تَدْعُونَنِي لِأَكْفُرَ بِاللَّهِ وَأُشْرِكَ بِهِ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَأَنَا أَدْعُوكُمْ إِلَى الْعَزِيزِ الْغَفَّارِ

Kalian menyeruku agar aku kufur kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanku tentangnya, padahal aku menyeru kalian kepada Sang Digdaya, Sang Pengampun.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. تَدْعُونَنِي لِأَكْفُرَ بِاللَّهِtad'uunanii li-akfura bi-llaahikalian menyeruku agar aku kufur kepada Allah
  2. وَأُشْرِكَ بِهِ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌwa-usyrika bihi maa laysa lii bihi 'ilmundan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanku tentangnya
  3. وَأَنَا أَدْعُوكُمْ إِلَى الْعَزِيزِ الْغَفَّارِwa-anaa ad'uukum ilaa l-'aziizi l-ghaffaaripadahal aku menyeru kalian kepada Sang Digdaya, Sang Pengampun

Terjemahan per kata (15 kata)

  1. تَدْعُونَنِيtad'uunaniikalian menyeruku
  2. لِأَكْفُرَli-akfuraagar aku kufur
  3. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  4. وَأُشْرِكَwa-usyrikadan aku mempersekutukan
  5. بِهِbihidengan-Nya
  6. مَاmaaapa yang
  7. لَيْسَlaysabukanlah
  8. لِيliibagiku
  9. بِهِbihitentangnya
  10. عِلْمٌ'ilmunpengetahuan
  11. وَأَنَاwa-anaadan aku
  12. أَدْعُوكُمْad'uukumaku menyeru kalian
  13. إِلَىilaakepada
  14. الْعَزِيزِl-'aziiziSang Digdaya
  15. الْغَفَّارِl-ghaffaariYang Maha Pengampun

Inti bacaan

Rangkaian (مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ, maa laysa lii bihi 'ilmun) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 11:47 dan 40:42.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (تَدْعُونَنِي لِأَكْفُرَ بِاللَّهِ, tad'uunanii li-akfura bi-llaahi) yang berarti "kalian menyeruku agar aku kufur kepada Allah". Kata (تَدْعُونَنِي, tad'uunanii) di sini kemunculan kedua dari tiga yang berurutan, yaitu di 40:41, 40:42, dan 40:43. Huruf (لِ, li-) pada (لِأَكْفُرَ, li-akfura) yang berarti "agar aku kufur" ditandai data morfologi sebagai penanda tujuan, sehingga terjemahan memakai "agar". Rangkaian li-akfura muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 40:42. Huruf (بِ, bi-) pada (بِاللَّهِ, bi-llaahi) diterjemahkan "kepada", sehingga bunyinya "kufur kepada Allah".

Kata kerja (أُشْرِكَ, usyrika) yang berarti "aku mempersekutukan" berakar ش-ر-ك, dan (بِهِ, bihi) memuat -hi yang menunjuk Allah yang baru disebut di depan, sehingga terjemahan memakai "mempersekutukan-Nya". Rangkaian (أُشْرِكَ بِهِ, usyrika bihi) muncul dua kali, yaitu di 13:36 dan 40:42. Di 13:36 bunyinya (وَلَا أُشْرِكَ بِهِ, wa-laa usyrika bihi) yang berarti "dan tidak mempersekutukan-Nya", disusul (إِلَيْهِ أَدْعُو, ilayhi ad'uu) yang berarti "kepada-Nya aku menyeru". Di 13:36 hal itu dinyatakan tidak dilakukan oleh pembicaranya, dan di 40:42 hal yang sama disebut sebagai isi permintaan orang lain.

Rangkaian (مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ, maa laysa lii bihi 'ilmun) yang berarti "sesuatu yang tidak ada pengetahuanku tentangnya" muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 11:47 dan 40:42. Kata ganti di tengahnya berganti menurut orangnya: (مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ, maa laysa laka bihi 'ilmun) yang berarti "sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya" muncul empat kali, yaitu di 11:46, 17:36, 29:8, dan 31:15, (لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ, laysa lakum bihi 'ilmun) dua kali, yaitu di 3:66 dan 24:15, dan (لَيْسَ لَهُمْ بِهِ عِلْمٌ, laysa lahum bihi 'ilmun) satu kali, yaitu di 22:71. Di 31:15 rangkaian itu mengikuti (أَنْ تُشْرِكَ بِي, an tusyrika bii) yang berarti "untuk mempersekutukan-Ku", yaitu (عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ, 'alaa an tusyrika bii maa laysa laka bihi 'ilmun) yang berarti "untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya", dan 29:8 memuat kalimat yang hampir sama. Kata kerja mempersekutukan bersama sesuatu yang tidak diketahui karena itu ada di tiga ayat: 29:8, 31:15, dan 40:42.

Pasangan (الْعَزِيزِ الْغَفَّارِ, l-'aziizi l-ghaffaari) yang berarti "Sang Digdaya, Sang Pengampun" muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 38:66, 39:5, dan 40:42. Terjemahan memakai "Sang Digdaya, Sang Pengampun" di ketiganya, karena kedua sebutan bertakrif, berkata sandang al-. Kata (الْغَفَّارِ, l-ghaffaari) berakar غ-ف-ر dan muncul di lima ayat dalam semua bentuknya, yaitu 20:82, 38:66, 39:5, 40:42, dan 71:10. Di dua ayat yang tanpa kata sandang, 20:82 dan 71:10, terjemahan memakai "pengampun" berhuruf kecil. Di 38:66 pasangan itu menyusul (رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا, rabbu s-samaawaati wa-l-ardhi wa-maa baynahumaa) yang berarti "Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya", dan di 39:5 pasangan itu didahului (أَلَا هُوَ, alaa huwa) yang berarti "ketahuilah, Dialah". Di 40:42 pasangan itu didahului (إِلَى, ilaa) yang berarti "kepada", dan nama Allah sendiri sudah disebut di bagian pertama ayat ini.

Rangkaian (وَأَنَا أَدْعُوكُمْ, wa-anaa ad'uukum) yang berarti "padahal aku menyeru kalian" muncul satu kali, yaitu di 40:42. Kata ganti (أَنَا, anaa) yang berarti "aku" ditulis lepas di depan kata kerja yang sudah memuat "aku" pada awalannya, dan terjemahan memakai "padahal" untuk menyampaikan hadapan antara "kalian menyeruku" di bagian pertama kalimat dan "aku menyeru kalian" di bagian kedua. Akhiran (كُمْ, -kum) berarti "kalian" dalam bentuk jamak, sehingga terjemahan memakai "menyeru kalian", sama dengan 40:41.

Tafsiran

Ayat ini mengisi dua hal yang dibiarkan kosong oleh 40:41. Di 40:41 seruan kaumnya hanya diberi tujuan, yaitu api, dan di 40:42 seruan itu diberi isi: kufur kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang tidak diketahui pembicara. Seruan pembicara, yang di 40:41 bertujuan keselamatan, di sini bertujuan Sang Digdaya, Sang Pengampun. Ayat tidak mengatakan bahwa keselamatan dan kedua nama itu sama, tetapi keduanya menjadi tujuan seruan yang sama, sehingga pembaca menerima dua rumusan untuk satu seruan.

Kata kerja di dua ayat itu membentuk bingkai. Kata ad'uukum dibuka di bagian depan 40:41, kata tad'uunanii muncul di ujung 40:41 dan di awal 40:42, dan kata ad'uukum kembali di ujung 40:42. Seruan pembicara ada di awal dan di akhir, dan seruan kaumnya ada di tengah. Dengan urutan itu, dua ayat tersebut dapat dibaca sebagai satu kalimat panjang yang terbagi di tengah.

Sesuatu yang dipersekutukan digambarkan dengan satu keterangan, yaitu bahwa pembicara tidak punya pengetahuan tentangnya, dan ayat tidak menamainya. Rumus yang sama di 29:8 dan 31:15 disusul perintah untuk tidak mematuhi pihak yang memaksa, sedangkan 40:42 berisi dua permintaan yang berhadapan, satu dari kaumnya dan satu dari pembicara, tanpa perintah dan tanpa kata penolakan. Kesimpulan atas kedua permintaan itu dituturkan di 40:43, dengan kata (لَا جَرَمَ, laa jarama) di awalnya.

Renungan dan Hikmah

  • Seruan kaumnya di 40:42 diuraikan dengan isinya, yaitu kufur kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu, sedangkan seruan pembicara diuraikan dengan dua nama, Sang Digdaya dan Sang Pengampun. Satu pihak menyebut apa yang harus dilakukan, dan pihak lain menyebut kepada siapa ajakan itu menuju. Ayat ini tidak menjelaskan mengapa dua seruan itu diuraikan dengan cara yang berbeda. Pembaca yang pernah menerima ajakan dapat membandingkan dua jenis uraian: ajakan yang uraiannya berupa daftar tindakan, dan ajakan yang uraiannya berupa nama pihak yang dituju. Bila daftar tindakan itu dicoret satu per satu, apa yang tersisa dari ajakan yang pernah diterimanya?
  • Di 29:8 dan 31:15 Allah berbicara dengan kata Aku dan menyebut paksaan untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuan pendengarnya tentangnya, lalu melanjutkan dengan (فَلَا تُطِعْهُمَا, fa-laa tuthi'humaa) yang berarti "janganlah engkau menaati keduanya". Di 40:42 pembicara menyebut hal serupa tentang dirinya sendiri dan tidak melanjutkan dengan perintah. Pihak yang memaksa dan pendengarnya berbeda di tiga ayat itu, sehingga isinya tidak disamakan. Pembaca yang pernah diminta menyetujui sesuatu dapat memperhatikan bahwa ketiga ayat itu menyebut pengetahuan sebagai keterangan yang melekat pada sesuatu yang dimintakan. Dari semua yang pernah disetujuinya, berapa yang diketahuinya sungguh-sungguh pada saat itu?
  • Di 13:36 pembicara menyatakan (إِلَيْهِ أَدْعُو, ilayhi ad'uu) yang berarti "kepada-Nya aku menyeru", dan di 40:42 tujuan seruan diberi dua nama, Sang Digdaya, Sang Pengampun. Dua ayat itu diucapkan dalam keadaan yang berbeda, sehingga tidak disamakan, tetapi keduanya menaruh Allah di ujung kata kerja menyeru. Seruan yang tujuannya Allah dengan demikian punya alamat yang bisa disebut dengan nama. Bila seseorang ditanya kepada siapa ajakannya menuju, nama apa yang akan disebutnya, dan apakah nama itu cukup untuk membuat pendengar tahu ke mana mereka dibawa?
  • Di 38:66 pasangan Sang Digdaya dan Sang Pengampun menyusul sebutan Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, dan di 39:5 pasangan itu menyusul uraian tentang langit, bumi, malam, siang, matahari, dan bulan. Di 40:42 pasangan yang sama menjadi tujuan sebuah seruan. Tiga ayat itu tidak diucapkan dalam keadaan yang sama, tetapi di ketiganya dua sebutan itu berdampingan tanpa kata penghubung. Orang yang membayangkan Yang Digdaya sebagai pihak yang menghukum dapat memperhatikan bahwa kata pengampun ditaruh persis di sebelahnya, dan sebaliknya. Bagaimana seseorang yang bersiap menghadapi kekuasaan membaca sebutan yang sejak awal dipasangkan dengan ampunan?
  • Permintaan kaumnya di 40:42 terdiri dari dua bagian yang diucapkan dalam satu kalimat: kufur kepada Allah dan mempersekutukan-Nya. Di 13:36 pembicara yang diperintah mengucapkan pasangan yang berlawanan, yaitu menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya, dan kata mempersekutukan-Nya di sana dinyatakan tidak dilakukan. Keadaan di kedua ayat berbeda, sehingga yang satu tidak dipakai untuk membaca yang lain. Pembaca dapat memperhatikan bahwa di kedua ayat itu mempersekutukan-Nya tidak disebut sendirian, melainkan bersama satu kata lain tentang sikap kepada Allah, menyembah di 13:36 dan kufur di 40:42. Ketika sebuah permintaan datang dalam dua bagian, bagian mana yang terdengar lebih dulu, dan apa yang ikut terbawa bersamanya?
  • Ayat 40:42 tidak memuat kalimat penolakan dari pembicara. Ayat mencatat apa yang diminta kaumnya dan apa yang diserukan pembicara kepada mereka, dan kesimpulan atas keduanya baru ada di ayat berikutnya. Pembaca dapat membaca susunan itu sebagai penolakan, tetapi ayat sendiri tidak mengucapkannya dengan kata tidak. Pembaca yang pernah menolak sesuatu dapat memperhatikan bahwa ada penolakan yang bentuknya berupa uraian tentang apa yang diminta dan apa yang ditawarkan sebagai gantinya. Apa yang sampai kepada lawan bicara dari sebuah penolakan yang tidak pernah diucapkan, bila yang diucapkan adalah satu daftar permintaan dan dua nama?