وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ ۚ إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۚ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Dan sebagian dari tanda-tanda-Nya, engkau melihat bumi kering-kerontang, maka, apabila Kami turunkan air kepadanya, ia bergerak dan menjadi subur. Sesungguhnya Dia yang menghidupkannya benar-benar menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia berkuasa atas segala sesuatu.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ تَرَى الْأَرْضَ خَاشِعَةًwa-min aayaatihi annaka taraa l-ardha khaasyi'atandan sebagian dari tanda-tanda-Nya, engkau melihat bumi kering-kerontang
- فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْfa-idzaa anzalnaa 'alayhaa l-maa'a htazzat wa-rabatmaka, apabila Kami turunkan air kepadanya, ia bergerak dan menjadi subur
- إِنَّ الَّذِي أَحْيَاهَا لَمُحْيِي الْمَوْتَىٰinna lladzii ahyaahaa la-muhyii l-mawtaasesungguhnya Dia yang menghidupkannya benar-benar menghidupkan yang mati
- إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌinnahu 'alaa kulli syay'in qadiirunsesungguhnya Dia berkuasa atas segala sesuatu
Terjemahan per kata (22 kata)
- وَمِنْwa-mindan dari
- آيَاتِهِaayaatihitanda-tanda-Nya
- أَنَّكَannakabahwa engkau
- تَرَىtaraaengkau melihat
- الْأَرْضَl-ardhabumi
- خَاشِعَةًkhaasyi'atantunduk
- فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
- أَنْزَلْنَاanzalnaaKami menurunkan
- عَلَيْهَا'alayhaaatasnya
- الْمَاءَl-maa'aair
- اهْتَزَّتْhtazzatbergetar
- وَرَبَتْwa-rabatdan tumbuh
- إِنَّinnasesungguhnya
- الَّذِيlladziiyang
- أَحْيَاهَاahyaahaamenghidupkannya
- لَمُحْيِيla-muhyiibenar-benar yang menghidupkan
- الْمَوْتَىٰl-mawtaaorang-orang mati
- إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
- عَلَىٰ'alaaatas
- كُلِّkullisegala
- شَيْءٍsyay'insesuatu
- قَدِيرٌqadiirunberkuasa
Inti bacaan
Pasangan kata kerja (اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ, htazzat wa-rabat) yang berarti "bergerak dan menjadi subur" muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 22:5 dan 41:39.
Penjelasan pilihan kata
Bagian pembuka (وَمِنْ آيَاتِهِ أَنَّكَ, wa-min aayaatihi annaka) berarti "dan sebagian dari tanda-tanda-Nya, bahwa engkau", dan susunan utuh ini hanya ada di 41:39. Di 30:20, 30:21, 30:25, dan 30:46 frasa wa-min aayaatihi disusul an dan perbuatan yang dilakukan, sedangkan di sini disusul annaka, sehingga tandanya berupa tindakan melihat oleh satu orang. Terjemahan menyusunnya sebagai "engkau melihat bumi" dengan koma sebagai ganti kata "bahwa" supaya kalimat Indonesianya tidak patah. Bagian (تَرَى الْأَرْضَ, taraa l-ardha) yang berarti "engkau melihat bumi" muncul tiga kali, yaitu di 18:47, 22:5, dan 41:39. Di 22:5 dan 41:39 bagian itu langsung disusul sifat bumi sebelum air diturunkan.
Sifat di 41:39 adalah (خَاشِعَةً, khaasyi'atan), dari akar خ-ش-ع. Bentuk persis ini muncul tiga kali, di 41:39, 68:43, dan 70:44, dan dengan akhiran yang berbeda kata yang sama muncul lima kali, yaitu di 41:39, 68:43, 70:44, 79:9, dan 88:2. Di empat ayat selain 41:39 kata itu menyifati pandangan atau wajah dan diterjemahkan "tertunduk". Bentuk laki-lakinya, (خَاشِعًا, khaasyi'an), menyifati gunung di 59:21. Ayat 22:5 melukiskan adegan yang sama dengan sifat lain, yaitu (وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً, wa-taraa l-ardha haamidatan) yang berarti "dan engkau melihat bumi itu kering", lalu melanjutkannya dengan (فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ, fa-idzaa anzalnaa 'alayhaa l-maa'a) seperti di 41:39. Terjemahan "kering-kerontang" untuk khaasyi'atan mengikuti kedudukan sifat itu dalam adegan, yaitu keadaan bumi sebelum air turun. Ayat 41:39 tidak memuat kata untuk "kering" dan bacaan itu bersandar pada 22:5. Kata "tunduk" tidak dipakai di sini karena dua ayat sebelumnya sudah memakainya untuk kata kerja dari akar س-ج-د.
Dua kata kerja berikutnya adalah (اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ, htazzat wa-rabat) yang berarti "bergerak dan menjadi subur". Pasangan ini muncul dua kali, di 22:5 dan 41:39. Kata kerja (اهْتَزَّتْ, htazzat) berakar ه-ز-ز, dan kata kerja yang sama dalam bentuk berawalan ta-, (تَهْتَزُّ, tahtazzu), muncul di 27:10 dan 28:31 untuk tongkat yang terlihat "bergerak-gerak" seperti ular, sehingga terjemahan "bergerak" mengikuti kedua ayat itu. Kata kerja (رَبَتْ, rabat) berakar ر-ب-و dan di 41:39 tidak membawa objek, jadi kata kerja itu menyatakan keadaan bumi sendiri. Di 22:5 pasangan itu disusul (وَأَنْبَتَتْ, wa-anbatat) yang berarti "dan menumbuhkan", kata kerja yang membawa objek, sedangkan 41:39 tidak memuatnya. Akar yang sama muncul di 30:39 dalam (فَلَا يَرْبُو, fa-laa yarbuu) yang diterjemahkan "tidaklah berkembang". Dari sebaran itu terjemahan 41:39 memakai "menjadi subur", seperti 22:5, dan tidak memakai "menyuburkan" yang menuntut objek.
Kalimat (أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ, anzalnaa 'alayhaa l-maa'a) berarti "Kami turunkan air kepadanya", dengan akhiran -naa sebagai pelaku. Susunan itu muncul dua kali, di 22:5 dan 41:39. Ayat ini memakai tiga kata ganti: -hi yang berarti "-Nya" pada tanda-tanda, "Kami" pada penurunan air, dan "Dia" pada kalimat yang menyebut penghidup di (الَّذِي, lladzii). Ayat tidak menjelaskan perpindahan itu, dan terjemahan mengikuti kata gantinya.
Kata (أَحْيَاهَا, ahyaahaa) berarti "menghidupkannya", dari akar ح-ي-ي, dan bentuk persis ini muncul dua kali, di 5:32 dan 41:39. Di 5:32 akhiran -haa menunjuk satu jiwa dalam (وَمَنْ أَحْيَاهَا, wa-man ahyaahaa) yang berarti "dan siapa yang menghidupkannya", sedangkan di 41:39 akhiran itu menunjuk bumi. Frasa yang berarti "benar-benar menghidupkan yang mati" muncul dua kali, di 30:50 dan 41:39. Awalan la- di depan kata penghidup berarti "benar-benar", dan kata penghidup itu menyebut pelaku tanpa penanda waktu, sehingga terjemahan tidak menambahkan kata "akan". Di 30:50 bumi dan orang mati juga disandingkan dalam urutan yang sama, dengan (يُحْيِي الْأَرْضَ, yuhyii l-ardha) yang berarti "menghidupkan bumi", dan frasa itu muncul tiga kali, di 30:19, 30:50, dan 57:17.
Kalimat penutup (إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ, innahu 'alaa kulli syay'in qadiirun) berarti "sesungguhnya Dia berkuasa atas segala sesuatu". Kalimat utuh ini muncul dua kali, di 41:39 dan 46:33. Di 46:33 kalimat itu menutup pertanyaan apakah Allah yang menciptakan langit dan bumi kuasa menghidupkan yang mati, dan di 30:50 sebuah kalimat serupa menutup pembicaraan tentang bumi dan orang mati. Tiga ayat itu mengakhiri pembicaraan tentang menghidupkan yang mati dengan pernyataan kuasa atas segala sesuatu.
Tafsiran
Ayat ini menaruh bukti sebelum kesimpulan. Pembaca diminta melihat bumi, lalu mengikuti air yang diturunkan dan bumi yang bergerak dan menjadi subur, dan baru sesudah itu ayat menarik kesimpulan tentang yang menghidupkan dan yang mati. Kesimpulan itu memakai kata kerja yang sama dengan buktinya: yang menghidupkan bumi disebut penghidup orang-orang mati. Ayat tidak menjelaskan caranya dan tidak menyatakan kapan; hubungan dua pekerjaan itu dinyatakan lewat satu pelaku. Kalimat penutup lalu melebarkan pernyataan dari dua pekerjaan itu ke segala sesuatu.
Sapaan ketiga ayat berurutan berubah. Ayat 41:37 berbicara kepada "kalian", ayat 41:38 tentang "mereka", dan ayat 41:39 kembali ke satu orang, "engkau", yang diminta melihat. Tanda di ayat 37 berupa daftar benda tanpa kata kerja, dan larangan tunduk berpijak padanya. Tanda di ayat 39 berupa peristiwa yang bertahap, dan kesimpulan tentang menghidupkan yang mati berpijak padanya. Tanda pertama mengatur ke mana tunduk diarahkan, dan tanda kedua meminta perhatian pada urutan sebuah proses.
Ayat 22:5 membuka adegan yang sama di tengah pembicaraan tentang keraguan atas kebangkitan, dengan kata sifat lain untuk bumi dan kata kerja tambahan untuk tumbuhan. Ayat 41:39 tidak memuat kata kebangkitan, tidak menyebut tumbuhan, dan tidak menyebut jenis tumbuhan apa pun; ayat ini berhenti pada bumi yang bergerak dan menjadi subur. Ayat ini juga tidak menyebut kapan yang mati dihidupkan. Sesudah ayat 39, ayat 40 beralih kepada orang yang menyimpang dari tanda-tanda Kami, sehingga rangkaian tanda berakhir di sini dan pembicaraan beralih ke peringatan.
Renungan dan Hikmah
- Tanda dalam ayat ini berupa sesuatu yang dilihat: engkau melihat bumi. Bumi yang kering lalu bergerak adalah pemandangan yang mudah dilewati tanpa dicatat, dan ayat menaruhnya dalam daftar tanda-tanda-Nya. Ayat tidak menyebut kapan dan di tempat apa pemandangan itu terlihat, sehingga tandanya terbuka bagi siapa saja yang pernah melihat air turun di tanah yang lama kering. Pembaca dapat bertanya perubahan dari kering ke hijau mana yang pernah dilihatnya dengan sungguh-sungguh, dan apakah pernah disebutnya tanda.
- Sesudah air diturunkan, ayat mencatat bahwa bumi bergerak lebih dulu, baru kemudian menjadi subur. Gerak itu belum tampak sebagai hasil, dan ayat tidak menyebut berapa lama jarak antara keduanya. Dua kata kerja itu dihubungkan dengan kata dan tanpa penanda waktu di antaranya, jadi lamanya tahap pertama tetap terbuka. Orang yang sedang menunggu buah dari sebuah pekerjaan dapat memperhatikan bahwa ayat ini memberi nama kepada tahap yang belum menunjukkan apa-apa. Bagian hidup pembaca yang mana sedang berada pada tahap seperti itu, dan apakah selama ini dinamainya kegagalan atau gerak?
- Ayat meletakkan dua peristiwa berdampingan tanpa menerangkan cara keduanya terjadi. Pembaca yang terbiasa meminta mekanisme sebelum menerima sesuatu menemukan bahwa ayat ini lebih dulu meminta pembaca melihat, dan baru sesudah itu menarik kesimpulan. Ayat ini tidak memuat satu perintah pun, hanya apa yang terlihat dan apa yang mengikutinya. Ayat tidak menutup kemungkinan bahwa penjelasan cara itu ada, tetapi penjelasan itu tidak ditulis di sini. Jenis bukti apa yang selama ini ditunggu pembaca sebelum menerima sesuatu, dan apakah menunggu itu sudah menjadi kebiasaan?
- Dia yang menghidupkan bumi disebut menghidupkan yang mati, sehingga satu pelaku memegang dua pekerjaan yang tampak berjauhan. Ayat tidak menyebut bumi dan orang mati sebagai dua perkara yang saling menjelaskan. Ayat menghubungkan pelakunya, dan terjemahan memakai kata kerja yang sama, menghidupkan, untuk bumi dan untuk orang mati, sehingga pembaca tidak berpindah kosakata ketika berpindah dari satu ke yang lain. Pembaca yang menimbang sesuatu dalam hidupnya yang tampak mati dapat melihat bahwa ayat ini menaruh perhatian pada siapa pelakunya, tidak pada seberapa mati objeknya, dan bertanya kepada siapa urusan yang tampak mati itu selama ini diserahkan.
- Ayat berakhir dengan dua pernyataan berturut-turut yang sama-sama dibuka sesungguhnya. Pernyataan pertama menyebut satu pekerjaan tertentu, menghidupkan yang mati, dan pernyataan kedua melebarkannya: Dia berkuasa atas segala sesuatu. Urutannya dari contoh yang bisa dilihat ke cakupan yang tidak bisa dihitung, dan kata segala sesuatu muncul tanpa daftar sehingga ayat tidak mencantumkan apa yang termasuk di dalamnya. Pembaca dapat bertanya apa yang dalam pikirannya berada di luar segala sesuatu itu, dan dari mana batas itu berasal.
- Dalam ayat ini bumi menjadi subur sesudah air diturunkan kepadanya, dan kata kerja bumi yang pertama adalah gerak sebagai jawaban atas air itu. Ayat tidak menggambarkan bumi memulai sendiri, dan air itu hanya disebut diturunkan oleh Kami tanpa keterangan lain tentang asalnya. Pembaca dapat melihat perubahan dalam hidupnya dengan pertanyaan yang sama: mana yang bermula dari sesuatu yang diturunkan kepadanya, dan mana yang dikiranya bermula dari dirinya?