وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَٰذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَىٰ رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَىٰ ۚ فَلَنُنَبِّئَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِمَا عَمِلُوا وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ

Dan jika Kami memberikan rasa rahmat dari Kami kepadanya setelah ditimpa kesusahan, pastilah ia akan berkata, “Ini milikku, dan aku tidak mengira hari kiamat akan terjadi. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, sesungguhnya bagiku di sisi-Nya kebaikan.” Maka, sungguh, Kami pasti akan memberitahukan kepada orang-orang yang kufur tentang apa yang telah mereka kerjakan, dan sungguh, Kami pasti akan menimpakan kepada mereka azab yang sangat berat.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُwa-la-in adzaqnaahu rahmatan minnaa min ba'di dharraa'a massatsudan jika Kami memberikan rasa rahmat dari Kami kepadanya setelah ditimpa kesusahan
  2. لَيَقُولَنَّ هَٰذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةًla-yaquulanna haadzaa lii wa-maa azhunnu s-saa'ata qaa'imatanpastilah ia akan berkata, ini milikku, dan aku tidak mengira hari kiamat akan terjadi
  3. وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَىٰ رَبِّي إِنَّ لِي عِنْدَهُ لَلْحُسْنَىٰwa-la-in ruji'tu ilaa rabbii inna lii 'indahu la-l-husnaadan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, sesungguhnya bagiku di sisi-Nya kebaikan
  4. فَلَنُنَبِّئَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِمَا عَمِلُوا وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنْ عَذَابٍ غَلِيظٍfa-la-nunabbi'anna lladziina kafaruu bi-maa 'amiluu wa-la-nudziiqannahum min 'adzaabin ghaliizhinmaka, sungguh, Kami pasti akan memberitahukan kepada orang-orang yang kufur tentang apa yang telah mereka kerjakan, dan sungguh, Kami pasti akan menimpakan kepada mereka azab yang sangat berat

Terjemahan per kata (32 kata)

  1. وَلَئِنْwa-la-indan sungguh jika
  2. أَذَقْنَاهُadzaqnaahuKami mencicipkan kepadanya
  3. رَحْمَةًrahmatanrahmat
  4. مِنَّاminnaadari Kami
  5. مِنْmindari
  6. بَعْدِba'disesudah
  7. ضَرَّاءَdharraa'akesengsaraan
  8. مَسَّتْهُmassatsumenimpanya
  9. لَيَقُولَنَّla-yaquulannasungguh ia akan berkata
  10. هَٰذَاhaadzaaini
  11. لِيliibagiku
  12. وَمَاwa-maadan tidaklah
  13. أَظُنُّazhunnuaku mengira
  14. السَّاعَةَs-saa'atahari Kiamat
  15. قَائِمَةًqaa'imatanberdiri
  16. وَلَئِنْwa-la-indan sungguh jika
  17. رُجِعْتُruji'tuaku dikembalikan
  18. إِلَىٰilaakepada
  19. رَبِّيrabbiiTuhanku
  20. إِنَّinnasesungguhnya
  21. لِيliibagiku
  22. عِنْدَهُ'indahudi sisi-Nya
  23. لَلْحُسْنَىٰla-l-husnaabenar-benar kebaikan
  24. فَلَنُنَبِّئَنَّfa-la-nunabbi'annamaka sungguh Kami akan memberitakan
  25. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  26. كَفَرُواkafaruukufur
  27. بِمَاbi-maatentang apa yang
  28. عَمِلُوا'amiluumereka beramal
  29. وَلَنُذِيقَنَّهُمْwa-la-nudziiqannahumdan sungguh Kami akan menimpakan kepada mereka
  30. مِنْmindari
  31. عَذَابٍ'adzaabinazab
  32. غَلِيظٍghaliizhinyang keras

Inti bacaan

Klaim keliru 'ini adalah hakku' atas nikmat yang diterima setelah kesusahan, kegagalan mengenali anugerah sebagai pemberian, bukan pencapaian pribadi semata, disertai keraguan terhadap Hari Kiamat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini merekam kalimat yang keluar dari mulut seseorang tepat sesudah ia ditolong, dan kalimat itu tidak dikomentari sampai beberapa baris kemudian.

Kata kerjanya menarik: rahmat itu disebut “dikecapkan” (أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً, adzaqnaahu rahmatan). Rangkaian itu hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an. Kata mengecap dipakai untuk makanan, untuk sesuatu yang masuk ke mulut dan terasa di lidah. Rahmat di sini diperlakukan sebagai sesuatu yang berwujud, yang bisa dirasakan seperti orang merasakan rasa, bukan sebagai suasana hati.

Yang direkam sesudahnya tiga kalimat berurutan, dan ketiganya keluar dari orang yang baru saja lega: ini milikku, aku tidak mengira hari kiamat akan terjadi, dan kalaupun aku dikembalikan pasti bagiku kebaikan. Susunannya menerangkan sendiri. Merasa berhak atas pemberian dan meragukan hari perhitungan ternyata dua hal yang berdekatan, sebab keduanya berpangkal pada anggapan yang sama, yaitu bahwa apa yang ada padanya berasal dari dirinya.

Yang perlu diperhatikan, keadaan yang mendahului ucapan itu bukan hidup yang selalu senang, melainkan kesusahan yang baru saja lewat. Orang yang pernah susah pun bisa secepat itu lupa siapa yang mengangkat kesusahannya.

Tiga kalimat yang direkam itu perlu dibaca sebagai satu rangkaian, sebab masing-masing menopang yang lain. Yang pertama pengakuan kepemilikan. Yang kedua penyangkalan terhadap hari perhitungan. Yang ketiga jaminan bahwa kalaupun ada perhitungan, hasilnya pasti baik baginya.

Ketiganya berdiri di atas satu anggapan yang sama, yaitu bahwa apa yang ada padanya berasal dari dirinya. Kalau pemberian itu miliknya, maka tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan; kalau tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan, maka hari perhitungan tidak diperlukan; dan kalau toh ada, keberuntungannya selama ini sudah membuktikan kedudukannya. Urutan ketiganya bukan tiga kesalahan terpisah, melainkan satu kesalahan yang menurunkan dua kesalahan lain.

Kata kerja untuk pemberiannya menerangkan mengapa anggapan itu mudah tumbuh. Rangkaian “Kami memberikan rasa rahmat kepadanya” (أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً, adzaqnaahu rahmatan) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an. Kata mengecap menunjuk pengalaman yang terjadi di dalam diri orangnya sendiri, dan pengalaman yang terasa di dalam diri memang paling mudah dianggap berasal dari dalam diri.

Keadaan yang mendahuluinya pun disebut, yaitu kesusahan yang baru saja lewat. Susunan itu menutup satu pembelaan yang mungkin diajukan, yaitu bahwa hanya orang yang tak pernah susah yang bisa selupa itu. Yang digambarkan justru orang yang baru saja mengalami kesusahan, dan jarak antara lega dan lupa ternyata sependek satu kalimat.

Tafsiran

Ayat ini merekam tiga kalimat yang keluar dari mulut seseorang tepat sesudah ia ditolong, dan yang paling menusuk adalah bahwa ketiganya masuk akal bagi orang yang mengucapkannya.

Kalimat pertama mengakui kepemilikan. Kalimat kedua meragukan hari perhitungan. Kalimat ketiga menjamin bahwa kalaupun ada perhitungan, hasilnya pasti baik baginya. Ketiganya berdiri di atas satu anggapan yang sama, yaitu bahwa apa yang ada padanya berasal dari dirinya sendiri. Dari anggapan itu, dua kalimat berikutnya mengalir dengan sendirinya.

Yang menarik, ketiganya tidak dibantah di tempat itu juga. Ayat ini membiarkan ucapan itu berdiri utuh sebelum menyebut akibatnya. Pembacanya sempat mendengar sendiri betapa masuk akal kalimat-kalimat itu bagi yang mengucapkannya, dan kesempatan mendengar itu bagian dari cara kerja ayatnya.

Keadaan yang mendahului ucapan itu pun disebut, dan penyebutannya menutup satu pembelaan. Bukan orang yang hidupnya selalu senang, melainkan orang yang baru saja lepas dari kesusahan. Jarak antara lega dan lupa ternyata sependek satu kalimat, dan kata kerja yang dipakai untuk pemberiannya menerangkan mengapa. Rahmat itu disebut dikecapkan, yaitu dirasakan di dalam diri sendiri, dan apa yang terasa di dalam diri memang paling mudah dianggap berasal dari dalam diri. Ayat ini mengungkap watak manusia yang cepat merasa berhak atas rahmat, bahkan meragukan kiamat, sebelum akhirnya diperingatkan azab yang menanti.

Renungan dan Hikmah

  • Allah merekam kalimat yang keluar sesudah lega. Ini milikku. Yang baru ditolong lupa siapa yang menolong. Kalimat itu direkam apa adanya, lengkap dengan kata kepunyaan di dalamnya. Bukan ringkasan sikapnya, melainkan bunyi ucapannya. Merekam ucapan jauh lebih telak daripada menerangkan wataknya, sebab pembaca bisa mendengar dirinya sendiri di situ.
  • Klaim itu muncul justru sesudah kesusahan. Bukan saat selalu senang. Yang sempat susah pun cepat lupa. Ini melawan anggapan yang umum, yaitu bahwa kesusahan dengan sendirinya membuat orang ingat. Ayat ini menyebut sebaliknya: kesusahan yang sudah lewat justru bisa menjadi bahan untuk merasa berhak, seakan yang datang sesudahnya adalah upah atas yang sudah ditanggung.
  • Ia meragukan kiamat di kalimat yang sama. Allah menaruh keduanya berdampingan. Merasa berhak dan meragukan hari perhitungan sering satu paket. Hubungan keduanya masuk akal. Orang yang merasa memiliki apa yang diterimanya tidak memerlukan hari perhitungan, sebab tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan atas milik sendiri. Keraguan itu bukan kesimpulan berpikir, melainkan akibat yang wajar dari cara ia memandang miliknya.
  • Allah merekam kalimat ini milikku yang keluar tepat sesudah kesusahan diangkat, dan menaruhnya bersebelahan dengan keraguan pada hari perhitungan. Kalimat apa yang biasanya keluar dari kita sesudah lega, dan kepada siapa kita mengarahkannya? Kalimat yang keluar sesudah lega jarang dipilih dengan sadar, dan justru karena itu ia lebih jujur daripada kalimat yang kita susun untuk didengar orang.
  • Ayat ini memuat tiga potongan yang masing-masing hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran: لَيَقُولَنَّ هَٰذَا لِي, وَلَئِنْ رُجِعْتُ إِلَىٰ رَبِّي, dan لَلْحُسْنَىٰ. Ketiganya berada dalam satu ucapan orang yang sama, dan ketiganya merekam tiga langkah yang berurutan: mengakui pemberian sebagai milik sendiri, meragukan hari perhitungan, lalu tetap merasa akan mendapat yang terbaik seandainya hari itu ada. Susunan yang aneh itu direkam Allah tanpa dibantah di tempatnya, sebab bunyinya sendiri sudah membantah dirinya.
  • Ucapan serupa direkam di 18:36 dari mulut pemilik kebun yang membanggakan hartanya: ia tidak mengira hari itu akan datang, dan seandainya dikembalikan kepada Tuhannya ia pasti mendapat yang lebih baik. Dua orang yang berbeda keadaannya, satu baru lepas dari kesusahan dan satu sedang berlimpah, sampai pada kalimat yang hampir sama. Itu menunjukkan sikap ini tidak lahir dari keadaan tertentu. Ia lahir dari cara memandang pemberian, dan cara pandang itu bisa tumbuh sesudah susah maupun sesudah senang. Karena itu tidak ada keadaan yang dengan sendirinya menjaga seseorang dari sikap ini, dan orang yang merasa sudah aman karena pernah diuji justru paling dekat kepadanya. Rasa aman itu sendiri bentuk halus dari kalimat yang direkam ayat ini.