وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍ
Dan apabila Kami menganugerahkan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; dan apabila keburukan menyentuhnya, maka, ia banyak berdoa.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِwa-idzaa an'amnaa 'alaa l-insaani a'radha wa-na'aa bi-jaanibihidan apabila Kami menganugerahkan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri
- وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍwa-idzaa massahu sy-syarru fa-dzuu du'aa'in 'ariidhindan apabila keburukan menyentuhnya, maka, ia banyak berdoa
Terjemahan per kata (13 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- أَنْعَمْنَاan'amnaaKami memberi nikmat
- عَلَى'alaaatas
- الْإِنْسَانِl-insaanimanusia
- أَعْرَضَa'radhaberpaling
- وَنَأَىٰwa-na'aadan menjauh
- بِجَانِبِهِbi-jaanibihike samping
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- مَسَّهُmassahumenyentuhnya
- الشَّرُّsy-syarrukeburukan
- فَذُوfa-dzuumaka pemilik
- دُعَاءٍdu'aa'indoa
- عَرِيضٍ'ariidhinyang panjang
Inti bacaan
Rangkaian (دُعَاءٍ عَرِيضٍ, du'aa'in 'ariidhin) hanya muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 41:51, dan kata 'ariidhin berakar ع-ر-ض seperti kata kerja a'radha yang ada di ayat yang sama.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dimulai dengan (وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ, wa-idzaa an'amnaa 'alaa l-insaani) yang berarti "dan apabila Kami menganugerahkan nikmat kepada manusia". Kata kerja (أَنْعَمْنَا, an'amnaa) berakar ن-ع-م, dan bentuk persisnya terdapat di tiga ayat, yaitu 17:83, 41:51, dan 43:59. Di 43:59 kata kerja itu diikuti (عَلَيْهِ, 'alayhi) yang berarti "kepadanya", dengan seorang hamba sebagai sasaran. Susunan sampai kata manusia, (أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ, an'amnaa 'alaa l-insaani), hanya ada di 17:83 dan 41:51, dan kedua ayat itu sama pula pada kalimat berikutnya, (أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ, a'radha wa-na'aa bi-jaanibihi) yang berarti "berpaling dan menjauhkan diri". Beda keduanya baru tampak pada bagian keburukan. Di 17:83 bunyinya (وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا, wa-idzaa massahu sy-syarru kaana ya'uusan), sedangkan di 41:51 bunyinya (وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍ, wa-idzaa massahu sy-syarru fa-dzuu du'aa'in 'ariidhin). Susunan massahu sy-syarru terdapat di empat ayat, yaitu 17:83, 41:49, 41:51, dan 70:20.
Kata (أَعْرَضَ, a'radha) yang berarti "berpaling" berakar ع-ر-ض, akar yang sama dengan (عَرِيضٍ, 'ariidhin) di ujung ayat ini. Bentuk persis a'radha terdapat di delapan ayat, yaitu 17:83, 18:57, 20:100, 20:124, 32:22, 41:4, 41:51, dan 66:3. Di lima dari delapan ayat itu a'radha diikuti (عَنْ, 'an) yang menyebut asal berpaling, misalnya (فَأَعْرَضَ عَنْهَا, fa-a'radha 'anhaa) di 18:57 yang berarti "lalu berpaling darinya". Di 17:83, 41:4, dan 41:51 a'radha tidak diikuti kata yang menyebut asal itu. Dalam ayat ini akar yang sama menamai gerak menjauh di bagian pertama dan doa yang lebar di bagian kedua.
Kata (وَنَأَىٰ, wa-na'aa) yang berarti "dan menjauh" berakar ن-أ-ي dan terdapat di tiga ayat, yaitu 6:26, 17:83, dan 41:51. Di 6:26 bentuknya (وَيَنْأَوْنَ عَنْهُ, wa-yan'awna 'anhu) yang berarti "dan mereka menjauh darinya", dengan asal yang disebut oleh kata 'anhu. Di 41:51 menjauhnya terjadi (بِجَانِبِهِ, bi-jaanibihi), yaitu "dengan sisinya". Kata jaanib dipakai pula di 19:52 dalam (مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ, min jaanibi th-thuuri l-aymani) yang berarti "dari sisi kanan gunung Tur". Di sana sisi itu milik sebuah gunung, sedangkan di 41:51 sisi itu milik manusia sendiri lewat akhiran -hi. Terjemahan memakai "menjauhkan diri" karena "menjauh dengan sisinya" tidak lazim dalam bahasa Indonesia, dan kata "diri" mewakili sisi yang dipalingkan itu.
Kata (فَذُو, fa-dzuu) yang berarti "maka pemilik" bertemu (دُعَاءٍ, du'aa'in) yang berarti "doa", sehingga (فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍ, fa-dzuu du'aa'in 'ariidhin) terbaca "maka pemilik doa yang lebar". Susunan (ذُو دُعَاءٍ, dzuu du'aa'in) hanya ada di 41:51, dan (عَرِيضٍ, 'ariidhin) pun hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akar ع-ر-ض dipakai untuk lebar di tempat lain, misalnya (عَرْضُهَا, 'ardhuhaa) di 3:133 dan 57:21, tempat taman disebut selebar langit dan bumi. Di 41:43 kata dzuu dipakai dua kali untuk Tuhanmu, (لَذُو مَغْفِرَةٍ وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٍ, la-dzuu maghfiratin wa-dzuu 'iqaabin aliimin) yang berarti "memiliki ampunan dan memiliki hukuman yang pedih", dan terjemahan memakai "memiliki". Di 41:51 padanan "maka memiliki doa yang lebar" tidak terbaca wajar dalam bahasa Indonesia, sehingga terjemahan memakai kata kerja "banyak berdoa". Awalan (فَ, fa) pada fa-dzuu diterjemahkan "maka", dan ayat terbaca sebagai apabila keburukan menyentuhnya, maka manusia itu banyak berdoa.
Ayat 10:12 memperlihatkan seperti apa seruan orang yang disentuh kesusahan, (دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا, da'aanaa li-janbihi aw qaa'idan aw qaa'iman) yang berarti "menyeru Kami dalam keadaan berbaring, atau duduk, atau berdiri". Kata (لِجَنْبِهِ, li-janbihi) berakar ج-ن-ب, akar yang sama dengan jaanib di 41:51. Di 10:12 doa itu dituliskan dalam tiga keadaan badan, sedangkan 41:51 menuliskan doa yang lebar tanpa merinci keadaan badan.
Tafsiran
Ayat ini memasangkan dua keadaan dengan dua jenis gerak. Ketika nikmat datang, manusia bergerak dengan tubuhnya: berpaling dan memalingkan sisinya. Ketika keburukan menyentuh, manusia bergerak dengan suaranya: berdoa secara meluas. Bagian pertama ditulis dengan dua kata kerja, sedangkan bagian kedua ditulis dengan sebutan "pemilik doa", sehingga susunan kalimat berganti dari perbuatan menjadi sifat.
Bagian pertama menyebut pemberinya dengan kata Kami. Bagian kedua menjadikan keburukan sebagai pelaku yang menyentuh, tanpa menyebut pihak yang mengirimnya. Susunan itu sama dengan 41:50, tempat rahmat dikecapkan oleh Kami dan kesusahan menjadi pelaku yang menyentuh. Ayat 41:51 memberi nama pada pemberi nikmat, dan teksnya tidak memberi nama pada pengirim keburukan.
Bagian pertama ayat ini sama dengan 17:83. Surah 17 meneruskannya dengan putus asa, dan surah 41 meneruskannya dengan doa yang panjang. Kedua ayat berdiri di surahnya masing-masing, dan alasan perbedaan itu tidak dijelaskan oleh salah satunya.
Di dalam surah yang sama, 41:49 menuliskan sentuhan keburukan dengan hasil putus asa, sedangkan 41:51 menuliskannya dengan hasil doa yang panjang. Teksnya tidak menyatakan apakah doa yang panjang itu keluar dari orang yang sudah kehilangan harapan atau dari orang lain.
Dalam urutan surah ini, 41:50 mencatat ucapan "Ini milikku" sesudah rahmat, dan 41:51 mencatat gerak berpaling sesudah nikmat. Dua ayat berurutan itu memperlihatkan dua bentuk perilaku pada saat menerima, yang satu berbicara dan yang lain bergerak. Tiga ayat dari 41:49 sampai 41:51 menggambarkan manusia tanpa satu pun perintah atau larangan, dan 41:52 dibuka dengan (قُلْ, qul) yang berarti "katakanlah".
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja berpaling di 41:51 tidak diikuti keterangan tentang apa yang ditinggalkan, sedangkan di 18:57 kata kerja yang sama diikuti kata yang menyebut asalnya, "darinya". Di 41:50 orang yang menerima rahmat menyebut Tuhanku hanya dalam pengandaian dikembalikan kepada-Nya, dan di 41:51 orang yang menerima nikmat berpaling tanpa asal berpaling yang tertulis. Dua ayat itu dapat ditaruh berdampingan tanpa menyimpulkan bahwa Tuhanlah yang ditinggalkan, sebab tidak ada ayat yang menyatakannya. Dari apa dan ke arah mana pembaca sendiri pernah berpaling sesudah menerima sesuatu yang baik?
- Ayat 10:12 menulis seruan orang yang disentuh kesusahan dalam tiga keadaan badan, yaitu berbaring, duduk, dan berdiri. Ayat 41:51 menulis doa yang lebar tanpa merinci keadaan badan. Bila keduanya dibaca bersama, doa yang lebar dapat dibayangkan sebagai doa yang mengikuti orangnya ke semua posisi, tetapi pembacaan itu tidak tertulis di 41:51. Ayat 10:12 melanjutkan dengan hal yang tidak ada di 41:51: ketika kesusahan itu dihilangkan, orang itu berlalu seakan-akan tidak pernah menyeru Kami. Orang yang baru selesai dari sebuah kesulitan dapat memeriksa apa yang terjadi pada doa-doanya sesudahnya. Ke mana perginya doa yang tadinya lebar itu?
- Dalam kalimat 41:51, nikmat datang bersama nama pemberinya dan keburukan datang tanpa nama pengirimnya, seperti pada 41:50. Orang yang menceritakan hidupnya dapat memeriksa kata-kata yang dipakainya: untuk nikmat ada nama yang disebutnya, dan untuk kesusahan ada nama atau tidak ada sama sekali. Kesusahan yang diceritakan tanpa nama menyisakan tempat kosong di belakangnya, dan tempat itu dapat diisi oleh kebiasaan bercerita yang sudah lama dipakai. Nama siapa yang disebut ketika bercerita tentang nikmat, dan nama siapa ketika bercerita tentang kesusahan?
- Ayat 14:34 dan 16:18 menyebut bahwa jika nikmat Allah dihitung, penghitungnya tidak akan mampu menghitungnya. Di 14:34 kalimat itu didahului pernyataan bahwa Dia memberi dari segala yang dimohonkan kepada-Nya, dan disusul pernyataan bahwa manusia benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur. Kalimat-kalimat itu berasal dari ayat lain dan tidak menafsirkan 41:51, tetapi dapat ditaruh di sampingnya: nikmat di 41:51 yang disusul berpaling berakar sama dengan nikmat Allah yang menurut 14:34 dan 16:18 tak terhitung. Berapa banyak dari yang dimohon tanpa jemu itu sudah diterima, dan sudahkah dihitung sebelum sisi tubuh dipalingkan?
- Ayat 39:8 menyusun dua keadaan itu dalam urutan lain: mudarat menimpa manusia, manusia itu menyeru Tuhannya dengan kembali kepada-Nya, lalu ketika Dia memberinya nikmat, manusia itu lupa apa yang dahulu diserukannya kepada-Nya. Ayat 41:51 menaruh nikmat lebih dulu dan berpaling sesudahnya, sehingga dua ayat itu menggambarkan dua alur dan tidak disamakan. Orang yang membaca keduanya dapat menimbang apakah doanya mengikuti kesusahan saja atau mengikuti kelapangan juga. Doa apa yang masih diucapkannya hari ini, ketika tidak ada sentuhan keburukan yang memaksa mulutnya terbuka?
- Ayat 41:53 menyebut Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu. Bila sisi yang dipalingkan sesudah nikmat dan doa yang lebar sesudah keburukan sama-sama termasuk segala sesuatu itu, keduanya terjadi di depan saksi yang sama. Ayat 41:51 sendiri tidak menyebut saksi, dan hubungan ini dibuat dari ayat yang datang dua ayat sesudahnya. Dengan hubungan itu gerak berpaling yang terasa berlangsung tanpa yang melihat dapat dibayangkan ulang. Apakah gerak berpaling terasa sama ketika dibayangkan terjadi di depan saksi yang menyaksikan segala sesuatu, dan apakah doa yang lebar terasa sama?