بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
حم
Haa Miim.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- حمhaa miimHa Mim
Terjemahan per kata (1 kata)
- حمhaa miimHaa Miim
Inti bacaan
Rangkaian (حم, haa miim) muncul tujuh kali di Al-Qur'an, masing-masing sebagai satu ayat tersendiri, yaitu di 40:1, 41:1, 42:1, 43:1, 44:1, 45:1, dan 46:1.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini terdiri dari satu kata tulis, (حم, haa miim), yang memuat dua huruf, yaitu (ح, haa) dan (م, miim). Alih aksara proyek memecahnya menjadi dua kata, haa dan miim, karena pembaca melafalkan nama kedua huruf itu. Terjemahan menuliskan nama tersebut apa adanya dengan huruf awal besar, Haa Miim, dan menggandakan vokal panjang seperti alih aksara di seluruh terjemahan ini. Titik di ujungnya ada karena 41:2 membuka kalimat baru.
Data morfologi korpus memperlakukan kata ini berbeda dari kata biasa. Kata ini hanya diberi tanda huruf pembuka surah, tanpa akar dan tanpa bentuk dasar. Kata di ayat sesudahnya mendapat keduanya: (تَنْزِيلٌ, tanziilun) berakar ن-ز-ل, dan (الرَّحْمَٰنِ, r-rahmaani) berakar ر-ح-م. Karena kedua huruf ini tidak punya akar, padanan Indonesia tidak dapat dipilih dengan membandingkan pemakaian akar yang sama di ayat lain, cara yang dipakai untuk sebagian besar kata di 41:2 sampai 41:6. Bahan pembanding yang ada berupa ayat-ayat lain yang memuat rangkaian yang sama.
Rangkaian (حم, haa miim) menjadi satu ayat utuh tujuh kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 40:1, 41:1, 42:1, 43:1, 44:1, 45:1, dan 46:1. Ketujuh surah itu berurutan dalam mushaf, dan 41:1 berada di urutan kedua. Terjemahan ketujuh ayat itu sama. Di 42:1 rangkaian ini disusul ayat huruf lain, (عسق, 'ayn siin qaaf) di 42:2, sehingga surah 42 dibuka dengan dua ayat huruf berturut-turut, sedangkan enam surah lainnya dibuka dengan satu.
Kedua huruf ini juga terdapat di dalam kata-kata yang datang sesudahnya. Akar ر-ح-م pada (الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ, r-rahmaani r-rahiimi) di 41:2 memuat ح dan م, dan (حَمِيدٍ, hamiidin) di 41:42 memuat keduanya pula. Persamaan huruf semacam itu tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa rangkaian ini menunjuk kata tertentu. Alasannya ada pada ketujuh ayat Haa Miim itu sendiri. Di antara ketujuh ayat kedua itu, 41:2 menyebut Ar-Rahman dan enam lainnya tidak. Ayat kedua yang lain berbunyi (تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ, tanziilu l-kitaabi mina llaahi) yang berarti "diturunkannya Kitab dari Allah" di 40:2, 45:2, dan 46:2, berupa sumpah demi Kitab di 43:2 dan 44:2, atau berisi huruf lagi di 42:2.
Data morfologi yang sama menandai 30 ayat sebagai ayat huruf pembuka, tersebar di 29 surah. Seluruhnya memakai empat belas huruf yang berbeda. Huruf ح hanya muncul pada ketujuh ayat Haa Miim, sedangkan م muncul di tujuh belas ayat, yaitu ketujuh ayat itu, enam ayat (الم, alif laam miim) di 2:1, 3:1, 29:1, 30:1, 31:1, dan 32:1, serta 7:1, 13:1, 26:1, dan 28:1.
Ejaan Latin untuk huruf pertama ayat ini sama dengan ejaan untuk huruf lain. Terjemahan menulis ح sebagai Haa, dan menulis ه sebagai Haa juga, yaitu di 20:1 pada "Taa Haa" dan di 19:1 pada "Kaaf Haa Yaa Ain Saad". Kedua huruf itu berbeda dalam tulisan Arab, sehingga pembaca yang melihat huruf Latin saja memerlukan tulisan Arab untuk memastikan huruf mana yang dimaksud. Huruf ح dipakai sebagai huruf pembuka hanya di ayat-ayat Haa Miim, sedangkan ه dipakai di 19:1 dan 20:1.
Ayat ini tidak menerangkan apa yang dimaksud kedua huruf itu, dan tak satu pun ayat yang disebut di atas menerangkannya. Terjemahan karena itu tidak menambahkan kata seperti "huruf" atau "tanda" di dalam maupun di samping nama huruf. Ayat 41:2 langsung beralih ke penurunan dari Ar-Rahman.
Tafsiran
Ayat ini membuka Surah 41 dengan dua huruf, tepat sesudah Surah 40 ditutup oleh 40:84 dan 40:85. Di 40:84 orang-orang yang melihat azab berkata bahwa mereka beriman kepada Allah semata, dan 40:85 menyatakan bahwa iman mereka tidak berguna saat itu dan bahwa orang-orang kafir di sana rugi. Dua huruf di 41:1 datang sesudah putusan itu tanpa kata penghubung, tanpa seruan, dan tanpa tanggapan atas adegan sebelumnya.
Ayat sependek ini tidak memuat pernyataan, sehingga perannya terbaca dari letaknya. Sesudahnya datang 41:2 sampai 41:4, tiga ayat yang berturut-turut menyebut asal Kitab, susunan dan bahasanya, lalu tugasnya serta sambutan atasnya. Dua huruf di 41:1 mendahului ketiganya, dan teks tidak menyatakan apakah huruf itu termasuk bagian dari penurunan yang disebut di 41:2, atau termasuk ayat-ayat yang di 41:3 disebut diperinci.
Ayat 41:1 berada di urutan kedua dari tujuh ayat Haa Miim, dan ayat kedua dari ketujuh surah itu tidak seragam. Surah 40 meneruskannya dengan (تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ, tanziilu l-kitaabi mina llaahi) di 40:2, sedangkan Surah 41 meneruskannya dengan (تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ, tanziilun mina r-rahmaani r-rahiimi) yang berarti "suatu penurunan dari Ar-Rahman, Sang Pengasih". Kata penurunan ada di keduanya, tetapi nama yang ditunjuk sebagai asalnya berbeda. Di 41:1 sampai 41:13 nama Allah belum disebut. Penyebutan pertamanya baru ada di 41:14.
Surah ini kemudian kembali pada urusan kejelasan. Ayat 41:3 menyebut Kitab yang ayat-ayatnya diperinci, dan 41:44 memuat keberatan yang akan diucapkan seandainya Kitab itu berbahasa asing, yaitu "Mengapa tidak diperinci ayat-ayatnya?" Surah yang berbicara tentang perincian dan bahasa yang dipahami itu dibuka dengan ayat yang maknanya tidak diterangkan oleh teks.
Renungan dan Hikmah
- Pembaca yang melafalkan haa dan miim di 41:1 belum diberi tahu apa pun tentang asal kedua huruf itu. Ayat 41:2 baru menyebut asal sebuah penurunan, yaitu Ar-Rahman, dan teks tidak menyatakan apakah dua huruf tadi bagian dari penurunan itu. Nama Allah sendiri belum disebut sampai 41:14. Ayat 17:110 menyuruh menyeru Allah atau menyeru Ar-Rahman dan menyebut bahwa milik-Nya nama-nama yang terindah, sehingga pembaca surah ini lebih dulu bertemu dengan Dia lewat nama Ar-Rahman. Apa yang dilakukan pembaca terhadap dua huruf yang asalnya tidak diterangkan, menahan diri sampai ada keterangan atau mengisinya dengan dugaan sendiri?
- Pembaca yang sudah melewati 39:1 dan 40:2 pernah mendengar kalimat yang menyebut Kitab diturunkan dari Allah, Sang Digdaya, dan kalimat itu kembali di 45:2 dan 46:2. Sesudah dua huruf di 41:1, pembaca dapat menduga ayat berikutnya mengikuti kalimat itu. Ternyata 41:2 menyebut penurunan dari Ar-Rahman, Sang Pengasih. Kata penurunan masih ada, tetapi cara Allah ditunjuk berganti dari sifat kekuasaan menjadi sifat kasih. Dugaan yang lahir dari pembuka yang terdengar akrab tidak terpenuhi, dan pembaca baru mengetahuinya setelah ayat berikutnya terbaca. Seberapa sering pembaca sudah memutuskan bunyi kalimat berikutnya hanya karena awalnya terasa pernah didengar?
- Surah 40 berakhir dengan orang-orang yang berkata bahwa mereka beriman kepada Allah semata saat melihat azab, dan dengan pernyataan bahwa iman mereka tidak berguna pada saat itu menurut sunah Allah yang telah berlaku pada hamba-hamba-Nya. Pembaca yang masih membawa adegan itu mendapat 41:1, yaitu dua huruf yang tidak menanggapi apa pun, tanpa seruan, tanpa nasihat, dan tanpa penghiburan. Ayat 41:2 pun langsung berbicara tentang penurunan dari Ar-Rahman. Apa yang terjadi pada pembaca yang menutup satu surah dengan putusan tegas, lalu bacaan berikutnya dibuka tanpa menyinggung putusan itu sedikit pun?
- Cara yang biasa dipakai pembaca untuk memahami sebuah kata, yaitu menelusuri akarnya dan membandingkan pemakaiannya di ayat lain, tidak bekerja pada dua huruf ini karena data korpus tidak memberinya akar. Sebagian besar kata di 41:2 sampai 41:6 bisa ditelusuri satu per satu, sedangkan 41:1 tidak. Pembaca yang terbiasa menuntut penjelasan dari setiap bagian bacaan mendapati ada satu bagian yang bahan penelusurannya kosong, dan ayat itu diletakkan di tempat paling depan. Bagaimana pembaca menyikapi bagian bacaan yang alat bacanya sendiri tidak sanggup menjangkau?
- Ayat 41:3 menyebut Kitab yang ayat-ayatnya diperinci bagi kaum yang mengetahui, dan ayat itu datang dua ayat sesudah 41:1. Teks tidak menyatakan apakah dua huruf di 41:1 termasuk ayat-ayat yang diperinci itu. Pembaca yang menempatkan dirinya di antara kaum yang mengetahui dapat memeriksa dasar anggapan itu, yaitu apakah pembaca mengetahui isi sebuah bacaan atau baru mengenal cara melafalkannya. Pengetahuan yang ditunjuk 41:3 diletakkan sesudah ayat yang tidak diterangkan, sehingga pembaca tidak dapat menyembunyikan bagian yang belum diketahuinya di balik bagian yang sudah dipahaminya.
- Ayat 41:1 berisi bunyi dua huruf tanpa kata yang dapat dipahami, sehingga pembaca dapat melafalkannya atau mendengarnya. Ayat 41:4 menyebut kebanyakan dari mereka berpaling sehingga tidak mendengar, dan 41:5 memuat ucapan bahwa di telinga mereka ada sumbat. Teks tidak menghubungkan ayat-ayat itu dengan dua huruf di 41:1. Pembaca yang lebih dulu menemukan bunyi yang maknanya tidak diterangkan, lalu menemukan pembicaraan tentang orang yang tidak mendengar, dapat bertanya pada dirinya sendiri. Apa bedanya mendengar bunyi yang maknanya belum diketahui dengan tidak mendengar sama sekali?