إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ

Sesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap Peringatan ketika ia datang kepada mereka , dan sesungguhnya ia benar-benar kitab yang digdaya,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاءَهُمْinna lladziina kafaruu bi-dz-dzikri lammaa jaa'ahumsesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap Peringatan ketika ia datang kepada mereka
  2. وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌwa-innahu la-kitaabun 'aziizundan sesungguhnya ia benar-benar kitab yang digdaya

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. كَفَرُواkafaruukufur
  4. بِالذِّكْرِbi-dz-dzikripada peringatan
  5. لَمَّاlammaaketika
  6. جَاءَهُمْjaa'ahumdatang kepada mereka
  7. وَإِنَّهُwa-innahudan sesungguhnya ia
  8. لَكِتَابٌla-kitaabunbenar-benar kitab
  9. عَزِيزٌ'aziizunMahaperkasa

Inti bacaan

Susunan (لَمَّا جَاءَهُمْ, lammaa jaa'ahum) yang berarti "ketika ia datang kepada mereka" muncul di 12 ayat Al-Qur'an, yaitu di 2:89, 2:101, 6:5, 28:36, 34:43, 35:42, 40:25, 41:41, 43:47, 46:7, 50:5, dan 61:6.

Penjelasan pilihan kata

Awal ayat ini berbunyi (إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا, inna lladziina kafaruu) yang berarti "sesungguhnya orang-orang yang kufur". Frasa itu muncul 18 kali di 10 surah, yaitu di 2:6, 2:161, 3:4, 3:10, 3:90, 3:91, 3:116, 4:56, 4:167, 4:168, 5:36, 8:36, 22:25, 40:10, 41:41, 47:32, 47:34, dan 98:6. Di 3:4 frasa itu bersambung ke (كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ, kafaruu bi-aayaati llaahi) yang berarti "kufur terhadap tanda-tanda Allah", lalu disusul pernyataan "bagi mereka azab yang keras". Di 41:41 frasa itu bersambung ke (بِالذِّكْرِ, bi-dz-dzikri) yang berarti "terhadap Peringatan", dan bagian ini tidak disusul pernyataan semacam itu. Susunan utuh (كَفَرُوا بِالذِّكْرِ, kafaruu bi-dz-dzikri) hanya ada di 41:41. Huruf bi- diterjemahkan "terhadap", seperti di 3:4.

Kata Peringatan ditulis dengan huruf kapital karena kalimat berikutnya, (وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ, wa-innahu la-kitaabun 'aziizun), memakai akhiran -hu yang menunjuk kembali kepadanya dan menyebut yang ditunjuk itu kitab. Kata dzikr dengan kata sandang tidak menunjuk hal yang sama di semua ayat. Di 15:9, (نَزَّلْنَا الذِّكْرَ, nazzalnaa dz-dzikra) yang berarti "Kami yang menurunkan peringatan", Peringatan itu sesuatu yang diturunkan, dan di 54:25 Peringatan itu disebut dilemparkan kepada orang yang dibicarakan. Di 41:41 Peringatan itu sesuatu yang datang kepada orang-orang yang kufur.

Waktunya dinyatakan dengan (لَمَّا جَاءَهُمْ, lammaa jaa'ahum) yang berarti "ketika ia datang kepada mereka". Susunan ini muncul di 12 ayat dalam 11 surah, yaitu di 2:89, 2:101, 6:5, 28:36, 34:43, 35:42, 40:25, 41:41, 43:47, 46:7, 50:5, dan 61:6. Pihak yang datang di ayat-ayat itu berbeda-beda. Ayat 2:89 menyebut sebuah kitab yang datang, 2:101 seorang rasul, 6:5, 34:43, 46:7, dan 50:5 kebenaran, dan 35:42 seorang pemberi peringatan. Ayat 41:41 menyebut Peringatan yang datang. Kata kerja (جَاءَ, jaa'a) di sini bersambung ke akhiran -hum yang berarti "kepada mereka", jadi kedatangan itu terjadi kepada orang yang disebut di awal ayat dan tidak kepada orang lain.

Sifat kitab itu dinyatakan dengan (وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ, wa-innahu la-kitaabun 'aziizun) yang berarti "dan sesungguhnya ia benar-benar kitab yang digdaya". Awalan la- pada kata kitab berarti "benar-benar", dan susunan kitab yang digdaya hanya ada di 41:41. Kata (عَزِيزٌ, 'aziizun) berakar ع-ز-ز, dan bentuk persis ini muncul 23 kali: 21 kali menyifati Allah (2:209, 2:220, 2:228, 2:240, 2:260, 3:4, 5:38, 5:95, 8:10, 8:49, 8:63, 8:67, 9:40, 9:71, 14:47, 22:40, 22:74, 31:27, 35:28, 57:25, dan 58:21), satu kali menyifati seorang rasul di 9:128 dalam (عَزِيزٌ عَلَيْهِ, 'aziizun 'alayhi) yang berarti "berat terasa olehnya", dan satu kali menyifati kitab di 41:41. Terjemahan memakai "digdaya", kata Indonesia untuk yang kuat dan tidak terkalahkan, di semua ayat itu kecuali 9:128. Kata "mulia" tidak dipakai di sini karena dipakai untuk sifat lain: di 56:77, (إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ, innahu la-qur'aanun kariimun) berarti "sesungguhnya ia benar-benar Al-Qur'an yang mulia", dengan susunan yang hampir sama tetapi sifat yang berbeda.

Tafsiran

Ayat ini membuka kalimat tentang orang-orang yang kufur terhadap Peringatan, lalu memotongnya dengan keterangan tentang kitab itu. Kalimat tentang orang-orang itu tidak selesai di ayat ini, sebab tidak ada pernyataan tentang apa yang menimpa mereka. Perhatian bergeser dari orang yang menolak ke yang ditolak, dan ayat 41:42 meneruskan keterangan tentang yang ditolak itu. Terjemahan berakhir dengan koma karena kalimat berlanjut ke ayat berikutnya.

Ayat 41:40 menyebut orang yang menyimpang dari tanda-tanda Kami, dan 41:41 menyebut orang yang kufur terhadap Peringatan. Dua sebutan itu hadir berurutan, dan ayat tidak menyatakan bahwa keduanya kelompok yang sama. Di antara keduanya ada perbedaan kedudukan: yang disimpangi di 41:40 adalah tanda, sesuatu yang dilihat, sedangkan yang ditolak di 41:41 adalah Peringatan yang datang, sesuatu yang diterima atau ditampik pada saat tibanya.

Tidak ada kata penghubung antara 41:41 dan 41:42. Ayat 41:42 menyebut kebatilan tidak mendatangi kitab itu dan menyebut asal penurunannya, dan dapat dibaca bahwa dua hal itu merinci apa arti digdaya di 41:41. Pembacaan ini bersandar pada letak dua ayat yang berurutan, tidak pada kata penghubung. Sifat digdaya itu sendiri dipakai bagi Allah yang menurunkan kitab di empat ayat lain, yaitu 39:1, 40:2, 45:2, dan 46:2, yang semuanya dibuka dengan penurunan kitab dari Allah Sang Digdaya. Dengan begitu sifat yang sama disebut bagi yang menurunkan dan bagi yang diturunkan.

Renungan dan Hikmah

  • Kalimat tentang orang yang kufur berhenti sebelum sampai pada akibatnya, dan ayat berpindah menerangkan kitab. Pembaca yang menunggu ancaman menemukan keterangan tentang sesuatu yang ditolak. Perpindahan itu menaruh perhatian pada apa yang ditampik, sebelum pada nasib orang yang menampik. Kalimat tentang akibat, seperti yang menyusul frasa serupa di 3:4, tidak hadir di ayat ini. Apa yang berubah pada pembaca bila lebih dulu diberi tahu seperti apa yang ditolak itu, baru sesudahnya diberi tahu akibat menolaknya?
  • Kata ketika menaruh kufur pada saat Peringatan tiba. Di 35:42 orang-orang bersumpah dengan Allah bahwa mereka akan lebih mendapat petunjuk bila datang pemberi peringatan, tetapi ketika pemberi peringatan itu tiba, kedatangannya tidak menambah apa pun kecuali keberpalingan. Dua ayat ini berbicara tentang peristiwa dan pihak yang berbeda, dan tidak disamakan. Pembaca dapat membandingkan apa yang dikatakannya tentang dirinya sebelum sesuatu tiba dengan apa yang dikerjakannya pada saat sesuatu itu benar-benar tiba.
  • Kitab disebut digdaya dengan kata yang di 21 ayat dipakai bagi Allah. Tidak ada ayat yang menyatakan bahwa kitab setara dengan Allah; yang tampak hanya kesamaan kata untuk sifat yang sama. Sifat itu disebut tanpa menunggu penerimaan siapa pun, dan ayat ini menaruhnya sesudah kalimat tentang penolakan. Pembaca dapat bertanya sifat apa yang diandaikannya bagi sesuatu yang ditolaknya, lemah atau kuat, dan apakah andaian itu pernah diuji dengan membaca sampai selesai?
  • Dalam satu ayat, yang sama disebut Peringatan ketika tiba dan kitab ketika dilukiskan. Nama pertama menyangkut hubungannya dengan orang yang menerimanya, dan nama kedua menyangkut wujudnya sendiri. Pembaca dapat melihat bahwa penolakan terjadi pada nama yang pertama, yaitu pada saat sesuatu mengingatkan, sedangkan keterangan tentang wujud datang sesudahnya, dan sifat digdaya melekat pada nama kedua sehingga penolakan atas nama pertama berhadapan dengan sifat pada nama kedua. Nama mana yang selama ini dipakai pembaca untuk sesuatu yang ditolaknya?
  • Ayat sebelumnya menutup dengan pernyataan bahwa Dia melihat apa yang dikerjakan. Ayat ini menyebut satu perbuatan yang dapat dikerjakan, yaitu kufur terhadap Peringatan pada saat tibanya. Dua ayat berdampingan, dan ayat ini tidak menyatakan bahwa keduanya sambungan yang disengaja. Pembaca dapat membaca keduanya berurutan dan bertanya perbuatan mana yang paling sering dikerjakannya pada saat sesuatu tiba, lalu bagaimana perbuatan itu tampak di hadapan Dia yang melihat.
  • Terjemahan ayat ini berakhir dengan koma karena kalimatnya belum selesai. Pembaca yang berhenti di sini membawa pulang separuh keterangan tentang kitab itu, yaitu sifat digdaya, tanpa dua keterangan yang menyusul di ayat berikutnya, yaitu kebatilan yang tidak mendatanginya dan asal penurunannya. Berapa banyak dari sesuatu yang diterima atau ditolak pembaca hanya diketahuinya separuh, karena ia berhenti di tengah kalimat?