٌ فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْآخِرَةِ, laysa lahu da'watun fii d-dunyaa wa-laa fii l-aakhirati) yang berarti "tidak mempunyai seruan di dunia dan tidak di akhirat", sehingga pasangan dunia dan akhirat dalam ucapan itu dibuka di 40:39 dan disebut lagi di 40:43.

Kedua kalimat di 40:39 tidak sebangun. Kehidupan dunia diberi nama sesuatu yang dinikmati, sedangkan akhirat diberi nama sebuah tempat. Keduanya juga tidak memuat kata kerja, sehingga tidak ada perbuatan yang ditunjuk, hanya penamaan. Ayat ini tidak menimbang satu terhadap yang lain seperti 13:26, dan tidak menyebut batas waktu bagi kesenangan itu seperti 2:36.

Hubungan antara bumi dan negeri tempat menetap tetap terbuka. Surah yang sama memakai kata qaraar untuk bumi di 40:64, dan di 40:39 untuk negeri akhirat. Ucapan lelaki ini tidak mengatakan bahwa bumi bukan tempat menetap. Lelaki itu menyebut kehidupan dunia ini kesenangan, dan teks tidak menjelaskan bagaimana dua pemakaian kata qaraar itu bertemu.

Ayat berikutnya, 40:40, memuat balasan bagi keburukan dan bagi amal saleh, termasuk masuk taman dan diberi rezeki di dalamnya. Ayat itu tidak memakai kata negeri, sehingga hubungan antara taman di 40:40 dan negeri tempat menetap di 40:39 adalah bacaan atas urutan ayat, tidak pernyataan ayat itu sendiri. Ayat 40:41 sampai 40:42 kemudian kembali pada seruan, sehingga 40:39 berdiri di antara ajakan dan rincian balasan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 40:39 menyebut kehidupan dunia kesenangan dan berhenti di situ. Ayat lain menambahkan sifat: 3:185 menyebutnya kesenangan yang memperdaya, 4:77 menyebut kesenangan dunia itu sedikit, dan 28:60 menaruh apa yang diberikan kepada manusia sebagai kesenangan hidup dunia dan perhiasannya, sedangkan apa yang di sisi Allah disebut lebih baik dan lebih kekal. Ayat-ayat itu berbeda konteks, sehingga sifat dari satu ayat tidak dipindahkan ke ayat yang lain. Pembaca yang membawa penilaian sendiri pada hidupnya, entah memuliakannya atau mencelanya, dapat memperhatikan bahwa 40:39 memberi hidup itu satu nama dan tidak memberinya nilai. Apa yang tersisa dari sebuah kesenangan bila namanya diterima, sedangkan sifat yang biasa menyertainya dilepas?
  • Kata daar menyebut sebuah negeri yang punya penghuni. Ayat 40:39 tidak menyebut siapa yang menempatkan para penghuninya, tetapi dua ayat yang memakai kata daar untuk negeri lain menyebutnya. Di 6:127 negeri kedamaian ada (عِنْدَ رَبِّهِمْ, 'inda rabbihim) yang berarti "di sisi Tuhan mereka", dan di 35:34 dan 35:35 para penghuni memuji Allah, (الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِ, alladzii ahallanaa daara l-muqaamati min fadhlihi) yang berarti "yang menempatkan kami di negeri tempat tinggal dari karunia-Nya". Kedua ayat menyebut negeri dengan nama yang lain dari 40:39, jadi keduanya tidak mengisi apa yang tidak ada di sini. Pembaca yang memikirkan tempat akhirnya dapat menimbang apakah alamat itu dibayangkannya sebagai sesuatu yang dibangun sendiri atau sesuatu yang diterima dari Allah. Bila alamat itu diterima, apa artinya menghabiskan tenaga untuk memperindah pintunya?
  • Di 40:29 lelaki ini berkata kepada kaumnya (لَكُمُ الْمُلْكُ الْيَوْمَ, lakumu l-mulku l-yawma) yang berarti "kerajaan ada pada kalian pada hari ini". Sepuluh ayat kemudian lelaki itu menyebut seluruh kehidupan dunia kesenangan. Di 40:16 pertanyaan tentang milik siapa kerajaan pada hari itu dijawab (لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ, lillaahi l-waahidi l-qahhaari) yang berarti "milik Allah Yang Esa, Sang Penakluk". Dua ayat itu berbicara tentang hari yang berbeda, sehingga tidak disamakan, tetapi keduanya memakai kata kerajaan dan menaruhnya di tangan yang berbeda. Orang yang memegang kuasa, besar atau kecil, dapat memperhatikan bahwa lelaki ini menyebut kerajaan itu sebagai milik kaumnya pada hari tertentu, lalu menyebut kehidupan mereka kesenangan. Pada saat mana sebuah jabatan berhenti terasa seperti milik sendiri dan mulai terasa seperti kesenangan yang disebut 40:39?
  • Ayat 40:64 menyebut bumi sebagai tempat menetap dan menyebut pelakunya dengan jelas, yaitu Allah yang menjadikan bumi untuk manusia sebagai tempat itu. Di 2:36 dan 7:24 bumi juga punya mustaqarrun, bentuk lain dari akar yang sama, berdampingan dengan kesenangan sampai suatu waktu. Ayat 40:39 memakai kata qaraar untuk negeri akhirat dan memberi kehidupan dunia nama kesenangan. Dua pemakaian kata itu berada di surah yang sama dan ayat-ayatnya tidak menjelaskan hubungan keduanya. Pembaca yang hidup di bumi yang oleh Allah disebut tempat menetap dapat bertanya apa yang sebenarnya dimaksud menetap, bila bumi dan negeri akhirat sama-sama diberi kata itu, padahal akhirat saja yang disebut negeri?
  • Ayat 40:39 tidak memuat perintah, larangan, atau perbuatan yang ditunjuk. Perintah dalam ucapan lelaki ini ada di 40:38, (اتَّبِعُونِ, ittabi'uuni) yang berarti "ikutilah aku", dan ajakan itu tidak diulang di sini. Pembaca yang terbiasa mencari tugas di setiap ayat mendapati satu ayat yang berisi nama saja, yaitu nama bagi hidup yang sedang dijalani dan nama bagi tempat yang belum dijalani. Tidak ada kata yang menyuruh pembaca berbuat sesuatu terhadap kedua nama itu. Bila tidak ada yang disuruh, apa yang berubah pada orang yang membacanya sampai selesai?
  • Al-Qur'an menamai kehidupan dunia dengan beberapa nama. Ayat 29:64 menyebutnya (لَهْوٌ وَلَعِبٌ, lahwun wa-la'ibun) yang berarti "senda gurau dan permainan", ayat 3:185 menyebutnya (مَتَاعُ الْغُرُورِ, mataa'u l-ghuruuri) yang berarti "kesenangan yang memperdaya", dan ayat 40:39 menyebutnya kesenangan tanpa tambahan. Ketiganya diucapkan dalam keadaan yang berbeda, sehingga tidak dipakai untuk menggantikan satu sama lain. Pembaca yang menyimpan satu nama bagi hidupnya sendiri dapat memeriksa nama mana dari ketiganya yang dipakainya ketika sedang tenang dan nama mana ketika sedang letih. Apakah nama itu berganti tanpa disadari?