لَا جَرَمَ أَنَّمَا تَدْعُونَنِي إِلَيْهِ لَيْسَ لَهُ دَعْوَةٌ فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْآخِرَةِ وَأَنَّ مَرَدَّنَا إِلَى اللَّهِ وَأَنَّ الْمُسْرِفِينَ هُمْ أَصْحَابُ النَّارِ
Tidak diragukan bahwa apa yang kalian menyeruku kepadanya tidak mempunyai seruan di dunia dan tidak di akhirat; dan sesungguhnya tempat kembali kita kepada Allah; dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, merekalah penghuni api.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- لَا جَرَمَ أَنَّمَا تَدْعُونَنِي إِلَيْهِlaa jarama annamaa tad'uunanii ilayhitidak diragukan bahwa apa yang kalian menyeruku kepadanya
- لَيْسَ لَهُ دَعْوَةٌ فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْآخِرَةِlaysa lahu da'watun fii d-dunyaa wa-laa fii l-aakhiratitidak mempunyai seruan di dunia dan tidak di akhirat
- وَأَنَّ مَرَدَّنَا إِلَى اللَّهِwa-anna maraddanaa ilaa llaahidan sesungguhnya tempat kembali kita kepada Allah
- وَأَنَّ الْمُسْرِفِينَ هُمْ أَصْحَابُ النَّارِwa-anna l-musrifiina hum ash-haabu n-naaridan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, merekalah penghuni api
Terjemahan per kata (22 kata)
- لَاlaatidak
- جَرَمَjaramasesungguhnya
- أَنَّمَاannamaabahwa apa yang
- تَدْعُونَنِيtad'uunaniikalian menyeruku
- إِلَيْهِilayhikepadanya
- لَيْسَlaysabukanlah
- لَهُlahubaginya
- دَعْوَةٌda'watunseruan
- فِيfiidi
- الدُّنْيَاd-dunyaadunia
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- فِيfiidi
- الْآخِرَةِl-aakhiratiakhirat
- وَأَنَّwa-annadan bahwa
- مَرَدَّنَاmaraddanaatempat kembali kami
- إِلَىilaakepada
- اللَّهِllaahiAllah
- وَأَنَّwa-annadan bahwa
- الْمُسْرِفِينَl-musrifiinaorang-orang yang melampaui batas
- هُمْhummereka
- أَصْحَابُash-haabupenghuni
- النَّارِn-naariapi
Inti bacaan
Kata (دَعْوَةٌ, da'watun) muncul enam kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:186, 10:89, 13:14, 14:44, 30:25, dan 40:43, dan hanya di 40:43 ia didahului laysa.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (لَا جَرَمَ, laa jarama) yang berarti "tidak diragukan bahwa". Kata (لَا, laa) berarti "tidak", dan (جَرَمَ, jarama) berakar ج-ر-م. Susunan laa jarama muncul lima kali di tiga surah, yaitu di 11:22, 16:23, 16:62, 16:109, dan 40:43. Jumlah surahnya lebih kecil karena surah 16 memuatnya tiga kali. Di kelima tempat itu laa jarama langsung disusul bentuk (أَنَّ, anna) yang membuka isi pernyataan: (أَنَّهُمْ, annahum) di 11:22 dan 16:109, (أَنَّ اللَّهَ, anna llaaha) di 16:23, (أَنَّ لَهُمُ, anna lahumu) di 16:62, dan (أَنَّمَا, annamaa) di 40:43. Terjemahan memakai "tidak diragukan bahwa" di kelima ayat itu.
Bentuk annamaa di 40:43 dipisah oleh korpus morfologi menjadi anna yang berarti "bahwa" dan (مَا, maa) yang berarti "apa yang", sehingga terjemahan memakai "bahwa apa yang". Kata kerja (تَدْعُونَنِي, tad'uunanii) berakar د-ع-و dan berarti "kalian menyeruku". Akhiran -nii menunjuk pembicara sebagai orang yang diseru, sedangkan tujuan seruan itu ditunjuk oleh (إِلَيْهِ, ilayhi) yang berarti "kepadanya", tersusun dari (إِلَىٰ, ilaa) "kepada" dan (هِ, -hi) "-nya". Dua ayat sebelumnya memakai kerangka yang sama dengan tujuan yang disebut terang, yaitu (وَتَدْعُونَنِي إِلَى النَّارِ, wa-tad'uunanii ilaa n-naari) yang berarti "dan kalian menyeruku kepada api" di 40:41. Di 40:43 tujuan itu ditunjuk dengan -hi, dan terjemahan menjaga ketiga unsurnya, yaitu "kalian", "menyeruku", dan "kepadanya".
Kata (دَعْوَةٌ, da'watun) yang berarti "seruan" berakar د-ع-و juga, sehingga ayat ini memakai akar yang sama dua kali: kalian menyeruku kepadanya, dan yang diserukan itu tidak mempunyai seruan. Kata ini muncul enam kali di enam surah dengan akhiran yang berlainan, yaitu di 2:186, 10:89, 13:14, 14:44, 30:25, dan 40:43. Di 2:186, (دَعْوَةَ الدَّاعِ, da'wata d-daa'i) yang berarti "doa orang yang berdoa" disambut dengan pengabulan oleh Allah. Di 13:14, (لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ, lahu da'watu l-haqqi) yang berarti "bagi-Nya seruan yang benar" memuat susunan yang hampir sama dengan 40:43 tanpa kata tidak. Di 30:25, (دَعْوَةً, da'watan) menyebut panggilan dari Allah kepada manusia dari bumi. Hanya di 40:43 kata ini ditiadakan, yaitu dalam (لَيْسَ لَهُ دَعْوَةٌ, laysa lahu da'watun) yang berarti "tidak mempunyai seruan". Ayat ini tidak menjelaskan seruan macam apa yang tidak dimiliki itu, dan terjemahan tidak menambahkan "yang sah" atau "yang layak", karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya.
Kata (مَرَدَّنَا, maraddanaa) yang berarti "tempat kembali kita" tersusun dari (مَرَدَّ, maradda), berakar ر-د-د, dan akhiran (نَا, -naa) yang berarti "kita". Kata benda ini muncul enam kali di lima surah menurut korpus morfologi, yaitu di 13:11, 19:76, 30:43, 40:43, 42:44, dan 42:47. Bentuk maradda dengan akhiran fathah muncul empat kali, yaitu di 13:11, 30:43, 40:43, dan 42:47. Di tiga ayat selain 40:43 bentuk itu didahului laa dan menyebut sesuatu yang tidak dapat ditolak, misalnya (فَلَا مَرَدَّ لَهُ, fa-laa maradda lahu) yang berarti "maka tidak ada yang dapat menolaknya" di 13:11. Dengan akhiran lain, kata ini muncul di 19:76, (مَرَدًّا, maraddan) yang diterjemahkan "kesudahannya", dan di 42:44, (إِلَىٰ مَرَدٍّ, ilaa maraddin) yang diterjemahkan "untuk kembali" dalam pertanyaan orang-orang zalim, "Adakah jalan untuk kembali?". Di 40:43 kata itu tidak didahului laa dan disusul (إِلَى اللَّهِ, ilaa llaahi) yang berarti "kepada Allah", sehingga ayat menyebut tujuan kembali. Karena itu terjemahan memakai "tempat kembali" di sini dan "tidak dapat ditolak" di tiga ayat lain. Korpus morfologi menandai -naa hanya sebagai orang pertama jamak. Terjemahan memakai "kita" karena pembicara sedang berbicara kepada kaumnya (40:41), dan ayat tidak menyatakan siapa lagi yang termasuk di dalamnya.
Kata (الْمُسْرِفِينَ, l-musrifiina) berakar س-ر-ف dan diterjemahkan "orang-orang yang melampaui batas". Bentuk persis ini muncul tujuh kali di tujuh surah, yaitu 6:141, 7:31, 10:83, 21:9, 26:151, 40:43, dan 44:31. Terjemahan memakai "melampaui batas" di lima ayat, dan "berlebih-lebihan" serta "berlebihan" di 6:141 dan 7:31 karena kedua ayat itu berbicara tentang makan, minum, dan hasil kebun, sedangkan di 40:43 tidak ada benda yang disebut batasnya. Di 10:83 dan 44:31 Firaun disebut termasuk golongan ini. Bentuk tunggalnya, (مُسْرِفٌ, musrifun), muncul di 40:28 dan 40:34, sehingga akar س-ر-ف hadir tiga kali dalam surah 40, dan ketiganya berada dalam tuturan lelaki beriman.
Frasa (هُمْ أَصْحَابُ النَّارِ, hum ash-haabu n-naari) yang berarti "merekalah penghuni api" muncul dua kali di satu surah, yaitu 40:6 dan 40:43. Di 40:6 frasa itu menutup pernyataan tentang orang-orang yang kufur, dan di 40:43 tentang orang-orang yang melampaui batas. Kata (أَصْحَابُ, ash-haabu) berakar ص-ح-ب dan diterjemahkan "penghuni", sedangkan (النَّارِ, n-naari) "api" sama dengan kata yang menutup tujuan seruan di 40:41. Kata hum berdiri sendiri di antara "orang-orang yang melampaui batas" dan "penghuni api", dan terjemahan membawanya dengan akhiran -lah pada "merekalah".
Tafsiran
Ayat ini memuat tiga pernyataan yang berbagi satu pembuka, (لَا جَرَمَ, laa jarama), dan disambung dengan wa: sesuatu yang diserukan kepada pembicara tidak mempunyai seruan, tempat kembali kita kepada Allah, dan orang-orang yang melampaui batas menjadi penghuni api. Sasaran ketiganya berlainan. Pernyataan pertama menyangkut sesuatu yang diserukan, pernyataan kedua menyangkut tujuan yang mencakup pembicara sendiri, dan pernyataan ketiga menyangkut nasib sebuah golongan.
Akar د-ع-و muncul enam kali dalam tiga ayat berturut-turut. Di 40:41 pembicara menyeru kaumnya kepada keselamatan dan kaumnya menyerunya kepada api, di 40:42 mereka menyerunya agar kufur sedangkan pembicara menyeru mereka kepada Sang Digdaya, Sang Pengampun, dan di 40:43 kata kerja yang sama bertemu kata benda "seruan" yang ditiadakan. Kalimat di 40:41 berbentuk pertanyaan, dan kalimat di 40:43 berbentuk pernyataan yang dibuka dengan kepastian. Dapat dibaca bahwa apa yang diserukan kepadanya di 40:43 merujuk pada seruan kufur dan persekutuan di 40:42, yang di ayat itu disebut tidak diketahui pembicara, tetapi 40:43 tidak menyatakan rujukan itu.
Pembicara yang sama menyebut dunia dan akhirat di 40:39, dunia sebagai kesenangan dan akhirat sebagai negeri yang kekal. Di 40:43 kedua tempat itu muncul lagi dan dipakai sebagai dua tempat untuk menimbang sesuatu yang diserukan.
Pernyataan terakhir menamai golongan itu dengan (الْمُسْرِفِينَ, l-musrifiina). Di tuturan yang sama, 40:28 menempelkan musrif pada orang yang berdusta, (كَذَّابٌ, kadzdzaabun), dan 40:34 pada orang yang ragu, (مُرْتَابٌ, murtaabun). Ayat 40:43 tidak menempelkan sifat tambahan itu dan tidak menyebut siapa yang dimaksud. Dapat dibaca bahwa kaum yang menyeru pembicara kepada kufur termasuk golongan itu, karena pernyataan ini datang langsung sesudah 40:42, tetapi ayat tidak menyatakan pembacaan itu.
Renungan dan Hikmah
- Ketiga pernyataan di ayat ini memakai satu pembuka kepastian, padahal sifatnya berlainan: ada yang menyangkal sebuah seruan, ada yang menunjuk tempat kembali kepada Allah, dan ada yang menamai nasib sebuah golongan. Ayat sebelumnya, 40:42, memuat satu keterangan yang dapat dibaca sebagai dasar, yaitu pembicara tidak mempunyai pengetahuan tentang sesuatu yang diserukan kepadanya. Orang yang sedang berbicara dengan yakin dapat memeriksa apakah keyakinannya sama kuat pada setiap bagian kalimatnya, atau ada bagian yang hanya meminjam kepastian dari bagian lain. Dalam sebuah pernyataan yang diucapkan dengan yakin, bagian mana yang sebenarnya masih menumpang pada bagian di sebelahnya?
- Di 13:14 seruan yang benar menjadi milik Dia, sedangkan yang diseru selain Dia tidak mengabulkan apa pun bagi mereka yang menyerunya. Ayat 40:43 berbicara dengan kata yang sama dalam suasana yang berbeda, sehingga keduanya tidak disamakan, dan memuat pernyataan yang berdekatan: apa yang diserukan kepada pembicara tidak mempunyai seruan di dunia maupun di akhirat. Dari dua ayat itu dapat ditarik satu pertanyaan sederhana untuk setiap ajakan yang pernah diikuti seseorang. Ketika pembaca sendiri berseru kepada ajakan itu pada hari yang genting, adakah yang menjawabnya?
- Pembicara menolak seruan itu di dua tempat sekaligus, di dunia dan di akhirat, dengan negasi yang diulang untuk tiap tempat. Di 40:39 pembicara sudah menaruh keduanya pada nilai yang berlainan, dunia sebagai kesenangan dan akhirat sebagai negeri yang kekal, sehingga di 40:43 keduanya menjadi dua ujung sebuah ukuran. Sebuah haluan hidup yang ramai diikuti di satu tempat dapat dihadapkan pada ukuran itu. Apakah ia masih mempunyai suara pada hari ketika orang-orang di sekitarnya yang membuatnya terdengar penting sudah tidak ada lagi?
- Pernyataan pertama menyebut "kalian" dan "ku", sedangkan pernyataan kedua memakai "kita": tempat kembali kita kepada Allah. Pembicara tidak menaruh dirinya di luar kembali itu, padahal pembicara sedang berhadapan dengan kaum yang menyerunya kepada api. Orang yang sedang menasihati dapat memperhatikan di titik mana kata ganti dalam kalimatnya berpindah dari "kalian" ke "kita", dan apakah perpindahan itu menggambarkan keadaannya sendiri. Bila tempat kembali itu satu bagi pembicara dan bagi yang diajaknya bicara, apa yang berubah pada nada sebuah nasihat?
- Kata yang dipakai untuk golongan penghuni api di ayat ini juga dipakai di 7:31 dan 6:141 untuk soal makan, minum, dan hasil kebun, dan di 7:31 Dia disebut tidak mencintai orang-orang yang berlebihan. Di 10:83 dan 44:31 kata itu dipakai untuk Firaun. Ayat-ayat itu berbicara tentang hal yang berbeda dari 40:43 dan tidak menentukan perbuatan apa yang dimaksud di sini. Di bagian hidup mana sebuah garis dapat terlewati tanpa terasa, dan apakah pelakunya menyadarinya sebelum orang lain menyebutkannya?
- Kepastian di 40:43 datang sesudah satu pengakuan di 40:42, yaitu bahwa pembicara tidak mempunyai pengetahuan tentang sesuatu yang diserukan kepadanya untuk dipersekutukan dengan Allah. Dalam satu tuturan terdapat dua jenis kalimat, kalimat yang mengaku tidak tahu dan kalimat yang menyatakan pasti, masing-masing tentang hal yang berbeda. Orang yang ingin tegas dalam keyakinannya dapat bertanya pada dirinya sendiri apakah ia pernah mengakui dengan terang apa yang tidak diketahuinya, sebelum menyatakan apa yang diyakininya. Apakah pendengar lebih mudah percaya pada ketegasannya bila pengakuan itu lebih dulu ada?