تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّ ۚ وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ ۗ أَلَا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya, dan malaikat-malaikat bertasbih dengan memuji Tuhan mereka serta memohonkan ampunan untuk orang yang ada di bumi. Ketahuilah, sesungguhnya Allah, Dialah Sang Pengampun, Sang Pengasih.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْ فَوْقِهِنَّtakaadu s-samaawaatu yatafaththarna min fawqihinnahampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya
- وَالْمَلَائِكَةُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِwa-l-malaa'ikatu yusabbihuuna bi-hamdi rabbihim wa-yastaghfiruuna li-man fii l-ardhidan malaikat-malaikat bertasbih dengan memuji Tuhan mereka serta memohonkan ampunan untuk orang yang ada di bumi
- أَلَا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُalaa inna llaaha huwa l-ghafuuru r-rahiimuketahuilah, sesungguhnya Allah, Dialah Sang Pengampun, Sang Pengasih
Terjemahan per kata (19 kata)
- تَكَادُtakaaduhampir
- السَّمَاوَاتُs-samaawaatulangit
- يَتَفَطَّرْنَyatafaththarnamereka hampir pecah
- مِنْmindari
- فَوْقِهِنَّfawqihinnaatas mereka
- وَالْمَلَائِكَةُwa-l-malaa'ikatudan para malaikat
- يُسَبِّحُونَyusabbihuunamereka bertasbih
- بِحَمْدِbi-hamdidengan memuji
- رَبِّهِمْrabbihimTuhan mereka
- وَيَسْتَغْفِرُونَwa-yastaghfiruunadan mereka memohon ampun
- لِمَنْli-manbagi orang yang
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- أَلَاalaaketahuilah
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- هُوَhuwaDialah
- الْغَفُورُl-ghafuuruMaha Pengampun
- الرَّحِيمُr-rahiimuSang Pengasih
Inti bacaan
Kalimat lengkap (أَلَا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ, alaa inna llaaha huwa l-ghafuuru r-rahiimu) hanya ada satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 42:5.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ, takaadu s-samaawaatu yatafaththarna) yang berarti "hampir saja langit itu pecah". Kata (تَكَادُ, takaadu) berakar ك-و-د dan berarti "hampir", dan bentuk persis ini tertulis tiga kali, yaitu di 19:90, 42:5, dan 67:8. Di 19:90 dan 42:5 pelakunya langit, dan rangkaian tiga kata pembukanya sama persis, yaitu (تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ, takaadu s-samaawaatu yatafaththarna). Di 67:8 pelakunya bukan langit dan kejadiannya lain. Perbedaan antara 19:90 dan 42:5 ada pada kata sesudahnya. Di 19:90 tertulis (مِنْهُ, minhu) yang berarti "karenanya", disusul bumi yang terbelah dan gunung-gunung yang runtuh, sedangkan di 42:5 tertulis (مِنْ فَوْقِهِنَّ, min fawqihinna) yang berarti "dari sebelah atasnya", dan hanya langit yang disebut. Di 19:90 kata itu menunjuk kembali ke ucapan di 19:88 tentang Ar-Rahman yang mengangkat anak, sedangkan 42:5 tidak memuat penunjuk semacam itu, sehingga terjemahan 42:5 tidak menambahkan kata seperti "karena keagungan-Nya".
Kata (يَتَفَطَّرْنَ, yatafaththarna) berakar ف-ط-ر dan diterjemahkan "pecah". Bentuk dengan pola ini hanya tertulis di 19:90 dan 42:5. Akar ف-ط-ر tertulis dua puluh kali di sembilan belas ayat, dan Surah 42 memuatnya dua kali, yaitu di 42:5 dan di 42:11. Di 42:11 bunyinya (فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, faathiru s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "Pencipta langit dan bumi", dan di 82:1 bunyinya (إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ, idzaa s-samaa'u nfatharat) yang berarti "apabila langit terbelah". Dua bentuk terakhir tidak sama dengan yang di ayat ini, dan terjemahan menyesuaikan kata Indonesianya dengan bentuk kata yang tertulis di tiap tempat. Kata (فَوْقِهِنَّ, fawqihinna) memuat akhiran -hinna yang menunjuk kepada langit-langit, dan rangkaian (مِنْ فَوْقِهِنَّ, min fawqihinna) hanya ada di ayat ini. Teks tidak menyebut apa yang ada di atas langit.
Bagian kedua ayat ini memuat (يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ, yusabbihuuna bi-hamdi rabbihim) yang berarti "bertasbih dengan memuji Tuhan mereka". Rangkaian ini tertulis tiga kali, yaitu di 39:75, 40:7, dan 42:5, dan di ketiganya pelakunya malaikat. Sesudahnya di 42:5 tertulis (وَيَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ, wa-yastaghfiruuna li-man fii l-ardhi) yang berarti "serta memohonkan ampunan untuk orang yang ada di bumi". Kata kerja (يَسْتَغْفِرُونَ, yastaghfiruuna) tertulis empat kali, yaitu di 8:33, 40:7, 42:5, dan 51:18, dan malaikat menjadi pelakunya hanya di 40:7 dan 42:5. Di 40:7 yang dimohonkan adalah (لِلَّذِينَ آمَنُوا, li-lladziina aamanuu) yang berarti "untuk orang-orang yang beriman", sedangkan di 42:5 yang dimohonkan disebut menurut tempatnya, tanpa syarat keimanan. Rangkaian (لِمَنْ فِي الْأَرْضِ, li-man fii l-ardhi) hanya tertulis di ayat ini.
Bagian ketiga adalah (أَلَا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ, alaa inna llaaha huwa l-ghafuuru r-rahiimu) yang berarti "ketahuilah, sesungguhnya Allah, Dialah Sang Pengampun, Sang Pengasih". Kalimat selengkap ini hanya ada di 42:5. Bagian (هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ, huwa l-ghafuuru r-rahiimu) tertulis enam kali, yaitu di 10:107, 12:98, 28:16, 39:53, 42:5, dan 46:8. Di empat dari keenam ayat itu, kata kerja dari akar غ-ف-ر sudah ada lebih dulu dalam ayat yang sama, yaitu (أَسْتَغْفِرُ, astaghfiru) di 12:98, (فَاغْفِرْ, fa-ghfir) di 28:16, (يَغْفِرُ, yaghfiru) di 39:53, dan (يَسْتَغْفِرُونَ, yastaghfiruuna) di 42:5. Kata (أَلَا, alaa) yang berarti "ketahuilah" tertulis empat kali di Surah 42, yaitu di 42:5, 42:18, 42:45, dan 42:53. Terjemahan menuliskan Sang Pengampun, Sang Pengasih dengan "Sang" pada tiap sifat yang bertakrif.
Tafsiran
Ayat ini menyusun tiga hal yang berdampingan, yaitu langit yang hampir pecah, malaikat yang bertasbih dan memohonkan ampunan, serta nama Allah dengan dua sifat pengampunan. Ketiganya disambung dengan huruf wa yang berarti "dan", dan teks tidak menulis kata sebab di antaranya. Langit yang hampir pecah tidak dinyatakan sebagai alasan malaikat bertasbih, dan tasbih tidak dinyatakan sebagai alasan langit bertahan. Pembaca menerima ketiga gambar itu dalam satu tarikan ayat.
Ayat ini juga menggeser langit dan bumi dari kedudukan yang mereka punya di 42:4. Di sana langit dan bumi adalah bagian dari apa yang dimiliki, dan di sini langit menjadi pelaku sebuah kejadian. Bumi yang di 42:4 disebut sebagai tempat apa yang dimiliki menjadi tempat orang-orang yang dimohonkan ampunan.
Ayat ini lalu ditutup dengan kata ketahuilah, yang dipakai empat kali di Surah 42. Di 42:5 kata itu disusul pernyataan tentang pengampunan Allah. Di 42:18 kata itu disusul pernyataan bahwa (الَّذِينَ يُمَارُونَ فِي السَّاعَةِ, lladziina yumaaruuna fii s-saa'ati) yang berarti "orang-orang yang membantah tentang hari kiamat" berada dalam kesesatan yang jauh. Di 42:45 kata itu disusul pernyataan tentang orang-orang zalim dan azab yang kekal, dan di 42:53 kata itu disusul kalimat penutup surah tentang kembalinya segala urusan kepada Allah. Dari keempat ayat itu, pengampunan dinyatakan di 42:5 dan tidak di tiga ayat lainnya.
Perbandingan dengan 40:7 memperlihatkan arah ayat ini. Di 40:7 malaikat yang memikul Arasy dan yang berada di sekelilingnya bertasbih, beriman, dan memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman. Di 42:5 pekerjaan malaikat sama, tetapi yang dimohonkan ampunan diperlebar menjadi orang yang ada di bumi. Kedua ayat itu berada di dua surah dari deretan yang dibuka dengan huruf yang sama, dan tidak saling menafsirkan, sehingga perbedaan penerima dicatat sebagai perbedaan tulisan dan tidak dijelaskan lebih lanjut.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menaruh langit yang hampir pecah dan malaikat yang bertasbih dalam satu kalimat, dan tidak menulis bahwa tasbih berhenti karena langit hampir pecah. Kejadian yang menggetarkan dan pekerjaan yang tenang disebut berdampingan, masing-masing tetap berlangsung. Pembaca dapat memperhatikan bagaimana keadaan ketika keduanya hadir sekaligus dalam hidupnya disikapi, bahaya di satu sisi dan pekerjaan rutin di sisi lain. Kalau langit digambarkan nyaris pecah sementara malaikat bertasbih memuji Tuhan mereka, apa yang sebenarnya dipegang oleh pembaca saat keadaannya sendiri terasa nyaris pecah?
- Di 40:7 malaikat memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman, dan di 42:5 untuk orang yang ada di bumi, tanpa syarat apa pun yang tertulis. Pembaca yang berada di bumi termasuk dalam sebutan itu, dan ayat ini tidak menanyakan lebih dulu apakah pembaca pantas. Kepada siapa permohonan itu ditujukan tidak tertulis, tetapi ayat ditutup dengan nama Allah sebagai Sang Pengampun, Sang Pengasih. Pembaca yang terbiasa menimbang dirinya layak atau tidak layak dapat memperhatikan perasaannya ketika sebuah kalimat menyebut dirinya dengan tempat berdirinya saja. Apakah sebutan sesederhana itu terasa melegakan atau membuka pertanyaan baru?
- Kalimat ini dimulai dari langit, lalu bergerak ke malaikat dan sampai pada orang yang ada di bumi. Pembaca yang mengikuti kalimat itu sampai pada tempat ia berdiri. Ayat 42:4 menyebut Allah Sang Tinggi dan Sang Agung, lalu 42:5 membawa perhatian ke orang-orang di bumi. Pembaca dapat memperhatikan bagian kalimat yang terasa paling dekat dengan dirinya, dan apa yang terjadi pada rasa dekat itu ketika sebutan tentang bumi tiba.
- Kata ketahuilah dipakai empat kali di Surah 42, dan di 42:5 kata itu mendahului pernyataan tentang pengampunan. Di 42:18 dan 42:45 kata yang sama mendahului pernyataan tentang kesesatan dan azab. Pembaca yang membaca keempat tempat itu berturut-turut mendapati bahwa satu kata pembuka bisa mengantar ke arah yang berbeda. Sebuah seruan untuk memperhatikan belum menunjukkan apakah isinya menenangkan atau mengancam, dan pembaca baru tahu setelah kalimat selesai. Apakah pembaca mendengarkan sampai habis kalimat yang dibuka dengan seruan, atau sudah bersiap pada salah satu kemungkinan sejak kata pertama?
- Dalam empat dari enam ayat yang memuat kalimat Dialah Sang Pengampun, Sang Pengasih, kalimat itu didahului kata kerja tentang mengampuni atau memohon ampun. Di 42:5 pendahulunya permohonan malaikat. Di 12:98 pendahulunya janji Ya'qub untuk memohonkan ampunan bagi lawan bicaranya kepada Tuhannya, dan di 28:16 pendahulunya doa orang yang menzalimi dirinya, lalu Dia mengampuninya. Pembaca menemukan bahwa pernyataan tentang Allah sebagai Sang Pengampun sering datang sesudah sesuatu yang diminta atau dikerjakan. Ayat-ayat itu berbeda konteksnya dan tidak saling menafsirkan. Apa yang berubah pada cara pembaca memahami sebuah sifat bila sifat itu tertulis sesudah sebuah permintaan?
- Ayat 19:90 menulis langit hampir pecah bersama bumi yang terbelah dan gunung yang runtuh, sedangkan 42:5 menulis langit saja, lalu pindah ke orang yang ada di bumi. Pembaca yang mengenal 19:90 melihat bahwa 42:5 tidak melanjutkan gambaran kehancuran ke bumi, dan arahnya berbalik menuju permohonan ampunan bagi penghuni bumi. Ayat 42:5 tidak mengatakan mengapa gambarannya berhenti di langit. Orang yang mengingat gambaran yang lebih lengkap dapat memperhatikan apa yang terasa kurang atau cukup dalam gambaran yang lebih pendek. Apakah gambar yang lebih ringkas meninggalkan ruang untuk sesuatu yang lain, dan apa yang mengisi ruang itu bagi pembaca?