فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَىٰ فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا ۚ وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

Lalu, Dia menetapkannya menjadi tujuh langit dalam dua masa, dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusannya. Dan Kami hiasi langit dunia dengan pelita-pelita, dan sebagai penjagaan. Itu ketetapan Sang Digdaya lagi Sang Berilmu.”

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِfa-qadhaahunna sab'a samaawaatin fii yawmaynilalu, Dia menetapkannya menjadi tujuh langit dalam dua masa
  2. وَأَوْحَىٰ فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَاwa-awhaa fii kulli samaa'in amrahaadan pada setiap langit Dia mewahyukan urusannya
  3. وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًاwa-zayyannaa s-samaa'a d-dunyaa bi-mashaabiiha wa-hifzhandan Kami hiasi langit dunia dengan pelita-pelita, dan sebagai penjagaan
  4. ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِdzaalika taqdiiru l-'aziizi l-'aliimiitu ketetapan Sang Digdaya lagi Sang Berilmu

Terjemahan per kata (19 kata)

  1. فَقَضَاهُنَّfa-qadhaahunnamaka Dia menetapkannya
  2. سَبْعَsab'atujuh
  3. سَمَاوَاتٍsamaawaatinlangit
  4. فِيfiidalam
  5. يَوْمَيْنِyawmaynidua hari
  6. وَأَوْحَىٰwa-awhaadan Dia mewahyukan
  7. فِيfiipada
  8. كُلِّkullisegala
  9. سَمَاءٍsamaa'inlangit
  10. أَمْرَهَاamrahaaurusannya
  11. وَزَيَّنَّاwa-zayyannaadan Kami menghiasi
  12. السَّمَاءَs-samaa'alangit
  13. الدُّنْيَاd-dunyaadunia
  14. بِمَصَابِيحَbi-mashaabiihadengan pelita
  15. وَحِفْظًاwa-hifzhandan penjagaan
  16. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  17. تَقْدِيرُtaqdiiruketetapan
  18. الْعَزِيزِl-'aziiziSang Digdaya
  19. الْعَلِيمِl-'aliimiSang Berilmu

Inti bacaan

Rangkaian (زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا, zayyannaa s-samaa'a d-dunyaa) muncul tiga kali di Al-Qur'an (37:6, 41:12, 67:5), dan kata (بِمَصَابِيحَ, bi-mashaabiiha) menyebut hiasannya di 41:12 dan 67:5.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَقَضَاهُنَّ, fa-qadhaahunna) yang berarti "lalu Dia menetapkannya". Kata kerja qadhaa berakar ق-ض-ي, dan bentuk persis fa-qadhaahunna hanya ada di 41:12. Terjemahan memakai "menetapkan" untuk akar ini di banyak tempat, misalnya (وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا, wa-idzaa qadhaa amran) di 2:117 yang berarti "dan apabila Dia menetapkan suatu perkara", dan (وَقَضَىٰ رَبُّكَ, wa-qadhaa rabbuka) di 17:23 yang berarti "dan Tuhanmu menetapkan". Di 28:29, (قَضَىٰ مُوسَى الْأَجَلَ, qadhaa muusaa l-ajala), akar yang sama diterjemahkan "menyelesaikan" karena objeknya waktu yang dipenuhi. Kata "menjadikan" tidak dipakai untuk qadhaa, karena akar ini diterjemahkan "menetapkan", "memutuskan", atau "menyelesaikan", sedangkan "menjadikan" dipakai untuk ja'ala, seperti (وَجَعَلَ فِيهَا, wa-ja'ala fiihaa) di 41:10, dua ayat sebelumnya. Akhiran -hunna menunjuk beberapa hal perempuan, dan terjemahan menjadikannya -nya.

Kata (سَبْعَ سَمَاوَاتٍ, sab'a samaawaatin) yang berarti "tujuh langit" ditulis sesudah kata kerja itu. Rangkaian sab'a samaawaatin muncul 5 kali, yaitu di 2:29, 41:12, 65:12, 67:3, dan 71:15. Di 2:29, (ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ, tsumma stawaa ilaa s-samaa'i fa-sawwaahunna), tujuh langit juga mengikuti kata kerja yang diakhiri -hunna, dan terjemahannya "lalu Dia menyerasikannya menjadi tujuh langit". Susunan yang sama di 41:12 membuat terjemahan memakai "menjadi": "lalu Dia menetapkannya menjadi tujuh langit". Kata (فِي يَوْمَيْنِ, fii yawmayni) pada ayat ini telah dibahas di 41:9.

Kata (وَأَوْحَىٰ فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا, wa-awhaa fii kulli samaa'in amrahaa) berarti "dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusannya". Bentuk wa-awhaa muncul 2 kali, yaitu di 16:68 dan 41:12. Di 16:68, (وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ, wa-awhaa rabbuka ilaa n-nahli) yang berarti "dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah", sasarannya diberi kata ilaa. Di 41:12 sasarannya diberi kata fii, dan sasaran itu langit. Frasa fii kulli samaa'in hanya ada di 41:12. Kata (أَمْرَهَا, amrahaa) berarti "urusannya", dengan akhiran -haa untuk tiap langit. Kata amr diterjemahkan "urusan" di 7:54, (وَالْأَمْرُ, wa-l-amru), dan di 10:3, (يُدَبِّرُ الْأَمْرَ, yudabbiru l-amra) yang berarti "mengatur segala urusan". Isi urusan tiap langit tidak diuraikan.

Kata (وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا, wa-zayyannaa s-samaa'a d-dunyaa) berarti "dan Kami hiasi langit dunia". Rangkaian zayyannaa s-samaa'a d-dunyaa muncul 3 kali, yaitu di 37:6, 41:12, dan 67:5, dan terjemahan memakai "langit dunia" di ketiganya. Pelaku dua kata kerja sebelumnya adalah "Dia", dan pada zayyannaa pelakunya "Kami"; terjemahan mempertahankan keduanya seperti bentuk Arabnya. Kata (بِمَصَابِيحَ, bi-mashaabiiha) yang berarti "dengan pelita-pelita" muncul 2 kali, yaitu di 41:12 dan 67:5, sedangkan di 37:6 hiasan itu disebut dengan kata lain. Kata mashaabiih berasal dari (مِصْبَاحٌ, mishbaahun) yang berarti "pelita" di 24:35. Terjemahan memakai "pelita-pelita" dan tidak memakai "bintang-bintang", karena kata Arab untuk bintang tidak ada di ayat ini.

Kata (وَحِفْظًا, wa-hifzhan) yang berarti "dan sebagai penjagaan" muncul 2 kali, yaitu di 37:7 dan 41:12. Di 37:7, (وَحِفْظًا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍ, wa-hifzhan min kulli syaythaanin maaridin) yang berarti "dan sebagai penjagaan dari setiap setan yang membangkang", penjagaan itu diberi sasaran. Di 41:12 kata itu berdiri tanpa sasaran, dan terjemahan tidak menambahkannya.

Kata (ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ, dzaalika taqdiiru l-'aziizi l-'aliimi) berarti "itu ketetapan Sang Digdaya lagi Sang Berilmu" dan muncul 3 kali, yaitu di 6:96, 36:38, dan 41:12, dengan terjemahan yang sama di ketiganya. Pasangan (الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ, l-'aziizi l-'aliimi) muncul 4 kali, yaitu di 6:96, 36:38, 40:2, dan 41:12. Kata (تَقْدِيرُ, taqdiiru) berakar ق-د-ر, akar yang sama dengan qaddara di 41:10. Terjemahan memakai "menentukan" untuk kata kerja di 41:10 dan "ketetapan" untuk kata benda di ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian 41:9 sampai 41:12 dengan penetapan langit dan penyebutan pelakunya. Langit yang berupa asap di 41:11 menjadi tujuh langit, tiap langit diberi urusannya, dan langit dunia diberi hiasan serta penjagaan. Setelah bumi dengan gunung, berkah, dan kadar makanannya di 41:10, rangkaian ini berakhir pada langit.

Pelaku berganti dalam satu ayat. Rangkaian 41:9 sampai 41:11 memakai kata ganti Dia, dan di 41:12 dua kata kerja pertama masih memakai Dia, lalu Kami muncul pada kata kerja ketiga. Pergantian itu jatuh tepat pada hiasan dan penjagaan, yaitu bagian ayat yang menyebut sesuatu yang diletakkan pada langit.

Dua ayat lain menyambung hiasan langit dunia dengan penjagaan. Ayat 37:6 menyebut hiasan dan 37:7 menyusulkan penjagaan dari setan yang membangkang, dan 67:5 menyebut pelita-pelita lalu (رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ, rujuuman li-sy-syayaathiini) yang berarti "alat pelempar bagi setan-setan". Ayat 41:12 menyebut hiasan dan penjagaan dalam satu kalimat tanpa menyebut apa pun yang dijaga atau dilempar.

Penutup ayat ini, ketetapan Sang Digdaya lagi Sang Berilmu, mendahului 41:13. Ayat 41:13 memuat syarat jika mereka berpaling dan peringatan tentang petir seperti petir kaum Ad dan Tsamud. Kedigdayaan dan ilmu disebut sebelum peringatan itu, dan ayat-ayat itu tidak menyatakan hubungan sebab antara keduanya.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 41:12 menyebut bahwa Dia mewahyukan urusan pada tiap langit, dan isi urusan itu tidak diuraikan. Pembaca yang menilai suatu bidang hidupnya kosong dan tidak berurusan dengan apa pun dapat membandingkannya dengan ayat ini, yang menyebut tiap langit punya urusannya sendiri. Ayat itu berbicara tentang langit, sehingga tidak menyatakan apa-apa tentang bidang hidup pembaca, dan perbandingan ini hanya meminjam bentuknya. Pembaca dapat menyusun daftar bidang yang dikiranya sepi, misalnya hari libur, malam yang lengang, atau pekerjaan yang tampak rutin, lalu memeriksa apakah di sana ada urusan yang berjalan tanpa dilihat. Bidang hidup mana yang selama ini dikira tidak punya urusan, padahal berjalan atas aturannya sendiri?
  • Hiasan dan penjagaan disebut dalam satu kalimat di 41:12, dan keduanya diletakkan pada langit yang sama. Pembaca yang menyisihkan keindahan ke satu kelompok barang dan penjagaan ke kelompok lain dapat memeriksa apakah ada barang dalam hidupnya yang sebenarnya menjalankan kedua tugas. Ayat 67:5 menyebut pelita-pelita yang sama dan menyusulkan alat pelempar bagi setan-setan, sehingga dua tugas itu juga muncul di sana. Apa yang selama ini dipandang sebagai hiasan, padahal berdiri menjaga sesuatu?
  • Dalam 41:12 Dia dipakai untuk dua kata kerja pertama dan Kami untuk kata kerja ketiga, dan ayat ini tidak memberi alasan bagi pergantian itu. Pembaca yang menuntut agar bentuk kata ganti tetap sama sepanjang satu kalimat dapat memeriksa dari mana tuntutan itu berasal, sebab ayat ini sendiri tidak memenuhinya. Butir ini hanya mencatat kenyataan bentuknya. Ayat ini tetap terbaca utuh meskipun bentuknya berganti, dan pembaca yang terbiasa dengan bentuk tetap dapat memperhatikan bagaimana pergantian itu diterima oleh dirinya sendiri. Dari mana datangnya tuntutan akan keseragaman itu?
  • Pasangan Sang Digdaya dan Sang Berilmu menutup 41:12, dan di 6:96 serta 36:38 pasangan itu menutup ayat tentang pergantian pagi, malam, matahari, bulan, dan perjalanan matahari. Dua sifat itu diletakkan pada satu ketetapan yang sama, dan Dia disebut lewat ketetapan-Nya. Pembaca yang pernah melihat kekuatan datang tanpa pengetahuan, atau pengetahuan tanpa kekuatan, di lingkungan kerjanya dapat memeriksa kekecewaan yang timbul dari kedua keadaan itu. Ketetapan mana dalam hidup pembaca yang terasa timpang karena salah satu sifat tidak hadir, dan bagaimana ketetapan itu terbaca bila kedua sifat hadir bersama?
  • Penjagaan di 41:12 berdiri tanpa sasaran, sedangkan di 37:7 sasarannya disebut, yaitu setan yang membangkang. Pembaca yang merasa dijaga dari sesuatu tanpa pernah tahu dari apa dapat membaca 41:12 sebagai ayat yang membiarkan sasaran itu kosong, dan Dia menyebut penjagaan itu tanpa menamai ancamannya. Apa yang telah terjaga dari pembaca tanpa pernah disebut namanya?
  • Kata kerja wa-awhaa dipakai di 16:68 untuk Tuhan yang mewahyukan sesuatu kepada lebah, dan di 41:12 untuk langit. Lebah dan langit disebut sebagai penerima wahyu, dan ayat-ayat itu tidak menyebut cara pesan itu sampai. Pembaca yang menyebut manusia saja sebagai penerima arahan dapat memeriksa apa saja di sekitarnya yang berjalan menurut arahan tanpa kata. Arahan apa yang dijalankan oleh hal-hal di sekitar pembaca setiap hari tanpa pernah diminta menjelaskan caranya?