Ayat 41:41

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ

Sesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap Peringatan ketika ia datang kepada mereka , dan sesungguhnya ia benar-benar kitab yang digdaya,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْinna lladziina kafaruu bi-dz-dzikri lammaa jaa'ahumsesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap Peringatan ketika ia datang kepada mereka
  2. وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌwa-innahu la-kitaabun 'aziizundan sesungguhnya ia benar-benar kitab yang digdaya

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. كَفَرُواkafaruukufur
  4. بِالذِّكْرِbi-dz-dzikripada peringatan
  5. لَمَّاlammaaketika
  6. جَاءَهُمْjaa'ahumdatang kepada mereka
  7. وَإِنَّهُwa-innahudan sesungguhnya ia
  8. لَكِتَابٌla-kitaabunbenar-benar kitab
  9. عَزِيزٌ'aziizunMahaperkasa

Inti bacaan

Karakteristik penting yang dinyatakan: teks ini adalah 'kitab yang digdaya', kekuatan dan keteguhan sebagai sifat yang melekat, bukan klaim kosong tanpa substansi.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan '(pasti mereka akan celaka)' tidak dipakai: bagian pertama ('inna lladziina kafaruu...') dibiarkan menggantung sesuai struktur elipsis retoris Arab (lanjutannya sengaja tak dinyatakan dalam teks), dipisahkan dengan tanda hubung alih-alih menambah anak kalimat rekaan, konsisten teknik yang sama dipakai di 39:19. 'Adz-dzikri' diterjemahkan 'Peringatan' (huruf kapital, sebagai sebutan Al-Qur'an).

Tafsiran

Ayat ini membiarkan nasib orang-orang yang kufur tersirat lewat keheningan retoris, sebelum beralih menegaskan kekuatan tak tergoyahkan Kitab yang mereka tolak.

Renungan dan Hikmah

  • Allah membuka dengan sesungguhnya orang-orang yang kufur, lalu tidak menyebut akibatnya. Kalimatnya menggantung. Yang tidak diucapkan kadang lebih menekan daripada yang diucapkan.
  • Yang mereka tolak Allah sebut Peringatan. Bukan aturan atau perintah. Yang datang kepada mereka sesuatu yang mengingatkan, dan itulah yang mereka tutup.
  • Allah menyebut kitab itu digdaya. Sifat yang biasanya dipakai untuk yang berkuasa. Yang mereka tolak tidak menjadi lemah karena ditolak.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

kitaabun aziiz diterjemahkan 'kitab yang digdaya' (terjemahan lain 'mulia' menabrak kariim). Konvensi zz: al-'Aziiz TAKRIF diterjemahkan 'Sang Digdaya' (KBBI: 'tidak terkalahkan'), indefinit diterjemahkan 'digdaya' (tanpa Maha), izzah diterjemahkan 'kedigdayaan' (satu kata, uji ayat argumen 35:10, 4:139, 10:65, 63:8), gelar Mesir diterjemahkan 'al-'Aziiz'. Pembeda in-formula: qawiyyun aziiz 7× (≠'kuat'), aziizin muqtadir 54:42 (≠'kuasa'), al-'aziiz al-jabbaar 59:23. Cabang alaa: 9:128 'berat terasa', 14:20/35:17 'tidak sulit'. Antonim internal: izz⟷dhull (3:26, 63:8, 27:34). jg 'The Incomparable'. Gelar raja Mesir (2032): 'a surname; like Qaysar'.

Ayat 41:42

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

tidak ada kebatilan yang mendatanginya, baik dari depan maupun dari belakangnya; suatu penurunan dari Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِlaa ya'tiihi l-baathilu min bayni yadayhi wa-laa min khalfihitidak ada kebatilan yang mendatanginya, baik dari depan maupun dari belakangnya
  2. تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍtanziilun min hakiimin hamiidinsuatu penurunan dari Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. لَاlaatidak
  2. يَأْتِيهِya'tiihidatang kepadanya
  3. الْبَاطِلُl-baathilukebatilan
  4. مِنْmindari
  5. بَيْنِbayniantara
  6. يَدَيْهِyadayhikedua tangannya
  7. وَلَاwa-laadan tidak pula
  8. مِنْmindari
  9. خَلْفِهِkhalfihibelakangnya
  10. تَنْزِيلٌtanziilunpenurunan
  11. مِنْmindari
  12. حَكِيمٍhakiiminyang bijaksana
  13. حَمِيدٍhamiidinyang terpuji

Inti bacaan

Jaminan integritas: 'kebatilan tidak mendatanginya, baik dari depan maupun dari belakang', perlindungan konten dari distorsi sepanjang waktu, baik dari masa lalu maupun masa depan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan '(Al-Qur'an itu adalah)' tidak dipakai. 'Hakiimin hamiidin' diterjemahkan 'Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji' tanpa awalan superlatif yang dilarang, konsisten dengan terjemahan kata yang sama di 12:6/12:83/12:100 (hakiim) dan 14:1/14:8/22:64 dst. (hamiid).

Tafsiran

Ayat ini menutup deskripsi kitab yang digdaya: kekal terjaga dari kebatilan karena diturunkan dari sumber yang penuh hikmah dan terpuji.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut dua arah: dari depan maupun dari belakang. Dua-duanya. Yang dijaga bukan satu sisi saja.
  • Kata yang dipakai mendatanginya. Bukan mengubahnya. Yang ditutup bahkan pintu masuknya, bukan cuma akibatnya.
  • Allah menutup dengan Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji. Sesudah bicara penjagaan. Yang menurunkan disebut, dan sifat-Nya jadi alasan penjagaannya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

41:41–42 = definisi internal kitaab aziiz: 'kebatilan tak mendatanginya dari depan/belakang', dan penutupnya tanziilun min HAKIiMIN hamiid (INDEF diterjemahkan 'yang penuh hikmah', tanpa Maha). Konvensi hkm: hakiim diterjemahkan 'penuh hikmah' (SATU terjemahan: Allah 91 + KITAB 5 + amr 1; takrif diterjemahkan 'Sang Penuh Hikmah', indefinit kecil tanpa Maha); hikmah diterjemahkan 'hikmah' (gloss '(sunah)' dibuang); muhkam diterjemahkan 'dikukuhkan' (11:1, 22:52); verba diterjemahkan 'memutuskan'; keluarga hakim (hakam/haakimiin/hukkaam) tetap 'hakim/penengah'. hukm = pemakaian diteruskan terjemahan lain, sub-putusan MENUNGGU (6:5712:4012:67 tiga terjemahan).