مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

Siapa yang mengerjakan amal saleh, maka untuk dirinya sendiri; dan siapa yang berbuat jahat, maka atas dirinya sendiri; dan Tuhanmu sekali-kali tidak menzalimi hamba-hamba.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِman 'amila shaalihan fa-li-nafsihisiapa yang mengerjakan amal saleh, maka untuk dirinya sendiri
  2. وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَاwa-man asaa'a fa-'alayhaadan siapa yang berbuat jahat, maka atas dirinya sendiri
  3. وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِwa-maa rabbuka bi-zhallaamin li-l-'abiididan Tuhanmu sekali-kali tidak menzalimi hamba-hamba

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. مَنْmanorang yang
  2. عَمِلَ'amilaberamal
  3. صَالِحًاshaalihankebajikan
  4. فَلِنَفْسِهِfa-li-nafsihimaka untuk dirinya
  5. وَمَنْwa-mandan orang yang
  6. أَسَاءَasaa'aberbuat buruk
  7. فَعَلَيْهَاfa-'alayhaamaka atasnya
  8. وَمَاwa-maadan tidaklah
  9. رَبُّكَrabbukaTuhanmu
  10. بِظَلَّامٍbi-zhallaaminyang menzalimi
  11. لِلْعَبِيدِli-l-'abiidibagi para hamba

Inti bacaan

Susunan (بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ, bi-zhallaamin li-l-'abiidi) muncul lima kali di Al-Qur'an (3:182, 8:51, 22:10, 41:46, 50:29), dan di 41:46 pelakunya disebut dengan (وَمَا رَبُّكَ, wa-maa rabbuka) yang berarti "dan Tuhanmu tidak".

Penjelasan pilihan kata

Kalimat syarat pertama berbunyi (مَنْ عَمِلَ صَالِحًا, man 'amila shaalihan) yang berarti "siapa yang mengerjakan amal saleh". Kata (مَنْ, man) berarti "siapa yang", kata kerja (عَمِلَ, 'amila) berakar ع-م-ل, dan kata (صَالِحًا, shaalihan) berakar ص-ل-ح serta berarti "yang saleh". Susunan tiga kata ini muncul lima kali di lima surah, yaitu di 16:97, 30:44, 40:40, 41:46, dan 45:15. Dari kelimanya, 41:46 dan 45:15 melanjutkannya dengan (فَلِنَفْسِهِ, fa-li-nafsihi). Di 40:40 lawannya adalah (مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً, man 'amila sayyi'atan) "siapa yang mengerjakan keburukan", sedangkan di 41:46 lawannya memakai kata kerja lain, yaitu (أَسَاءَ, asaa'a).

Kata (فَلِنَفْسِهِ, fa-li-nafsihi) tersusun dari (فَ, fa) yang berarti "maka", (لِ, li) yang berarti "untuk", (نَفْسِ, nafsi) yang berarti "diri", dan (هِ, -hi) yang berarti "-nya". Bentuk fa-li-nafsihi muncul empat kali di empat surah, yaitu di 6:104, 39:41, 41:46, dan 45:15. Data morfologi menandai nafs sebagai kata feminin tunggal. Terjemahan memakai "dirinya sendiri" dan bukan "dirinya" saja, karena "dirinya" dalam bahasa Indonesia bisa dibaca sebagai orang lain, sedangkan kata ini kembali kepada pelaku.

Kata (أَسَاءَ, asaa'a) berakar س-و-ء dan diterjemahkan "berbuat jahat", sama dengan terjemahan bentuk jamaknya di 30:10 dan 53:31. Bentuk persis asaa'a muncul dua kali, yaitu di 41:46 dan 45:15, dan di kedua tempat itu tidak diikuti benda yang dikerjakan. Susunan (وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا, wa-man asaa'a fa-'alayhaa) yang berarti "dan siapa yang berbuat jahat, maka atas dirinya sendiri" juga hanya muncul di dua ayat itu. Kata (عَلَيْهَا, 'alayhaa) tersusun dari (عَلَىٰ, 'alaa) yang berarti "atas" dan (هَا, -haa) yang berarti "-nya" untuk tunggal feminin. Akhiran feminin itu dapat dibaca kembali ke nafs pada bagian pertama, sehingga kata "diri" tidak diulang di bagian kedua, dan terjemahan "atas dirinya sendiri" mengisinya dari sana. Pola yang sama muncul di 6:104, (وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا, wa-man 'amiya fa-'alayhaa), yang berarti "dan siapa yang buta, itu menjadi tanggungannya sendiri".

Bagian terakhir dibuka dengan (وَمَا رَبُّكَ بِ, wa-maa rabbuka bi-) yang berarti "dan Tuhanmu sekali-kali tidak". Susunan ini muncul empat kali, yaitu di 6:132, 11:123, 27:93, dan 41:46. Di tiga yang pertama kata sesudahnya berbunyi (غَافِلٍ, ghaafilin) yang berarti "lalai" atau "lengah", dan di 41:46 kata sesudahnya berbunyi (ظَلَّامٍ, zhallaamin) yang berakar ظ-ل-م. Bentuk (بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ, bi-zhallaamin li-l-'abiidi) muncul lima kali di lima surah, yaitu di 3:182, 8:51, 22:10, 41:46, dan 50:29. Pelakunya Allah di tiga yang pertama, Aku di 50:29, dan Tuhanmu di 41:46. Di 3:182, 8:51, dan 22:10 bagian itu didahului (ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ, dzaalika bi-maa qaddamat) yang berarti "itu karena apa yang telah didahulukan", yaitu alasan berupa perbuatan, sedangkan di 41:46 alasan itu diberikan lewat dua kalimat syarat di depannya. Terjemahan memakai "sekali-kali tidak menzalimi" seperti di 22:10 dan 50:29.

Kata (لِلْعَبِيدِ, li-l-'abiidi) berakar ع-ب-د dan berarti "kepada hamba-hamba". Kata ini memuat sandang al-, sehingga menunjuk golongan hamba secara umum, dan terjemahan memakai "hamba-hamba" tanpa "-Nya", karena tidak ada akhiran pemilik di sana. Kata kerja zalim juga dipakai di tempat lain untuk perbuatan yang diarahkan kepada diri sendiri: (أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ, anfusahum yazhlimuuna) muncul sembilan kali di delapan surah (2:57, 3:117, 7:160, 9:70, 10:44, 16:33, 16:118, 29:40, 30:9). Di 16:33, (وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ, wa-maa zhalamahumu llaahu) berarti "dan Allah tidak menzalimi mereka", lalu disambung dengan penegasan bahwa orang-orang itu sendiri yang menzalimi diri mereka.

Tafsiran

Ayat ini menyatakan bahwa perbuatan kembali kepada pelakunya, lalu menyangkal kezaliman dari Tuhan. Dua kalimat syarat menyebut dua pelaku, dan keduanya menunjuk kembali kepada pelaku itu sendiri. Pahala dan hukuman tidak disebut. Yang tertulis adalah arahnya, "untuk dirinya sendiri" dan "atas dirinya sendiri". Bagian ketiga berpindah ke Tuhanmu dan menyatakan lewat penyangkalan bahwa Dia tidak menzalimi hamba-hamba.

Dua bagian pertama sama dengan 45:15. Perbedaannya ada di kelanjutan. Ayat 45:15 melanjutkan dengan (ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ, tsumma ilaa rabbikum turja'uuna) yang berarti "kemudian, kepada Tuhan kalian, kalian dikembalikan", sedangkan 41:46 melanjutkan dengan penyangkalan kezaliman. Dari pernyataan yang sama muncul dua kelanjutan, yang pertama menunjuk tujuan akhir dan yang kedua menyangkal kezaliman.

Tuhanmu muncul di tiga dari empat ayat berurutan. Ayat 41:43 menyebut Tuhanmu memiliki ampunan dan hukuman yang pedih, ayat 41:45 menyebut ketetapan dari Tuhanmu yang menahan putusan, dan ayat 41:46 menyebut Tuhanmu tidak menzalimi hamba-hamba. Dapat dibaca bahwa ketiganya memperlihatkan Tuhanmu dari tiga sisi: pemilik dua kemungkinan, penahan keputusan, dan pihak yang tidak menzalimi. Ayat 41:44 tidak memakai kata itu dan berbicara tentang pendengar.

Ayat ini dapat dibaca sebagai jawaban atas pertanyaan yang tersisa dari 41:45: bila keputusan di antara mereka yang berselisih ditahan, apakah itu ketidakadilan terhadap pihak yang dirugikan? Ayat 41:46 menyatakan bahwa Tuhanmu tidak menzalimi hamba-hamba. Pembacaan ini bersandar pada letaknya sebagai ayat berikutnya, karena 41:46 sendiri tidak menyebut perselisihan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut dua arah perbuatan, untuk pelakunya dan atas pelakunya, dan tidak menyebut arah yang lain. Tidak ada kalimat tentang manfaat bagi orang lain atau kerugian bagi orang lain. Orang yang menimbang sebuah perbuatan dapat bertanya apa akibatnya bagi pihak yang menerima, dan ayat ini menambahkan satu pertanyaan lagi, apa yang terjadi pada orang yang melakukannya. Pembaca dapat meninjau satu pekan terakhir dan menandai perbuatan yang ditujukan kepada orang lain, lalu melihat apa yang tersisa pada dirinya setelah perbuatan itu selesai. Apa yang terkumpul pada diri seseorang dari hal-hal yang dikerjakannya untuk orang lain?
  • Ayat ini tidak menyebut pahala dan tidak menyebut hukuman. Kata yang tertulis hanya arah, "untuk" dan "atas". Pembaca yang membawa gambaran tentang ganjaran dapat memperhatikan bahwa gambaran itu berasal dari tempat lain, karena ayat ini membiarkan isi arah itu kosong. Kekosongan itu tidak menandakan bahwa isinya tidak ada. Ayat ini menunjukkan letak perbuatan, dan rincian hasilnya diserahkan ke bagian lain. Seseorang yang mengisi sendiri arah itu dapat bertanya, dari mana bahan pengisian itu datang, dari teks atau dari kecemasan dan harapannya sendiri?
  • Dua bagian pertama ayat ini sama dengan 45:15. Di 45:15 bagian itu disusul pernyataan bahwa kepada Tuhan kalian, kalian dikembalikan, dan di 41:46 disusul pernyataan bahwa Tuhanmu sekali-kali tidak menzalimi hamba-hamba. Fakta yang sama menghadapkan pembaca pada dua pertanyaan, ke mana perbuatan itu akan sampai dan apakah penghitungannya jujur. Orang yang sibuk memikirkan tujuan akhir dapat memeriksa apakah sifat pihak yang menghitung juga dipikirkannya. Pertanyaan mana yang lebih sering diajukan, ke mana seseorang akan pulang atau bagaimana perbuatannya akan dihitung?
  • Ayat ini menyangkal bahwa Tuhanmu menzalimi hamba-hamba. Di 16:33 penyangkalan yang sama disambung dengan pernyataan bahwa orang-orang itu sendiri yang menzalimi diri mereka. Dua ayat tidak sama konteksnya, tetapi keduanya menaruh kezaliman pada tempat yang berbeda: Allah tidak menzalimi, dan manusia dapat menzalimi dirinya. Orang yang pernah menyalahkan keadaan atas apa yang menimpanya dapat memperhatikan bahwa ayat ini tidak membahas keadaan semacam itu dan berbicara tentang perbuatan yang kembali kepada pelakunya. Akibat apa yang pernah menimpanya, setelah ditelusuri, ternyata berawal dari sesuatu yang dikerjakannya sendiri?
  • Ayat sebelumnya, 41:45, menyebut keputusan di antara orang-orang yang berselisih ditahan oleh suatu ketetapan dari Tuhanmu. Ayat 41:46 datang segera sesudahnya dan mengarahkan perhatian kepada perbuatan tiap orang. Dapat dibaca bahwa selama putusan atas pihak lain belum jatuh, pembaca tetap memegang perbuatannya sendiri dan akibatnya. Orang yang sedang menunggu penyelesaian atas sebuah perselisihan dapat memperhatikan ke mana pikirannya pergi selama menunggu, ke pihak lawan atau ke pekerjaannya sendiri. Apa yang berubah pada masa tunggu bila yang dihitung adalah perbuatan sendiri?
  • Kalimat terakhir memakai Tuhanmu, tunggal dan ditujukan kepada penerima ayat, tetapi menyatakan sesuatu tentang hamba-hamba, jamak dan tanpa akhiran pemilik. Jaminan itu karena itu tidak dibatasi pada satu orang atau satu golongan yang disebut namanya. Pembaca yang mendengar kalimat ini dapat bertanya sejauh mana batas hamba-hamba itu dalam benaknya, dan siapa yang tanpa sadar dikeluarkannya dari hitungan itu karena perbuatannya dianggap terlalu buruk atau terlalu kecil. Kalimat itu berlaku bagi semua hamba tanpa pengecualian yang tertulis. Siapa yang sulit ia bayangkan berada dalam kalimat yang menyatakan bahwa Tuhanmu tidak menzalimi hamba-hamba?