إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِinna lladziina aamanuu wa-'amiluu sh-shaalihaatisesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh
- لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍlahum ajrun ghayru mamnuuninbagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya
Terjemahan per kata (9 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- آمَنُواaamanuuberiman
- وَعَمِلُواwa-'amiluudan beramal
- الصَّالِحَاتِsh-shaalihaatikebajikan
- لَهُمْlahumbagi mereka
- أَجْرٌajrunupah
- غَيْرُghayrutidak
- مَمْنُونٍmamnuuninyang terputus
Inti bacaan
Rumusan (أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ, ajrun ghayru mamnuunin) muncul tiga kali di Al-Qur'an (41:8, 84:25, 95:6), sedangkan bentuk (مَمْنُونٍ, mamnuunin) sendiri dipakai empat kali (41:8, 68:3, 84:25, 95:6).
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ, inna lladziina aamanuu wa-'amiluu sh-shaalihaati) yang berarti "sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh". Rangkaian persis ini muncul 10 kali di 9 surah, yaitu di 2:277, 10:9, 11:23, 18:30, 18:107, 19:96, 31:8, 41:8, 85:11, dan 98:7, dan surah 18 memuatnya dua kali. Lanjutannya berbeda-beda. Ayat 31:8 dan 85:11 menyambungnya dengan taman-taman, 10:9 dengan petunjuk dari Tuhan mereka, 19:96 dengan rasa sayang yang ditanamkan Ar-Rahman, dan 41:8 dengan pahala. Ayat 2:277 menambahkan salat dan zakat sebelum menyebut pahala, sedangkan 41:8 tidak mengulang zakat yang disebut di ayat sebelumnya.
Kata (آمَنُوا, aamanuu) berarti "mereka beriman" dan (وَعَمِلُوا, wa-'amiluu) berarti "dan mereka mengerjakan", keduanya kata kerja untuk pelaku yang sama. Kata kerja wa-'amiluu berakar ع-م-ل dan memerlukan hal yang dikerjakan, yaitu (الصَّالِحَاتِ, sh-shaalihaati) yang berakar ص-ل-ح dan berbentuk jamak perempuan dengan kata sandang al-. Terjemahan "mengerjakan amal-amal saleh" mengambil kata amal dari akar kata kerja wa-'amiluu, dan kata saleh dari sh-shaalihaati.
Kata (أَجْرٌ, ajrun) yang berarti "pahala" ditulis tanpa kata sandang. Bentuk (لَهُمْ أَجْرٌ, lahum ajrun) muncul 5 kali di Al-Qur'an, yaitu di 41:8, 57:7, 57:18, 84:25, dan 95:6. Di 57:7 ajrun disusul sifat "besar" dan di 57:18 "mulia", sedangkan di 41:8, 84:25, dan 95:6 disusul (غَيْرُ مَمْنُونٍ, ghayru mamnuunin) yang berarti "tidak putus-putusnya". Ayat 41:8 tidak memuat kata kerja memberi, jadi pihak yang memberikan pahala itu tidak disebut.
Kata (مَمْنُونٍ, mamnuunin) berakar م-ن-ن dan, menurut data morfologi, berbentuk kata yang menyebut sesuatu yang dikenai perbuatan. Bentuk ini muncul 4 kali di Al-Qur'an, yaitu di 41:8, 68:3, 84:25, dan 95:6, dan di keempatnya bentuk itu menerangkan ajr. Akar م-ن-ن dipakai juga untuk dua hal lain, yaitu menyebut-nyebut pemberian, misalnya (مَنًّا وَلَا أَذًى, mannan wa-laa adzan) di 2:262 yang berarti "menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti", dan memberi karunia, misalnya (مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ, manna llaahu 'alaa l-mu'miniina) di 3:164 yang berarti "Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman", serta (نَمُنَّ عَلَى, namunna 'alaa) di 28:5.
Pemakaian akar م-ن-ن di 2:262 dan 3:164 tidak mencakup arti "terputus", sehingga arti itu di sini bertumpu pada dua hal. Pertama, rumusan serupa untuk pemberian surga di 11:108 memakai kata yang artinya putus, yaitu (عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ, athaa'an ghayra majdzuudzin) yang berarti "pemberian yang tidak terputus". Kedua, tiga kemunculan lain dari rumusan ghayr mamnuun, yaitu di 84:25, 95:6, dan 68:3, diterjemahkan dengan kata yang sama. Bacaan "tidak disebut-sebut", yang mengikuti pemakaian di 2:262, juga cocok dengan bentuk katanya, dan ayat ini tidak memuat petunjuk yang memutuskan di antara keduanya.
Tafsiran
Ayat ini menutup tiga ayat berurutan yang dimulai dari perintah di 41:6, dan menjawab 41:7 dengan sisi sebaliknya. Kaum di 41:7 digambarkan lewat sesuatu yang tidak mereka berikan, sedangkan orang-orang di 41:8 digambarkan lewat sesuatu yang menjadi milik mereka, yaitu pahala. Sifat yang ditambahkan pada pahala itu hanya satu, yaitu tidak putus, dan jumlah, bentuk, serta tempatnya tidak disebut.
Peringatan dan pahala berurutan dengan cara yang sama di dua ayat lain yang memuat rumusan pahala tak putus. Ayat 84:25 memakai (إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ, illaa lladziina aamanuu wa-'amiluu sh-shaalihaati) sesudah (فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ, fa-basysyirhum bi-'adzaabin aliimin) yang berarti "maka kabarkanlah kepada mereka azab yang pedih", dan 95:6 memakai rumusan yang sama sesudah (أَسْفَلَ سَافِلِينَ, asfala saafiliina) yang berarti "serendah-rendah yang rendah". Bedanya, 84:25 dan 95:6 memakai pengecualian, sedangkan 41:8 memakai inna yang berdiri sendiri, sehingga hubungan 41:8 dengan 41:7 terbaca dari letaknya yang berurutan.
Pemberi pahala tidak disebut di 41:8. Ayat 5:9, (وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ, wa'ada llaahu lladziina aamanuu wa-'amiluu sh-shaalihaati) yang berarti "Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh", menyebut Allah sebagai pelaku janji bagi kelompok yang sama, dan isi janji itu memuat pahala. Pemberi yang tidak disebut di 41:8 dapat dicari di 5:9, tanpa menyamakan janji dengan pahala.
Sesudah 41:8, perintah (قُلْ, qul) muncul lagi di 41:9 dan pembicaraan beralih ke kufur terhadap Dia yang menciptakan bumi. Dengan begitu pahala yang tidak putus menjadi kalimat terakhir sebelum uraian tentang penciptaan dimulai.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 41:8 menyebut pahala bagi orang-orang beriman dan tidak menyebut siapa yang memberikannya. Ayat 5:9 menyebut Allah sebagai pelaku janji bagi kelompok yang sama, dengan pahala sebagai salah satu isinya, jadi pemberi yang tidak disebut di 41:8 dapat dicari di sana. Ayat 5:9 berbicara tentang janji dan 41:8 tentang pahala yang tidak putus, sehingga keduanya tidak disamakan. Orang yang bekerja dengan harapan imbalan dapat bertanya dari pihak mana imbalan itu ditunggu, dan apakah pihak tersebut sanggup menjaga imbalan itu tetap mengalir?
- Pembaca dapat mendaftar imbalan yang pernah diterimanya, misalnya gaji, pujian, atau ucapan terima kasih, lalu memeriksa mana yang masih mengalir sekarang. Ayat 41:8 menyebut satu imbalan yang tidak putus, dan ayat itu tidak menyebut jumlah atau wujudnya, sehingga arti tidak putus lebih mudah dipahami dari kebalikannya, yaitu hal-hal yang sudah berhenti datang. Daftar itu menunjukkan seberapa banyak imbalan yang sudah mengering, dan seberapa banyak yang masih ditunggu tanpa kepastian. Dari seluruh daftar itu, mana yang benar-benar masih mengalir?
- Ayat 41:8 tidak memuat angka, takaran, atau wujud untuk pahala itu. Pembaca yang menimbang kebaikan dengan hitungan, berapa kali dan sebesar apa, mendapati ayat ini tidak menyediakan alat hitung itu. Di 57:7 pahala disertai sifat besar dan di 57:18 sifat mulia, tetapi di 41:8 sifat yang disebut menyangkut lamanya, tidak besarnya. Apa yang tersisa dari sebuah amal bila alat hitungnya tidak ikut dibawa?
- Bila mamnuun dibaca sebagai tidak disebut-sebut, pahala itu bebas dari kebiasaan yang di 2:262 digambarkan menyertai pemberian manusia, yaitu menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti. Di 2:262 orang yang menafkahkan hartanya tanpa menyebut-nyebut dan tanpa menyakiti memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Ayat 41:8 tidak memutuskan bacaan mana yang dimaksud, sehingga butir ini hanya menimbang kemungkinan kedua. Orang yang pernah mengingatkan penerimanya akan pemberian yang sudah lewat dapat membayangkan pemberian yang tidak pernah diungkit lagi, dan bertanya pada pemberian mana pembaca sendiri sudah berhenti menghitung?
- Ayat 41:8 menyebut dua kata kerja, beriman dan mengerjakan amal saleh, lalu pahalanya. Ayat 98:7 memuat rangkaian yang sama, dan 98:8 menyebut balasan mereka di sisi Tuhan mereka, lalu menutup dengan pernyataan bahwa itu bagi orang yang takut kepada Tuhannya. Ayat 98:8 punya kalimat penutup yang tidak dimiliki 41:8, sehingga kedua daftar tidak disamakan, dan hubungan pernyataan penutup itu dengan dua kata kerja tidak diuraikan di 98:8. Pembaca yang menambah syarat bagi dirinya sendiri sebelum merasa pantas dapat meletakkan daftar pribadinya di samping daftar ayat. Berapa butir yang ada di daftar pribadi itu, dan siapa yang menuliskan butir-butir tambahannya?
- Tiga ayat yang memuat pahala tidak putus, yaitu 41:8, 84:25, dan 95:6, sama-sama meletakkannya sesudah gambaran yang buruk. Pembaca yang berhenti membaca di 41:7 membawa pergi gambaran celaka tanpa kalimat berikutnya, padahal kalimat berikutnya ada di baris sesudahnya. Urutan itu juga dapat dipakai untuk menimbang diri: pada titik mana, dalam satu hari, pembaca berhenti membaca keadaannya, di gambaran buruk atau di kalimat yang menyusul?