قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ثُمَّ كَفَرْتُمْ بِهِ مَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ هُوَ فِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ
Katakanlah, “Apakah kalian memperhatikan, jika ia dari sisi Allah, kemudian kalian kufur terhadapnya, siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berada dalam perselisihan yang jauh?”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- قُلْqulkatakanlah
- أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ثُمَّ كَفَرْتُمْ بِهِa-ra'aytum in kaana min 'indi llaahi tsumma kafartum bihiapakah kalian memperhatikan, jika ia dari sisi Allah, kemudian kalian kufur terhadapnya
- مَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ هُوَ فِي شِقَاقٍ بَعِيدٍman adhallu mimman huwa fii syiqaaqin ba'iidinsiapakah yang lebih sesat daripada orang yang berada dalam perselisihan yang jauh
Terjemahan per kata (17 kata)
- قُلْqulkatakanlah
- أَرَأَيْتُمْa-ra'aytumapakah kalian memperhatikan
- إِنْinjika
- كَانَkaanaadalah
- مِنْmindari
- عِنْدِ'indisisi
- اللَّهِllaahiAllah
- ثُمَّtsummakemudian
- كَفَرْتُمْkafartumkalian kufur
- بِهِbihipadanya
- مَنْmanorang yang
- أَضَلُّadhallulebih sesat
- مِمَّنْmimmandari orang yang
- هُوَhuwaia
- فِيfiidalam
- شِقَاقٍsyiqaaqinperselisihan
- بَعِيدٍba'iidinyang jauh
Inti bacaan
Rangkaian (فِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ, fii syiqaaqin ba'iidin) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:176, 22:53, dan 41:52.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (قُلْ أَرَأَيْتُمْ, qul a-ra'aytum) yang berarti "katakanlah, apakah kalian memperhatikan". Rangkaian itu muncul di sebelas ayat, yaitu 6:46, 10:50, 10:59, 28:71, 28:72, 35:40, 41:52, 46:4, 46:10, 67:28, dan 67:30. Kata kerja (أَرَأَيْتُمْ, a-ra'aytum) berakar ر-أ-ي, dan terjemahan memakai "apakah kalian memperhatikan" karena yang menyusul adalah pengandaian yang tidak dapat dilihat mata. Di antara sebelas ayat itu, hanya 41:52 dan 46:10 yang melanjutkannya dengan (إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ, in kaana min 'indi llaahi) yang berarti "jika ia dari sisi Allah". Di 46:10 sambungannya (وَكَفَرْتُمْ بِهِ, wa-kafartum bihi) yang berarti "dan kalian kufur terhadapnya", sedangkan 41:52 memakai (ثُمَّ كَفَرْتُمْ بِهِ, tsumma kafartum bihi) yang berarti "kemudian kalian kufur terhadapnya". Susunan dengan tsumma hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 41:52, dan susunan itu menaruh kufur pada urutan sesudah pengandaian.
Subjek kata kerja kaana tidak diberi nama oleh ayat ini, dan kata ganti pada bihi pun tidak. Ayat 41:41 menyebut orang yang kufur (بِالذِّكْرِ, bi-dz-dzikri) yang berarti "terhadap Peringatan", dengan kata kerja kufur dan kata depan bi- yang sama seperti pada (كَفَرْتُمْ بِهِ, kafartum bihi) di ayat ini. Karena itu 41:52 dapat dibaca menunjuk pada hal yang sama dengan 41:41, namun ayat ini membiarkannya tanpa nama, dan terjemahan memakai kata ganti tanpa menambahkan nama.
Bentuk (مَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ, man adhallu mimman) yang berarti "siapakah yang lebih sesat daripada orang yang" muncul di dua ayat, yaitu 41:52 dan 46:5. Kata (أَضَلُّ, adhallu) berakar ض-ل-ل, dan rangkaian man adhallu muncul di empat ayat, yaitu 25:42, 28:50, 41:52, dan 46:5. Di 46:5 pertanyaannya berlanjut (مَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو, man adhallu mimman yad'uu) yang berarti "siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru", dan di 28:50 berlanjut (مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ, mimmani ttaba'a hawaahu) yang berarti "daripada orang yang mengikuti keinginannya". Pertanyaan yang sama diisi tiga gambaran berbeda, dan di 41:52 gambarannya (هُوَ فِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ, huwa fii syiqaaqin ba'iidin).
Bentuk (شِقَاقٍ, syiqaaqin) muncul di lima ayat, yaitu 2:137, 2:176, 22:53, 38:2, dan 41:52, dan bersama (بَعِيدٍ, ba'iidin) yang berarti "yang jauh" di tiga ayat, yaitu 2:176, 22:53, dan 41:52. Terjemahan memakai "perselisihan" di 2:137, 2:176, 22:53, dan 41:52, serta "permusuhan" di 38:2. Pilihan "perselisihan" untuk 41:52 mengikuti 2:176, tempat frasa yang sama berbunyi (اخْتَلَفُوا فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ, khtalafuu fii l-kitaabi la-fii syiqaaqin ba'iidin) yang berarti "berselisih tentang Kitab itu benar-benar dalam perselisihan yang jauh", sehingga kata benda perselisihan tersambung pada kata kerja berselisih di ayat yang sama. Di 22:53 frasa itu dikenakan pada (الظَّالِمِينَ, zh-zhaalimiina) yang berarti "orang-orang zalim". Kata jauh dipasangkan dengan kesesatan di 14:3, 42:18, dan 50:27 dalam (ضَلَالٍ بَعِيدٍ, dhalaalin ba'iidin) yang berarti "kesesatan yang jauh". Di 41:52 kata sesat dan kata jauh berada dalam satu kalimat, tetapi kata jauh menempel pada perselisihan.
Tafsiran
Ayat ini memuat perintah berbicara, sebuah pengandaian, dan sebuah pertanyaan, dan ketiganya tersusun berurutan. Perintah (قُلْ, qul) yang berarti "katakanlah" ditujukan kepada satu orang, sedangkan isi yang diucapkan menyapa banyak orang dengan kata kalian. Pengandaian meletakkan dua hal berurutan, yaitu asal dari sisi Allah, lalu kekufuran terhadapnya. Pertanyaan menutupnya dengan perbandingan tentang siapa yang lebih sesat.
Pembicaraan di dalam ayat ini bergeser dari kalian ke orang ketiga. Pengandaian menyapa kalian, sedangkan pertanyaan membicarakan seseorang yang berada dalam perselisihan yang jauh. Ayat membiarkan terbuka apakah orang ketiga itu sama dengan pihak yang disapa, dan hubungan itu ditarik oleh pendengar.
Ayat 41:45 menyebut kitab Musa yang (فَاخْتُلِفَ فِيهِ, fa-khtulifa fiihi) yang berarti "lalu diperselisihkan", dan 41:52 menyebut orang yang berada dalam perselisihan yang jauh. Kata kerja berselisih di 41:45 berakar خ-ل-ف, sedangkan kata perselisihan di 41:52 berakar ش-ق-ق, sehingga kedua kata berbeda akar dan tidak saling menggantikan. Surah yang sama memuat tema perselisihan itu di dua tempat dengan dua kata.
Ayat 41:53 melanjutkan dengan (حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ, hattaa yatabayyana lahum annahu l-haqqu) yang berarti "sehingga jelaslah bagi mereka bahwa ia adalah kebenaran". Pengandaian di 41:52, jika asalnya dari sisi Allah, bertemu dengan kejelasan di 41:53 bahwa itu kebenaran: yang pertama berandai, dan yang kedua menjanjikan saat pengandaian itu menjadi jelas. Keduanya dapat dibaca sebagai satu rangkaian, tetapi jawaban atas pertanyaannya belum tertulis di 41:52.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 41:52 memakai kata jika, sehingga asal dari sisi Allah masih berstatus pengandaian. Ayat 41:42 menyatakan penurunan dari Yang Penuh Hikmah, Yang Terpuji, tetapi 41:52 memilih bentuk lain, yaitu pengandaian yang meminta pendengar menimbang tanpa lebih dulu setuju. Orang yang sedang menolak sebuah gagasan dapat meniru urutan itu: membayangkan gagasan tersebut benar, lalu melihat apa yang tersisa dari penolakannya. Apa yang tersisa dari penolakannya sendiri bila pengandaian itu diterima untuk sejenak?
- Pengandaian di 41:52 menyapa kalian, tetapi pertanyaannya menyebut seseorang dalam bentuk ketiga, orang yang berada dalam perselisihan yang jauh. Ayat tidak mengisi nama orang itu. Pertanyaan tentang orang ketiga memberi pendengar ruang untuk menjawab tanpa langsung merasa ditunjuk, dan ruang itu dapat dipakai untuk menjawab dengan jujur atau untuk menghindar. Siapa yang pertama terbayang ketika kalimat itu terdengar, dan seberapa jauh jarak yang disebutnya terukur dari diri sendiri?
- Dengan kata tsumma, ayat ini menaruh kufur sesudah pengandaian, sehingga urutannya dapat dibaca begini: kemungkinan bahwa sesuatu berasal dari sisi Allah dipertimbangkan, lalu penolakan dijatuhkan. Di 46:10 sambungannya memakai kata dan tanpa urutan waktu, lalu menambah seorang saksi dari Bani Israil. Penolakan di 41:52 dapat dibaca sebagai tindakan yang terjadi sesudah sebuah kemungkinan sudah ada di hadapan. Kapan dalam hidup seseorang sebuah penolakan datang lebih dulu daripada pertimbangan, dan kapan sesudahnya?
- Ayat 41:52 memakai ukuran jarak, yaitu jauh, untuk sebuah perselisihan, dan ayat tidak menyebut jarak itu dihitung dari mana. Di 2:176 frasa yang sama didahului pernyataan bahwa Allah menurunkan Kitab dengan kebenaran, lalu menyebut orang-orang yang berselisih tentang Kitab itu. Bila Kitab dijadikan titik ukur di 2:176, jarak di 41:52 dapat dibaca dengan titik yang sama, tetapi 41:52 sendiri tidak menuliskannya. Berapa jauh jarak sebuah perselisihan dari titik yang dijadikan ukurannya, dan siapa yang menetapkan titik itu?
- Pertanyaan siapa yang lebih sesat diisi dengan tiga cara di 28:50, 41:52, dan 46:5: orang yang mengikuti keinginannya tanpa petunjuk dari Allah, orang yang berada dalam perselisihan yang jauh, dan orang yang menyeru selain Allah yang tidak menyahutnya. Tiga gambaran itu tidak menunjuk orang yang sama, dan tidak ada ayat yang menyatakan salah satunya sebagai jawaban tunggal. Ketiganya dapat dibaca sebagai tiga cermin, masing-masing menghadap ke arah yang berbeda. Dari ketiga gambaran itu, mana yang paling dikhawatirkan akan menjadi dirinya?
- Pembuka katakanlah, apakah kalian memperhatikan, dipakai di sebelas ayat, sehingga pola bicara ini berulang di Al-Qur'an dan tidak terbatas pada 41:52. Pembukanya sebuah pertanyaan, dan pokok yang diajukan sesudahnya ditaruh sebagai sesuatu untuk diperhatikan lebih dulu. Orang yang biasa membuka perbedaan pendapat dengan pernyataan dapat membandingkan efeknya dengan pembuka yang berupa ajakan memperhatikan. Apakah lawan bicara lebih mudah mendengar sebuah pernyataan atau sebuah ajakan untuk memperhatikan, dan dengan pembuka mana dirinya sendiri biasanya mulai?