لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
tidak ada kebatilan yang mendatanginya, baik dari depan maupun dari belakangnya; suatu penurunan dari Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِlaa ya'tiihi l-baathilu min bayni yadayhi wa-laa min khalfihitidak ada kebatilan yang mendatanginya, baik dari depan maupun dari belakangnya
- تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍtanziilun min hakiimin hamiidinsuatu penurunan dari Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji
Terjemahan per kata (13 kata)
- لَاlaatidak
- يَأْتِيهِya'tiihidatang kepadanya
- الْبَاطِلُl-baathilukebatilan
- مِنْmindari
- بَيْنِbayniantara
- يَدَيْهِyadayhikedua tangannya
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- مِنْmindari
- خَلْفِهِkhalfihibelakangnya
- تَنْزِيلٌtanziilunpenurunan
- مِنْmindari
- حَكِيمٍhakiiminyang bijaksana
- حَمِيدٍhamiidinyang terpuji
Inti bacaan
Frasa (مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ, min bayni yadayhi wa-min khalfihi) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 13:11, 46:21, dan 72:27.
Penjelasan pilihan kata
Bagian pertama (لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ, laa ya'tiihi l-baathilu) berarti "tidak ada kebatilan yang mendatanginya". Kata (الْبَاطِلُ, al-baathilu) berakar ب-ط-ل dan bentuk persis ini muncul lima kali, yaitu di 17:81, 22:62, 31:30, 34:49, dan 41:42. Di 17:81 (وَزَهَقَ الْبَاطِلُ, wa-zahaqa l-baathilu) berarti "dan kebatilan telah lenyap", dan di 34:49 (وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيدُ, wa-maa yubdi'u l-baathilu wa-maa yu'iidu) berarti "dan kebatilan tidak memulai dan tidak pula mengembalikan". Di 22:62 dan 31:30 kata yang sama menyebut apa yang diseru selain Allah. Kata kerja (يَأْتِيهِ, ya'tiihi) berakar أ-ت-ي dan berarti "mendatanginya", dengan akhiran -hi yang menunjuk kitab pada ayat sebelumnya. Pelaku yang dinafikan di ayat ini adalah kebatilan.
Di 41:41 kata kerja datangnya (جَاءَهُمْ, jaa'ahum) yang berarti "datang kepada mereka", dengan Peringatan sebagai pelaku. Di 41:42 kata kerja datangnya ya'tiihi, yang berbeda dari jaa'a, dengan kebatilan sebagai pelaku yang ditiadakan dan kitab sebagai tempat tujuannya. Terjemahan menjaga perbedaan itu dengan "datang kepada" dan "mendatangi". Kata (وَلَا, wa-laa) yang berarti "dan tidak pula" mengulang peniadaan untuk arah kedua, dan terjemahan menyusunnya menjadi "baik dari depan maupun dari belakangnya" supaya kalimat Indonesianya tetap lurus.
Dua arah itu ditulis (مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ, min bayni yadayhi wa-laa min khalfihi). Kata (بَيْنِ يَدَيْهِ, bayni yadayhi) secara harfiah berarti "di antara kedua tangannya" dan diterjemahkan "depannya", sedangkan (خَلْفِهِ, khalfihi) berarti "belakangnya". Frasa (مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ, min bayni yadayhi) muncul empat kali, yaitu di 13:11, 41:42, 46:21, dan 72:27. Pasangan lengkapnya dengan (وَمِنْ خَلْفِهِ, wa-min khalfihi), dalam susunan (مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ, min bayni yadayhi wa-min khalfihi), muncul tiga kali, di 13:11, 46:21, dan 72:27. Di 13:11 dan 72:27 pasangan itu diterjemahkan sebagai tempat, yaitu "dari depannya dan dari belakangnya" dan "di depannya dan di belakangnya". Di 46:21 pasangan yang sama diterjemahkan sebagai waktu, yaitu "sebelum dan setelahnya". Ayat 41:42 tidak memuat kata yang memilih salah satu, dan terjemahan mengikuti arti tempat.
Asal kitab itu dinyatakan dengan (تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ, tanziilun min hakiimin hamiidin) yang berarti "suatu penurunan dari Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji". Kata (تَنْزِيلٌ, tanziilun) berakar ن-ز-ل dan berbentuk kata benda tanpa kata kerja. Bentuk persis ini muncul empat kali di tiga surah, yaitu di 41:2, 41:42, 56:80, dan 69:43, dan tiap kali asal penurunannya disebut dengan huruf min. Di 41:2 asalnya (مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ, mina r-rahmaani r-rahiimi) yang berarti "dari Ar-Rahman, Sang Pengasih", dan di 56:80 serta 69:43 (مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ, min rabbi l-'aalamiina) yang berarti "dari Tuhan seisi alam". Terjemahan 41:42 memakai "suatu penurunan" seperti 41:2 di surah yang sama.
Dua sifat asal itu ditulis tanpa kata sandang dan tanpa nama. Susunan (مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ, min hakiimin hamiidin) hanya ada di 41:42. Sifat penuh hikmah tanpa kata sandang juga menyebut asal kitab di 11:1 dan 27:6, dalam (مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ, min ladun hakiimin) yang berarti "dari sisi yang penuh hikmah". Sifat (حَمِيدٍ, hamiidin) yang berarti "terpuji" muncul dalam bentuk persis ini hanya sekali, di 41:42, sedangkan katanya, termasuk 41:42 itu sendiri, muncul 17 kali di 14 surah, yaitu di 2:267, 4:131, 11:73, 14:1, 14:8, 22:24, 22:64, 31:12, 31:26, 34:6, 35:15, 41:42, 42:28, 57:24, 60:6, 64:6, dan 85:8. Huruf kapital pada "Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji" menandai bahwa kedua sifat itu menyebut pihak yang menurunkan, seperti penyebutan Ar-Rahman pada penurunan di 41:2.
Tafsiran
Ayat ini merinci kitab yang disebut digdaya pada ayat sebelumnya lewat dua keterangan. Keterangan pertama menyatakan bahwa kebatilan tidak mendatanginya dari arah yang disebut, dan keterangan kedua menyatakan bahwa kitab itu suatu penurunan dari Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji. Tidak ada kata penghubung di antara 41:41 dan 41:42, sehingga hubungan perincian itu merupakan bacaan dari letak dua ayat yang berurutan.
Peniadaan di ayat ini menutup dua arah dan tidak menyebut arah lain seperti atas atau bawah. Pasangan arah yang serupa dipakai di tempat lain untuk dua kedatangan yang berlawanan. Di 41:14 para rasul datang kepada mereka (مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ, min bayni aydiihim wa-min khalfihim) yang berarti "dari depan mereka dan dari belakang mereka". Di 7:17 pembicara dalam percakapan sejak 7:11, yaitu Iblis, berkata akan mendatangi mereka dengan (لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ, la-aatiyannahum min bayni aydiihim wa-min khalfihim), dan kata kerja datang di situ berakar sama dengan ya'tiihi di 41:42. Dua ayat itu berbicara tentang hal yang berbeda dan bentuknya memakai akhiran jamak, sedangkan 41:42 memakai akhiran tunggal untuk kitab. Dari perbandingan itu tampak bahwa dua arah yang sama dapat menjadi jalan kedatangan para rasul, jalan kedatangan yang diancamkan, dan jalan kedatangan yang ditiadakan, sesuai pelaku dan tujuannya.
Dalam surah ini kata tanziilun muncul di dua tempat. Di 41:2 kata itu membuka surah dengan Ar-Rahman, Sang Pengasih sebagai asal, dan di 41:42 kata itu menutup keterangan tentang kitab yang ditolak dengan Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji sebagai asal. Ayat tidak menyatakan alasan perbedaan sebutan itu. Dapat dibaca bahwa pembukaan menyebut asal lewat kasih dan penutup pembicaraan tentang penolakan menyebutnya lewat hikmah dan keterpujian, tetapi pembacaan itu bersandar pada letak, tidak pada pernyataan ayat. Ayat 41:43 kemudian beralih ke sapaan tunggal "-mu" dan menyebut Tuhanmu.
Renungan dan Hikmah
- Depan adalah arah yang dapat dilihat dan dijaga, dan belakang adalah arah yang tidak terlihat. Ayat menyebut keduanya, dan kata untuk depan secara harfiah berarti antara kedua tangan, bagian yang berada dalam jangkauan. Orang yang menjaga sesuatu biasanya mengawasi arah yang dapat dilihatnya, dan ayat ini menyebut dua arah, tidak satu. Pembaca dapat bertanya arah mana dari hal yang dipegangnya yang selama ini tidak diawasinya, dan apa yang bisa masuk dari sana tanpa terlihat?
- Di awal surah ini sumber penurunan disebut Ar-Rahman, Sang Pengasih, dan di ujung keterangan tentang kitab disebut Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji. Di ayat lain, sumber yang sama dalam bentuk penurunan disebut Tuhan seisi alam. Tiga sebutan itu menempati kedudukan yang sama dalam kalimat, yaitu asal sebuah penurunan, dan tiap sebutan menonjolkan sifat yang berlainan. Sifat sumber mana yang paling sering terlintas pada pembaca ketika membaca, kasih, hikmah, atau kepemilikan atas seisi alam, dan apa yang tersisa dari pembacaannya bila sifat itu diganti?
- Satu ayat sebelumnya Peringatan datang kepada orang-orang yang kufur, dan di ayat ini kebatilan tidak mendatangi kitab. Arah kedatangannya berlawanan. Peringatan sampai kepada orang, sedangkan kebatilan tidak sampai kepada kitab. Pembaca dapat membayangkan dirinya berada di tempat Peringatan datang dan bertanya apa yang masuk bersama kedatangan itu, hanya yang diizinkannya atau juga yang tidak disadarinya?
- Kebatilan digambarkan tanpa daya di tiga ayat: kebatilan lenyap di 17:81, tidak memulai dan tidak mengembalikan di 34:49, dan tidak sampai kepada kitab di 41:42. Di dua ayat lain kata yang sama menyebut apa yang diseru selain Allah, dengan Allah disebut Yang Nyata. Konteks ayat-ayat itu berbeda dan tidak disamakan. Bila digabungkan, kata kebatilan di tiga ayat pertama tampil tanpa jalan masuk dan tanpa daya. Apa yang selama ini disegani pembaca sebagai kekuatan, padahal ayat-ayat ini menggambarkan kebatilan tanpa jalan masuk?
- Sifat terpuji disebut bagi sumber penurunan. Di 14:8, sifat yang sama berada dalam kalimat tentang kufur: bila kalian dan seluruh penghuni bumi kufur, sesungguhnya Allah benar-benar berkecukupan, terpuji. Ayat itu berbicara dalam konteks lain dan tidak menafsirkan 41:42. Bila keduanya disandingkan, tampak bahwa sifat terpuji dalam Al-Qur'an disebut bersama kufur manusia tanpa dikatakan berkurang. Apa yang berubah pada cara pembaca menilai sesuatu bila nilainya tidak ditentukan oleh jumlah orang yang memujinya?
- Kitab di ayat ini disebut suatu penurunan, dan ayat tidak menyebut seorang penyusun. Yang disebut hanya asal dan dua sifatnya. Pembaca yang menerima sebuah teks sebagai kiriman dari pihak yang penuh hikmah berdiri dalam posisi yang berbeda dari pembaca yang menimbang teks itu sebagai pendapat orang. Ayat ini tidak memerintahkan posisi mana pun. Posisi mana yang selama ini diambil pembaca saat membuka halaman yang sama, dan bagaimana posisi itu diketahuinya?