عسق

'Ain Siin Qaaf.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عسقayn siin qaaf'Ain Siin Qaaf

Terjemahan per kata (1 kata)

  1. عسقayn siin qaaf'Ain Siin Qaaf

Inti bacaan

Rangkaian (عسق, 'ayn siin qaaf) ditemukan satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 42:2, tepat sesudah 42:1.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari satu kata Arab, (عسق, 'ayn siin qaaf), yaitu nama tiga huruf, (ع, 'ayn), (س, siin), dan (ق, qaaf). Seperti 42:1, tulisannya tidak memakai tanda baris. Terjemahan menuliskan nama ketiga huruf itu apa adanya, 'Ain Siin Qaaf, dengan huruf awal besar dan vokal panjang digandakan. Apostrof di depan Ain menandai huruf ع, sama seperti pada kata (عَلَيْهِمْ, 'alayhim) di 42:6 yang juga dimulai huruf itu. Titik di ujung terjemahan ada karena 42:3 membuka kalimat baru, yaitu (كَذَٰلِكَ, ka-dzaalika) yang berarti "demikianlah".

Rangkaian (عسق, 'ayn siin qaaf) muncul satu kali di seluruh mushaf, yaitu di 42:2. Ketiga hurufnya masing-masing ada di ayat pembuka lain, tetapi tidak dalam susunan ini. Huruf (ع, 'ayn) muncul di dua ayat, yaitu 19:1 dan 42:2. Huruf (ق, qaaf) muncul di dua ayat, yaitu 42:2 dan 50:1. Huruf (س, siin) muncul di lima ayat, yaitu 26:1, 27:1, 28:1, 36:1, dan 42:2. Pembaca yang pernah bertemu Siin dalam Yaa Siin di 36:1 atau Taa Siin Miim di 26:1 dan 28:1 mengenali huruf tengah rangkaian ini, dan pembaca yang mengenal Qaaf dari 50:1 mengenali huruf penutupnya. Terjemahan menuliskan Siin dan Qaaf dengan ejaan yang sama di semua ayat itu.

Dari tiga puluh ayat yang memuat huruf pembuka, 42:2 berada di urutan kedua dalam surahnya, dan semua ayat berhuruf pembuka yang lain adalah ayat pertama. Itu sebabnya ada tiga puluh ayat dan dua puluh sembilan surah yang dibuka dengan huruf. Surah 42 memegang dua ayat berhuruf, yaitu 42:1 dan 42:2, dan kedua ayat itu berurutan tanpa ayat lain di antaranya, sehingga rangkaian huruf di surah ini terbaca tanpa kata biasa di tengahnya.

Panjang pembuka Surah 42 juga dapat dibandingkan. Ayat 19:1 memuat lima huruf dalam satu ayat, yang diterjemahkan Kaaf Haa Yaa Ain Saad. Surah 42 memuat lima huruf pula, dua di 42:1 dan tiga di 42:2, tetapi terbagi dua ayat. Pembuka lain yang paling panjang memuat empat huruf, yaitu Alif Laam Miim Saad di 7:1 dan Alif Laam Miim Raa di 13:1. Selebihnya memuat satu sampai tiga huruf. Pembuka Surah 42 dan pembuka 19:1 adalah dua yang terpanjang, dan hanya Surah 42 yang membaginya menjadi dua ayat.

Data morfologi memperlakukan kata di ayat ini sebagai huruf pembuka surah, tanpa akar dan tanpa bentuk dasar, sehingga padanan Indonesia tidak dapat dipilih dari pemakaian akar yang sama di tempat lain. Ayat ini tidak menerangkan maksud ketiga hurufnya, dan terjemahan tidak menambahkan keterangan seperti "huruf" atau "tanda" di depannya, karena tidak ada kata Arab yang melahirkan tambahan itu.

Tafsiran

Ayat ini menyambung 42:1 menjadi satu pembuka lima huruf yang terbagi dua ayat. Ayat 42:1 mempertahankan pola ketujuh surah yang dibuka dengan (حم, haa miim), yaitu dua huruf sebagai ayat tersendiri, dan 42:2 menambahkan tiga huruf yang tidak dimiliki enam surah tetangganya. Tanpa 42:2, ayat pertama Surah 42 langsung disusul ayat yang berisi kata biasa, seperti di keenam surah lain. Dengan 42:2, kata biasa yang pertama bergeser ke ayat ketiga.

Pembagian lima huruf itu menjadi dua ayat tidak diterangkan teks. Di 19:1 kelima huruf berdiri dalam satu ayat, sehingga pembaca mengucapkannya tanpa batas ayat di tengah. Di Surah 42 ada batas ayat di antara kelompok dua huruf dan kelompok tiga huruf, jadi tiap kelompok berdiri sendiri sebagai ayat.

Surah ini juga tidak memasang sumpah sesudah huruf pembukanya. Enam surah lain memasangnya tepat sesudah huruf, yaitu (وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ, wa-l-qur'aani l-hakiimi) di 36:2, (وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ, wa-l-qur'aani dzii dz-dzikri) di 38:1, (وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ, wa-l-kitaabi l-mubiini) di 43:2 dan 44:2, (وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ, wa-l-qur'aani l-majiidi) di 50:1, dan (وَالْقَلَمِ, wa-l-qalami) di 68:1. Semuanya dibuka huruf wa yang di tempat itu diterjemahkan "demi". Sesudah 42:2 datang (كَذَٰلِكَ يُوحِي, ka-dzaalika yuuhii) yang berarti "demikianlah mewahyukan". Susunan huruf lalu sumpah tidak dipakai di sini, dan susunan huruf lalu pewahyuan dipakai sebagai gantinya.

Bunyi penutup ayat-ayat pertama surah ini ikut membentuk kesatuannya. Ayat 42:1 berakhir pada bunyi miim, 42:3 pada (الْحَكِيمُ, l-hakiimu), 42:4 pada (الْعَظِيمُ, l-'azhiimu), dan 42:5 pada (الرَّحِيمُ, r-rahiimu), jadi empat dari enam ayat pertama berakhir dengan bunyi -iim. Ayat 42:2 yang berakhir pada qaaf memutus runtun itu, dan 42:6 yang berakhir pada (بِوَكِيلٍ, bi-wakiilin) berpindah ke bunyi -iil. Bunyi itu dicatat sebagai pola, dan teks tidak menyatakan bahwa pola itu bermaksud sesuatu.

Renungan dan Hikmah

  • Lima huruf Surah 42 terbagi dua ayat, dua lalu tiga, sedangkan lima huruf di 19:1 berdiri dalam satu ayat. Pembaca yang melafalkan Surah 42 berhenti di antara kelompok pertama dan kelompok kedua, dan jeda itu menjadi bagian dari apa yang dibacanya. Teks tidak menyatakan sebab pembagian itu. Pembaca dapat memperhatikan apa yang terjadi pada dirinya di jeda tersebut, apakah pembaca menanti lanjutan atau menganggap bagian pertama sudah selesai. Berapa banyak sebuah jeda membentuk cara pembaca mendengar bunyi yang artinya tidak diberikan kepadanya?
  • Ketiga huruf ayat ini sudah pernah dijumpai pembaca di tempat lain, huruf pertama di 19:1, huruf tengah di 36:1, dan huruf terakhir di 50:1, tetapi susunan ketiganya hanya ada di 42:2. Pembaca mengenali tiap bagian dan tidak mengenali keseluruhannya. Keadaannya seperti bertemu tiga orang yang masing-masing pernah dijumpai di acara berbeda, dan baru kali ini ketiganya hadir bersama. Pembaca dapat bertanya apakah pengenalan atas bagian-bagian itu cukup untuk merasa mengenal keseluruhannya, atau apakah pengenalan separuh itu menahan pembaca dari bertanya lebih jauh.
  • Nama Allah baru tertulis sebagai kata kesepuluh Surah 42, sesudah satu kata di 42:1, satu kata di 42:2, dan tujuh kata pertama di 42:3. Sampai nama itu tiba, pembaca sudah mendengar sembilan kata yang tidak menyebut siapa pun yang berbicara. Di ayat yang sama nama itu datang bersama dua sifat-Nya, Sang Digdaya dan Sang Penuh Hikmah, dan Allah diperkenalkan sebagai yang mewahyukan. Pembaca yang menunggu sebuah pelaku dalam bacaan dapat memperhatikan bagaimana rasa menunggu itu berubah ketika nama akhirnya muncul. Apakah nama itu terdengar lebih berbobot karena didahului sembilan kata tanpa pemilik?
  • Ayat 42:2 berisi tiga huruf, dan ayat sesudahnya berbunyi demikianlah Allah mewahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu. Dua hal yang berdekatan mudah dibaca sebagai saling menerangkan, padahal teks tidak menulis bahwa kata demikianlah menunjuk ke huruf-huruf itu. Hubungan yang dirasakan pembaca di sini datang dari letak kedua ayat yang berurutan. Pembaca dapat menimbang apa yang dikerjakan pembaca dengan dua hal yang kebetulan berdampingan dalam hidupnya, apakah keduanya disambungkan sebelum ada yang menyambungkan. Seberapa sering sebuah sambungan terasa seperti bagian dari bacaan padahal pembaca sendiri yang menariknya?
  • Pembaca yang melafalkan enam ayat pertama Surah 42 mendengar bunyi -iim pada 42:1, putus pada 42:2 yang berakhir qaaf, lalu kembali pada 42:3, 42:4, dan 42:5, sebelum berpindah ke -iil pada 42:6. Pembaca yang melafalkan ayat-ayat itu mendengar runtun bunyi lebih dulu daripada mengurai kalimatnya. Bunyi yang sama pada penutup tiga ayat berurutan menyertai sifat-sifat yang disebut di ujungnya, yaitu Penuh Hikmah, Agung, dan Pengasih. Apa yang dikerjakan pendengaran pembaca ketika sebuah pola putus lalu pulih, dan apakah keterputusan itu membuat pola sesudahnya lebih terasa?
  • Surah yang dibuka tiga huruf tanpa penjelasan ini berakhir di 42:53 dengan kalimat penuh yang menyatakan bahwa kepada Allah segala urusan kembali. Pembaca yang menempuh seluruh surah bergerak dari bunyi yang artinya tidak diberikan ke pernyataan yang artinya jelas tentang ke mana semua urusan menuju. Antara keduanya terbentang lima puluh ayat, dan sebagian di antaranya menyebut pewahyuan lagi, di 42:7, 42:13, 42:51, dan 42:52. Pembaca yang sampai di ujung dapat bertanya apakah ada yang tertangkap dari awal surah dan baru terasa setelah ayat terakhir terbaca, dan apa yang terbawa dari bunyi pembuka ke kalimat penutup?