ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

Kemudian, Dia menuju ke langit, sedangkan ia masih berupa asap, lalu, Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah kalian berdua dengan patuh atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan patuh.’

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌtsumma stawaa ilaa s-samaa'i wa-hiya dukhaanunkemudian, Dia menuju ke langit, sedangkan ia masih berupa asap
  2. فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِfa-qaala lahaa wa-li-l-ardhilalu, Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi
  3. ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًاi'tiyaa thaw'an aw karhandatanglah kalian berdua dengan patuh atau terpaksa
  4. قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَqaalataa ataynaa thaa'i'iinakeduanya menjawab, kami datang dengan patuh

Terjemahan per kata (16 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. اسْتَوَىٰstawaaDia menuju
  3. إِلَىilaakepada
  4. السَّمَاءِs-samaa'ilangit
  5. وَهِيَwa-hiyadan ia
  6. دُخَانٌdukhaanunasap
  7. فَقَالَfa-qaalalalu Dia berfirman
  8. لَهَاlahaakepadanya
  9. وَلِلْأَرْضِwa-li-l-ardhidan kepada bumi
  10. ائْتِيَاi'tiyaadatanglah kalian berdua
  11. طَوْعًاthaw'andengan sukarela
  12. أَوْawatau
  13. كَرْهًاkarhandengan terpaksa
  14. قَالَتَاqaalataakeduanya berkata
  15. أَتَيْنَاataynaakami datang
  16. طَائِعِينَthaa'i'iinadengan patuh

Inti bacaan

Dialog puitis 'datanglah kalian berdua dengan patuh atau terpaksa. Keduanya menjawab, Kami datang dengan patuh', kepatuhan kosmis langit dan bumi yang total dan sukarela, kontras dengan keengganan manusia yang sering menolak tunduk pada hal yang jauh lebih sederhana.

Penjelasan pilihan kata

Kutipan tunggal dipakai untuk firman Allah kepada langit-bumi dan jawaban keduanya, karena keduanya bersarang di dalam kutipan ganda 'qul' yang masih terbuka sejak 41:9.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan penciptaan langit dari asap primordial: kepatuhan total langit dan bumi terhadap perintah penciptaan Allah.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut langit masih berupa asap saat itu. Belum jadi. Yang sekarang tampak kukuh disebut pernah tak berbentuk.
  • Dua pilihan ditawarkan: dengan patuh atau terpaksa. Sepasang. Datangnya tak bisa ditolak, cuma caranya yang bisa dipilih.
  • Allah merekam jawaban keduanya memilih yang pertama: kami datang dengan patuh. Tanpa ditawar. Yang punya pilihan memakai pilihannya untuk menurut.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar s-w-y, s-m-w, d-kh-n, q-w-l, a-r-d, a-t-y, t-w-', k-r-h): istawaa ilaa s-samaa' diterjemahkan 'menuju ke langit' (akar s-w-y); dukhaan diterjemahkan 'asap' (akar d-kh-n); i'tiyaa taw'an aw karhan diterjemahkan 'datanglah dengan patuh atau terpaksa' (akar '-t-y + akar t-w-' + akar k-r-h, ketaatan kosmik: bahkan langit-bumi tunduk pada perintah Allah, cf. 3:83, 13:15); taa'i'iin diterjemahkan 'dengan patuh' (akar t-w-'). gloss '(langit)/(Tunduklah kepada-Ku)' dibuang.