وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Dan sebagian dari tanda-tanda-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah tunduk kepada matahari dan jangan kepada bulan; dan tunduklah kepada Allah yang menciptakannya, jika kalian hanya menyembah kepada-Nya.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُwa-min aayaatihi l-laylu wa-n-nahaaru wa-sy-syamsu wa-l-qamarudan sebagian dari tanda-tanda-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan
- لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِlaa tasjuduu li-sy-syamsi wa-laa li-l-qamarijanganlah tunduk kepada matahari dan jangan kepada bulan
- وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَwa-sjuduu li-llaahi lladzii khalaqahunna in kuntum iyyaahu ta'buduunadan tunduklah kepada Allah yang menciptakannya, jika kalian hanya menyembah kepada-Nya
Terjemahan per kata (19 kata)
- وَمِنْwa-mindan dari
- آيَاتِهِaayaatihitanda-tanda-Nya
- اللَّيْلُl-laylumalam
- وَالنَّهَارُwa-n-nahaarudan siang
- وَالشَّمْسُwa-sy-syamsudan matahari
- وَالْقَمَرُwa-l-qamarudan bulan
- لَاlaajanganlah
- تَسْجُدُواtasjuduukalian tunduk
- لِلشَّمْسِli-sy-syamsikepada matahari
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- لِلْقَمَرِli-l-qamarikepada bulan
- وَاسْجُدُواwa-sjuduudan tunduklah kalian
- لِلَّهِli-llaahibagi Allah
- الَّذِيlladziiyang
- خَلَقَهُنَّkhalaqahunnamenciptakan mereka
- إِنْinjika
- كُنْتُمْkuntumkalian adalah
- إِيَّاهُiyyaahuhanya kepada-Nya
- تَعْبُدُونَta'buduunakalian menyembah
Inti bacaan
Bentuk (خَلَقَهُنَّ, khalaqahunna) yang berarti "menciptakannya" muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 41:37 dan 43:9.
Penjelasan pilihan kata
Frasa (وَمِنْ آيَاتِهِ, wa-min aayaatihi) yang berarti "dan sebagian dari tanda-tanda-Nya" memakai min untuk menyebut bagian dari sejumlah tanda, sehingga keempat benda yang menyusul tergolong sebagian dari tanda-tanda itu. Kata (آيَاتِهِ, aayaatihi) berakar أ-ي-ي dan berakhiran -hi yang berarti "-Nya". Frasa utuh ini muncul 11 kali di tiga surah, yaitu di 30:20, 30:21, 30:22, 30:23, 30:24, 30:25, 30:46, 41:37, 41:39, 42:29, dan 42:32. Di 30:20, 30:21, 30:25, dan 30:46 frasa itu disusul an yang berarti "bahwa", lalu sebuah perbuatan atau peristiwa, misalnya penciptaan kalian dari tanah di 30:20. Di 41:37 frasa yang sama disusul empat nama benda tanpa kata kerja apa pun, sehingga bendanya sendiri yang disebut tanda.
Empat benda itu ditulis (اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ, l-laylu wa-n-nahaaru wa-sy-syamsu wa-l-qamaru) yang berarti "malam, siang, matahari, dan bulan". Tiap benda memakai kata sandang al-, sehingga terjemahan menyebut benda yang sudah dikenal pembaca dan tidak menambahkan "itu". Keempat kata ini berurutan dengan susunan yang sama di tiga ayat, yaitu 16:12, 21:33, dan 41:37. Di 21:33 (اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ, l-layla wa-n-nahaara wa-sy-syamsa wa-l-qamara) menjadi hal yang diciptakan, dan di 16:12 bentuk yang sama menjadi hal yang ditundukkan bagi manusia. Hanya 41:37 yang menjadikan keempatnya tanda itu sendiri. Malam dan siang disebut dua tanda tanpa matahari dan bulan di 17:12, dalam (اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ, l-layla wa-n-nahaara aayatayni) yang berarti "malam dan siang sebagai dua tanda".
Larangan dan perintah di ayat ini memakai akar kata kerja yang sama, yaitu س-ج-د. Bagian (لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ, laa tasjuduu li-sy-syamsi wa-laa li-l-qamari) berarti "janganlah tunduk kepada matahari dan jangan kepada bulan", dan bagian (وَاسْجُدُوا لِلَّهِ, wa-sjuduu li-llaahi) berarti "dan tunduklah kepada Allah". Terjemahan memakai "tunduk" untuk kata kerja ini. Ayat tidak memuat kata kerja gerak tubuh di dekatnya, sehingga ayat tidak memberi dasar untuk mempersempit larangan menjadi satu gerakan. Huruf li- di depan matahari, bulan, dan Allah sama, jadi ketiganya berkedudukan sebagai tujuan tunduk dalam satu kalimat. Bentuk larangan (لَا تَسْجُدُوا, laa tasjuduu) hanya ada di 41:37. Perintah (اسْجُدُوا لِلَّهِ, usjuduu li-llaahi) muncul dua kali, di 41:37 dan 53:62. Kata (لِلشَّمْسِ, li-sy-syamsi) muncul dua kali, di 27:24 dan 41:37. Di 27:24 laporan tentang "dia dan kaumnya" memuat (يَسْجُدُونَ لِلشَّمْسِ, yasjuduuna li-sy-syamsi) yang berarti "tunduk kepada matahari", sedangkan (لِلْقَمَرِ, li-l-qamari) tidak muncul di ayat lain mana pun.
Alasan perintah itu dinyatakan dengan (الَّذِي خَلَقَهُنَّ, lladzii khalaqahunna) yang berarti "yang menciptakannya". Akhiran -hunna adalah kata ganti jamak, dan ayat ini tidak memutuskan apakah akhiran itu menunjuk keempat benda atau tanda-tanda yang disebut di awal ayat; terjemahan memakai "-nya" tanpa memilih. Bentuk (خَلَقَهُنَّ, khalaqahunna) muncul dua kali, di 41:37 dan 43:9, dan di 43:9 bentuk itu menjawab pertanyaan siapa yang menciptakan langit dan bumi. Susunan (لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ, li-llaahi lladzii khalaqa) yang berarti "bagi Allah yang menciptakan" muncul dua kali, di 6:1 dan 41:37.
Syarat di ujung ayat berbunyi (إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ, in kuntum iyyaahu ta'buduuna) yang berarti "jika kalian hanya menyembah kepada-Nya". Susunan utuh ini muncul tiga kali, di 2:172, 16:114, dan 41:37, dan terjemahan di ketiganya sama. Kata (إِيَّاهُ, iyyaahu) yang berarti "kepada-Nya" berdiri di depan kata kerja (تَعْبُدُونَ, ta'buduuna). Tidak ada kata Arab lain di bagian ini yang berarti "hanya"; kata itu dalam terjemahan lahir dari letak iyyaahu di depan kata kerja, seperti di 1:5 pada (إِيَّاكَ نَعْبُدُ, iyyaaka na'budu) yang diterjemahkan "hanya kepada-Mu kami mengabdi". Kata iyyaahu muncul delapan kali di tujuh surah, yaitu di 2:172, 6:41, 9:114, 12:40, 16:114, 17:23, 17:67, dan 41:37, dan di tiga ayat di antaranya (12:40, 17:23, 17:67) kata itu didahului (إِلَّا, illaa) yang berarti "kecuali".
Tafsiran
Ayat ini menaruh larangan sesudah daftar, dan urutan itu menentukan cara membacanya. Empat benda lebih dulu dinamai tanda, lalu dua di antaranya disebut sebagai tujuan tunduk yang dilarang. Malam dan siang masuk daftar tetapi tidak masuk larangan, dan ayat ini tidak menyatakan sebab dua dari empat itu yang dipilih. Larangannya menyangkut satu kata kerja, yaitu tunduk. Ayat tidak memuat larangan memandang, menyebut, atau memanfaatkan keempat benda itu.
Perintah yang menyusul memakai kata kerja yang sama dan hanya mengganti tujuannya. Tunduk tidak dihapus dari kalimat; arahnya dipindahkan dari benda yang tampak kepada Allah yang menciptakannya. Syarat penutup ayat meletakkan larangan ini sebagai ukuran bagi pengakuan menyembah hanya kepada-Nya. Syarat yang sama di 2:172 dan 16:114 mengikuti perintah makan dari yang baik-baik dan bersyukur kepada Allah, sehingga ukuran itu tidak terikat pada satu jenis perbuatan. Ayat 41:37 tidak menyebut apa yang terjadi bila syarat itu tidak terpenuhi.
Sapaan ayat ini adalah "kalian", seperti pada kata kerja tasjuduu dan kuntum. Ayat 41:38 beralih ke "mereka" dengan kalimat "jika mereka menyombongkan diri", tanpa menyebut siapa mereka. Peralihan itu mengubah 41:37 dari seruan langsung menjadi pangkal sebuah perbandingan: yang menolak disandingkan dengan pihak lain yang terus bertasbih. Perintah tunduk kepada Allah muncul juga di 53:62, tanpa larangan di sampingnya. Di 41:37 perintah itu datang bersama larangan, sehingga arah tunduk dinyatakan dari dua sisi sekaligus.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 41:37 menyebut malam, siang, matahari, dan bulan sebagai tanda-tanda milik-Nya, lalu melarang tunduk kepada dua di antaranya. Sesuatu yang diberi nama tanda sedang menunjuk ke arah lain, seperti papan penunjuk di tepi jalan menunjuk ke sebuah kota. Papan itu tidak bersalah, dan ayat ini tidak mengatakan sebaliknya. Larangan ayat dapat dibayangkan sebagai larangan berhenti di bawah papan itu seakan-akan papan itu sendiri kota yang dituju. Pembaca dapat bertanya, dari benda-benda yang paling sering dipandangnya, mana yang sudah diperlakukannya sebagai tujuan padahal ayat ini menamainya tanda milik Allah?
- Matahari dan bulan di 41:37 adalah tujuan tunduk yang dilarang bagi manusia, sedangkan di 22:18 kedua benda itu termasuk pihak yang tunduk kepada Allah, bersama bintang, gunung, pohon, hewan melata, dan banyak manusia. Konteks dua ayat ini berbeda, sebab 22:18 menuturkan siapa yang tunduk kepada Allah dan 41:37 mengarahkan manusia. Bila keduanya dibaca berdampingan, tampak orang yang menunduk kepada sesuatu yang sendiri sedang tunduk kepada Allah. Pembaca dapat membayangkan dirinya berdiri di samping matahari dan bulan yang sedang tunduk kepada Allah, lalu bertanya ke arah mana dirinya sendiri tunduk.
- Syarat jika kalian hanya menyembah kepada-Nya muncul juga di 2:172 dan 16:114, dan di dua ayat itu syarat tersebut mengikuti perintah makan dari yang baik-baik dan bersyukur kepada Allah. Ayat itu berbicara tentang rezeki, sedangkan 41:37 berbicara tentang matahari dan bulan, sehingga keduanya tidak disamakan. Satu pembacaan dapat dicoba: syarat yang sama dipasang pada dua urusan yang tampak berjauhan, yaitu makan dan tunduk. Pembaca dapat bertanya, sewaktu menyantap makanan di meja, kepada siapa rasa terima kasihnya diarahkan, dan apakah arah itu pernah dipikirkannya sama sungguh-sungguh dengan arah tunduknya?
- Empat nama masuk daftar tanda, tetapi larangannya hanya menyebut dua. Kata kerja yang dilarang adalah tunduk, dan ayat tidak memuat larangan memandang atau memanfaatkan keempat benda itu. Orang yang mengagumi langit pada malam hari atau terik siang tidak disebut oleh larangan ini. Ayat mengangkat satu langkah tertentu, dari mengamati menjadi tunduk. Pembaca dapat bertanya di mana, dalam hidupnya, garis antara kagum dan tunduk itu berada, dan siapa yang menggambar garis itu.
- Di 16:12 Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan bagi manusia, dengan kata kerja yang berbeda dari tunduk di 41:37, yaitu (وَسَخَّرَ لَكُمُ, wa-sakhkhara lakumu) yang berarti "dan Dia menundukkan bagi kalian". Dengan kata kerja itu keempat benda berada pada kedudukan melayani manusia, sedangkan 41:37 melarang manusia menempatkan diri sebagai pihak yang tunduk kepada dua di antaranya. Dua ayat ini membicarakan hal berbeda, yang satu pemberian dan yang lain larangan, dan tidak saling menafsirkan. Pembaca dapat membayangkan benda yang oleh Dia diatur untuk memberinya manfaat, lalu bertanya siapa melayani siapa dalam gambar itu.
- Perintah tunduk kepada Allah di 41:37 datang bersama larangan, dan keduanya memakai kata kerja yang sama. Ayat ini tidak meminta pembaca berhenti tunduk. Ayat memindahkan arahnya, dari benda yang tampak kepada Allah yang menciptakannya, sehingga tampak arah yang berganti dan tidak ada kekosongan. Pembaca dapat bertanya, bila arah tunduknya dipindahkan, apa yang berubah pada cara ia memandang benda-benda yang tadi dituju?