كَذَٰلِكَ يُؤْفَكُ الَّذِينَ كَانُوا بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

Demikianlah dipalingkan orang-orang yang selalu mengingkari tanda-tanda Allah.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كَذَٰلِكَ يُؤْفَكُ الَّذِينَ كَانُوا بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَka-dzaalika yu'faku lladziina kaanuu bi-aayaati llaahi yajhaduunademikianlah dipalingkan orang-orang yang selalu mengingkari tanda-tanda Allah

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
  2. يُؤْفَكُyu'fakudipalingkan
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. كَانُواkaanuumereka selalu
  5. بِآيَاتِbi-aayaatipada tanda-tanda
  6. اللَّهِllaahiAllah
  7. يَجْحَدُونَyajhaduunamereka mengingkari

Inti bacaan

Rangkaian (بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ, bi-aayaati llaahi yajhaduuna) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:33 dan 40:63.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (كَذَٰلِكَ, ka-dzaalika) yang berarti "demikianlah". Kata itu tersusun dari awalan (كَ, ka) yang berarti "seperti" dan (ذَٰلِكَ, dzaalika) yang berarti "itu". Di surah ini (كَذَٰلِكَ, ka-dzaalika) tanpa awalan "dan" berdiri di 40:34, 40:35, 40:63, dan 40:74. Ketiga ayat lainnya memakai kata kerja yang pelakunya disebut: (يُضِلُّ اللَّهُ, yudhillu llaahu) yang berarti "Allah membiarkan sesat" di 40:34 dan 40:74, serta (يَطْبَعُ اللَّهُ, yathba'u llaahu) yang berarti "Allah mengunci" di 40:35. Di 40:63 kata itu disusul kata kerja pasif, dan pelakunya tidak ada dalam kalimat.

Kata kerjanya, (يُؤْفَكُ, yu'faku) yang berarti "dipalingkan", berakar أ-ف-ك. Bentuk pasif dari akar ini muncul di dua belas ayat, yaitu 5:75, 6:95, 9:30, 10:34, 29:61, 30:55, 35:3, 40:62, 40:63, 43:87, 51:9, dan 63:4. Pada kedua belas ayat itu pelaku yang memalingkan tidak disebut. Bentuk persis (يُؤْفَكُ, yu'faku) muncul dua kali, yaitu di 40:63 dan 51:9, dan di 51:9 kata itu berpasangan dengan bentuk lampaunya: (يُؤْفَكُ عَنْهُ مَنْ أُفِكَ, yu'faku 'anhu man ufika) yang berarti "dipalingkan darinya orang yang dipalingkan". Rangkaian yang paling dekat dengan ayat ini ada di 30:55, yaitu (كَذَٰلِكَ كَانُوا يُؤْفَكُونَ, ka-dzaalika kaanuu yu'fakuuna) yang berarti "demikianlah dahulu mereka dipalingkan". Ayat itu menutup gambaran para pendosa pada hari Saat, sedangkan 40:63 menutup pertanyaan di ayat sebelumnya.

Orang yang dipalingkan diterangkan oleh (الَّذِينَ كَانُوا بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ, lladziina kaanuu bi-aayaati llaahi yajhaduuna) yang berarti "orang-orang yang selalu mengingkari tanda-tanda Allah". Kata (كَانُوا, kaanuu) menandai masa lampau, dan (يَجْحَدُونَ, yajhaduuna) menandai perbuatan yang sedang berlangsung. Tidak ada kata Arab untuk "selalu"; terjemahan memakainya untuk perpaduan kedua penanda itu, dengan padanan yang sama di 7:51 dan 46:26 untuk susunan yang sama. Kata kerja (يَجْحَدُونَ, yajhaduuna) berakar ج-ح-د, dan kata kerja akar itu muncul di dua belas ayat, yaitu 6:33, 7:51, 11:59, 16:71, 27:14, 29:47, 29:49, 31:32, 40:63, 41:15, 41:28, dan 46:26. Sebelas di antaranya berobjek tanda-tanda, dan satu berobjek nikmat, yaitu (أَفَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ, a-fa-bi-ni'mati llaahi yajhaduuna) di 16:71 yang berarti "maka apakah terhadap nikmat Allah mereka mengingkari?".

Akar ج-ح-د tidak mensyaratkan ketidaktahuan. Di 27:14 pengingkaran berlangsung bersama keyakinan: (وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ, wa-jahaduu bihaa wa-stayqanat-haa anfusuhum) yang berarti "dan mereka mengingkarinya, padahal hati mereka meyakininya". Di 6:33 dua kata kerja diletakkan berdampingan dengan objek yang berbeda: (يُكَذِّبُونَكَ, yukadzdzibuunaka) yang di ayat itu didahului penyangkalan sehingga berarti "mereka tidak mendustakanmu", berobjek utusan yang disapa, sedangkan (بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ, bi-aayaati llaahi yajhaduuna) yang berarti "terhadap tanda-tanda Allah mereka mengingkari" berobjek tanda-tanda.

Sebutan (آيَاتِ اللَّهِ, aayaati llaahi) yang berarti "tanda-tanda Allah" muncul enam kali di surah ini, yaitu di 40:4, 40:35, 40:56, 40:63, 40:69, dan 40:81. Rangkaian (بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ, bi-aayaati llaahi yajhaduuna) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:33 dan 40:63. Kata kerja yang menyertai sebutan itu berbeda-beda: akar ج-د-ل di 40:4, 40:35, 40:56, dan 40:69, akar ج-ح-د di 40:63, dan akar ن-ك-ر di 40:81.

Tafsiran

Ayat ini menjawab pertanyaan 40:62 dengan mengganti sasaran bicara. Ayat sebelumnya menyapa "kalian", sedangkan 40:63 menggambarkan "orang-orang yang" melakukan sesuatu. Jawaban atas pertanyaan tentang caranya karena itu berupa gambaran tentang siapa yang dipalingkan, dan tidak berupa uraian langkah demi langkah. Anak kalimat yang menerangkan mereka berdiri tanpa kata penghubung sebab. Ayat menyebut pengingkaran dan pemalingan dalam satu kalimat, tetapi tidak mengatakan bahwa yang pertama menjadi sebab bagi yang kedua.

Tiga ayat lain di surah ini memakai kata demikianlah tanpa awalan "dan", dan ketiganya menyebut Allah sebagai pelaku: Allah membiarkan sesat orang yang melampaui batas lagi ragu-ragu di 40:34, Allah mengunci hati yang sombong lagi sewenang-wenang di 40:35, dan Allah membiarkan sesat orang-orang kafir di 40:74. Ayat 40:63 mencatat hasil yang sejenis, yaitu arah yang menyimpang, tetapi tanpa pelaku. Ayat ini tidak mengisi kekosongan itu, dan perbandingan dengan tiga ayat tersebut tidak dipakai untuk menyimpulkan siapa pelakunya di sini.

Pertanyaan tentang pemalingan muncul lagi di 40:69, kali ini tentang orang-orang yang memperdebatkan tanda-tanda Allah, dengan kata kerja berakar lain. Surah ini dengan demikian menyebut dua sikap terhadap tanda-tanda yang sama: memperdebatkannya di 40:4, 40:35, 40:56, dan 40:69, serta mengingkarinya di 40:63. Ayat-ayat itu tidak menyatakan bahwa kedua sikap tersebut dilakukan oleh orang yang sama.

Ayat ini berada di antara dua daftar pemberian, 40:61 dan 40:64, yang sama-sama dibuka dengan "Allahlah yang menjadikan untuk kalian". Apakah pemberian di dua daftar itu termasuk tanda-tanda yang diingkari tidak dinyatakan oleh ayat mana pun di antara ketiganya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata demikianlah di awal ayat membuat kalimat ini terbaca sebagai gambaran pola. Perpaduan kata kerja yang menandai masa lampau dan perbuatan yang sedang berlangsung memperkuat kesan itu: pengingkaran dalam ayat ini sudah menjadi kebiasaan. Pembaca yang menunggu satu peristiwa besar sebagai tanda arah hidupnya berbelok akan melewatkan bentuk yang dipilih ayat. Pola apa yang dalam sebulan terakhir terulang pada keputusan pembaca tanpa pernah disebut sebagai pola, dan tanda-tanda Allah mana yang selama itu dilewatinya sambil lalu?
  • Anak kalimat yang menerangkan orang-orang itu berdiri tanpa kata sebab. Ayat mencatat bahwa mereka selalu mengingkari tanda-tanda Allah dan bahwa mereka dipalingkan, dua keterangan dalam satu kalimat yang tidak disambungkan dengan karena. Pembaca yang membaca cepat cenderung menyambungkannya sendiri menjadi hubungan sebab dan akibat. Hubungan sebab itu tidak tertulis, dan menambahkannya berarti membaca lebih dari yang dikatakan ayat. Seberapa sering pembaca menyimpulkan sebab dari dua fakta yang kebetulan berada di kalimat yang sama, termasuk saat menilai kehidupan orang lain?
  • Tiga ayat lain di surah ini memakai kata demikianlah tanpa awalan "dan" bersama Allah sebagai pelaku, dan ayat ini tidak menyebut pelaku. Siapa pun yang ingin menjelaskan mengapa seseorang menjauh dari kebenaran perlu memutuskan dasar yang dipakainya, yaitu ayat-ayat yang berbicara atau perkiraannya sendiri tentang isi hati orang lain. Ayat 40:63 tidak menyediakan nama pelaku. Ketika pembaca menjelaskan kepada orang lain mengapa seseorang tersesat, dasar mana yang sebenarnya dipakai, ayat atau dugaan?
  • Di 27:14 pengingkaran berjalan bersama hati yang yakin, dan kata kerja yang sama dipakai di ayat ini. Ayat 27:14 berbicara tentang kelompok tertentu, bukan pembaca, tetapi ayat itu membuka satu kemungkinan yang dapat diperiksa pembaca pada dirinya sendiri, yaitu menolak sesuatu dengan lidah atau tindakan padahal bagian lain dari diri sudah menerimanya. Pengingkaran terhadap tanda-tanda Allah, menurut 27:14, tidak selalu datang dari ketidaktahuan. Apakah pembaca pernah menolak di depan orang lain sesuatu yang di dalam dirinya sudah diyakini, dan alasan apa yang terasa masuk akal saat itu?
  • Dua keterangan dalam ayat ini, dipalingkan dan selalu mengingkari tanda-tanda Allah, tidak datang bersama daftar langkah yang bisa dicentang. Pembaca sendiri yang harus mencocokkan gambaran itu dengan hidupnya, dan pencocokan itu dikerjakan tanpa penilai dari luar. Allah menyampaikannya dalam bentuk kalimat tentang orang lain, sehingga membaca ayat ini sebagai kabar tentang pihak ketiga selalu mungkin. Bagian mana dari gambaran itu yang paling sulit dicocokkan pembaca dengan dirinya, dan apa yang membuatnya sulit?
  • Surah ini menyebut dua sikap terhadap tanda-tanda Allah, yaitu memperdebatkan dan mengingkari. Orang yang berdebat masih berbicara tentang tanda itu, sedangkan orang yang mengingkari menolak mengakuinya. Ayat tidak mengatakan mana yang lebih ringan atau lebih berat. Pembaca dapat mengenali dua kebiasaan pada dirinya ketika menghadapi kebenaran yang tidak nyaman, yaitu berargumen panjang atau menolak mengakuinya. Tanda-tanda Allah dalam surah ini dihadapi dengan kedua cara itu. Mana yang lebih sering dipilih pembaca?