Ayat 41:41

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ

Sesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap Peringatan ketika ia datang kepada mereka , dan sesungguhnya ia benar-benar kitab yang digdaya,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْinna lladziina kafaruu bi-dz-dzikri lammaa jaa'ahumsesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap Peringatan ketika ia datang kepada mereka
  2. وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌwa-innahu la-kitaabun 'aziizundan sesungguhnya ia benar-benar kitab yang digdaya

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. كَفَرُواkafaruukufur
  4. بِالذِّكْرِbi-dz-dzikripada peringatan
  5. لَمَّاlammaaketika
  6. جَاءَهُمْjaa'ahumdatang kepada mereka
  7. وَإِنَّهُwa-innahudan sesungguhnya ia
  8. لَكِتَابٌla-kitaabunbenar-benar kitab
  9. عَزِيزٌ'aziizunMahaperkasa

Inti bacaan

Susunan (لَمَّا جَاءَهُمْ, lammaa jaa'ahum) yang berarti "ketika ia datang kepada mereka" muncul di 12 ayat Al-Qur'an, yaitu di 2:89, 2:101, 6:5, 28:36, 34:43, 35:42, 40:25, 41:41, 43:47, 46:7, 50:5, dan 61:6.

Penjelasan pilihan kata

Awal ayat ini berbunyi (إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا, inna lladziina kafaruu) yang berarti "sesungguhnya orang-orang yang kufur". Frasa itu muncul 18 kali di 10 surah, yaitu di 2:6, 2:161, 3:4, 3:10, 3:90, 3:91, 3:116, 4:56, 4:167, 4:168, 5:36, 8:36, 22:25, 40:10, 41:41, 47:32, 47:34, dan 98:6. Di 3:4 frasa itu bersambung ke (كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ, kafaruu bi-aayaati llaahi) yang berarti "kufur terhadap tanda-tanda Allah", lalu disusul pernyataan "bagi mereka azab yang keras". Di 41:41 frasa itu bersambung ke (بِالذِّكْرِ, bi-dz-dzikri) yang berarti "terhadap Peringatan", dan bagian ini tidak disusul pernyataan semacam itu. Susunan utuh (كَفَرُوا بِالذِّكْرِ, kafaruu bi-dz-dzikri) hanya ada di 41:41. Huruf bi- diterjemahkan "terhadap", seperti di 3:4.

Kata Peringatan ditulis dengan huruf kapital karena kalimat berikutnya, (وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ, wa-innahu la-kitaabun 'aziizun), memakai akhiran -hu yang menunjuk kembali kepadanya dan menyebut yang ditunjuk itu kitab. Kata dzikr dengan kata sandang tidak menunjuk hal yang sama di semua ayat. Di 15:9, (نَزَّلْنَا الذِّكْرَ, nazzalnaa dz-dzikra) yang berarti "Kami yang menurunkan peringatan", Peringatan itu sesuatu yang diturunkan, dan di 54:25 Peringatan itu disebut dilemparkan kepada orang yang dibicarakan. Di 41:41 Peringatan itu sesuatu yang datang kepada orang-orang yang kufur.

Waktunya dinyatakan dengan (لَمَّا جَاءَهُمْ, lammaa jaa'ahum) yang berarti "ketika ia datang kepada mereka". Susunan ini muncul di 12 ayat dalam 11 surah, yaitu di 2:89, 2:101, 6:5, 28:36, 34:43, 35:42, 40:25, 41:41, 43:47, 46:7, 50:5, dan 61:6. Pihak yang datang di ayat-ayat itu berbeda-beda. Ayat 2:89 menyebut sebuah kitab yang datang, 2:101 seorang rasul, 6:5, 34:43, 46:7, dan 50:5 kebenaran, dan 35:42 seorang pemberi peringatan. Ayat 41:41 menyebut Peringatan yang datang. Kata kerja (جَاءَ, jaa'a) di sini bersambung ke akhiran -hum yang berarti "kepada mereka", jadi kedatangan itu terjadi kepada orang yang disebut di awal ayat dan tidak kepada orang lain.

Sifat kitab itu dinyatakan dengan (وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ, wa-innahu la-kitaabun 'aziizun) yang berarti "dan sesungguhnya ia benar-benar kitab yang digdaya". Awalan la- pada kata kitab berarti "benar-benar", dan susunan kitab yang digdaya hanya ada di 41:41. Kata (عَزِيزٌ, 'aziizun) berakar ع-ز-ز, dan bentuk persis ini muncul 23 kali: 21 kali menyifati Allah (2:209, 2:220, 2:228, 2:240, 2:260, 3:4, 5:38, 5:95, 8:10, 8:49, 8:63, 8:67, 9:40, 9:71, 14:47, 22:40, 22:74, 31:27, 35:28, 57:25, dan 58:21), satu kali menyifati seorang rasul di 9:128 dalam (عَزِيزٌ عَلَيْهِ, 'aziizun 'alayhi) yang berarti "berat terasa olehnya", dan satu kali menyifati kitab di 41:41. Terjemahan memakai "digdaya", kata Indonesia untuk yang kuat dan tidak terkalahkan, di semua ayat itu kecuali 9:128. Kata "mulia" tidak dipakai di sini karena dipakai untuk sifat lain: di 56:77, (إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ, innahu la-qur'aanun kariimun) berarti "sesungguhnya ia benar-benar Al-Qur'an yang mulia", dengan susunan yang hampir sama tetapi sifat yang berbeda.

Tafsiran

Ayat ini membuka kalimat tentang orang-orang yang kufur terhadap Peringatan, lalu memotongnya dengan keterangan tentang kitab itu. Kalimat tentang orang-orang itu tidak selesai di ayat ini, sebab tidak ada pernyataan tentang apa yang menimpa mereka. Perhatian bergeser dari orang yang menolak ke yang ditolak, dan ayat 41:42 meneruskan keterangan tentang yang ditolak itu. Terjemahan berakhir dengan koma karena kalimat berlanjut ke ayat berikutnya.

Ayat 41:40 menyebut orang yang menyimpang dari tanda-tanda Kami, dan 41:41 menyebut orang yang kufur terhadap Peringatan. Dua sebutan itu hadir berurutan, dan ayat tidak menyatakan bahwa keduanya kelompok yang sama. Di antara keduanya ada perbedaan kedudukan: yang disimpangi di 41:40 adalah tanda, sesuatu yang dilihat, sedangkan yang ditolak di 41:41 adalah Peringatan yang datang, sesuatu yang diterima atau ditampik pada saat tibanya.

Tidak ada kata penghubung antara 41:41 dan 41:42. Ayat 41:42 menyebut kebatilan tidak mendatangi kitab itu dan menyebut asal penurunannya, dan dapat dibaca bahwa dua hal itu merinci apa arti digdaya di 41:41. Pembacaan ini bersandar pada letak dua ayat yang berurutan, tidak pada kata penghubung. Sifat digdaya itu sendiri dipakai bagi Allah yang menurunkan kitab di empat ayat lain, yaitu 39:1, 40:2, 45:2, dan 46:2, yang semuanya dibuka dengan penurunan kitab dari Allah Sang Digdaya. Dengan begitu sifat yang sama disebut bagi yang menurunkan dan bagi yang diturunkan.

Renungan dan Hikmah

  • Kalimat tentang orang yang kufur berhenti sebelum sampai pada akibatnya, dan ayat berpindah menerangkan kitab. Pembaca yang menunggu ancaman menemukan keterangan tentang sesuatu yang ditolak. Perpindahan itu menaruh perhatian pada apa yang ditampik, sebelum pada nasib orang yang menampik. Kalimat tentang akibat, seperti yang menyusul frasa serupa di 3:4, tidak hadir di ayat ini. Apa yang berubah pada pembaca bila lebih dulu diberi tahu seperti apa yang ditolak itu, baru sesudahnya diberi tahu akibat menolaknya?
  • Kata ketika menaruh kufur pada saat Peringatan tiba. Di 35:42 orang-orang bersumpah dengan Allah bahwa mereka akan lebih mendapat petunjuk bila datang pemberi peringatan, tetapi ketika pemberi peringatan itu tiba, kedatangannya tidak menambah apa pun kecuali keberpalingan. Dua ayat ini berbicara tentang peristiwa dan pihak yang berbeda, dan tidak disamakan. Pembaca dapat membandingkan apa yang dikatakannya tentang dirinya sebelum sesuatu tiba dengan apa yang dikerjakannya pada saat sesuatu itu benar-benar tiba.
  • Kitab disebut digdaya dengan kata yang di 21 ayat dipakai bagi Allah. Tidak ada ayat yang menyatakan bahwa kitab setara dengan Allah; yang tampak hanya kesamaan kata untuk sifat yang sama. Sifat itu disebut tanpa menunggu penerimaan siapa pun, dan ayat ini menaruhnya sesudah kalimat tentang penolakan. Pembaca dapat bertanya sifat apa yang diandaikannya bagi sesuatu yang ditolaknya, lemah atau kuat, dan apakah andaian itu pernah diuji dengan membaca sampai selesai?
  • Dalam satu ayat, yang sama disebut Peringatan ketika tiba dan kitab ketika dilukiskan. Nama pertama menyangkut hubungannya dengan orang yang menerimanya, dan nama kedua menyangkut wujudnya sendiri. Pembaca dapat melihat bahwa penolakan terjadi pada nama yang pertama, yaitu pada saat sesuatu mengingatkan, sedangkan keterangan tentang wujud datang sesudahnya, dan sifat digdaya melekat pada nama kedua sehingga penolakan atas nama pertama berhadapan dengan sifat pada nama kedua. Nama mana yang selama ini dipakai pembaca untuk sesuatu yang ditolaknya?
  • Ayat sebelumnya menutup dengan pernyataan bahwa Dia melihat apa yang dikerjakan. Ayat ini menyebut satu perbuatan yang dapat dikerjakan, yaitu kufur terhadap Peringatan pada saat tibanya. Dua ayat berdampingan, dan ayat ini tidak menyatakan bahwa keduanya sambungan yang disengaja. Pembaca dapat membaca keduanya berurutan dan bertanya perbuatan mana yang paling sering dikerjakannya pada saat sesuatu tiba, lalu bagaimana perbuatan itu tampak di hadapan Dia yang melihat.
  • Terjemahan ayat ini berakhir dengan koma karena kalimatnya belum selesai. Pembaca yang berhenti di sini membawa pulang separuh keterangan tentang kitab itu, yaitu sifat digdaya, tanpa dua keterangan yang menyusul di ayat berikutnya, yaitu kebatilan yang tidak mendatanginya dan asal penurunannya. Berapa banyak dari sesuatu yang diterima atau ditolak pembaca hanya diketahuinya separuh, karena ia berhenti di tengah kalimat?

Ayat 41:42

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

tidak ada kebatilan yang mendatanginya, baik dari depan maupun dari belakangnya; suatu penurunan dari Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِlaa ya'tiihi l-baathilu min bayni yadayhi wa-laa min khalfihitidak ada kebatilan yang mendatanginya, baik dari depan maupun dari belakangnya
  2. تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍtanziilun min hakiimin hamiidinsuatu penurunan dari Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. لَاlaatidak
  2. يَأْتِيهِya'tiihidatang kepadanya
  3. الْبَاطِلُl-baathilukebatilan
  4. مِنْmindari
  5. بَيْنِbayniantara
  6. يَدَيْهِyadayhikedua tangannya
  7. وَلَاwa-laadan tidak pula
  8. مِنْmindari
  9. خَلْفِهِkhalfihibelakangnya
  10. تَنْزِيلٌtanziilunpenurunan
  11. مِنْmindari
  12. حَكِيمٍhakiiminyang bijaksana
  13. حَمِيدٍhamiidinyang terpuji

Inti bacaan

Frasa (مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ, min bayni yadayhi wa-min khalfihi) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 13:11, 46:21, dan 72:27.

Penjelasan pilihan kata

Bagian pertama (لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ, laa ya'tiihi l-baathilu) berarti "tidak ada kebatilan yang mendatanginya". Kata (الْبَاطِلُ, al-baathilu) berakar ب-ط-ل dan bentuk persis ini muncul lima kali, yaitu di 17:81, 22:62, 31:30, 34:49, dan 41:42. Di 17:81 (وَزَهَقَ الْبَاطِلُ, wa-zahaqa l-baathilu) berarti "dan kebatilan telah lenyap", dan di 34:49 (وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ, wa-maa yubdi'u l-baathilu wa-maa yu'iidu) berarti "dan kebatilan tidak memulai dan tidak pula mengembalikan". Di 22:62 dan 31:30 kata yang sama menyebut apa yang diseru selain Allah. Kata kerja (يَأْتِيهِ, ya'tiihi) berakar أ-ت-ي dan berarti "mendatanginya", dengan akhiran -hi yang menunjuk kitab pada ayat sebelumnya. Pelaku yang dinafikan di ayat ini adalah kebatilan.

Di 41:41 kata kerja datangnya (جَاءَهُمْ, jaa'ahum) yang berarti "datang kepada mereka", dengan Peringatan sebagai pelaku. Di 41:42 kata kerja datangnya ya'tiihi, yang berbeda dari jaa'a, dengan kebatilan sebagai pelaku yang ditiadakan dan kitab sebagai tempat tujuannya. Terjemahan menjaga perbedaan itu dengan "datang kepada" dan "mendatangi". Kata (وَلَا, wa-laa) yang berarti "dan tidak pula" mengulang peniadaan untuk arah kedua, dan terjemahan menyusunnya menjadi "baik dari depan maupun dari belakangnya" supaya kalimat Indonesianya tetap lurus.

Dua arah itu ditulis (مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ, min bayni yadayhi wa-laa min khalfihi). Kata (بَيْنِ يَدَيْهِ, bayni yadayhi) secara harfiah berarti "di antara kedua tangannya" dan diterjemahkan "depannya", sedangkan (خَلْفِهِ, khalfihi) berarti "belakangnya". Frasa (مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ, min bayni yadayhi) muncul empat kali, yaitu di 13:11, 41:42, 46:21, dan 72:27. Pasangan lengkapnya dengan (وَمِنْ خَلْفِهِ, wa-min khalfihi), dalam susunan (مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ, min bayni yadayhi wa-min khalfihi), muncul tiga kali, di 13:11, 46:21, dan 72:27. Di 13:11 dan 72:27 pasangan itu diterjemahkan sebagai tempat, yaitu "dari depannya dan dari belakangnya" dan "di depannya dan di belakangnya". Di 46:21 pasangan yang sama diterjemahkan sebagai waktu, yaitu "sebelum dan setelahnya". Ayat 41:42 tidak memuat kata yang memilih salah satu, dan terjemahan mengikuti arti tempat.

Asal kitab itu dinyatakan dengan (تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ, tanziilun min hakiimin hamiidin) yang berarti "suatu penurunan dari Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji". Kata (تَنْزِيلٌ, tanziilun) berakar ن-ز-ل dan berbentuk kata benda tanpa kata kerja. Bentuk persis ini muncul empat kali di tiga surah, yaitu di 41:2, 41:42, 56:80, dan 69:43, dan tiap kali asal penurunannya disebut dengan huruf min. Di 41:2 asalnya (مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ, mina r-rahmaani r-rahiimi) yang berarti "dari Ar-Rahman, Sang Pengasih", dan di 56:80 serta 69:43 (مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ, min rabbi l-'aalamiina) yang berarti "dari Tuhan seisi alam". Terjemahan 41:42 memakai "suatu penurunan" seperti 41:2 di surah yang sama.

Dua sifat asal itu ditulis tanpa kata sandang dan tanpa nama. Susunan (مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ, min hakiimin hamiidin) hanya ada di 41:42. Sifat penuh hikmah tanpa kata sandang juga menyebut asal kitab di 11:1 dan 27:6, dalam (مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ, min ladun hakiimin) yang berarti "dari sisi yang penuh hikmah". Sifat (حَمِيدٍ, hamiidin) yang berarti "terpuji" muncul dalam bentuk persis ini hanya sekali, di 41:42, sedangkan katanya, termasuk 41:42 itu sendiri, muncul 17 kali di 14 surah, yaitu di 2:267, 4:131, 11:73, 14:1, 14:8, 22:24, 22:64, 31:12, 31:26, 34:6, 35:15, 41:42, 42:28, 57:24, 60:6, 64:6, dan 85:8. Huruf kapital pada "Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji" menandai bahwa kedua sifat itu menyebut pihak yang menurunkan, seperti penyebutan Ar-Rahman pada penurunan di 41:2.

Tafsiran

Ayat ini merinci kitab yang disebut digdaya pada ayat sebelumnya lewat dua keterangan. Keterangan pertama menyatakan bahwa kebatilan tidak mendatanginya dari arah yang disebut, dan keterangan kedua menyatakan bahwa kitab itu suatu penurunan dari Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji. Tidak ada kata penghubung di antara 41:41 dan 41:42, sehingga hubungan perincian itu merupakan bacaan dari letak dua ayat yang berurutan.

Peniadaan di ayat ini menutup dua arah dan tidak menyebut arah lain seperti atas atau bawah. Pasangan arah yang serupa dipakai di tempat lain untuk dua kedatangan yang berlawanan. Di 41:14 para rasul datang kepada mereka (مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ, min bayni aydiihim wa-min khalfihim) yang berarti "dari depan mereka dan dari belakang mereka". Di 7:17 pembicara dalam percakapan sejak 7:11, yaitu Iblis, berkata akan mendatangi mereka dengan (لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ, la-aatiyannahum min bayni aydiihim wa-min khalfihim), dan kata kerja datang di situ berakar sama dengan ya'tiihi di 41:42. Dua ayat itu berbicara tentang hal yang berbeda dan bentuknya memakai akhiran jamak, sedangkan 41:42 memakai akhiran tunggal untuk kitab. Dari perbandingan itu tampak bahwa dua arah yang sama dapat menjadi jalan kedatangan para rasul, jalan kedatangan yang diancamkan, dan jalan kedatangan yang ditiadakan, sesuai pelaku dan tujuannya.

Dalam surah ini kata tanziilun muncul di dua tempat. Di 41:2 kata itu membuka surah dengan Ar-Rahman, Sang Pengasih sebagai asal, dan di 41:42 kata itu menutup keterangan tentang kitab yang ditolak dengan Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji sebagai asal. Ayat tidak menyatakan alasan perbedaan sebutan itu. Dapat dibaca bahwa pembukaan menyebut asal lewat kasih dan penutup pembicaraan tentang penolakan menyebutnya lewat hikmah dan keterpujian, tetapi pembacaan itu bersandar pada letak, tidak pada pernyataan ayat. Ayat 41:43 kemudian beralih ke sapaan tunggal "-mu" dan menyebut Tuhanmu.

Renungan dan Hikmah

  • Depan adalah arah yang dapat dilihat dan dijaga, dan belakang adalah arah yang tidak terlihat. Ayat menyebut keduanya, dan kata untuk depan secara harfiah berarti antara kedua tangan, bagian yang berada dalam jangkauan. Orang yang menjaga sesuatu biasanya mengawasi arah yang dapat dilihatnya, dan ayat ini menyebut dua arah, tidak satu. Pembaca dapat bertanya arah mana dari hal yang dipegangnya yang selama ini tidak diawasinya, dan apa yang bisa masuk dari sana tanpa terlihat?
  • Di awal surah ini sumber penurunan disebut Ar-Rahman, Sang Pengasih, dan di ujung keterangan tentang kitab disebut Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji. Di ayat lain, sumber yang sama dalam bentuk penurunan disebut Tuhan seisi alam. Tiga sebutan itu menempati kedudukan yang sama dalam kalimat, yaitu asal sebuah penurunan, dan tiap sebutan menonjolkan sifat yang berlainan. Sifat sumber mana yang paling sering terlintas pada pembaca ketika membaca, kasih, hikmah, atau kepemilikan atas seisi alam, dan apa yang tersisa dari pembacaannya bila sifat itu diganti?
  • Satu ayat sebelumnya Peringatan datang kepada orang-orang yang kufur, dan di ayat ini kebatilan tidak mendatangi kitab. Arah kedatangannya berlawanan. Peringatan sampai kepada orang, sedangkan kebatilan tidak sampai kepada kitab. Pembaca dapat membayangkan dirinya berada di tempat Peringatan datang dan bertanya apa yang masuk bersama kedatangan itu, hanya yang diizinkannya atau juga yang tidak disadarinya?
  • Kebatilan digambarkan tanpa daya di tiga ayat: kebatilan lenyap di 17:81, tidak memulai dan tidak mengembalikan di 34:49, dan tidak sampai kepada kitab di 41:42. Di dua ayat lain kata yang sama menyebut apa yang diseru selain Allah, dengan Allah disebut Yang Nyata. Konteks ayat-ayat itu berbeda dan tidak disamakan. Bila digabungkan, kata kebatilan di tiga ayat pertama tampil tanpa jalan masuk dan tanpa daya. Apa yang selama ini disegani pembaca sebagai kekuatan, padahal ayat-ayat ini menggambarkan kebatilan tanpa jalan masuk?
  • Sifat terpuji disebut bagi sumber penurunan. Di 14:8, sifat yang sama berada dalam kalimat tentang kufur: bila kalian dan seluruh penghuni bumi kufur, sesungguhnya Allah benar-benar berkecukupan, terpuji. Ayat itu berbicara dalam konteks lain dan tidak menafsirkan 41:42. Bila keduanya disandingkan, tampak bahwa sifat terpuji dalam Al-Qur'an disebut bersama kufur manusia tanpa dikatakan berkurang. Apa yang berubah pada cara pembaca menilai sesuatu bila nilainya tidak ditentukan oleh jumlah orang yang memujinya?
  • Kitab di ayat ini disebut suatu penurunan, dan ayat tidak menyebut seorang penyusun. Yang disebut hanya asal dan dua sifatnya. Pembaca yang menerima sebuah teks sebagai kiriman dari pihak yang penuh hikmah berdiri dalam posisi yang berbeda dari pembaca yang menimbang teks itu sebagai pendapat orang. Ayat ini tidak memerintahkan posisi mana pun. Posisi mana yang selama ini diambil pembaca saat membuka halaman yang sama, dan bagaimana posisi itu diketahuinya?