إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۙ إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ ۚ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tanda-tanda Allah tanpa keterangan yang datang kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka kecuali kesombongan yang tidak akan mereka capai. Maka, mintalah perlindungan kepada Allah; sesungguhnya Dia Yang Mendengar, Yang Melihat.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْinna lladziina yujaadiluuna fii aayaati llaahi bi-ghayri sulthaanin ataahumsesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tanda-tanda Allah tanpa keterangan yang datang kepada mereka
  2. إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيهِin fii shuduurihim illaa kibrun maa hum bi-baalighiihitidak ada dalam dada mereka kecuali kesombongan yang tidak akan mereka capai
  3. فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِfa-sta'idz bi-llaahimaka, mintalah perlindungan kepada Allah
  4. إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُinnahu huwa s-samii'u l-bashiirusesungguhnya Dia Yang Mendengar, Yang Melihat

Terjemahan per kata (23 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. يُجَادِلُونَyujaadiluunamereka membantah
  4. فِيfiitentang
  5. آيَاتِaayaatitanda-tanda
  6. اللَّهِllaahiAllah
  7. بِغَيْرِbi-ghayritanpa
  8. سُلْطَانٍsulthaaninketerangan
  9. أَتَاهُمْataahumdatang kepada mereka
  10. إِنْintidaklah
  11. فِيfiidalam
  12. صُدُورِهِمْshuduurihimdada mereka
  13. إِلَّاillaakecuali
  14. كِبْرٌkibrunkesombongan
  15. مَاmaatidaklah
  16. هُمْhummereka
  17. بِبَالِغِيهِbi-baalighiihimencapainya
  18. فَاسْتَعِذْfa-sta'idzmaka berlindunglah
  19. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  20. إِنَّهُinnahusesungguhnya
  21. هُوَhuwaDialah
  22. السَّمِيعُs-samii'uYang Mendengar
  23. الْبَصِيرُl-bashiiruYang Melihat

Inti bacaan

Frasa (فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ, fa-sta'idz bi-llaahi) muncul empat kali di Al-Qur'an (7:200, 16:98, 40:56, 41:36), dan setan disebut di tiga ayat itu tetapi tidak di 40:56.

Penjelasan pilihan kata

Pelaku yang dibicarakan ayat ini disebut dengan (يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ, yujaadiluuna fii aayaati llaahi) yang berarti "memperdebatkan tanda-tanda Allah". Kata kerja (يُجَادِلُونَ, yujaadiluuna) berakar ج-د-ل, dan susunan utuhnya muncul tiga kali, yaitu di 40:35, 40:56, dan 40:69, semuanya di Surah 40. Bentuk tunggalnya, (مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللَّهِ, maa yujaadilu fii aayaati llaahi), ada di 40:4. Akar yang sama muncul di lima ayat surah ini, yaitu 40:4, 40:5, 40:35, 40:56, dan 40:69. Terjemahan memakai "memperdebatkan" untuk akar ini di 40:35 dan 40:56.

Perdebatan itu berlangsung (بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ, bi-ghayri sulthaanin ataahum) yang berarti "tanpa keterangan yang datang kepada mereka". Kata (سُلْطَانٍ, sulthaanin) berakar س-ل-ط, dan susunan utuhnya muncul dua kali, di 40:35 dan 40:56. Kata sulthaanin, termasuk yang berawalan seperti wa- dan bi-, ada di 20 ayat, dan di Surah 40 kata itu muncul tiga kali, yaitu di 40:23, 40:35, dan 40:56. Kata ini diterjemahkan "keterangan" bila konteksnya bukti dalam perbantahan, seperti pada 7:71, 12:40, 52:38, dan 53:23, dan padanan itu dipakai di sini. Kata (أَتَاهُمْ, ataahum) berarti "datang kepada mereka", sehingga ayat menyatakan bahwa keterangan tidak sampai kepada para pembantah itu.

Isi dada mereka dinyatakan dengan (إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ, in fii shuduurihim illaa kibrun) yang berarti "tidak ada dalam dada mereka kecuali kesombongan". Kata (صُدُورِهِمْ, shuduurihim) berakar ص-د-ر dan berarti "dada mereka". Frasa (فِي صُدُورِهِمْ, fii shuduurihim) muncul lima kali, yaitu di 7:43, 15:47, 40:56, 59:9, dan 59:13, dan empat ayat lainnya menyebut hal lain tentang dada: (غِلٍّ, ghillin) yang berarti "dendam" yang dicabut dari dada di 7:43 dan 15:47, (حَاجَةً, haajatan) yang berarti "keinginan" yang tidak didapati di dada di 59:9, dan (رَهْبَةً, rahbatan) yang berarti "rasa gentar" yang ada di dada di 59:13. Di 40:56 isi dada itu kesombongan. Bentuk (كِبْرٌ, kibrun) hanya ada di sini. Akarnya, ك-ب-ر, dipakai oleh sebelas kata di sepuluh ayat Surah 40 menurut data morfologi, yaitu 40:10, 40:12, 40:27, 40:35 (dua kata), 40:47, 40:48, 40:56, 40:57, 40:60, dan 40:76.

Kesombongan itu disifati dengan (مَا هُمْ بِبَالِغِيهِ, maa hum bi-baalighiihi) yang berarti "yang tidak akan mereka capai". Kata (بَالِغِيهِ, baalighiihi) berakar ب-ل-غ dan tersusun dari bentuk pelaku "yang mencapai" serta akhiran -hi yang berarti "-nya". Bentuk ini ada dua kali, di 16:7 dan 40:56. Di 16:7, (لَمْ تَكُونُوا بَالِغِيهِ, lam takuunuu baalighiihi) menyangkut sebuah negeri yang tidak dapat dicapai tanpa susah payah, sedangkan di 40:56 terjemahan membaca bahwa kesombongan itu sendiri yang tidak dicapai. Susunan Arabnya menyatakan bahwa mereka bukan pencapainya dan tidak memuat kata waktu; terjemahan memakai "tidak akan" untuk menyampaikan bahwa pencapaian itu tertutup bagi mereka. Ayat ini tidak menyebut apa yang ingin mereka raih dengan kesombongan itu.

Perintah di tengah ayat, (فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ, fa-sta'idz bi-llaahi), berarti "maka, mintalah perlindungan kepada Allah". Kata kerjanya berakar ع-و-ذ dan berbentuk perintah untuk satu orang. Susunan ini muncul empat kali, yaitu di 7:200, 16:98, 40:56, dan 41:36. Ketiga ayat lainnya menyebut setan sebagai sumber yang dihindari, dan 7:200 serta 41:36 menyertainya dengan kata "jika" untuk bisikan setan. Di 40:56 sumber itu tidak disebut. Terjemahan memakai "mintalah perlindungan kepada Allah" tanpa tambahan "dari mereka" atau "dari kesombongan", karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya.

Kalimat penutup, (إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ, innahu huwa s-samii'u l-bashiiru), berarti "sesungguhnya Dia Yang Mendengar, Yang Melihat". Kedua sifat memakai kata sandang al-, dan terjemahan menulisnya "Yang Mendengar, Yang Melihat" seperti pada 17:1, 40:20, dan 42:11. Kalimat utuh ini ada dua kali, di 17:1 dan 40:56, sedangkan pasangan (السَّمِيعُ الْبَصِيرُ, s-samii'u l-bashiiru) ada empat kali, yaitu di 17:1, 40:20, 40:56, dan 42:11. Sesudah perintah berlindung yang sama, 41:36 menutup dengan (إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ, innahu huwa s-samii'u l-'aliimu) yang berarti "sesungguhnya Dia Yang Mendengar, Yang Berilmu", sehingga sifat pertama sama dan sifat kedua berbeda.

Tafsiran

Ayat 40:56 mengulang gambaran yang sudah ada di 40:35, yaitu orang-orang yang memperdebatkan tanda-tanda Allah tanpa keterangan. Di 40:35 gambaran itu disusul penilaian, (كَبُرَ مَقْتًا, kabura maqtan) yang berarti "sangat besar kemurkaan", lalu penutup tentang hati yang sombong, (كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ, kulli qalbi mutakabbirin jabbaarin). Di 40:56 gambaran yang sama disusul pernyataan tentang isi dada. Kedua ayat menempatkan kesombongan di dalam diri para pembantah, yang satu menyebut hati dan yang lain menyebut dada.

Dada juga disebut di 40:19, dalam kalimat (يَعْلَمُ, ya'lamu) yang berarti "Dia mengetahui", dengan objek (وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ, wa-maa tukhfii sh-shuduuru) yang berarti "dan apa yang disembunyikan dada". Ayat itu berada di antara 40:17 yang menyebut Allah cepat perhitungan-Nya dan 40:20 yang menyebut Allah memutuskan dengan hak. Dengan begitu kesombongan di dada para pembantah, yang menurut 40:56 tidak akan mereka capai, berada di wilayah yang menurut 40:19 diketahui oleh Dia. Pasangan sifat yang menutup 40:20, Yang Mendengar dan Yang Melihat, kembali menutup 40:56 sesudah pembicaraan tentang dada.

Perintah berlindung di tengah ayat ini menjawab gambaran tadi dengan jalan yang berbeda dari yang dipakai para pembantah. Mereka berdebat, sedangkan orang yang diperintah di sini diminta berlindung, dan alasan perintah itu adalah dua sifat Allah. Setelah tiga perintah di 40:55, ayat ini dapat dibaca menyebut siapa yang menjadi latar perintah-perintah itu, dan tidak menyuruh orang yang diajak bicara membalas debat mereka.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 40:56 tidak membahas isi argumen para pembantah. Dua hal saja yang disebut tentang mereka: keterangan tidak sampai kepada mereka, dan di dada mereka ada kesombongan. Ayat menyebut keadaan di balik perdebatan. Menurut 40:19, apa yang disembunyikan dada diketahui oleh Dia, sehingga isi dada itu tidak tertutup walaupun kalimat-kalimat di mulut tersusun rapi. Pembaca yang pernah berdebat dengan sengit dapat bertanya apa sebenarnya yang sedang dibela, argumen atau sesuatu di dada yang tidak mau kalah? Dan siapa yang membaca isi dada itu ketika kata-kata sudah habis?
  • Kesombongan di ayat ini disebut tidak akan mereka capai. Ayat tidak menyebut apa yang ingin diraih dengan kesombongan itu, dan hanya menyatakan bahwa para pembantah bukan orang yang sampai ke sana. Terbentuk gambaran seorang pelari bersuara keras yang menuju sesuatu yang tidak pernah tiba. Pembaca dapat bertanya, apa yang selama ini dikejarnya dalam sebuah perdebatan, kemenangan, pengakuan, atau rasa lebih tinggi, dan sudahkah bentuknya dikenal dengan jelas? Bila ayat menyebut bahwa yang dikejar kesombongan itu tidak tercapai, ke mana perdebatan yang dibangun di atasnya akan berakhir?
  • Para pembantah di ayat ini digambarkan tanpa keterangan yang datang kepada mereka. Ayat tidak mengatakan mereka kekurangan kata-kata, karena mereka sedang memperdebatkan tanda-tanda Allah. Kekurangan mereka ada pada keterangan yang sampai. Pembaca yang pernah menang dalam sebuah debat dengan kefasihannya dapat memperhatikan apa yang menopang kemenangan itu, keterangan yang benar-benar sampai kepadanya atau kepandaian menata suara. Seberapa banyak dari yang diucapkannya bersandar pada keterangan?
  • Perintah penutup ayat ini adalah meminta perlindungan kepada Allah, tanpa menyebut dari apa. Orang yang berhadapan dengan pembantah yang sombong tidak diberi bahan untuk membantah balik. Orang itu diberi tempat bersandar. Pembaca yang tergoda membalas dapat memperhatikan perasaan yang naik di dadanya sendiri ketika ingin menang, lalu bertanya kepada siapa perasaan itu dibawa. Ke mana perginya keinginan untuk membalas bila perintahnya berlindung kepada Allah?
  • Alasan yang diberikan untuk berlindung adalah dua sifat Allah, Yang Mendengar dan Yang Melihat. Dalam sebuah perselisihan panjang, sebagian besar yang dirasakan seseorang tidak pernah terucap, dan sebagian yang terucap tidak sampai ke telinga yang dituju. Pembaca yang merasa kata-katanya tidak didengar siapa pun dapat memperhatikan bahwa ayat menaruh dua sifat itu sebagai alasan. Apa yang berubah pada cara seseorang berbicara bila ia yakin ada yang mendengar dan melihat, walaupun lawan bicaranya tidak?
  • Di ayat ini kesombongan disebut milik orang lain, para pembantah, sedangkan perintah berlindung ditujukan kepada orang yang diajak bicara. Dua hal itu disusun berdampingan, dan keadaan dada orang yang diperintah tidak dibahas. Pembaca yang mendapati dirinya ikut dalam sebuah perdebatan dapat memeriksa dadanya sendiri dengan pertanyaan yang dipakai ayat ini terhadap orang lain. Apakah yang ada di dadanya saat itu keterangan, atau sesuatu yang lebih mirip dengan yang disebut ayat ini?