فِي الْحَمِيمِ ثُمَّ فِي النَّارِ يُسْجَرُونَ

ke dalam air yang mendidih, kemudian, mereka dibakar dalam api.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فِي الْحَمِيمِfii l-hamiimike dalam air yang mendidih
  2. ثُمَّ فِي النَّارِ يُسْجَرُونَtsumma fii n-naari yusjaruunakemudian, mereka dibakar dalam api

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. فِيfiike dalam
  2. الْحَمِيمِl-hamiimiair yang sangat panas
  3. ثُمَّtsummakemudian
  4. فِيfiike dalam
  5. النَّارِn-naariapi
  6. يُسْجَرُونَyusjaruunamereka dibakar

Inti bacaan

Susunan (فِي الْحَمِيمِ, fii l-hamiimi) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 40:72.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الْحَمِيمِ, l-hamiimi) di (فِي الْحَمِيمِ, fii l-hamiimi) yang berarti "ke dalam air yang mendidih" berakar ح-م-م dan kata hamiim dipakai di sembilan belas ayat. Di empat belas ayat artinya air mendidih, yaitu 6:70, 10:4, 22:19, 37:67, 38:57, 40:72, 44:46, 44:48, 47:15, 55:44, 56:42, 56:54, 56:93, dan 78:25. Di lima ayat lainnya artinya teman karib, yaitu 26:101, 40:18, 41:34, 69:35, dan 70:10. Surah ini memuat kedua arti itu. Di 40:18, (مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ, maa li-zh-zhaalimiina min hamiimin) berarti "tidak ada bagi orang-orang zalim seorang teman akrab", dan kata itu berdiri tanpa kata sandang al- di samping pemberi syafaat. Di 40:72 kata yang sama memakai al-, didahului fii, dan menjadi tujuan kata kerja diseret dari 40:71, sehingga maknanya air. Bentuk (الْحَمِيمِ, l-hamiimi) dengan al- dan akhiran -i muncul empat kali di tiga surah, yaitu 40:72, 44:46, 44:48, dan 56:54, dan keempatnya berarti air mendidih.

Kata (فِي, fii) muncul dua kali dalam ayat ini dengan terjemahan yang berbeda. Fii yang pertama bersambung dengan kata kerja diseret dari 40:71, yaitu kata kerja gerak, sehingga terjemahan memakai "ke dalam", seperti di 54:48 yang menerjemahkan (يُسْحَبُونَ فِي النَّارِ, yushabuuna fii n-naari) menjadi "mereka diseret ke dalam api". Fii yang kedua bersambung dengan (يُسْجَرُونَ, yusjaruuna), yaitu keadaan, sehingga terjemahan memakai "dalam". Frasa (فِي النَّارِ, fii n-naari) muncul enam belas kali di tiga belas surah, yaitu 7:38, 9:17, 11:106, 13:17, 27:8, 27:90, 33:66, 38:61, 39:19, 40:47, 40:49, 40:72, 41:40, 47:15, 54:48, dan 59:17. Gabungan (ثُمَّ فِي النَّارِ, tsumma fii n-naari) yang berarti "kemudian dalam api" hanya ada di 40:72.

Kata (ثُمَّ, tsumma) yang berarti "kemudian" memisahkan air dari api sebagai dua tahap yang berurutan, bukan satu tempat. Kata yang sama membuka 40:73, (ثُمَّ قِيلَ لَهُمْ, tsumma qiila lahum) yang berarti "kemudian, dikatakan kepada mereka", sehingga 40:72 dan 40:73 masing-masing memuat satu tsumma, dan keduanya memindahkan adegan ke tahap berikutnya.

Kata (يُسْجَرُونَ, yusjaruuna) yang berarti "mereka dibakar" berakar س-ج-ر. Bentuknya menandai perbuatan yang dikenakan kepada mereka, dan akhiran -uuna sama dengan pada yushabuuna di 40:71, sehingga pelakunya juga tidak muncul. Akar ini dipakai di tiga ayat, yaitu 40:72, 52:6, dan 81:6. Di 52:6, (الْمَسْجُورِ, al-masjuuri) menerangkan laut dan diterjemahkan "yang dipenuhi", dan di 81:6, (سُجِّرَتْ, sujjirat) menerangkan lautan dan diterjemahkan "meluap-menyala". Benda yang dikenai kata kerja ini berbeda di ketiga ayat, sehingga terjemahan tidak memakai satu padanan yang sama. Di 40:72 yang dikenai adalah orang, dan karena ayat menyebut api sebagai tempatnya, terjemahan memakai "dibakar".

Tafsiran

Ayat ini menutup kalimat panjang yang dimulai di 40:69. Dari 40:69 sampai 40:71 terjemahan tidak memuat titik penuh, dan titik pertama baru datang di sini. Kalimat itu bergerak dari mereka yang membantah tanda-tanda Allah, melewati pendustaan Kitab, belenggu, dan penyeretan, lalu berhenti pada air mendidih dan api. Karena ayat ini tidak memuat kata kerja gerak sendiri, ungkapan "ke dalam air yang mendidih" paling wajar dipahami sebagai lanjutan kata diseret di 40:71.

Gerak itu tersusun dalam tiga tahap: diseret, masuk ke air mendidih, lalu dibakar dalam api. Teksnya memberi urutan dan tidak menyatakan hubungan sebab antara tahap, misalnya apakah air itu yang mengantar ke api. Di 54:48 urutannya lebih pendek: sesudah penyeretan yang disebut langsung api, lalu ucapan, (ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ, dzuuquu massa saqara) yang berarti "rasakanlah sentuhan Saqar". Pada 40:71 sampai 40:73 urutan itu tetap berakhir pada ucapan, tetapi air mendidih masuk di tengah dan ucapannya berupa pertanyaan di 40:73, bukan perintah merasakan.

Air mendidih yang sama dipakai dengan cara lain di ayat lain: diminum di 6:70 dan 56:54, disiramkan ke atas kepala di 22:19, dan dituangkan di atas kepala di 44:48. Di 40:72 air itu menjadi tempat yang dimasuki, tidak dikenakan pada tubuh dari luar. Sesudah titik di ujung ayat ini, 40:73 membuka kalimat baru dengan kata kemudian dan sebuah ucapan.

Renungan dan Hikmah

  • Di 47:15 dua macam air disebut dalam satu ayat: sungai-sungai air yang tidak payau di taman yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa, dan air mendidih yang diminumkan kepada orang yang kekal dalam api sehingga usus mereka terpotong-potong. Ayat itu juga menyebut ampunan dari Tuhan mereka sebagai bagian dari taman. Kedua jenis air itu disebut berdampingan dalam perbandingan antara penghuni taman dan penghuni api, dan air di 40:72 termasuk jenis kedua. Benda yang sama-sama disebut air dapat menyegarkan di satu tempat dan melukai di tempat lain. Pembaca dapat memperhatikan apa yang kini diandalkannya sebagai penawar rasa haus, lalu bertanya dari mana sumber itu datang. Apakah air itu mengalir dari ampunan Tuhan, atau dari sesuatu yang kelak berbalik?
  • Kata hamiim berarti teman karib di 40:18 dan air mendidih di 40:72, pada dua ayat dalam satu surah. Di 40:18 orang-orang zalim tidak memiliki hamiim, sedangkan di 40:72 hamiim yang ada bagi mereka berarti lain. Pembaca dapat menaruh keduanya berdampingan: yang dicari tidak ada, dan yang ada bukan yang dicari. Pembacaan itu hanya mengikuti kesamaan kata, dan teks tidak menyatakan bahwa kedua ayat dihubungkan. Ayat 40:19 menyatakan bahwa Dia mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan dada, dalam rangkaian ayat yang sejak 40:16 menyebut Allah. Pembaca dapat bertanya kepada siapa harapan ditaruh di saat sempit, kepada teman karib atau kepada Allah yang mengetahui isi dada? Teman karib mana yang mengetahui isi dadanya sepenuh itu?
  • Di 22:19 air mendidih disiramkan ke atas kepala orang-orang yang kufur, dan di 44:48 azab berupa air mendidih dituangkan di atas kepala. Di 40:72 orang itu berada di dalam airnya. Ketiga ayat menyebut benda yang sama, tetapi hubungannya dengan tubuh berbeda: dituangkan dari atas, atau dimasuki seluruhnya. Ayat tidak menjelaskan apakah ketiganya menggambarkan satu keadaan atau keadaan yang berlainan. Pembaca yang mengukur sebuah akibat dari seberapa dekat akibat itu menyentuh dirinya dapat bertanya apa yang berubah bila akibat itu mengelilinginya dari segala sisi dan tidak hanya mengenai satu bagian. Adakah sesuatu dalam hidupnya yang sudah mengelilinginya begitu lama sehingga tidak lagi disebut akibat?
  • Akar kata kerja dibakar di 40:72 dipakai juga untuk laut. Di 81:6 lautan meluap-menyala di antara peristiwa-peristiwa lain yang digambarkan di sekitarnya, dan di 52:6 laut yang dipenuhi muncul dalam rangkaian benda yang disumpahkan. Di 40:72 yang dikenai kata kerja itu adalah orang. Ketiga ayat berbicara tentang hal yang berlainan dan tidak saling menjelaskan, tetapi akar katanya sama. Pembaca dapat memperhatikan apa yang selama ini dianggapnya kokoh dan tidak mungkin berubah, entah laut, gunung, atau kedudukan, lalu bertanya benda mana yang dikenai kata kerja yang sama dengan manusia. Seberapa jauh kokohnya sebuah pegangan bila lautan pun disebut dikenai kata kerja itu?
  • Ayat ini menyebut tiga tahap, yaitu diseret, air mendidih, dan api, lalu 40:73 menambahkan tahap keempat berupa ucapan. Setiap tahap diberi nama, tetapi lamanya tidak disebut. Lama baru muncul di 40:76 lewat (خَالِدِينَ فِيهَا, khaalidiina fiihaa) yang berarti "kalian kekal di dalamnya", sesudah perintah memasuki pintu-pintu Jahanam. Ayat-ayat itu lebih rinci tentang urutan daripada tentang waktu. Pembaca yang menimbang sebuah akibat dengan bertanya berapa lama dapat mencoba pertanyaan lain: apa yang terjadi lebih dulu, dan apa yang menyusul? Bila urutan dituliskan sepenuh itu, pertanyaan mana yang lebih dulu diajukannya kepada diri sendiri?
  • Ayat 40:17 menyatakan bahwa pada hari itu setiap jiwa dibalas dengan apa yang telah dikerjakannya, bahwa tidak ada kezaliman, dan bahwa Allah cepat perhitungan-Nya. Dari 40:71 sampai 40:74 pembaca melihat akibatnya, yaitu diseret, air mendidih, api, dan pertanyaan, tanpa alasan yang merangkum adegan. Alasan itu baru datang di 40:75, yang dibuka dengan kata yang berarti "yang demikian itu karena". Selama empat ayat pembaca memegang pernyataan 40:17 tanpa alasan rangkuman itu. Pembaca dapat memperhatikan bagaimana penilaian dibentuk atas sebuah akibat yang alasan rangkumannya belum datang: menunggu alasannya, atau lebih dulu menuduh? Apakah penilaian itu mampu ditahan sampai alasan itu datang?