هُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Dialah yang menghidupkan dan mematikan; maka, apabila Dia menetapkan suatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah ia.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. هُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُhuwa lladzii yuhyii wa-yumiituDialah yang menghidupkan dan mematikan
  2. فَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًاfa-idzaa qadhaa amranmaka, apabila Dia menetapkan suatu urusan
  3. فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْfa-innamaa yaquulu lahu kunDia hanya berkata kepadanya, Jadilah
  4. فَيَكُونُfa-yakuunumaka, jadilah ia

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. هُوَhuwaDia
  2. الَّذِيlladziiyang
  3. يُحْيِيyuhyiimenghidupkan
  4. وَيُمِيتُwa-yumiitudan mematikan
  5. فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
  6. قَضَىٰqadhaamemutuskan
  7. أَمْرًاamranurusan
  8. فَإِنَّمَاfa-innamaamaka sesungguhnya hanyalah
  9. يَقُولُyaquuluberkata
  10. لَهُlahubaginya
  11. كُنْkunjadilah
  12. فَيَكُونُfa-yakuunumaka jadilah ia

Inti bacaan

Susunan (فَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا, fa-idzaa qadhaa amran) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 40:68.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (هُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ, huwa lladzii yuhyii wa-yumiitu) yang berarti "Dialah yang menghidupkan dan mematikan". Kata kerja (يُحْيِي, yuhyii) berakar ح-ي-ي dan berarti membuat sesuatu hidup, sedangkan (وَيُمِيتُ, wa-yumiitu) berakar م-و-ت dan berarti membuat sesuatu mati, sehingga terjemahan memakai awalan "meng-" dan akhiran "-kan" pada keduanya. Pembuka lengkap (هُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ, huwa lladzii yuhyii wa-yumiitu) muncul di dua ayat, yaitu 23:80 dan 40:68. Pasangan kata kerjanya sendiri, (يُحْيِي وَيُمِيتُ, yuhyii wa-yumiitu), muncul di sembilan ayat, yaitu 2:258, 3:156, 7:158, 9:116, 10:56, 23:80, 40:68, 44:8, dan 57:2. Di 23:80 pasangan itu disusul (أَفَلَا تَعْقِلُونَ, a-fa-laa ta'qiluuna) yang berarti "maka tidakkah kalian berakal?". Di 2:258 pasangan itu diucapkan dua kali, sekali tentang Tuhan di (رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ, rabbiya lladzii yuhyii wa-yumiitu), dan sekali oleh orang yang berhujah dengan Ibrahim di (أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ, anaa uhyii wa-umiitu) yang berarti "Aku menghidupkan dan mematikan".

Bagian kedua dibuka dengan (فَإِذَا, fa-idzaa) yang berarti "maka apabila". Kata kerja (قَضَىٰ, qadhaa) berakar ق-ض-ي dan diterjemahkan "menetapkan", dan (أَمْرًا, amran) berakar أ-م-ر, tanpa kata sandang, sehingga terjemahan memakai "suatu urusan". Akar أ-م-ر yang sama ada pada (أُمِرْتُ, umirtu) di 40:66. Rangkaian (إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا, idzaa qadhaa amran) muncul di empat ayat, yaitu 2:117, 3:47, 19:35, dan 40:68, dan terjemahan di keempatnya memakai "menetapkan". Huruf (فَ, fa) di depan (إِذَا, idzaa) hanya ada di 40:68, sedangkan 2:117 memakai (وَإِذَا, wa-idzaa) dan 3:47 serta 19:35 memakai (إِذَا, idzaa) saja. Karena itu rangkaian (فَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا, fa-idzaa qadhaa amran) muncul di 40:68 saja.

Pernyataan intinya, (فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ, fa-innamaa yaquulu lahu kun fa-yakuunu), berarti "Dia hanya berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka jadilah ia". Rangkaian yang sama persis muncul di empat ayat, yaitu 2:117, 3:47, 19:35, dan 40:68. Sebutan (كُنْ فَيَكُونُ, kun fa-yakuunu) muncul di delapan ayat, yaitu 2:117, 3:47, 3:59, 6:73, 16:40, 19:35, 36:82, dan 40:68, dengan pendahulu yang berbeda-beda. Di empat ayat tadi pendahulunya (إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا, idzaa qadhaa amran). Di 36:82 pendahulunya (إِذَا أَرَادَ شَيْئًا, idzaa araada syay'an) yang berarti "apabila Dia menghendaki sesuatu", dan di 16:40 (إِذَا أَرَدْنَاهُ, idzaa aradnaahu) yang berarti "apabila Kami menghendakinya". Di 3:59 pendahulunya (ثُمَّ قَالَ لَهُ, tsumma qaala lahu) yang berarti "kemudian berkata kepadanya", dan di 6:73 (وَيَوْمَ يَقُولُ, wa-yawma yaquulu) yang berarti "dan pada hari ketika Dia berkata".

Kata (كُنْ, kun) berakar ك-و-ن dan berbentuk perintah untuk satu pihak, sedangkan (فَيَكُونُ, fa-yakuunu) berakar sama dalam bentuk berjalan untuk pihak ketiga tunggal, sehingga terjemahan memakai "jadilah" lalu "maka jadilah ia". Kata (لَهُ, lahu) yang berarti "kepadanya" mendampingi (كُنْ, kun) di tujuh ayat, yaitu 2:117, 3:47, 3:59, 16:40, 19:35, 36:82, dan 40:68, dan 6:73 tidak memakainya. Akhiran -hu dapat dibaca menunjuk (أَمْرًا, amran) yang disebut tepat sebelumnya. Terjemahan memakai "hanya" untuk (إِنَّمَا, innamaa) dan tanda seru pada "Jadilah!" untuk menandai ucapan itu sebagai perintah.

Tafsiran

Ayat ini memuat dua pernyataan tentang pihak yang sama. Pernyataan pertama menyebut wilayah kuasanya, yaitu hidup dan mati. Pernyataan kedua menyebut caranya menetapkan sebuah urusan, yaitu satu ucapan yang langsung disusul hasilnya. Kedua pernyataan itu disambung (فَ, fa) "maka", sehingga yang kedua dapat dibaca sebagai kelanjutan dari yang pertama.

Tiga dari empat ayat yang memuat (إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا, idzaa qadhaa amran) berdekatan dengan sebutan anak: (اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا, ttakhadza llaahu waladan) yang berarti "Allah mengambil anak" di 2:116, ayat sebelum 2:117, lalu (يَكُونُ لِي وَلَدٌ, yakuunu lii waladun) yang berarti "aku mempunyai anak" di 3:47, dan (أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ, an yattakhidza min waladin) yang berarti "mengambil seorang anak" di 19:35. Ayat 40:68 tidak memuat kata anak. Ayat ini berada di antara 40:67 yang menyebut tahap-tahap kejadian manusia dan 40:69 yang beralih kepada orang-orang yang membantah tanda-tanda Allah. Rangkaian yang di tiga ayat lain hadir di dekat soal anak, di sini hadir di dekat soal hidup dan mati.

Ayat 40:67 menyambung langkahnya dengan (ثُمَّ, tsumma) lima kali dan tidak memakai (فَ, fa) di antara kata kerjanya, sedangkan 40:68 menyambung dengan (فَ, fa) tiga kali dan tidak memakai (ثُمَّ, tsumma). Di 3:59 kedua penyambung bertemu dalam satu kalimat tentang Adam, (خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ, khalaqahu min turaabin tsumma qaala lahu kun fa-yakuunu) yang berarti "Dia menciptakannya dari tanah, kemudian berkata kepadanya, 'Jadilah,' maka jadilah ia". Di sana (ثُمَّ, tsumma) berdiri sebelum ucapan dan (فَ, fa) berdiri sebelum hasilnya. Tanah di 40:67 dan ucapan jadilah di 40:68 terletak di dua ayat yang berurutan, dan teks tidak menyatakan bahwa tahap-tahap di 40:67 dijalankan lewat ucapan itu. Hubungan keduanya dibiarkan terbuka.

Pasangan hidup dan mati juga menyentuh isi 40:67. Dapat dibaca bahwa (يُحْيِي, yuhyii) menunjuk tahap-tahap kejadian yang baru disebut, dan (وَيُمِيتُ, wa-yumiitu) menunjuk orang yang diwafatkan sebelum itu, tetapi ayat tidak menyatakan penunjukan tersebut. Ayat 40:69 kemudian membawa pembicaraan kepada orang-orang yang membantah tanda-tanda Allah, dengan pertanyaan bagaimana mereka dipalingkan.

Renungan dan Hikmah

  • Di 3:156 orang-orang yang kufur berkata kepada saudara mereka yang bepergian atau berperang, Sekiranya mereka tetap bersama kami, tentu mereka tidak mati dan tidak terbunuh, dan ayat itu menyebut bahwa Allah menghidupkan dan mematikan. Pasangan kata kerja yang sama dipakai di 40:68 tanpa menyebut kejadian apa pun, sedangkan 3:156 membicarakan ucapan tentang kematian tertentu, sehingga keduanya tidak disamakan. Pembaca yang pernah kehilangan seseorang dapat memperhatikan kalimat yang paling sering menyertai dukanya, kalimat yang mencari kesalahan keadaan atau kalimat yang menyebut siapa yang menghidupkan dan mematikan. Apa yang berubah pada duka itu bila kalimat yang kedua yang terdengar?
  • Ayat 40:67 memuat lima kata kemudian, sedangkan 40:68 memuat satu perintah dan satu hasil tanpa kata kemudian sama sekali. Di 3:59 dua jenis penyambung itu hadir dalam satu kalimat tentang Adam: dari tanah, kemudian ucapan, maka jadilah. Teks tidak menerangkan hubungan antara tahap dan ucapan, sehingga pembaca tidak perlu memilih salah satu. Pembaca dapat menimbang urusannya sendiri, mana yang berjalan lewat tahap-tahap yang harus ditunggu, dan mana yang sebenarnya menunggu keputusan. Apakah tahap pernah dijadikan alasan padahal yang tertunda adalah keputusan, sementara ayat ini menyebut Dia menetapkan urusan dengan satu ucapan?
  • Ayat ini menyebut suatu urusan tanpa ukuran, tanpa memberi tahu besar atau kecilnya. Dia yang menetapkan urusan itu, menurut ayat ini, berkata satu kata kepadanya, apa pun urusannya. Di hidup pembaca ada urusan yang diperlakukan sebagai urusan besar dan ada yang diperlakukan sebagai urusan remeh, dan pembagian itu dibuat oleh pembaca sendiri. Ayat tidak membuat pembagian itu. Urusan mana yang dikecilkan karena tampak kecil, dan urusan mana yang dibesarkan sampai terasa mustahil, padahal ayat menyebut keduanya dengan satu kata, suatu urusan?
  • Pasangan menghidupkan dan mematikan di 23:80 disusul pertanyaan, maka tidakkah kalian berakal? Di 40:67 kata berakal berada tepat sebelum pasangan itu. Dua ayat memasang dua unsur yang sama dengan urutan terbalik, dan keduanya tidak menyebut isi pikiran yang diharapkan. Pembaca dapat bertanya apa yang sudah disimpulkan akalnya sendiri dari kenyataan bahwa Dia menghidupkan dan mematikan, dan apakah kesimpulan itu pernah disampaikan kepada orang lain atau hanya disimpan sendiri. Bila akal diminta bekerja pada pasangan itu, apa yang paling dahulu dikerjakannya?
  • Di 2:258 pasangan menghidupkan dan mematikan diucapkan dua kali, sekali oleh Ibrahim tentang Tuhannya, dan sekali oleh orang yang berhujah dengannya tentang dirinya sendiri. Tanggapan Ibrahim di ayat itu beralih kepada matahari yang diterbitkan Allah dari timur. Ayat 40:68 tidak memuat percakapan semacam itu dan menyebut pasangan tersebut sebagai milik Dia yang disebut di awal ayat. Pembaca dapat memperhatikan kapan dirinya mengucapkan kalimat yang mirip dengan aku menghidupkan dan mematikan, misalnya dalam urusan yang bergantung pada keputusannya atas nasib orang lain. Siapa yang disebutnya ketika kalimat itu ditanyakan?
  • Perintah dan hasilnya memakai akar yang sama, sehingga hasil itu menyebut ulang apa yang diperintahkan. Ayat ini tidak mencatat jarak antara perintah dan hasilnya, dan tidak menyebut ada yang menunda. Ayat ini berbicara tentang Dia yang menetapkan urusan dan tidak membandingkannya dengan manusia. Pembaca tetap dapat mengukur jaraknya sendiri antara kalimat yang diucapkan dan perbuatan yang menyusul pada hal yang sama. Seberapa lebar jarak itu, dan siapa yang menanggung selisihnya?