مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا بَلْ لَمْ نَكُنْ نَدْعُو مِنْ قَبْلُ شَيْئًا ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ الْكَافِرِينَ

selain Allah?” Mereka menjawab, “Mereka telah lenyap dari kami; bahkan, dahulu kami tidak pernah menyeru sesuatu pun.” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang kafir.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. مِنْ دُونِ اللَّهِmin duuni llaahiselain Allah
  2. قَالُوا ضَلُّوا عَنَّاqaaluu dhalluu 'annaamereka menjawab, mereka telah lenyap dari kami
  3. بَلْ لَمْ نَكُنْ نَدْعُو مِنْ قَبْلُ شَيْئًاbal lam nakun nad'uu min qablu syay'anbahkan, dahulu kami tidak pernah menyeru sesuatu pun
  4. كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ الْكَافِرِينَka-dzaalika yudhillu llaahu l-kaafiriinademikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang kafir

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. مِنْmindari
  2. دُونِduuniselain
  3. اللَّهِllaahiAllah
  4. قَالُواqaaluumereka berkata
  5. ضَلُّواdhalluumereka sesat
  6. عَنَّا'annaadari kami
  7. بَلْbalbahkan
  8. لَمْlamtidak
  9. نَكُنْnakunkami adalah
  10. نَدْعُوnad'uukami menyeru
  11. مِنْmindari
  12. قَبْلُqablusebelumnya
  13. شَيْئًاsyay'ansedikit pun
  14. كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
  15. يُضِلُّyudhilluDia menyesatkan
  16. اللَّهُllaahuAllah
  17. الْكَافِرِينَl-kaafiriinaorang-orang yang kufur

Inti bacaan

Rangkaian (قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا, qaaluu dhalluu 'annaa) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 7:37 dan 40:74.

Penjelasan pilihan kata

Kata (مِنْ دُونِ اللَّهِ, min duuni llaahi) yang berarti "selain Allah" menutup pertanyaan yang dibuka di 40:73, dan terjemahan memberinya tanda tanya karena pertanyaan itu berakhir di sini. Frasa ini memegang peran yang sama di 7:37 dan 26:93, dan terjemahan memakai "selain Allah" di ketiganya.

Kata (ضَلُّوا, dhalluu) di (قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا, qaaluu dhalluu 'annaa) yang berarti "mereka menjawab, mereka telah lenyap dari kami" berakar ض-ل-ل. Rangkaian persis ini muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 7:37 dan 40:74. Bersama huruf 'an yang berarti "dari", dan dengan benda yang hilang sebagai pelakunya, akar ini diterjemahkan "lenyap". Bentuk (وَضَلَّ عَنْهُمْ, wa-dhalla 'anhum) yang berarti "dan lenyaplah dari mereka" muncul tujuh kali di tujuh surah, yaitu 6:24, 7:53, 10:30, 11:21, 16:87, 28:75, dan 41:48, dan di ketujuhnya subjeknya benda, yaitu apa yang mereka ada-adakan atau apa yang mereka seru. Di 41:48, (وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَدْعُونَ مِنْ قَبْلُ, wa-dhalla 'anhum maa kaanuu yad'uuna min qablu) berarti "dan lenyaplah dari mereka apa yang dahulu mereka seru". Kalimat itu menuturkan hal yang sejenis dengan yang dikatakan mereka di 40:74, hanya sebagai tuturan dan tidak sebagai ucapan mereka, dan kedua ayat berasal dari adegan yang berbeda. Pengertian "sesat" yang berlawanan dengan petunjuk dipakai bila orangnya sendiri yang kehilangan arah. Di sini benda yang mereka seru hilang dari mereka, dan kata "mereka" dalam ucapan itu menunjuk benda-benda tersebut.

Kata (بَلْ, bal) yang berarti "bahkan" menolak atau meralat apa yang baru dikatakan. Rangkaian (بَلْ لَمْ, bal lam) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:29 dan 40:74. Di 37:29, (بَلْ لَمْ تَكُونُوا مُؤْمِنِينَ, bal lam takuunuu mu'miniina) berarti "bahkan, kalianlah yang tidak beriman", dan di sana bal juga membuka jawaban yang menolak tuduhan. Di 40:74, (بَلْ لَمْ نَكُنْ نَدْعُو مِنْ قَبْلُ شَيْئًا, bal lam nakun nad'uu min qablu syay'an) berarti "bahkan, dahulu kami tidak pernah menyeru sesuatu pun". Kata (نَدْعُو, nad'uu) berakar د-ع-و dan berarti "kami menyeru"; bentuk ini dipakai di enam ayat, yaitu 6:71, 16:86, 17:71, 18:14, 40:74, dan 52:28. Di 16:86, (كُنَّا نَدْعُو مِنْ دُونِكَ, kunnaa nad'uu min duunika) berarti "yang dahulu kami seru selain Engkau", yaitu pengakuan orang-orang yang mempersekutukan ketika melihat sekutu-sekutu mereka, sedangkan 40:74 menyatakan kebalikannya. Kata (شَيْئًا, syay'an) tanpa kata sandang, sesudah penyangkalan lam, diterjemahkan "sesuatu pun".

Rangkaian (كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ, ka-dzaalika yudhillu llaahu) yang berarti "demikianlah Allah membiarkan sesat" muncul tiga kali di dua surah, yaitu 40:34, 40:74, dan 74:31. Kata (يُضِلُّ, yudhillu) berakar ض-ل-ل, sama dengan dhalluu di awal ayat ini, tetapi bentuknya menyebut pelaku, yaitu Allah, dan yang dikenai, yaitu (الْكَافِرِينَ, l-kaafiriina) yang berarti "orang-orang kafir". Terjemahan memakai "membiarkan sesat" di ketiga ayat itu. Di 40:34 yang dikenai adalah (مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ مُرْتَابٌ, man huwa musrifun murtaabun) yang berarti "orang yang melampaui batas lagi ragu-ragu", dan di 40:74 orang-orang kafir yang baru saja menyangkal pernah menyeru sesuatu. Ayat ini tidak menjelaskan bagaimana pembiaran itu berlangsung.

Tafsiran

Ayat ini memuat tiga bagian yang berurutan: ujung pertanyaan dari 40:73, jawaban orang-orang itu, dan satu kalimat penutup. Pertanyaan selesai dengan menyebut apa yang disekutukan, yaitu selain Allah. Jawabannya berisi dua pernyataan yang berlawanan: yang mereka seru telah lenyap dari mereka, lalu, sesudah kata bahkan, dahulu mereka tidak pernah menyeru sesuatu pun. Kedua pernyataan itu sulit dipegang bersama, sebab sesuatu yang tidak pernah diseru tidak mungkin lenyap dari penyerunya.

Jawaban pertama, (قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا, qaaluu dhalluu 'annaa), sama dengan yang dikatakan di 7:37, tetapi kelanjutannya berbeda. Di 7:37 sesudah itu mereka menjadi saksi atas diri sendiri, (وَشَهِدُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ, wa-syahiduu 'alaa anfusihim annahum kaanuu kaafiriina) yang berarti "dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri bahwa mereka dahulu orang-orang yang kufur", sedangkan di 40:74 sesudah itu mereka menyangkal. Adegan 6:22 sampai 6:24 memuat penyangkalan lain: pertanyaan tentang sekutu di 6:22 dijawab di 6:23 dengan (وَاللَّهِ رَبِّنَا, wa-llaahi rabbinaa) yang berarti "demi Allah, Tuhan kami", disusul pernyataan bahwa mereka bukan orang-orang musyrik, dan 6:24 menilai penyangkalan itu dengan (كَذَبُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ, kadzabuu 'alaa anfusihim) yang berarti "mereka berdusta terhadap diri mereka sendiri". Ayat 40:74 tidak memuat penilaian seperti itu. Ketiga adegan berbeda, dan penilaian di 6:24 tidak otomatis berlaku bagi 40:74.

Kalimat penutup menjadikan adegan itu sebuah contoh. Rumus yang sama, (كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ, ka-dzaalika yudhillu llaahu), menutup 40:34 sesudah ucapan "kalian" bahwa Allah tidak akan mengutus rasul lagi sesudah Yusuf, dan menutup 74:31 sesudah pertanyaan orang-orang berpenyakit hati dan orang-orang kafir tentang apa yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan itu. Di ketiga tempat rumus itu mengikuti perkataan manusia yang baru dituturkan. Karena itu 40:74 dapat dibaca sebagai penutup adegan 40:71 sampai 40:73, dan alasan bagi adegan itu menyusul di 40:75.

Renungan dan Hikmah

  • Jawaban di 40:74 memuat dua kalimat yang tidak dapat berdiri bersama. Kalimat pertama mengakui bahwa yang dahulu mereka seru ada dan kini lenyap dari mereka, sedangkan kalimat kedua, sesudah kata bahkan, menyatakan bahwa dahulu tidak ada yang mereka seru. Di 7:37 kalimat pertama yang sama diikuti pengakuan atas diri sendiri. Pembaca yang pernah bersandar pada sesuatu yang kemudian runtuh dapat memperhatikan kalimat mana yang keluar dari mulutnya sendiri: menerima bahwa sandaran itu pernah ada lalu hilang, atau menghapus bahwa dirinya pernah bersandar sama sekali. Mana yang lebih sering dipilihnya ketika ditanya tentang masa lalu, dan atas dasar apa pilihan itu diambil?
  • Kata dahulu, min qablu, dipakai dengan kata kerja yang sama oleh dua kelompok di dua ayat. Di 52:28 orang-orang bertakwa yang berada di taman berkata bahwa dahulu mereka menyeru-Nya, sesudah menyebut bahwa Allah menganugerahkan karunia kepada mereka dan menjaga mereka dari azab yang sangat panas, dan ayat itu ditutup dengan pengakuan bahwa hanya Dialah Sang Baik lagi Sang Pengasih. Di 40:74 orang-orang yang ditanya tentang sandaran mereka berkata bahwa dahulu mereka tidak menyeru apa pun. Dua masa lalu itu dituturkan dengan kata yang sama dan arah yang berlawanan. Pembaca dapat membayangkan kalimat tentang dahulunya sendiri yang kelak ingin diucapkannya dengan jujur, lalu menanyakan kebiasaan apa yang kini sedang membentuk isi kalimat itu. Apakah kalimat itu akan memuat Dia yang diseru, atau kekosongan yang disangkal?
  • Di 6:23 orang-orang yang ditanya tentang sekutu mereka menjawab dengan sumpah, "Demi Allah, Tuhan kami", lalu menyangkal bahwa mereka pernah menyekutukan, dan 6:24 menyebut penyangkalan itu dusta terhadap diri mereka sendiri. Mereka bersumpah dengan nama Allah untuk menguatkan sebuah penyangkalan. Ayat 40:74 memuat penyangkalan yang bunyinya berbeda dan tidak memuat sumpah maupun penilaian, jadi penilaian 6:24 tidak otomatis berlaku di sini. Dari 6:24 dapat dibawa sebuah pengamatan: sasaran sebuah penyangkalan bisa diri sendiri. Pembaca dapat bertanya siapa yang pertama-tama dibohongi ketika masa lalu disangkal. Apakah nama Tuhan pernah dipakainya untuk menguatkan sesuatu yang sebenarnya diragukannya?
  • Akar yang sama muncul dua kali di ayat ini: yang mereka seru lenyap dari mereka, lalu pada kalimat penutup orang-orang kafir dibiarkan sesat oleh Allah. Pembaca dapat membaca keduanya berdampingan, yaitu kehilangan sandaran dan kehilangan arah. Ayat tidak menyatakan bahwa yang satu menyebabkan yang lain, dan tidak merinci bagaimana pembiaran itu berlangsung. Orang yang sandarannya lenyap dapat bertanya apakah arah hidupnya masih ada tanpa sandaran itu, atau arah itu ternyata dipinjam dari sandaran yang kini hilang. Apa yang tersisa dari arahnya bila semua yang selama ini diseru lenyap dalam satu hari?
  • Di 37:29 orang-orang yang dituduh menjawab dengan kata bahkan, "Bahkan, kalianlah yang tidak beriman", sedangkan di 40:74 jawaban yang dibuka dengan rangkaian yang sama menyangkal bahwa mereka pernah menyeru apa pun. Kedua jawaban itu berasal dari adegan yang berbeda dan tidak saling menjelaskan. Keduanya dapat dibandingkan sebagai dua cara menjawab ketika ditanya: mengarahkan sorotan kepada orang lain, atau menghapus diri dari cerita. Pembaca dapat memperhatikan cara mana yang lebih dekat dengan kebiasaannya ketika diminta mempertanggungjawabkan sesuatu. Adakah cara ketiga, yaitu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, dan seberapa sering cara itu dipakainya?
  • Dari 40:71 sampai 40:73 kata kerja yang dikenakan kepada manusia tidak menyebut pelakunya: diseret, dibakar, dan dikatakan. Di ujung 40:74, kata kerja pertama yang menyebut pelaku bernama adalah yudhillu, dengan Allah sebagai pelaku dan orang-orang kafir sebagai yang dikenai. Susunan ayat tidak memberi dasar untuk menyimpulkan bahwa pelaku penyeretan atau pembakaran adalah pihak yang sama. Yang dapat dicatat hanya letak nama itu, yaitu sesudah adegan, tepat ketika adegan dirangkum dengan kata demikianlah. Pembaca yang biasa bertanya siapa pelaku di balik sebuah keadaan dapat memeriksa dari bagian mana ia mengambil jawabannya. Apakah jawaban itu berasal dari kata-kata yang tertulis, atau dari anggapan yang sudah ada sebelum membaca?