مَا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدْ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِنْ قَبْلِكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٍ

Tidak dikatakan kepadamu kecuali apa yang telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelummu. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan dan memiliki hukuman yang pedih.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. مَا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدْ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِنْ قَبْلِكَmaa yuqaalu laka illaa maa qad qiila li-r-rusuli min qablikatidak dikatakan kepadamu kecuali apa yang telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelummu
  2. إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٍinna rabbaka la-dzuu maghfiratin wa-dzuu 'iqaabin aliiminsesungguhnya Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan dan memiliki hukuman yang pedih

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. مَاmaatidaklah
  2. يُقَالُyuqaaludikatakan
  3. لَكَlakakepadamu
  4. إِلَّاillaakecuali
  5. مَاmaaapa yang
  6. قَدْqadsungguh
  7. قِيلَqiiladikatakan
  8. لِلرُّسُلِli-r-rusulibagi para rasul
  9. مِنْmindari
  10. قَبْلِكَqablikasebelummu
  11. إِنَّinnasesungguhnya
  12. رَبَّكَrabbakaTuhanmu
  13. لَذُوla-dzuubenar-benar pemilik
  14. مَغْفِرَةٍmaghfiratinampunan
  15. وَذُوwa-dzuudan pemilik
  16. عِقَابٍ'iqaabinhukuman
  17. أَلِيمٍaliiminyang pedih

Inti bacaan

Pasangan la-dzuu maghfiratin muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 13:6 dan 41:43, dan 41:43 menyambungnya dengan (وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٍ, wa-dzuu 'iqaabin aliimin).

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (مَا يُقَالُ لَكَ, maa yuqaalu laka) yang berarti "tidak dikatakan kepadamu". Kata kerja yuqaalu berakar ق-و-ل dan bentuknya tidak menyebut siapa yang berkata. Bentuk (يُقَالُ, yuqaalu) muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 21:60, 41:43, dan 83:17. Di 21:60 isi yang dikatakan langsung tertulis sesudah kata kerjanya, yaitu nama Ibrahim, dan di 83:17 isinya dikutip sebagai ucapan yang menunjuk kepada apa yang dahulu didustakan. Di 41:43 isi itu hanya ditunjuk dengan kata (مَا, maa) yang berarti "apa yang", tanpa kutipan sesudahnya. Terjemahan tidak menambahkan pelaku seperti "oleh orang-orang kafir", karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya.

Ayat ini memakai (إِلَّا, illaa) yang berarti "kecuali" untuk membatasi ucapan itu pada (مَا قَدْ قِيلَ, maa qad qiila) yang berarti "apa yang telah dikatakan". Kata (قَدْ, qad) yang berarti "telah" menaruh ucapan itu di masa lampau, dan kata kerja (قِيلَ, qiila) memakai akar ق-و-ل yang sama dengan yuqaalu di awal ayat. Rangkaian (مَا قَدْ قِيلَ, maa qad qiila) hanya muncul di 41:43. Dua kata kerja dari akar yang sama berdiri berdekatan, yang pertama untuk apa yang sedang diucapkan dan yang kedua untuk apa yang sudah diucapkan, sehingga terjemahan memakai kata "dikatakan" pada keduanya agar kesamaan itu terbaca.

Kata (لِلرُّسُلِ, li-r-rusuli) yang berarti "kepada rasul-rasul" tersusun dari huruf li- yang berarti "kepada", kata sandang al-, dan kata rusul yang berarti "rasul-rasul", dari akar ر-س-ل. Bentuk persis (لِلرُّسُلِ, li-r-rusuli) hanya muncul di 41:43. Rasul-rasul yang sama muncul dalam frasa (رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ, rusulun min qablika) yang berarti "rasul-rasul sebelummu" sebanyak tiga kali, yaitu di 3:184, 6:34, dan 35:4. Di ketiganya rasul-rasul itu didustakan, dengan kata kerja (كُذِّبَ, kudzdziba) di 3:184 dan (كُذِّبَتْ, kudzdzibat) di 6:34 dan 35:4. Di 41:43 ucapan ditujukan kepada mereka, dan ayat ini tidak memuat kata dusta sama sekali.

Frasa (إِنَّ رَبَّكَ, inna rabbaka) yang berarti "sesungguhnya Tuhanmu" membuka kalimat kedua. Akhiran -ka pada rabbaka sama dengan -ka pada laka dan qablika di kalimat pertama, sehingga ketiganya menunjuk orang yang sama. Dua kata sesudahnya, (لَذُو مَغْفِرَةٍ, la-dzuu maghfiratin) yang berarti "benar-benar memiliki ampunan", tersusun dari huruf la- yang berarti "benar-benar", kata (ذُو, dzuu) yang berarti "memiliki", dan (مَغْفِرَةٍ, maghfiratin) yang berarti "ampunan", dari akar غ-ف-ر. Rangkaian (لَذُو مَغْفِرَةٍ, la-dzuu maghfiratin) muncul dua kali, yaitu di 13:6 dan 41:43. Di 13:6 ampunan itu diikuti keterangan (لِلنَّاسِ عَلَىٰ ظُلْمِهِمْ, li-n-naasi 'alaa zhulmihim) yang berarti "bagi manusia atas kezaliman mereka", sedangkan di 41:43 ampunan itu tidak disertai keterangan penerima. Kalimat di 41:43 lalu berlanjut dengan (وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٍ, wa-dzuu 'iqaabin aliimin) yang berarti "dan memiliki hukuman yang pedih". Kata dzuu diulang, sehingga ampunan dan hukuman terbaca sebagai dua milik yang sejajar.

Kata (عِقَابٍ, 'iqaabin) diterjemahkan "hukuman" dan tidak "azab". Azab dalam Al-Qur'an ditulis dengan akar ع-ذ-ب, seperti pada (بِعَذَابٍ أَلِيمٍ, bi-'adzaabin aliimin) yang berarti "dengan azab yang pedih" di 31:7. Kata 'iqaab muncul dua puluh kali di sebelas surah, yaitu di 2:196, 2:211, 3:11, 5:2, 5:98, 6:165, 7:167, 8:13, 8:25, 8:48, 8:52, 13:6, 13:32, 38:14, 40:3, 40:5, 40:22, 41:43, 59:4, dan 59:7. Di 7:167 kedua akar itu hadir dalam satu ayat, yaitu (سُوءَ الْعَذَابِ, suu'a l-'adzaabi) yang berarti "seburuk-buruk azab" dan (لَسَرِيعُ الْعِقَابِ, la-sarii'u l-'iqaabi) yang berarti "sangat cepat hukuman-Nya", dan terjemahan membedakan keduanya. Kata 'iqaab diterjemahkan "hukuman" antara lain di 3:11, 8:13, 13:6, 13:32, 40:5, dan 59:7. Pasangan (عِقَابٍ أَلِيمٍ, 'iqaabin aliimin) ada di 41:43 saja, sedangkan kata (أَلِيمٍ, aliimin) yang berarti "pedih" di 31:7 menyifati azab. Terjemahan 41:43 memakai "hukuman yang pedih" supaya mengikuti kata Arab yang tertulis.

Tafsiran

Ayat ini menyamakan ucapan yang diterima orang yang disapa dengan ucapan yang sudah diterima rasul-rasul lebih dulu, lalu menyebut dua milik Tuhan. Siapa yang berkata dan apa isinya tidak tertulis, sehingga kalimat pertama dapat dibaca dua cara.

Cara pertama membaca ucapan itu sebagai penolakan. Pola kalimat yang sama muncul di 51:52, (مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا, maa ataa lladziina min qablihim min rasuulin illaa qaaluu) yang berarti "tidak datang seorang rasul pun kepada orang-orang sebelum mereka kecuali mereka berkata". Di sana pelaku disebut dan isinya dikutip, yaitu (سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ, saahirun aw majnuunun) yang berarti "penyihir atau orang gila". Ayat 41:5 di surah yang sama juga memuat ucapan penolakan yang ditujukan kepada orang yang disapa dengan "engkau". Cara kedua membaca ucapan itu sebagai pesan yang disampaikan. Ayat 42:3 menyatakan bahwa Allah mewahyukan kepada orang yang disapa dan kepada orang-orang sebelumnya, tetapi ayat itu memakai kata kerja (يُوحِي, yuuhii) yang berarti "mewahyukan", sedangkan 41:43 memakai akar ق-و-ل. Kata kerja yang dipilih tidak memutuskan antara dua cara itu, dan terjemahan membiarkan keduanya terbuka.

Kalimat kedua tidak menunjuk siapa yang menerima ampunan dan siapa yang menerima hukuman. Ayat 41:41 sebelumnya membicarakan orang-orang yang kufur terhadap Peringatan, dan 41:44 sesudahnya membicarakan orang-orang yang beriman dan yang tidak beriman, sedangkan kalimat tentang ampunan dan hukuman berdiri di antara keduanya tanpa menunjuk penerimanya.

Urutan ampunan lebih dulu lalu hukuman juga dipakai di 13:6. Di 5:98, 6:165, dan 7:167 urutannya terbalik, hukuman disebut lebih dulu, lalu pengampunan. Ayat 41:43 tidak memuat keterangan waktu untuk keduanya, sehingga ayat ini menyatakan bahwa Tuhan memiliki keduanya tanpa memutuskan siapa yang menerimanya.

Rasul-rasul yang disebut secara umum di 41:43 disusul di 41:45 oleh satu nama, yaitu Musa, yang Kitabnya disebut diperselisihkan. Ayat 41:44 berada di antara keduanya dan membahas keberatan tentang bahasa bacaan. Ayat-ayat itu tidak menyatakan apakah perselisihan tentang Kitab Musa sama dengan ucapan yang dimaksud di 41:43.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 41:43 menaruh ucapan yang diterima orang yang disapa sejajar dengan ucapan yang diterima rasul-rasul sebelumnya, dan kata kecuali menutup kemungkinan adanya kalimat yang sama sekali baru. Pembaca yang pernah menjadi sasaran kalimat tajam dapat menimbang bagaimana kalimat itu terdengar bila pembaca tahu bahwa kalimat yang sama sudah pernah diucapkan kepada orang lain sebelum dirinya. Ayat ini tidak menjanjikan bahwa kalimat itu berhenti diucapkan. Ayat ini memberi garis keturunan, karena kalimat itu sudah punya sejarah panjang sebelum sampai ke telinga pembaca. Rasa bahwa kalimat itu dibuat khusus untuk dirinya dapat mengecil ketika pembaca melihat deretan rasul yang pernah mendengar hal serupa. Apakah kalimat yang paling menyakitkan baginya masih terasa sebagai tuduhan pribadi bila pembaca tahu kalimat itu sudah berumur panjang?
  • Ayat 41:43 tidak mengutip satu kata pun dari ucapan yang dibicarakannya. Di 51:52 isi ucapan itu tertulis, sehingga pembaca tinggal mencocokkan. Di 41:43 ruang itu kosong, dan setiap pembaca mengisinya dengan kalimat dari pengalamannya sendiri, entah ejekan, kecurigaan, atau nasihat yang diucapkan dengan nada merendahkan. Pembaca dapat memperhatikan kalimat apa yang paling cepat muncul di kepalanya ketika membaca kata dikatakan, karena kalimat itu memperlihatkan apa yang paling lama tersimpan di dalam dirinya. Ayat ini tidak menilai isian itu. Apakah kalimat yang diisikannya masih diucapkan orang kepadanya hari ini, atau sudah lama menjadi suara dari dalam dirinya sendiri?
  • Kedua kata kerja di ayat ini berbentuk tanpa penutur, dan ayat membiarkan penutur ucapan itu tanpa nama, dan hal itu mengubah pertanyaan yang tersedia bagi pembaca, dari siapa yang mengatakannya menjadi apa yang akan dilakukannya terhadap kalimat yang sudah sampai kepadanya. Pembaca yang menerima kabar tentang dirinya dari mulut ke mulut dapat menimbang apakah menemukan penuturnya akan mengubah isi kalimat itu. Teks ayat menaruh perhatian pada kalimatnya dan pada apa yang sudah pernah menimpa rasul-rasul, tanpa mencari penuturnya. Pembaca dapat menanyai dirinya berapa banyak tenaga yang dihabiskannya untuk mencari wajah di balik sebuah kalimat, dan berapa banyak yang tersisa untuk memikirkan isinya.
  • Pada kalimat kedua, ampunan disebut sebelum hukuman, dan Tuhan dinyatakan memiliki keduanya dengan kata yang sama diulang. Pembaca yang membuka ayat ini dengan ketakutan bertemu lebih dulu dengan kata ampunan, sedangkan pembaca yang membukanya dengan rasa aman bertemu hukuman yang pedih pada kata terakhir. Ayat ini tidak memutuskan siapa menerima yang mana, dan Allah digambarkan sebagai pihak yang memegang kedua hal itu sekaligus. Pembaca tidak diberi tempat berdiri di luar keduanya. Seseorang dapat memperhatikan sifat mana yang diingatnya lebih dulu setiap kali menyebut nama Tuhannya, ampunan atau hukuman, dan dari pengalaman apa urutan itu terbentuk di dalam dirinya.
  • Hukuman dalam ayat ini disebut pedih tanpa keterangan waktu, tempat, atau penerima, dan teksnya berhenti pada sifat itu. Pembaca yang mengisi kekosongan tersebut dengan nama orang lain menambahkan sesuatu yang tidak ditulis ayat, dan pembaca yang mengisinya dengan namanya sendiri melakukan hal yang sama. Kedua isian itu berasal dari pembaca dan tidak berasal dari ayat. Tuhan yang disebut memiliki hukuman itu adalah Tuhan yang sama yang disebut memiliki ampunan dalam kalimat yang sama, dan ayat tidak menempatkan pembaca di salah satu sisi. Ke arah siapa kata pedih itu bergerak lebih dulu di pikiran pembaca, dan apa yang membuatnya yakin akan arah tersebut?
  • Sesudah menyebut ucapan dan rasul-rasul, ayat ini menyebut Tuhan dengan sapaan pribadi, rabbaka, yang memakai akhiran yang sama dengan laka dan qablika di kalimat pertama. Pembaca membaca sapaan itu dari luar, karena nama orang yang disapa tidak tertulis. Ayat menaruh kata Tuhanmu tepat sesudah pembicaraan tentang ucapan, tanpa jeda penjelasan di antaranya. Pembaca yang sedang dibicarakan orang dapat melihat dua pihak yang terpisah satu kalimat, yaitu pihak yang mengucapkan dan pihak yang disebut Tuhanmu. Apa yang berubah pada cara pembaca menanggapi ucapan orang bila yang disebut sesudahnya adalah Tuhannya sendiri?