تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Suatu penurunan dari Ar-Rahman, Sang Pengasih,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِtanziilun mina r-rahmaani r-rahiimisuatu penurunan dari Ar-Rahman, Sang Pengasih
Terjemahan per kata (4 kata)
- تَنْزِيلٌtanziilunpenurunan
- مِنَminadari
- الرَّحْمَٰنِr-rahmaaniAr-Rahman
- الرَّحِيمِr-rahiimiSang Pengasih
Inti bacaan
Pasangan (الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ, r-rahmaani r-rahiimi) dengan akhiran yang sama muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 1:1, 1:3, 27:30, dan 41:2.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (تَنْزِيلٌ, tanziilun) yang berarti "suatu penurunan". Kata ini berakar ن-ز-ل dan oleh data morfologi ditandai sebagai kata benda bentuk kedua yang tak tentu. Tanwin di ujung kata itu diterjemahkan dengan "suatu". Bentuk persis tanziilun muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an, tersebar di tiga surah, yaitu di 41:2, 41:42, 56:80, dan 69:43, dan di keempatnya kata itu disusul min beserta sebutan asalnya. Di 41:42, (تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ, tanziilun min hakiimin hamiidin) berarti "suatu penurunan dari Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji", sehingga 41:2 dan 41:42 memakai terjemahan yang sama untuk kata yang sama. Di 56:80 dan 69:43, (تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ, tanziilun min rabbi l-'aalamiina) menyebut Tuhan seisi alam sebagai asalnya.
Bentuk di ayat ini berbeda dari pembuka serupa di 39:1, 40:2, 45:2, dan 46:2. Di keempat ayat itu kata tersebut berbentuk tanziilu dan langsung disusul (الْكِتَابِ, l-kitaabi), sehingga terjemahannya "diturunkannya Kitab". Di 41:2 kata Kitab belum ada, dan terjemahan tidak menambahkan "Kitab" maupun "Al-Qur'an ini". Ayat ini baru menyebut asal sebuah penurunan, sedangkan isinya dinamai di 41:3 dengan (كِتَابٌ, kitaabun) yang berarti "suatu Kitab".
Asal penurunan itu disebut dengan (مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ, mina r-rahmaani r-rahiimi) yang berarti "dari Ar-Rahman, Sang Pengasih". Kata (الرَّحْمَٰنِ, r-rahmaani) di seluruh terjemahan ini ditulis sebagai nama, Ar-Rahman, karena selalu menunjuk Allah, dan 17:110 menyandingkannya dengan Allah sebagai nama yang diseru. Kata (الرَّحِيمِ, r-rahiimi) memakai kata sandang al- seperti pasangannya, sehingga terjemahannya "Sang Pengasih" seperti di 1:3. Pasangan (الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ, r-rahmaani r-rahiimi) dengan akhiran yang sama muncul empat kali, yaitu di 1:1, 1:3, 27:30, dan 41:2. Di 1:1 dan 27:30 pasangan itu mengikuti kata Allah, sedangkan di 41:2 pasangan itu mengikuti min dan menjadi asal sebuah penurunan.
Susunan (مِنَ الرَّحْمَٰنِ, mina r-rahmaani) juga muncul empat kali, yaitu di 19:45, 21:42, 26:5, dan 41:2, tetapi isinya berbeda-beda. Di 19:45, (عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ, 'adzaabun mina r-rahmaani) berarti "azab dari Ar-Rahman" dan diucapkan seorang anak kepada bapaknya. Di 26:5, (ذِكْرٍ مِنَ الرَّحْمَٰنِ, dzikrin mina r-rahmaani) berarti "peringatan dari Ar-Rahman". Di 21:42, susunan itu menyertai pertanyaan siapa yang menjaga pada waktu malam dan siang dari Ar-Rahman. Di 41:2 Ar-Rahman menjadi asal suatu penurunan.
Ar-Rahman tidak disebut lagi di Surah 41 sesudah ayat ini. Akar ر-ح-م muncul dua kali lagi di surah ini, yaitu pada (رَحِيمٍ, rahiimin) di 41:32 yang berarti "Yang Pengasih", dan pada kata rahmat di 41:50. Tanda koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat berlanjut ke 41:3.
Tafsiran
Ayat ini menyebut asal sebuah penurunan tanpa menyebut isinya, sebab kata kerja, pelaku yang berbicara, dan kata Kitab sama-sama tidak ada di dalamnya. Isinya baru dinamai di 41:3, dan 41:4 menyebut tugas serta sambutan atasnya. Terjemahan menyambung ketiga ayat itu dengan koma, dan titik baru jatuh di ujung 41:4. Dalam rangkaian itu 41:2 berada paling depan, sehingga asal disebut lebih dulu daripada wujud, susunan, bahasa, tugas, dan sambutan.
Nama yang dipilih untuk asal itu berbeda dari ayat-ayat serupa. Di 40:2, 45:2, dan 46:2 penurunan Kitab disandarkan kepada Allah, Sang Digdaya, sedangkan di 41:2 disandarkan kepada Ar-Rahman, Sang Pengasih. Teks tidak menerangkan sebab perbedaan itu. Surah 41 memakai kata tanziilun sekali lagi di 41:42 dengan asal yang dinamai lain, yaitu "Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji". Sifat pengasih kembali di 41:32, pada (نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ, nuzulan min ghafuurin rahiimin) yang berarti "sebagai jamuan dari yang pengampun lagi pengasih", tetapi dari sana datang jamuan, sedangkan penurunan tidak disebut.
Penyebutan asal ini menjadi dasar bagi sambutan yang dituturkan dua ayat sesudahnya. Ayat 26:5 menyebut peringatan baru dari Ar-Rahman yang selalu disambut dengan berpaling, dan 41:4 menyebut kebanyakan mereka berpaling. Kedua ayat itu berada di surah yang berbeda dan tidak saling menafsirkan, tetapi di 41:2 asal sudah ditetapkan sebelum sambutan dituturkan, sehingga berpaling di 41:4 dapat dibaca sebagai berpaling dari sesuatu yang asalnya sudah disebut.
Renungan dan Hikmah
- Pembaca diberi tahu dari mana sebuah penurunan datang sebelum diberi tahu apa isinya. Ayat 41:2 menyebut asalnya, yaitu Ar-Rahman, Sang Pengasih, dan baru di 41:3 isinya dinamai sebagai Kitab. Orang yang terbiasa menimbang sebuah kabar dari isinya lebih dulu, baru kemudian dari siapa kabar itu datang, mendapat urutan yang terbalik di sini. Selama satu ayat, pembaca mengenal Ar-Rahman sebagai asal tanpa tahu apa yang diturunkan dari Dia. Bagaimana sebuah kabar terbaca bagi orang yang sudah mengenal asalnya sebelum mengetahui isinya?
- Nama pertama bagi asal penurunan di surah ini adalah Ar-Rahman, Sang Pengasih, dan kata peringatan baru tiba di 41:4 lewat pemberi peringatan. Urutannya kasih dulu, lalu peringatan. Di 19:45 seorang anak berkata kepada bapaknya bahwa dirinya takut azab dari Ar-Rahman menimpa bapaknya, sehingga nama yang sama dipakai di sana untuk asal azab, walaupun surah dan pembicaranya berbeda dari ayat ini. Pembaca dapat mencatat bahwa Dia disebut dengan nama kasih di kedua tempat, sedangkan yang dikatakan datang dari nama itu berbeda, yaitu penurunan di satu tempat dan azab di tempat lain. Bagaimana pembaca menyatukan dua hal itu dalam satu gambaran tentang Tuhan?
- Akar kata kasih di ayat ini terdapat lagi di 41:50, pada orang yang diberi rasa rahmat dari Kami sesudah ditimpa kesusahan. Orang itu berkata, "Ini milikku", dan menduga hari kiamat tidak akan terjadi. Kasih yang di 41:2 disebut sebagai asal sebuah penurunan, di 41:50 diakui sebagai milik sendiri oleh penerimanya. Kedua ayat tidak saling menyebut, dan 41:50 tidak membicarakan penurunan. Pembaca dapat memperhatikan bahwa akar yang sama dipakai untuk dua urusan, yang satu menunjuk sumber yang disebut dan yang lain menunjuk penerima yang mengaku. Dalam hal apa saja pemberian Allah sudah terasa seperti hasil kerja sendiri?
- Kata yang dipakai ayat ini adalah "suatu penurunan", dan kata Kitab tidak disebut di dalamnya. Pembaca yang sudah mengenal ayat-ayat seperti 40:2 dan 46:2 dapat mengisi sendiri kata yang kosong itu dengan Kitab. Kata Kitab baru tertulis di 41:3, dan sampai saat itu tertulis penurunan dari Ar-Rahman tanpa nama isinya. Seberapa sering pembaca menyempurnakan kalimat orang lain dengan kata yang tidak diucapkan, lalu memperlakukan kata itu seolah-olah tertulis?
- Surah ini menyebut penurunan dua kali dengan asal yang dinamai berbeda. Di 41:2 asalnya Ar-Rahman, Sang Pengasih, sedangkan di 41:42 asalnya Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji. Ayat 41:42 itu juga menyatakan bahwa kebatilan tidak mendatanginya dari depan maupun dari belakang. Pembaca yang mengikuti surah dari awal membawa nama kasih itu, lalu bertemu nama lain di 41:42 ketika surah sudah berjalan jauh. Kedua ayat tidak saling menerangkan. Apa yang bertambah pada gambaran pembaca tentang asal sebuah bacaan, ketika asal yang sama dikenali lewat nama yang lain?
- Berpaling dari sesuatu yang asalnya tidak diketahui berbeda dengan berpaling dari sesuatu yang asalnya sudah dinamai. Ayat 41:2 menaruh nama asal itu dua ayat sebelum 41:4 menuturkan bahwa kebanyakan mereka berpaling. Ayat 41:4 tidak menyebut dari apa mereka berpaling, tetapi pembaca yang sampai di sana sudah mengetahui dari siapa penurunan itu datang, sehingga berpaling itu dapat dibaca sebagai berpaling dari penurunan tersebut. Bagaimana pembaca menilai sikapnya sendiri terhadap kabar yang asalnya sudah disebut dengan jelas?