كَذَٰلِكَ يُوحِي إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Demikianlah Allah Sang Digdaya, Sang Penuh Hikmah mewahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. كَذَٰلِكَ يُوحِي إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَka-dzaalika yuuhii ilayka wa-ilaa lladziina min qablikademikianlah Dia mewahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu
  2. اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُallaahu l-'aziizu l-hakiimuAllah Sang Digdaya, Sang Penuh Hikmah

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
  2. يُوحِيyuuhiimewahyukan
  3. إِلَيْكَilaykakepadamu
  4. وَإِلَىwa-ilaadan kepada
  5. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  6. مِنْmindari
  7. قَبْلِكَqablikasebelummu
  8. اللَّهُallaahuAllah
  9. الْعَزِيزُl-'aziizuSang Digdaya
  10. الْحَكِيمُl-hakiimuSang Penuh Hikmah

Inti bacaan

Susunan (إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ, ilayka wa-ilaa lladziina min qablika) ditemukan dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 39:65 dan 42:3.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (كَذَٰلِكَ, ka-dzaalika) yang berarti "demikianlah". Kata itu tersusun dari ka yang berarti "seperti" dan dzaalika yang berarti "itu", dan ayat ini tidak menyebut apa yang ditunjuknya. Kata yang sama tertulis tiga kali di Surah 42, yaitu di 42:3, 42:7, dan 42:52. Di 42:7 dan 42:52 bunyinya (وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ, wa-ka-dzaalika awhaynaa ilayka) yang berarti "dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu", dan di kedua ayat itu benda yang diwahyukan langsung disebut, yaitu (قُرْآنًا عَرَبِيًّا, qur'aanan 'arabiyyan) yang berarti "bacaan berbahasa Arab" di 42:7 dan (رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا, ruuhan min amrinaa) yang berarti "ruh dari urusan Kami" di 42:52. Di 42:3 tidak ada benda yang disebut. Ayat ini menyebut cara, penerima, dan pelakunya, sehingga terjemahan tidak menambahkan apa pun sebagai isi wahyu.

Kata kerja (يُوحِي, yuuhii) berakar و-ح-ي dan terjemahan memakai "mewahyukan". Bentuk dengan awalan yu- ini muncul lima kali di empat surah, yaitu di 6:112, 8:12, 34:50, 42:3, dan 42:51, dan pelakunya berbeda-beda. Di 6:112, (يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ, yuuhii ba'dhuhum ilaa ba'dhin) berarti "sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain", dan pelakunya setan-setan dari kalangan manusia dan jin, sehingga terjemahan memakai "membisikkan". Di 8:12, (إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلَائِكَةِ, idz yuuhii rabbuka ilaa l-malaa'ikati) berarti "ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat", dan di 34:50, (فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي, fa-bi-maa yuuhii ilayya rabbii) berarti "maka dengan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku". Di dua ayat itu pelakunya disebut dengan sapaan Tuhan, dan di 42:3 pelakunya nama Allah sendiri. Di 42:51, (فَيُوحِيَ, fa-yuuhiya) memakai akhiran lain, dan pelakunya utusan yang diutus Allah. Akar و-ح-ي muncul enam kali di Surah 42, di lima ayat, yaitu 42:3, 42:7, 42:13, 42:51 dua kali, dan 42:52.

Rangkaian (إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ, ilayka wa-ilaa lladziina min qablika) yang berarti "kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu" muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 39:65 dan 42:3. Di 39:65 rangkaian itu mengikuti kata kerja bentuk pasif, (وَلَقَدْ أُوحِيَ, wa-la-qad uuhiya) yang berarti "dan sungguh telah diwahyukan", lalu disusul isi wahyu berupa kalimat bersyarat tentang menyekutukan. Di 42:3 kata kerjanya aktif, pelakunya disebut, dan isinya tidak ada. Terjemahan membiarkan "orang-orang sebelummu" tanpa nama, sebagaimana tertulis.

Nama (اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, allaahu l-'aziizu l-hakiimu) berarti "Allah, Sang Digdaya, Sang Penuh Hikmah". Pasangan sifat (الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, l-'aziizu l-hakiimu) dengan akhiran -u muncul dua puluh empat kali di dua puluh surah, yaitu di 2:129, 3:6, 3:18, 3:62, 5:118, 14:4, 16:60, 27:9, 29:26, 29:42, 30:27, 31:9, 34:27, 35:2, 40:8, 42:3, 45:37, 57:1, 59:1, 59:24, 60:5, 61:1, 62:3, dan 64:18, dengan beberapa surah memuatnya lebih dari sekali. Rangkaian yang didahului langsung nama (اللَّهُ, allaahu) berjumlah tiga, yaitu 27:9, 34:27, dan 42:3. Di 27:9 kalimatnya "Aku adalah Allah, Sang Digdaya, Sang Penuh Hikmah", dan di 34:27 "Dialah Allah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah". Akar ع-ز-ز diterjemahkan "digdaya", dan terjemahan memberi "Sang" pada tiap sifat yang bertakrif, sama dengan 27:9 dan 34:27.

Tafsiran

Ayat ini adalah pernyataan pertama Surah 42 sesudah dua ayat huruf, dan susunannya berurutan, yaitu cara, penerima, lalu pelaku. Kata demikianlah tidak diikuti benda yang diwahyukan, kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu tidak diberi nama, dan nama pelaku datang paling akhir bersama dua sifat-Nya. Pembaca yang mengikuti urutan itu mengetahui bahwa pewahyuan terjadi dan kepada siapa, sebelum mengetahui siapa yang mewahyukan.

Surah ini mengulang pola ayat ini di 42:52. Ayat 42:52 berbunyi (وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا, wa-ka-dzaalika awhaynaa ilayka ruuhan min amrinaa) yang berarti "dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh dari urusan Kami". Kedua ayat itu memakai kata demikianlah dan kata kepadamu, tetapi pelakunya berbeda penyebutannya. Di 42:3 pelakunya nama Allah, dan di 42:52 pelakunya Kami. Di antara kedua ayat itu, 42:7 mengulang pola yang sama dengan menyebut bacaan berbahasa Arab, dan 42:13 menyebut (وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ, wa-lladzii awhaynaa ilayka) yang berarti "dan yang telah Kami wahyukan kepadamu".

Ayat 42:13 juga memberi nama kepada pihak yang di 42:3 disebut orang-orang sebelummu, atau setidaknya kepada sebagian mereka. Di sana tertulis (مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا, maa washshaa bihi nuuhan) yang berarti "apa yang Dia wasiatkan kepada Nuh", lalu (وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ, wa-maa washshaynaa bihi ibraahiima wa-muusaa wa-'iisaa) yang berarti "dan apa yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa". Dapat dibaca bahwa daftar ini mengisi sebagian rongga di 42:3, tetapi pembacaan itu tidak dinyatakan 42:3, yang tidak memuat satu nama pun.

Dibandingkan dengan 39:65, ayat ini tidak memuat peringatan. Rangkaian penerima yang sama di 39:65 membuka kalimat bersyarat tentang menyekutukan, sedangkan di 42:3 rangkaian itu berhenti pada nama pelaku dan dua sifat-Nya. Ayat 42:3 tidak memuat perintah atau peringatan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut penerima wahyu dalam dua rangkaian, kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu, dan tidak menyebut yang pertama sebagai penerima tunggal. Siapa pun yang membaca ayat ini mendapati bahwa pewahyuan digambarkan sebagai sesuatu yang sudah berjalan sebelum penerima yang disapa. Ayat 39:65 memakai rangkaian penerima yang sama, tetapi dengan isi berupa peringatan, sehingga kesamaan penerima tidak berarti kesamaan isi. Pembaca dapat bertanya bagaimana sebuah pesan dipandang ketika diberi tahu bahwa pesan itu bukan yang pertama sampai kepada penerimanya, dan apa yang tetap terasa baru di dalamnya bagi pembaca itu sendiri.
  • Dalam teks Arab, pembaca mendengar cara dan penerima lebih dulu, lalu nama Allah di kata kedelapan dari sepuluh kata. Pelaku wahyu tertulis paling akhir, sesudah semua yang menerimanya. Selama tujuh kata pertama pembaca mendengar apa yang terjadi dan kepada siapa, dan baru di akhir mendengar siapa yang melakukannya. Ayat 8:12 dan 34:50 memakai kata kerja yang sama dengan pelaku Tuhan yang disebut tepat sesudahnya. Orang yang terbiasa menanyakan siapa pembicaranya sebelum mendengarkan isi dapat memperhatikan apa yang terjadi bila jawabannya baru datang di ujung kalimat.
  • Nama Allah di ayat ini langsung diikuti Sang Digdaya dan Sang Penuh Hikmah. Di 27:9 kedua sifat itu diucapkan oleh Allah sendiri kepada Musa, dan di 34:27 kedua sifat itu menjawab permintaan agar sekutu-sekutu diperlihatkan. Di tiga tempat itu kedua sifat menyertai pelaku, dan konteksnya berbeda, yaitu pewahyuan, perkenalan diri, dan penolakan sekutu. Ayat-ayat itu tidak saling menafsirkan, tetapi pembaca dapat mencatat bahwa pasangan itu dipakai ketika Allah dikenali. Pembaca yang menerima sebuah pesan dapat menimbang sifat apa yang dibayangkan pada pengirimnya, dan apakah dua sifat ini, digdaya dan penuh hikmah, ikut membentuk cara pesan itu didengarkan?
  • Orang-orang sebelummu di ayat ini tidak punya nama satu pun, sedangkan 42:13 menyebut Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa dalam kalimat tentang apa yang diwasiatkan Allah. Pembaca yang membaca 42:3 pertama kali menyimpan sebuah kelompok tanpa wajah, lalu menemui beberapa nama sepuluh ayat kemudian. Kalimat yang menyebut kelompok sebelum menyebut anggotanya meminta pembaca menunggu. Orang yang membaca keduanya dapat memperhatikan apa yang berubah pada kelompok tanpa wajah itu begitu nama-nama muncul. Apakah rasa menunggu sepuluh ayat itu membuat nama-nama di 42:13 terdengar lebih jelas?
  • Ayat ini memakai kata demikianlah tanpa menyebut benda yang diwahyukan. Di 42:7 benda itu bacaan berbahasa Arab, dan di 42:52 ruh dari urusan Kami. Pembaca mendengar caranya lebih dulu, lalu isinya di ayat lain yang ditempatkan jauh di belakang. Kata demikianlah di 42:3 menunjuk ke suatu cara yang belum diperlihatkan, dan pembaca membawanya sepanjang empat ayat sebelum 42:7 mengisi satu bagiannya. Pembaca yang sedang menunggu penjelasan dapat menimbang cara menangani sebuah petunjuk yang menunjuk ke sesuatu yang belum ada. Apakah isinya ditebak, atau pembaca menahan diri sampai teks sendiri yang mengisi?
  • Kata kerja yang di 42:3 dilakukan oleh Allah dipakai juga di 6:112 untuk setan-setan dari kalangan manusia dan jin yang saling membisikkan perkataan yang dihias, sehingga satu kata kerja menampung dua jenis pelaku. Isi dan pelakunya sangat berbeda, dan ayat-ayat itu tidak menyamakan keduanya. Pembaca yang menemukan satu kata dipakai untuk dua pihak dapat mulai dengan bertanya siapa pelakunya sebelum menilai isi, dan di 42:3 pelaku itu disebut dengan jelas, bersama dua sifat-Nya. Kebiasaan menanyakan pelaku lebih dulu dapat diuji pada pesan apa pun yang sampai kepada pembaca. Pada pesan terakhir yang diterimanya, sudahkah pembaca lebih dulu mengetahui siapa pengirimnya sebelum menimbang isinya?