وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ

Dan orang-orang yang kufur berkata, “Janganlah kalian mendengarkan Al-Qur'an ini, dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kalian menang.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُواwa-qaala lladziina kafaruudan orang-orang yang kufur berkata
  2. لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِlaa tasma'uu li-haadzaa l-qur'aanijanganlah kalian mendengarkan Al-Qur'an ini
  3. وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَwa-lghaw fiihi la'allakum taghlibuunadan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kalian menang

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. وَقَالَwa-qaaladan berkata
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. كَفَرُواkafaruukufur
  4. لَاlaajanganlah
  5. تَسْمَعُواtasma'uukalian mendengar
  6. لِهَٰذَاli-haadzaakepada ini
  7. الْقُرْآنِl-qur'aaniAl-Qur'an
  8. وَالْغَوْاwa-lghawdan buatlah kegaduhan
  9. فِيهِfiihidi dalamnya
  10. لَعَلَّكُمْla'allakumagar kalian
  11. تَغْلِبُونَtaghlibuunakalian mengalahkan

Inti bacaan

Pembuka (وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا, wa-qaala lladziina kafaruu) muncul dua belas kali di Al-Qur'an, tepatnya di 14:13, 25:4, 25:32, 27:67, 29:12, 34:3, 34:7, 34:31, 34:43, 41:26, 41:29, dan 46:11.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini mengutip ucapan (الَّذِينَ كَفَرُوا, lladziina kafaruu) yang berarti "orang-orang yang kufur", dengan pembuka (وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا, wa-qaala lladziina kafaruu) yang berarti "dan orang-orang yang kufur berkata". Pembuka itu muncul dua belas kali di tujuh surah, yaitu di 14:13, 25:4, 25:32, 27:67, 29:12, 34:3, 34:7, 34:31, 34:43, 41:26, 41:29, dan 46:11. Dari dua belas ucapan itu, nama Al-Qur'an disebut di tiga ayat, yaitu 25:32, 34:31, dan 41:26. Di 25:32 isinya tuntutan tentang cara penurunan, (لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً, lawlaa nuzzila 'alayhi l-qur'aanu jumlatan waahidatan) yang berarti "mengapa Al-Qur'an tidak diturunkan kepadanya sekaligus?". Di 34:31 isinya penolakan untuk beriman, (لَنْ نُؤْمِنَ بِهَٰذَا الْقُرْآنِ, lan nu'mina bi-haadzaa l-qur'aani) yang berarti "kami tidak akan pernah beriman kepada Al-Qur'an ini". Di 41:26 isinya larangan mendengarkan.

Kata (لَا تَسْمَعُوا, laa tasma'uu) yang berarti "janganlah kalian mendengarkan" berakar س-م-ع, dan bentuk larangan ini muncul sekali, di 41:26. Kata ganti kalian menunjukkan bahwa para pengucap berbicara kepada pihak lain, dan ayat tidak menyebut siapa pihak itu. Kata kerja yang sama dalam bentuk keterangan ada di 41:4, (فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ, fa-hum laa yasma'uuna) yang berarti "sehingga mereka tidak mendengar", dan susunan itu muncul dua kali, yaitu di 7:100 dan 41:4. Di 41:4 kalimatnya melaporkan keadaan mereka, sedangkan di 41:26 kalimat serupa menjadi perintah yang keluar dari mulut mereka. Sasaran larangan itu adalah (لِهَٰذَا الْقُرْآنِ, li-haadzaa l-qur'aani) yang berarti "Al-Qur'an ini", dengan kata tunjuk haadzaa untuk benda yang dekat, sehingga terjemahan memakai "ini".

Perintah kedua, (وَالْغَوْا فِيهِ, wa-lghaw fiihi) yang berarti "dan buatlah kegaduhan terhadapnya", berakar ل-غ-و dan muncul sekali dalam bentuk kata kerja. Akar yang sama dalam bentuk kata benda muncul di sepuluh ayat lain, yaitu 2:225, 5:89, 19:62, 23:3, 25:72, 28:55, 52:23, 56:25, 78:35, dan 88:11. Di lima ayat di antaranya, yaitu 19:62, 28:55, 56:25, 78:35, dan 88:11, kata benda itu berpasangan dengan kata kerja mendengar. Susunan (لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا, laa yasma'uuna fiihaa laghwan) yang berarti "mereka tidak mendengar di dalamnya ucapan yang sia-sia" ada di tiga ayat, yaitu 19:62, 56:25, dan 78:35. Pada kelima ayat itu laghw didengar, sedangkan di 41:26 laghw dibuat. Karena itu terjemahan memakai "kegaduhan", yaitu bunyi yang dihasilkan untuk memenuhi pendengaran orang lain. Kata fiihi berarti "di dalamnya", dan ayat tidak menyebut apakah kegaduhan itu dibuat selagi Al-Qur'an dibacakan atau pada waktu lain. Terjemahan memakai "terhadapnya" untuk menjaga kata ganti -hi yang kembali kepada Al-Qur'an. Bentuk apa yang dipakai untuk membuat kegaduhan itu, teriakan atau ucapan lain, juga tidak dinyatakan.

Tujuan kedua perintah itu disebut dengan (لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ, la'allakum taghlibuuna) yang berarti "agar kalian menang". Kata kerja (تَغْلِبُونَ, taghlibuuna) berakar غ-ل-ب dan muncul sekali dalam bentuk ini. Kata kerja itu tidak diikuti kata benda apa pun di ayat ini, sehingga terjemahan memakai "menang" dan tidak memakai "mengalahkan", sebab apa atau siapa yang dikalahkan tidak disebutkan.

Tafsiran

Ayat ini memindahkan sikap yang di 41:4 dan 41:5 dicatat sebagai keadaan pelakunya menjadi perintah kepada orang lain. Ayat 41:4 menyebut kebanyakan mereka berpaling sehingga tidak mendengarkan, dan 41:5 mengutip ucapan mereka kepada rasul, (وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ, wa-fii aadzaaninaa waqrun) yang berarti "dan dalam telinga kami ada sumbat". Ayat 41:44 memakai kalimat yang sama tentang mereka dengan kata ganti orang ketiga, (فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ, fii aadzaanihim waqrun). Ketiga ayat itu menceritakan penolakan yang berhenti pada pelakunya. Di 41:26 penolakan itu keluar menjadi ajakan, sebab perintahnya ditujukan kepada kalian, yaitu pihak lain yang tidak disebut.

Ucapan di ayat ini tidak memuat bantahan atas isi Al-Qur'an. Ucapan itu terdiri dari dua perintah dan satu tujuan. Perintah pertama menutup jalan masuk isi ke telinga, dan perintah kedua mengisi telinga dengan bunyi lain, sehingga keduanya bekerja pada pendengaran dan tidak pada pertimbangan atas isi. Tujuannya, menang, juga tidak dikaitkan dengan benar atau tidaknya apa yang tidak boleh didengar.

Ayat 41:27 dibuka dengan fa, "maka", dan kata Kami di sana menanggapi ucapan ini secara langsung. Sebelum ayat ini, 41:25 menyebut teman-teman yang menghias, dan 41:26 tidak mengatakan bahwa ucapan tersebut berasal dari teman-teman itu atau dari pihak lain. Hubungan antara dua ayat itu tidak dinyatakan. Urutan ketiga ayat itu menempatkan ucapan orang-orang yang kufur di antara hiasan yang ditetapkan bagi mereka dan balasan yang menyusul kemudian.

Renungan dan Hikmah

  • Ucapan di 41:26 berisi dua larangan dan satu tujuan, dan tidak memuat keberatan apa pun terhadap isi bacaan yang disebutnya. Ucapan itu menuliskan menang sebagai tujuannya, sedangkan benar atau tidaknya isi yang tidak boleh didengar tidak disinggung. Pembaca dapat memakai ayat ini sebagai cermin kecil untuk percakapannya sendiri, yaitu memperhatikan saat sebuah pembicaraan beralih dari menimbang isi menjadi mengatur siapa yang boleh mendengar apa. Kapan terakhir pembaca mendengarkan isi sebuah pandangan yang tidak disukainya sampai selesai, dan apa yang berubah dalam dirinya sesudah itu?
  • Dua ayat lain, 19:62 dan 88:11, menggambarkan sebuah tempat yang di dalamnya ucapan sia-sia tidak terdengar. Ayat 41:26 menggambarkan kebalikannya, yaitu bunyi yang sengaja dibuat supaya sebuah bacaan tidak terdengar. Ayat-ayat itu berbicara tentang keadaan yang berlainan, sehingga tidak dibaca saling menjelaskan. Pembaca dapat membandingkan dua jenis ruang, ruang yang bersih dari bunyi sia-sia dan ruang yang sengaja diisi bunyi. Ruang manakah yang paling sering ditempati pembaca, entah di rumah, di tempat kerja, atau di dalam kepalanya sendiri, dan siapa yang diuntungkan oleh isinya?
  • Ayat 41:26 menyebut tujuan menang tanpa menyebut lawannya, sehingga tidak ada keterangan tentang siapa atau apa yang hendak dikalahkan. Pembaca yang bertekad menang dalam sebuah perselisihan dapat menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri, yaitu siapa atau apa yang sebenarnya hendak dikalahkan, dan apa yang tersisa bila kemenangan itu terwujud. Ayat ini tidak menjawab pertanyaan tersebut atas nama para pengucapnya, dan jawabannya juga tidak dibuatkan di sini. Apakah kemenangan yang dibayangkan itu masih bernilai bila pihak yang dikalahkan tidak pernah sempat didengar?
  • Seseorang yang tidak ingin mendengar dapat berhenti pada dirinya, seperti penolakan di 41:5. Ayat 41:26 mencatat langkah berikutnya, yaitu meminta pihak lain ikut tidak mendengar. Ayat 41:6 menjawab penolakan 41:5 dengan pernyataan bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa, dan jawaban itu tidak berbentuk perintah kepada pihak lain untuk menjauh. Pembaca dapat mengenali dua tahap dalam dirinya, yaitu saat pembaca sekadar menjauh dan saat pembaca mulai meminta orang lain menjauh bersamanya. Pada tahap mana kebiasaan menghindari sebuah pembicaraan menjadi kebiasaan mengatur pendengaran orang lain?
  • Akar kata menang di 41:26 dipakai juga di ayat dengan penutur yang berbeda, misalnya 3:12 dan 58:21. Ayat 3:12 menyuruh rasul berkata kepada orang-orang yang kufur bahwa mereka akan dikalahkan, dan 58:21 menyebut Allah menetapkan bahwa Dia dan rasul-rasul-Nya pasti menang. Kedua ayat itu berbicara tentang peristiwa yang berlainan dan tidak dipakai meramal hasil ucapan di 41:26. Dapat dicatat bahwa kata menang punya lebih dari satu penutur, dan setiap penutur menaruhnya pada pihak yang berbeda. Kemenangan siapakah yang sedang diupayakan pembaca hari ini, dan di atas ukuran siapa kemenangan itu dinilai?
  • Ucapan lain dengan awal yang sama, di 34:31, menolak beriman kepada bacaan ini, dan ayat itu langsung disusul gambaran orang-orang zalim yang dihentikan di hadapan Tuhan mereka sambil saling melemparkan perkataan. Ayat 41:26 tidak menyertakan gambaran serupa, dan ucapan di dalamnya disusul pernyataan dengan kata Kami di 41:27. Dua ayat itu sama-sama mengutip ucapan lengkap dengan kata-katanya, sampai pembaca mengetahui apa yang dikatakan. Pembaca dapat membayangkan percakapannya sendiri sebagai ucapan yang suatu hari dikutip utuh. Ucapan manakah dari minggu ini yang rela dilihat pembaca tertulis dengan namanya?