ذَٰلِكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَفْرَحُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَمْرَحُونَ
Yang demikian itu karena kalian dahulu bersuka ria di bumi tanpa hak, dan karena kalian dahulu bersikap angkuh.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- ذَٰلِكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَفْرَحُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّdzaalikum bi-maa kuntum tafrahuuna fii l-ardhi bi-ghayri l-haqqiyang demikian itu karena kalian dahulu bersuka ria di bumi tanpa hak
- وَبِمَا كُنْتُمْ تَمْرَحُونَwa-bi-maa kuntum tamrahuunadan karena kalian dahulu bersikap angkuh
Terjemahan per kata (11 kata)
- ذَٰلِكُمْdzaalikumdemikian itu
- بِمَاbi-maakarena apa yang
- كُنْتُمْkuntumkalian selalu
- تَفْرَحُونَtafrahuunakalian bergembira
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- بِغَيْرِbi-ghayritanpa
- الْحَقِّl-haqqihak
- وَبِمَاwa-bi-maadan karena
- كُنْتُمْkuntumkalian selalu
- تَمْرَحُونَtamrahuunakalian bergembira
Inti bacaan
Rangkaian (ذَٰلِكُمْ بِمَا, dzaalikum bi-maa) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 40:75.
Penjelasan pilihan kata
Kata (ذَٰلِكُمْ, dzaalikum) yang berarti "yang demikian itu" memakai akhiran -kum yang menunjuk beberapa orang yang diajak bicara, jadi kalimat ini ditujukan kepada mereka dan tidak dituturkan tentang mereka. Di surah ini kata itu dipakai dua kali, yaitu di 40:12 dan 40:75, dan keduanya dilanjutkan dengan huruf bi yang berarti "karena": (ذَٰلِكُمْ بِأَنَّهُ, dzaalikum bi-annahu) di 40:12, dan (ذَٰلِكُمْ بِمَا, dzaalikum bi-maa) di 40:75 yang berarti "yang demikian itu karena apa yang". Rangkaian dzaalikum bi-maa muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 40:75.
Kata (تَفْرَحُونَ, tafrahuuna) di (بِمَا كُنْتُمْ تَفْرَحُونَ, bi-maa kuntum tafrahuuna) yang berarti "karena kalian dahulu bersuka ria" berakar ف-ر-ح. Kata kuntum yang berarti "kalian adalah" disusul tafrahuuna, dan terjemahan menyatukan keduanya menjadi "dahulu kalian bersuka ria", yaitu kegiatan di masa lalu. Bentuk persis tafrahuuna muncul dua kali, yaitu di 27:36, (بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُونَ, bi-hadiyyatikum tafrahuuna) yang berarti "bergembira dengan hadiah kalian", dan di 40:75. Akar yang sama dipakai untuk kegembiraan yang dianjurkan, yaitu (فَلْيَفْرَحُوا, fa-l-yafrahuu) di 10:58 yang berarti "maka hendaklah mereka bergembira" sesudah karunia Allah dan rahmat-Nya, dan (يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ, yafrahu l-mu'minuuna) di 30:4 yang berarti "orang-orang beriman bergembira". Akar itu juga dipakai dalam larangan, yaitu (لَا تَفْرَحْ, laa tafrah) di 28:76 yang berarti "janganlah engkau terlalu bangga" dan (وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ, wa-laa tafrahuu bi-maa aataakum) di 57:23 yang berarti "dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian". Karena kata kerja yang sama dipakai untuk yang dianjurkan dan yang dilarang, kata Arabnya sendiri tidak menentukan nilai kegembiraan itu. Penentunya adalah keterangan di sekitarnya, dan di 40:75 keterangan itu adalah (بِغَيْرِ الْحَقِّ, bi-ghayri l-haqqi) yang berarti "tanpa hak".
Frasa (فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ, fii l-ardhi bi-ghayri l-haqqi) yang berarti "di bumi tanpa hak" muncul tujuh kali, yaitu di 7:146, 10:23, 28:39, 40:75, 41:15, 42:42, dan 46:20. Empat ayat memasangkannya dengan kata kerja berakar ك-ب-ر, yaitu 7:146, 28:39, 41:15, dan 46:20. Dua ayat memasangkannya dengan (يَبْغُونَ, yabghuuna), kata kerja berbuat aniaya, yaitu 10:23 dan 42:42. Di 40:75 pasangannya adalah bersuka ria. Susunan yang paling dekat ada di 46:20, (بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ, bi-maa kuntum tastakbiruuna fii l-ardhi bi-ghayri l-haqqi wa-bi-maa kuntum tafsuquuna) yang berarti "karena kalian selalu menyombongkan diri di bumi tanpa hak, dan karena kalian selalu berbuat fasik". Kedua ayat memakai bi-maa kuntum dua kali dengan frasa tanpa hak sesudah bi-maa pertama, dan 46:20 ditujukan kepada orang-orang kufur yang dihadapkan pada api.
Kata (تَمْرَحُونَ, tamrahuuna) yang berarti "kalian bersikap angkuh" berakar م-ر-ح. Bentuk kata kerja ini muncul sekali, di 40:75. Akar yang sama dipakai di dua ayat lain dalam bentuk kata benda, (مَرَحًا, marahan), yaitu 17:37 dan 31:18, dan di 31:18 kata itu berada dalam (وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا, wa-laa tamsyi fii l-ardhi marahan) yang berarti "dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan angkuh". Terjemahan 17:37 memakai "dengan sombong" dan 31:18 memakai "dengan angkuh", dan kata di bumi ada di dekat akar ini pada ketiga ayat. Ayat 31:18 dan 57:23 ditutup dengan kalimat yang sama, (لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ, laa yuhibbu kulla mukhtaalin fakhuurin) yang berarti "tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri", dan kalimat itu muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 31:18 dan 57:23. Dengan begitu kedua kata kerja di 40:75 masing-masing pernah berdiri di dekat pernyataan bahwa Allah tidak mencintai orang yang sombong: tafrahuu di 57:23 dan akar marah di 31:18.
Tafsiran
Ayat ini memberi alasan bagi adegan 40:71 sampai 40:74, yang sampai di sini menuturkan apa yang terjadi dan apa yang ditanyakan. Alasannya menyebut dua hal tentang kehidupan di bumi, yaitu bersuka ria tanpa hak dan bersikap angkuh. Keduanya keadaan batin yang tampak dalam tingkah laku, dan tidak ada di antaranya yang menyebut ucapan atau keyakinan. Pertanyaan di 40:73 menyangkut sesuatu yang disekutukan, sedangkan alasan di 40:75 tidak mengulang kata menyekutukan, dan teks tidak menjelaskan hubungan antara keduanya.
Surah ini memuat dua adegan yang ditutup dengan dzaalikum dan huruf bi yang berarti "karena". Ayat 40:12 menutup adegan orang-orang yang meminta jalan keluar di 40:11, dan 40:75 menutup adegan 40:71 sampai 40:74. Alasan di 40:12 menyangkut keyakinan: mereka kufur ketika Allah diseru semata dan percaya ketika Dia dipersekutukan. Alasan di 40:75 menyangkut sikap di bumi. Dapat dibaca bahwa surah ini memberi alasan dari dua sisi, keyakinan di 40:12 dan sikap di 40:75, tanpa menyatakan bahwa pelakunya kelompok yang sama.
Nama bagi sikap itu sudah muncul di tempat lain dalam surah ini. Ayat 40:35 menyebut hati orang yang memperdebatkan tanda-tanda Allah dengan (قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ, qalbi mutakabbirin jabbaarin) yang berarti "hati orang yang sombong lagi sewenang-wenang", dan 40:56 menyebut dada mereka tidak berisi apa pun kecuali (كِبْرٌ, kibrun) yang berarti "kesombongan". Ayat 40:76 sesudahnya menutup dengan (الْمُتَكَبِّرِينَ, l-mutakabbiriina) yang berarti "orang-orang yang sombong". Dengan susunan itu 40:75 berada di antara adegan dan namanya: adegan lebih dulu, lalu uraian perilaku di bumi, lalu sebutan bagi pelakunya.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata bergembira dipakai di 10:58 untuk sesuatu yang dianjurkan, yaitu bergembira dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, dan di 30:4 untuk orang-orang beriman yang bergembira pada hari itu. Di 40:75 akar yang sama dicatat sebagai alasan hukuman, dan pembedanya tertulis dalam ayat itu sendiri: kegembiraan itu terjadi di bumi dan tanpa hak. Dengan demikian kegembiraan tidak ditolak, dan yang diperiksa adalah dasarnya. Pembaca dapat memeriksa kegembiraannya hari ini dan menelusuri dari mana kegembiraan itu datang, dari karunia Allah atau dari sesuatu tanpa dasar yang benar. Bila kegembiraan itu ditanya dasarnya, apakah jawabannya sudah siap?
- Rasa bangga dan angkuh yang menjadi alasan di 40:75 lebih dulu muncul sebagai larangan. Di 28:76 kaum Qarun berkata, "Janganlah engkau terlalu bangga", dan memberi alasan bahwa Allah tidak mencintai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. Di 57:23 orang diminta tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya, dan di 31:18 diminta tidak berjalan di bumi dengan angkuh, dan kedua ayat itu ditutup dengan pernyataan bahwa Allah tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. Di 40:75 rasa yang sama muncul sebagai sesuatu yang dicatat sesudah semuanya terjadi. Peringatan datang lebih dulu, pencatatan menyusul. Bagaimana larangan itu terbaca pada hari-hari ketika kegembiraan sedang besar-besarnya?
- Larangan berjalan dengan sombong di 17:37 disusul alasan bahwa engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mencapai gunung dalam ketinggian, sedangkan 40:75 menaruh keangkuhan dan kegembiraan itu juga di bumi. Ayat 17:37 memberi ukuran yang dapat dibayangkan: tanah yang tidak dapat ditembus dan gunung yang tidak dapat dicapai. Ukuran itu menaruh rasa diri pada tempat yang nyata. Pembaca dapat membandingkan seberapa besar rasa dirinya ketika berjalan di atas tanah yang tidak sanggup ditembusnya dan di bawah gunung yang tidak sanggup dicapainya. Berapa ukuran yang sebenarnya tersisa bila rasa diri itu ditimbang di tempat yang sama?
- Ayat 40:75 memakai kata dahulu dua kali: kegembiraan itu terjadi dahulu, dan keangkuhan itu juga terjadi dahulu. Bagi orang-orang yang dihadapi ucapan ini, bumi sudah menjadi masa lalu, sehingga perasaan yang di sana terasa seperti keadaan biasa kini dirangkum menjadi catatan dalam satu kalimat. Kalimat itu menaruh tiga keterangan pada kegembiraan: kapan terjadinya, yaitu dahulu, di mana, yaitu di bumi, dan atas dasar apa, yaitu tanpa hak. Pembaca dapat memeriksa kegembiraannya sendiri dengan tiga keterangan itu, lalu mencoba mengganti kata dahulu dengan kata hari ini dan memperhatikan bagian mana yang terdengar berbeda. Bagaimana kegembiraannya hari ini akan terdengar bila kelak disebut dengan kalimat yang dibuka dahulu kalian?
- Ayat 40:35 menyebut Allah mengunci setiap hati orang yang sombong lagi sewenang-wenang, dan 40:56 menyebut dada orang-orang yang memperdebatkan tanda-tanda Allah tidak berisi apa pun kecuali kesombongan yang tidak akan mereka capai. Dua ayat itu berbicara tentang isi dalam, sedangkan 40:75 berbicara tentang perilaku di bumi: bersuka ria dan bersikap angkuh. Teks tidak menyatakan bahwa isi dalam itu menjadi sebab perilaku di 40:75, tetapi 40:76 menamai pelaku perilaku itu dengan akar kata sombong yang sama dengan 40:35. Pembaca dapat memperhatikan apakah yang tampak dari luar pada dirinya sejalan dengan isi dadanya. Apakah ada kegembiraan di wajahnya yang tidak diketahui isi dadanya?
- Ayat 40:12 memberi alasan yang berkaitan dengan keyakinan, yaitu kufur ketika Allah diseru semata dan percaya ketika Dia dipersekutukan, sedangkan 40:75 memberi alasan yang berkaitan dengan perasaan dan sikap. Surah ini tidak menaruh keduanya pada satu kalimat, dan tidak menyatakan bahwa keduanya dimiliki orang yang sama. Pembaca yang biasa menguji dirinya hanya dengan salah satu sisi dapat memperhatikan sisi yang jarang ditanyakannya. Orang yang sering memeriksa keyakinannya dapat bertanya bagaimana sikapnya di bumi, dan orang yang sering memeriksa sikapnya dapat bertanya kepada siapa keyakinannya diarahkan. Pertanyaan mana yang paling jarang diajukannya kepada diri sendiri, dan mengapa pertanyaan itu yang paling jarang?