فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِينَ
Maka, ketika mereka melihat azab Kami, mereka berkata, “Kami beriman kepada Allah semata, dan kami kufur terhadap apa yang dahulu kami persekutukan dengan-Nya.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَاfa-lammaa ra'aw ba'sanaamaka, ketika mereka melihat azab Kami
- قَالُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُqaaluu aamannaa bi-llaahi wahdahumereka berkata, kami beriman kepada Allah semata
- وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِينَwa-kafarnaa bi-maa kunnaa bihi musyrikiinadan kami kufur terhadap apa yang dahulu kami persekutukan dengan-Nya
Terjemahan per kata (12 kata)
- فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
- رَأَوْاra'awmereka melihat
- بَأْسَنَاba'sanaaazab Kami
- قَالُواqaaluumereka berkata
- آمَنَّاaamannaakami beriman
- بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
- وَحْدَهُwahdahusendirian
- وَكَفَرْنَاwa-kafarnaadan kami mengingkari
- بِمَاbi-maapada apa yang
- كُنَّاkunnaakami adalah
- بِهِbihidengan-Nya
- مُشْرِكِينَmusyrikiinaorang-orang musyrik
Inti bacaan
Rangkaian (كَفَرْنَا بِمَا, kafarnaa bi-maa) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 14:9 dan 40:84.
Penjelasan pilihan kata
Kalimat pembuka ayat ini, (فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا, fa-lammaa ra'aw ba'sanaa), diterjemahkan "maka, ketika mereka melihat azab Kami". Kata kerja (رَأَوْا, ra'aw) berakar ر-أ-ي dan berarti "mereka melihat". Kata (بَأْسَنَا, ba'sanaa) tersusun dari (بَأْسَ, ba'sa) yang berarti "azab" dan akhiran (نَا, -naa) yang berarti "Kami". Bentuk ba'sanaa muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:148, 21:12, 40:84, dan 40:85. Kata kerja yang mendahuluinya tidak sama di semua ayat itu. Di 6:148 bunyinya (ذَاقُوا بَأْسَنَا, dzaaquu ba'sanaa) yang berarti "mereka merasakan azab Kami", di 21:12 (أَحَسُّوا بَأْسَنَا, ahassuu ba'sanaa) yang berarti "mereka menyadari azab Kami", sedangkan di 40:84 dan 40:85 bunyinya (رَأَوْا بَأْسَنَا, ra'aw ba'sanaa) yang berarti "mereka melihat azab Kami". Ketiga kata kerja itu menyangkut cara azab dikenali: lewat rasa di 6:148, lewat kesadaran di 21:12, dan lewat penglihatan di 40:84 dan 40:85, sehingga terjemahan menjaga "melihat" di dua ayat yang terakhir.
Ucapan pertama mereka, (آمَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُ, aamannaa bi-llaahi wahdahu) yang berarti "kami beriman kepada Allah semata", memuat kata kerja (آمَنَّا, aamannaa) yang berarti "kami beriman". Kata (وَحْدَهُ, wahdahu) yang berarti "semata" muncul enam kali di lima surah, yaitu di 7:70, 17:46, 39:45, 40:12, 40:84, dan 60:4. Rangkaian (بِاللَّهِ وَحْدَهُ, bi-llaahi wahdahu) yang berarti "kepada Allah semata" hanya ada dua kali, yaitu di 40:84 dan 60:4, dan di 60:4 rangkaian itu menjadi syarat, (حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ, hattaa tu'minuu bi-llaahi wahdahu) yang berarti "sampai kalian beriman kepada Allah semata". Di Surah 40 kata wahdahu muncul dua kali, di 40:12 dan di 40:84. Ayat 40:12 berbunyi (إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ, idzaa du'iya llaahu wahdahu kafartum) yang berarti "apabila Allah diseru semata, kalian kufur", sehingga sebutan yang sama berhadapan dengan kufur di 40:12 dan dengan pengakuan beriman di 40:84.
Ucapan kedua, (وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِينَ, wa-kafarnaa bi-maa kunnaa bihi musyrikiina), diterjemahkan "dan kami kufur terhadap apa yang dahulu kami persekutukan dengan-Nya". Kata (كُنَّا, kunnaa) yang berarti "dahulu kami" menjadi sumber kata "dahulu" dalam terjemahan. Kata (مُشْرِكِينَ, musyrikiina) berakar ش-ر-ك dan diterjemahkan "yang mempersekutukan", sedangkan akhiran (هِ, -hi) pada (بِهِ, bihi) menunjuk Allah, seperti pada (وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ, wa-in yusyrak bihi) yang berarti "dan jika Dia dipersekutukan" di 40:12. Rangkaian (كَفَرْنَا بِمَا, kafarnaa bi-maa) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 14:9 dan 40:84. Di 14:9 bunyinya (إِنَّا كَفَرْنَا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ, innaa kafarnaa bi-maa ursiltum bihi) yang berarti "sesungguhnya kami kufur terhadap apa yang kalian diutus dengannya", yaitu ucapan orang-orang yang menolak rasul-rasul mereka. Di 40:84 kata kerja yang sama dipakai untuk melepaskan diri dari apa yang dahulu mereka persekutukan, jadi arah kufurnya berbeda dari 14:9.
Ayat 40:84 tidak menyebut siapa saja yang dahulu mereka persekutukan, dan tidak menilai ketulusan ucapan itu. Tanda kutip di terjemahan menandai bahwa kedua kalimat sesudah "mereka berkata" adalah ucapan mereka, tidak kalimat penutur.
Tafsiran
Ayat ini mencatat dua kalimat yang diucapkan pada saat yang sama, satu menegaskan Allah semata dan satu melepaskan apa yang dahulu dipersekutukan. Keduanya diucapkan ketika azab terlihat. Ucapan itu datang sesudah penglihatan, dan tidak ada penjelasan tercatat yang mendahuluinya.
Susunan dua kalimat itu membalik pasangan di 40:12. Ayat 40:12 menyebut kufur ketika Allah diseru semata dan percaya ketika Dia dipersekutukan, yaitu (كَفَرْتُمْ, kafartum) dan (تُؤْمِنُوا, tu'minuu). Ayat 40:84 menyebut beriman kepada Allah semata dan kufur terhadap yang dipersekutukan. Kedua ayat itu tidak menyatakan bahwa pembicaranya kelompok yang sama atau bahwa keduanya berpasangan.
Pertanyaan tentang sekutu-sekutu itu juga muncul di 40:73, (أَيْنَ مَا كُنْتُمْ تُشْرِكُونَ, ayna maa kuntum tusyrikuuna) yang berarti "di manakah apa yang dahulu kalian sekutukan". Jawaban di 40:74 berbeda dengan 40:84. Di 40:74 mereka berkata sekutu-sekutu itu telah lenyap dari mereka dan bahwa dahulu mereka tidak pernah menyeru sesuatu pun, sedangkan di 40:84 mereka menyatakan kufur terhadap sekutu-sekutu itu. Kedua ayat berbicara dalam keadaan yang berbeda: di 40:73 mereka ditanya, dan di 40:84 mereka berbicara ketika azab terlihat.
Ayat 34:52 menaruh ucapan yang serupa di samping pertanyaan tentang jarak, (وَأَنَّىٰ لَهُمُ التَّنَاوُشُ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ, wa-annaa lahumu t-tanaawusyu min makaanin ba'iidin) yang berarti "bagaimana mungkin mereka menggapai dari tempat yang jauh". Ayat 40:84 tidak memuat pertanyaan itu, tetapi 40:85 yang menyusul menyatakan hasilnya. Dengan demikian 40:84 berada di antara kedatangan bukti di 40:83 dan penilaian di 40:85.
Renungan dan Hikmah
- Pengakuan di ayat ini terdiri atas dua kalimat yang saling melengkapi: beriman kepada Allah semata dan kufur terhadap apa yang dahulu dipersekutukan. Tidak ada yang kurang dari isinya, dan 40:85 sendiri menyebutnya iman mereka. Rumusan itu sudah rapi pada saat diucapkan. Pembaca dapat bertanya kapan kalimat serupa terakhir diucapkan atau dipikirkannya tanpa dorongan apa pun dari luar, dan apa yang dimaksudkannya dengan kata semata ketika tidak ada yang mengawasi?
- Ucapan mereka muncul ketika mereka melihat azab, sedangkan di ayat sebelumnya rasul-rasul datang dengan bukti-bukti nyata dan hasilnya kegembiraan dengan pengetahuan sendiri. Dua jalan menuju pengakuan yang sama dapat dibedakan di sini: jalan lewat bukti yang diperhatikan, dan jalan lewat penglihatan atas azab. Penglihatan itu disebut di dua ayat berurutan, sebagai awal ucapan di 40:84 dan sebagai saat iman tidak berguna di 40:85. Bila Dia mengutus rasul-rasul dengan bukti, seperti disebut di 40:78, pembaca dapat menimbang lewat jalan mana keyakinannya biasanya tiba, dan apakah jalan itu dipilih atau hanya yang tersisa.
- Pasangan di 40:12 menyebut kufur ketika Allah diseru semata dan percaya ketika Dia dipersekutukan. Ayat 40:84 menyusun ucapan yang menghadap ke arah sebaliknya, dengan kata kerja yang sama. Di 39:45 kata semata juga ada dalam kalimat tentang hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, yang menjadi kesal bila Allah disebut sendirian. Pembaca dapat memperhatikan reaksi spontannya ketika nama Allah disebut sendirian, tanpa sebutan lain di sampingnya, dan menanyakan apakah reaksi itu lebih dekat ke 40:12 atau ke 40:84.
- Di 40:84 mereka mengufuri sesuatu yang dahulu mereka persekutukan dengan Allah, dan tidak mengufuri pesan yang dibawa orang lain seperti di 14:9. Ayat tidak menyebut apa saja yang dipersekutukan itu, sehingga isinya terbuka bagi setiap pembaca. Pembaca dapat membayangkan hari yang buruk, lalu menanyakan apa yang selama ini dijadikannya pegangan tanpa pernah mengatakannya, dan apakah pegangan itu akan dilepaskannya dengan kata kufur?
- Pengakuan di ayat ini diucapkan dalam bentuk jamak, kami beriman dan kami kufur, sehingga terbaca sebagai ucapan bersama. Ayat tidak mencatat ucapan perseorangan, sehingga tidak terbaca apakah ucapan itu serempak atau bergantian. Pembaca dapat memeriksa pernyataan apa yang mudah diucapkannya bersama orang lain tetapi sulit diucapkannya sendirian di hadapan Tuhan, dan siapa saja yang biasa mengucapkannya bersama dia?
- Ayat 34:52 memuat ucapan serupa, "Kami beriman kepadanya!", lalu langsung bertanya bagaimana mungkin mereka menggapai dari tempat yang jauh. Ayat 40:84 tidak memuat pertanyaan itu, dan 34:52 tidak menyebut apa yang jauh. Dua ayat itu bersama-sama memungkinkan satu pembacaan: ucapan beriman dan jarak terhadap apa yang diimani dapat dicatat dalam satu napas, dan keduanya tidak otomatis bertemu. Pembaca dapat bertanya jarak apa yang kini ada antara kalimat iman yang diucapkannya dan hal-hal yang dijalaninya sehari-hari, serta berapa langkah yang masih diperlukan sebelum kalimat itu sampai pada keseharian.
- Ayat ini memuat isi pengakuan tanpa penilaian, dan penilaiannya menyusul di ayat berikutnya. Teks tidak mengukur ketulusan ucapan itu, hanya mencatatnya seperti adanya. Ayat berikutnya menyebut iman itu tidak berguna ketika azab terlihat. Pembaca dapat bertanya sampai di mana wewenangnya atas ucapan orang lain bila teks yang dibacanya mencatat ucapan tanpa menimbang hati pengucapnya, dan apa yang diukurnya ketika ia sendiri menilai pengakuan seseorang yang terdesak?