لَا يَسْأَمُ الْإِنْسَانُ مِنْ دُعَاءِ الْخَيْرِ وَإِنْ مَسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ
Manusia tidak jemu memohon kebaikan; dan jika keburukan menyentuhnya, maka, ia berputus asa lagi hilang harapan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- لَا يَسْأَمُ الْإِنْسَانُ مِنْ دُعَاءِ الْخَيْرِlaa yas'amu l-insaanu min du'aa'i l-khayrimanusia tidak jemu memohon kebaikan
- وَإِنْ مَسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌwa-in massahu sy-syarru fa-ya'uusun qanuuthundan jika keburukan menyentuhnya, maka, ia berputus asa lagi hilang harapan
Terjemahan per kata (11 kata)
- لَاlaatidak
- يَسْأَمُyas'amujemu
- الْإِنْسَانُl-insaanumanusia
- مِنْmindari
- دُعَاءِdu'aa'idoa
- الْخَيْرِl-khayrikebaikan
- وَإِنْwa-indan jika
- مَسَّهُmassahumenyentuhnya
- الشَّرُّsy-syarrukeburukan
- فَيَئُوسٌfa-ya'uusunmaka berputus asa
- قَنُوطٌqanuuthunhilang harapan
Inti bacaan
Sifat (قَنُوطٌ, qanuuthun) hanya muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 41:49, sedangkan sifat pendampingnya (يَئُوسٌ, ya'uusun) muncul dua kali, di 11:9 dan 41:49.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (لَا يَسْأَمُ, laa yas'amu) yang berarti "tidak jemu". Kata kerjanya berakar س-أ-م, dan akar itu terdapat di tiga ayat saja, yaitu 2:282, 41:38, dan 41:49. Di 2:282 akar itu muncul dalam larangan bagi orang beriman yang berutang-piutang, agar mereka tidak bosan mencatat utang, kecil maupun besar. Di 41:38 bunyinya (وَهُمْ لَا يَسْأَمُونَ, wa-hum laa yas'amuuna) yang berarti "dan mereka tidak pernah jemu", tentang mereka yang di sisi Tuhanmu dan bertasbih kepada-Nya pada malam dan siang hari. Kedua ayat di surah 41 itu berjarak sebelas ayat. Di 41:38 mereka yang di sisi Tuhanmu tidak jemu bertasbih, dan di 41:49 manusia tidak jemu memohon.
Kata (دُعَاءِ الْخَيْرِ, du'aa'i l-khayri) tersusun dari du'aa', kata benda dari akar د-ع-و, dan (الْخَيْرِ, l-khayri) yang berarti "kebaikan" dengan kata sandang. Susunan persis itu hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 41:49. Terjemahan mengubah kata benda tersebut menjadi kata kerja "memohon", sehingga terbaca "tidak jemu memohon kebaikan", dan kebaikan menjadi benda yang dimohon. Di 41:51 kata du'aa' diterjemahkan "berdoa" karena di sana tidak ada benda yang dimohon. Pasangan keburukan dan kebaikan dengan kata du'aa' ada pula di 17:11, (وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ, wa-yad'u l-insaanu bi-sy-syarri du'aa'ahu bi-l-khayri) yang berarti "dan manusia berdoa untuk keburukan sebagaimana doanya untuk kebaikan". Di 17:11 keburukan dan kebaikan sama-sama menjadi isi doa. Di 41:49 keburukan datang sebagai sesuatu yang menyentuh manusia, dan tidak menjadi isi doa.
Susunan (مَسَّهُ الشَّرُّ, massahu sy-syarru) yang berarti "keburukan menyentuhnya" terdapat di empat ayat, yaitu 17:83, 41:49, 41:51, dan 70:20, dan tiap ayat meneruskannya dengan cara berbeda. Di 17:83 lanjutannya (كَانَ يَئُوسًا, kaana ya'uusan) yang berarti "berputus asa". Di 41:49 lanjutannya (فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ, fa-ya'uusun qanuuthun). Di 41:51 lanjutannya (فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍ, fa-dzuu du'aa'in 'ariidhin) yang berarti "maka, banyak berdoa". Di 70:20 lanjutannya (جَزُوعًا, jazuu'an) yang berarti "berkeluh kesah". Kata penghubungnya pun berbeda: 41:49 memakai (وَإِنْ, wa-in) yang berarti "dan jika", sedangkan tiga ayat lainnya memakai (إِذَا, idzaa) yang berarti "apabila". Awalan (فَ, fa) pada fa-ya'uusun diterjemahkan "maka", sama seperti fa-dzuu di 41:51, sehingga ayat ini terbaca sebagai jika keburukan menyentuhnya, maka manusia itu berputus asa. Kata kerja massa diterjemahkan "menyentuh" di 41:49, 41:51, dan 70:20.
Dua sifat yang menutup ayat ini berdampingan tanpa kata sambung di Arabnya. Sifat pertama, (يَئُوسٌ, ya'uusun), berakar ي-أ-س dan terdapat di tiga ayat, yaitu 11:9, 17:83, dan 41:49. Di 11:9, (لَيَئُوسٌ كَفُورٌ, la-ya'uusun kafuurun) yang berarti "sangat berputus asa lagi sangat kufur", sifat itu juga berdampingan dengan satu sifat lain tanpa kata sambung, dan terjemahan menyambungnya dengan "lagi". Sifat kedua di ayat ini, (قَنُوطٌ, qanuuthun), hanya ada di 41:49. Akarnya ق-ن-ط terdapat di enam ayat, yaitu 15:55, 15:56, 30:36, 39:53, 41:49, dan 42:28. Di lima ayat selain 41:49 terjemahan memakai "berputus asa", termasuk (لَا تَقْنَطُوا, laa taqnathuu) yang berarti "janganlah kalian berputus asa" di 39:53. Padanan "berputus asa" sudah dipakai untuk ya'uusun di 11:9 dan 17:83, sehingga dua sifat yang berdampingan di 41:49 tidak dapat memakainya berdua. Qanuuthun karena itu diterjemahkan "hilang harapan", dan terjemahan menyambung keduanya dengan "lagi" seperti di 11:9.
Tafsiran
Ayat ini menaruh dua saat dalam hidup manusia di satu kalimat, yaitu saat manusia meminta kebaikan dan saat keburukan menyentuhnya. Di saat pertama hasil permintaan itu tidak dicatat, dan di saat kedua tidak ada permintaan yang muncul. Kalimatnya menaruh yang satu di samping yang lain, dan hubungan keduanya dibiarkan terbuka.
Ayat 41:47 dan 41:48 menuturkan hari ketika Dia menyeru mereka, (وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ, wa-yawma yunaadiihim) yang berarti "dan pada hari Dia menyeru mereka", lalu apa yang dahulu mereka seru lenyap dan mereka menyangka tidak ada tempat pelarian. Ayat 41:49 meninggalkan adegan itu dan beralih kepada (الْإِنْسَانُ, l-insaanu) yang berarti "manusia", tanpa penanda hari. Dapat dibaca bahwa 41:48 dan 41:49 sama-sama menggambarkan jalan yang terasa tertutup, tetapi hubungan itu tidak tertulis di 41:49.
Ayat 41:49 menyebut tiga pihak saja, yaitu manusia, kebaikan, dan keburukan, sehingga kata ganti Kami dan sebutan Tuhan belum ada. Kata Kami masuk di 41:50, (أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا, adzaqnaahu rahmatan minnaa) yang berarti "Kami memberinya rasa rahmat dari Kami", dan Tuhan disebut di sana lewat ucapan manusia itu sendiri, (إِلَىٰ رَبِّي, ilaa rabbii) yang berarti "kepada Tuhanku". Dengan demikian pola di 41:49 tampil sendirian, sebelum ayat sesudahnya memasukkan pihak lain.
Tiga ayat berurutan memuat sentuhan: (مَسَّهُ, massahu) di 41:49, (مَسَّتْهُ, massat-hu) di 41:50, dan (مَسَّهُ, massahu) di 41:51. Ayat 41:49 memuat sentuhan keburukan saja, dengan hasil putus asa. Ayat 41:50 memuat kesusahan yang disusul rahmat, dengan hasil ucapan "Ini milikku". Ayat 41:51 memuat nikmat lalu keburukan, dengan hasil berpaling dan doa yang panjang. Di antara tiga ayat itu, 41:49 memuat satu pemicu dan satu hasil, sedangkan dua ayat sesudahnya menambahkan pemberian.
Ayat 41:49 dan 41:51 memberi dua tanggapan berbeda pada sentuhan keburukan, yaitu putus asa dan doa yang panjang. Teksnya tidak menyatakan apakah dua gambaran itu milik satu orang pada waktu berbeda atau milik orang berbeda.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja yang sama dipakai di dua ayat untuk dua kegiatan. Di 41:38 mereka yang di sisi Tuhanmu tidak jemu bertasbih kepada-Nya siang dan malam, dan di 41:49 manusia tidak jemu memohon kebaikan. Dari kedua ayat itu terlihat bahwa kemampuan mengulang tanpa bosan ada pada kedua pihak, sedangkan isi ulangannya berbeda. Orang yang menghitung apa saja yang diulanginya tiap hari tanpa bosan dapat memeriksa mana yang berupa permintaan dan mana yang berupa tasbih. Seberapa panjang daftar permintaannya bila disandingkan dengan daftar yang diucapkannya tanpa meminta apa pun?
- Di 41:47 Dia menyeru mereka dengan pertanyaan tentang sekutu-sekutu-Ku, dan di 41:48 apa yang dahulu mereka seru telah lenyap dari mereka. Pada dua ayat itu seruan punya alamat yang tertulis. Di 10:12 manusia yang disentuh kesusahan menyeru Kami, dan alamatnya juga tertulis. Di 41:49 manusia memohon kebaikan, dan ayat tidak menyebut kepada siapa permohonan itu ditujukan. Tempat kosong itu dapat diisi pembaca dengan alamat yang dipakainya sendiri. Kepada siapa permohonan yang tidak jemu itu biasanya dikirimkan, dan apakah alamatnya sama ketika keburukan menyentuh?
- Sentuhan keburukan pada manusia tercatat di empat ayat, dan tiap ayat menuliskan tanggapan yang lain: berputus asa di 17:83, berputus asa lagi hilang harapan di 41:49, banyak berdoa di 41:51, dan berkeluh kesah di 70:20. Tidak ada tanggapan yang dipilih sebagai jawaban tunggal, dan apakah keempatnya milik satu orang pada hari berbeda atau milik orang berbeda dibiarkan terbuka. Deretan itu menjadi cermin yang tidak menunjuk siapa pun. Orang yang mengira dirinya selalu bereaksi dengan satu cara dapat mendapati bahwa catatan ini memuat beberapa cara. Tanggapan mana yang paling sering datang padanya ketika sesuatu menyentuh, dan pernahkah tanggapan itu berganti?
- Ayat 39:53 memuat larangan berputus asa dari rahmat Allah, ditujukan kepada hamba-hamba yang melampaui batas atas diri mereka sendiri, dengan alasan bahwa Allah mengampuni dosa semuanya dan bahwa Dialah Sang Pengampun, Sang Pengasih. Kata kerja larangan itu berakar sama dengan sifat penutup 41:49. Dua ayat itu membicarakan hal berbeda, yaitu dosa di 39:53 dan sentuhan keburukan di 41:49, sehingga keduanya tidak disamakan. Meski begitu keduanya dapat dibaca berdampingan: 41:49 tidak memuat alasan untuk tidak berputus asa, dan 39:53 menuliskan alasan itu, yaitu ampunan Allah. Pegangan apa yang dibawa orang yang disentuh keburukan, dan dari mana pegangan itu berasal?
- Ayat 42:28 memakai akar yang sama dengan sifat penutup 41:49 dalam kalimat tentang hujan. Bunyinya (مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا, min ba'di maa qanathuu) yang berarti "setelah mereka berputus asa", dan kalimat utuhnya menyatakan bahwa Dia menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Ayat 41:49 berhenti pada putus asa tanpa menyebut apa yang datang sesudahnya, sedangkan 42:28 menyebut keduanya berurutan. Kedua ayat berasal dari surah berbeda dan tidak saling menafsirkan, tetapi bila ditaruh berdampingan, putus asa di 41:49 dapat dibaca sebagai keadaan yang belum sampai pada hujannya. Orang yang sedang kehilangan harapan dapat memeriksa apakah kehilangan itu dibacanya sebagai akhir ceritanya atau sebagai bagian sebelum hujan. Apa yang sedang ditunggunya, dan dari siapa?
- Ayat 41:49 menyebut kebaikan lebih dulu lalu keburukan, sedangkan 21:35 menyebut keduanya dengan urutan terbalik, "Kami menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan". Dengan 21:35 di sampingnya, permohonan kebaikan yang tak berhenti di 41:49 dapat dibaca berlangsung di dalam cobaan yang sama dengan sentuhan keburukan. Pembacaan ini bersandar pada 21:35, sedangkan di 41:49 sendiri kata cobaan dan sebutan penguji tidak ada. Dalam gambaran itu tidak ada saat ketika manusia berada di luar cobaan, baik ketika meminta maupun ketika tersentuh. Apakah orang yang sedang meminta kebaikan menyadari bahwa saat itu pun dirinya berada di dalam cobaan?