لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dialah Sang Tinggi, Sang Agung.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِlahu maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhimilik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi
- وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُwa-huwa l-'aliyyu l-'azhiimudan Dialah Sang Tinggi, Sang Agung
Terjemahan per kata (10 kata)
- لَهُlahubaginya
- مَاmaaapa yang
- فِيfiidi
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَمَاwa-maadan apa yang
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- وَهُوَwa-huwadan Dia
- الْعَلِيُّl-'aliyyuMahatinggi
- الْعَظِيمُl-'azhiimuMahaagung
Inti bacaan
Susunan (الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ, l-'aliyyu l-'azhiimu) tertulis dua kali di Al-Qur'an, di 2:255 dan 42:4.
Penjelasan pilihan kata
Kata pertama ayat ini, (لَهُ, lahu), terdiri dari huruf li yang menandai pemilik dan akhiran -hu yang berarti "-Nya". Akhiran itu menunjuk kembali ke nama yang tertulis di ujung 42:3, yaitu (اللَّهُ, allaahu), karena ayat ini sendiri tidak mengulang nama. Terjemahan menuliskan "Milik-Nyalah" dan mempertahankan urutan teks, yang menaruh pemiliknya lebih dulu daripada apa yang dimiliki.
Rangkaian (لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ, lahu maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhi) yang berarti "milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi" muncul sembilan kali di delapan surah, yaitu di 2:255, 4:171, 10:68, 14:2, 20:6, 22:64, 34:1, 42:4, dan 42:53. Dua dari sembilan kemunculan itu berada di Surah 42, yaitu di ayat ini dan di ayat terakhir surah. Di 20:6 rangkaian itu diteruskan dengan dua wilayah lagi, (وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَىٰ, wa-maa baynahumaa wa-maa tahta ts-tsaraa) yang berarti "dan apa yang di antara keduanya dan apa yang di bawah tanah", sedangkan di 42:4 rangkaian itu berhenti pada langit dan bumi. Kata maa yang berarti "apa yang" diulang sebelum langit dan sebelum bumi, sehingga tiap wilayah disebut sendiri.
Kata penghubung yang sama diganti di ayat berikutnya. Di 42:5 bumi disebut dengan man, yaitu (لِمَنْ فِي الْأَرْضِ, li-man fii l-ardhi) yang berarti "untuk orang yang ada di bumi", dan terjemahan menulis "orang yang" untuk man di sana dan "apa yang" untuk maa di 42:4. Kedua kata itu tidak ditukar, karena teks memakai satu di tiap tempat.
Kata (الْعَلِيُّ, l-'aliyyu) berakar ع-ل-و dan diterjemahkan "Sang Tinggi", sedangkan (الْعَظِيمُ, l-'azhiimu) berakar ع-ظ-م dan diterjemahkan "Sang Agung". Pasangan (الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ, l-'aliyyu l-'azhiimu) tertulis dua kali di seluruh mushaf, yaitu di 2:255 dan 42:4. Di 2:255 pasangan itu menutup ayat Kursi, sesudah kalimat (وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ, wasi'a kursiyyuhu s-samaawaati wa-l-ardha) yang berarti "Kursi-Nya meliputi langit dan bumi". Rangkaian lahu maa fii s-samaawaati juga ada di 2:255, tetapi di sana rangkaian itu terpisah dari pasangan itu oleh dua puluh sembilan kata, sedangkan di 42:4 keduanya berurutan dalam satu ayat pendek.
Sifat Sang Tinggi juga berpasangan dengan sifat lain. Pasangan (الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ, l-'aliyyu l-kabiiru) tertulis tiga kali, yaitu di 22:62, 31:30, dan 34:23, dan terjemahan memakai "Sang Tinggi lagi Sang Besar" di sana. Akar ك-ب-ر dan ع-ظ-م adalah dua akar yang berbeda, dan terjemahan memakai "besar" untuk yang pertama serta "agung" untuk yang kedua, sehingga pasangan di 42:4 tidak terbaca sama dengan pasangan di tiga ayat itu.
Tafsiran
Ayat ini menyambung nama yang menutup 42:3 dengan pernyataan kepemilikan. Sesudah ayat itu menyebut Allah sebagai yang mewahyukan, 42:4 mulai dengan kata ganti yang menunjuk kepada-Nya, lalu menyebut apa yang menjadi milik-Nya dan dua sifat-Nya. Pembaca bergerak dari tindakan mewahyukan ke kedudukan pelakunya, tanpa kata penghubung di antara keduanya.
Susunan ini kembali di ujung surah. Ayat 42:52 mengulang pola 42:3, (وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا, wa-ka-dzaalika awhaynaa ilayka ruuhan min amrinaa), lalu 42:53 mengulang rumus kepemilikan itu, (صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ, shiraathi llaahi lladzii lahu maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhi) yang berarti "jalan Allah yang milik-Nyalah apa yang di langit dan apa yang di bumi". Ayat 42:53 menutup surah dengan (أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الْأُمُورُ, alaa ilaa llaahi tashiiru l-umuuru) yang berarti "ketahuilah, kepada Allahlah segala urusan kembali". Awal dan akhir surah ini karena itu sama-sama memasangkan pewahyuan dengan kepemilikan. Di awal kepemilikan itu diikuti dua sifat, Sang Tinggi dan Sang Agung, dan di akhir diikuti kembalinya segala urusan.
Ayat 42:4 juga menyiapkan 42:5. Kata (السَّمَاوَاتِ, s-samaawaati) di 42:4 menyebut langit sebagai bagian dari apa yang dimiliki, dan di 42:5 (السَّمَاوَاتُ, s-samaawaatu) menjadi pelaku sebuah kejadian, yaitu hampir pecah. Bumi di 42:4 disebut sebagai tempat apa yang dimiliki, dan di 42:5 sebagai tempat orang-orang yang dimohonkan ampunan. Pergeseran itu mengubah langit dan bumi dari bagian daftar kepemilikan menjadi tempat peristiwa, tanpa ayat 42:4 menyebut peristiwa apa pun.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 42:4 dibuka dengan kata ganti dan tidak mengulang nama, sehingga pembaca harus membawa nama Allah dari ujung 42:3 ke dalam ayat ini. Kepemilikan atas apa yang di langit dan di bumi dinyatakan lewat ingatan pembaca tentang siapa yang baru disebut. Pembaca yang terbiasa menunggu nama disebut ulang sebelum percaya pada sebuah pernyataan dapat memperhatikan bagaimana rasanya menerima pernyataan itu tanpa pengulangan. Bila ingatan tentang nama itu goyah, apa yang tersisa dari kalimat yang hanya berisi kata ganti dan dua wilayah?
- Kalimat tentang milik di langit dan di bumi dipakai dua kali oleh Surah 42, di awal pada 42:4 dan di akhir pada 42:53. Pembaca yang sampai di 42:53 mendengar ulang kalimat yang sudah dikenalnya dari awal, kali ini sebagai keterangan tentang jalan Allah, dan tidak lagi sebagai pernyataan berdiri sendiri. Pendengaran kedua mengubah pendengaran pertama menjadi sesuatu yang kini bisa dibandingkan. Kalau sebuah kalimat kembali dengan kedudukan baru, apakah pembaca masih menganggap kalimat itu sama dengan yang dulu?
- Ayat ini menyebut langit dan bumi satu per satu, masing-masing didahului kata apa yang. Rumus yang sama di 20:6 menambahkan dua wilayah lagi, yaitu apa yang di antara keduanya dan apa yang di bawah tanah, sehingga empat wilayah disebut. Daftar yang lebih pendek di 42:4 tidak diberi catatan apa pun tentang kelengkapannya dibandingkan daftar di 20:6. Pembaca yang menghitung wilayah dalam ayat dapat bertanya apa yang berubah pada pernyataan tentang milik Allah bila daftarnya dipendekkan atau dipanjangkan, dan siapa yang sebenarnya membutuhkan daftar yang lebih panjang.
- Sifat Sang Tinggi dan Sang Agung datang sesudah pernyataan tentang milik, dan tidak sebelumnya. Pembaca lebih dulu mendengar apa yang dimiliki Allah, baru bagaimana Dia digambarkan. Di 2:255 pasangan yang sama datang sesudah kalimat tentang Kursi-Nya yang meliputi langit dan bumi, sehingga di dua tempat itu sifat tinggi dan agung mengikuti gambaran luasnya milik Allah. Ayat-ayat itu tidak saling menafsirkan. Pembaca dapat memperhatikan apakah kata tinggi dan agung terasa berbeda karena didengar sesudah daftar milik.
- Bumi yang disebut di 42:4 adalah tempat pembaca berdiri saat membaca, dan ayat ini tidak merinci apa saja yang ada di dalamnya. Ayat 42:5 kemudian menyebut orang yang ada di bumi, memakai kata yang berbeda dari kata di 42:4. Pembaca berada di tempat yang dinyatakan milik Allah, tetapi ayat ini diam tentang rasa kepemilikan itu bagi yang ada di dalamnya. Pembaca dapat bertanya bagaimana pembaca menempatkan dirinya antara apa yang ada di bumi dan orang yang ada di bumi, dua sebutan di dua ayat yang berurutan.
- Pembaca yang pernah mendengar 2:255 mengenali kedua bagian ayat ini, yaitu milik apa yang di langit dan di bumi, lalu Sang Tinggi, Sang Agung. Di 2:255 keduanya terpisah dua puluh sembilan kata, dan di 42:4 keduanya bersebelahan dalam sepuluh kata. Pengenalan itu membuat ayat ini terdengar seperti ringkasan sesuatu yang sudah dikenal, padahal 42:4 tidak menyebut apa yang dirangkumnya. Pembaca dapat menimbang apakah rasa mendengar ringkasan itu datang dari ayatnya atau dari ingatan sendiri tentang ayat lain. Apa yang hilang dan apa yang tersisa ketika dua bagian yang dulu berjauhan dipertemukan dalam satu napas?