وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَهُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ ۚ وَالظَّالِمُونَ مَا لَهُمْ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan mereka umat yang satu. Akan tetapi, Dia memasukkan orang yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Adapun orang-orang zalim, mereka tidak memiliki pelindung dan tidak pula penolong.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَهُمْ أُمَّةً وَاحِدَةًwa-law syaa'a llaahu la-ja'alahum ummatan waahidatanseandainya Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjadikan mereka umat yang satu
  2. وَلَٰكِنْ يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِwa-laakin yudkhilu man yasyaa'u fii rahmatihitetapi Dia memasukkan orang yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya
  3. وَالظَّالِمُونَ مَا لَهُمْ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍwa-zh-zhaalimuuna maa lahum min waliyyin wa-laa nashiirindan orang-orang zalim, mereka tidak memiliki pelindung dan tidak pula penolong

Terjemahan per kata (19 kata)

  1. وَلَوْwa-lawdan sekiranya
  2. شَاءَsyaa'amenghendaki
  3. اللَّهُllaahuAllah
  4. لَجَعَلَهُمْla-ja'alahumsungguh Dia akan menjadikan mereka
  5. أُمَّةًummatanumat
  6. وَاحِدَةًwaahidatansatu
  7. وَلَٰكِنْwa-laakintetapi
  8. يُدْخِلُyudkhilumemasukkan
  9. مَنْmanorang yang
  10. يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
  11. فِيfiike dalam
  12. رَحْمَتِهِrahmatihirahmat-Nya
  13. وَالظَّالِمُونَwa-zh-zhaalimuunadan orang-orang zalim
  14. مَاmaatidaklah
  15. لَهُمْlahumbagi mereka
  16. مِنْmindari
  17. وَلِيٍّwaliyyinpelindung
  18. وَلَاwa-laadan tidak pula
  19. نَصِيرٍnashiirinpenolong

Inti bacaan

Susunan (مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ, min waliyyin wa-laa nashiirin) muncul tujuh kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:107, 2:120, 9:74, 9:116, 29:22, 42:8, dan 42:31.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ, wa-law syaa'a llaahu) yang berarti "seandainya Allah menghendaki". Kata (لَوْ, law) yang berarti "seandainya" menandai pengandaian yang tidak terjadi, dan (شَاءَ, syaa'a) berakar ش-ي-أ dan menandai perbuatan yang sudah selesai di dalam pengandaian itu. Bagian yang menyusul dibuka dengan huruf la, yaitu (لَجَعَلَهُمْ, la-ja'alahum) yang berarti "niscaya Dia menjadikan mereka", dari akar ج-ع-ل yang berarti "menjadikan" dengan -hum yang berarti "mereka". Rangkaian (لَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَ, law syaa'a llaahu la-ja'ala) muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 5:48, 16:93, dan 42:8. Di 11:118 rangkaian yang sama memakai pelaku lain, (وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ, wa-law syaa'a rabbuka) yang berarti "dan seandainya Tuhanmu menghendaki". Di keempat ayat itu yang dijadikan adalah umat yang satu, dengan objek "kalian" di 5:48 dan 16:93, "manusia" di 11:118, dan "mereka" di 42:8.

Kelanjutan sesudah pengandaian itu berbeda di tiap ayat. Di 5:48 kelanjutannya (لِيَبْلُوَكُمْ, li-yabluwakum) yang berarti "agar Dia menguji kalian". Di 16:93 kelanjutannya (يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ, yudhillu man yasyaa'u wa-yahdii man yasyaa'u) yang berarti "menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki". Di 11:118 kelanjutannya (وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ, wa-laa yazaaluuna mukhtalifiina) yang berarti "tetapi mereka senantiasa berselisih". Di 42:8 kelanjutannya (وَلَٰكِنْ يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ, wa-laakin yudkhilu man yasyaa'u fii rahmatihi) yang berarti "akan tetapi, Dia memasukkan orang yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya".

Kata (أُمَّةً, ummatan) yang berarti "umat" berakar أ-م-م, akar yang sama dengan (أُمَّ, umma) yang berarti "ibu" di 42:7. Pasangan (أُمَّةً وَاحِدَةً, ummatan waahidatan) muncul sembilan kali di sembilan surah, yaitu 2:213, 5:48, 10:19, 11:118, 16:93, 21:92, 23:52, 42:8, dan 43:33. Di 5:48, 11:118, 16:93, dan 42:8 pasangan itu berada dalam pengandaian dengan law. Di 43:33 pasangan itu berada dalam pengandaian lain, (وَلَوْلَا أَنْ يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً, wa-lawlaa an yakuuna n-naasu ummatan waahidatan) yang berarti "andai tidak ada kemungkinan manusia menjadi satu umat". Di 2:213, (كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً, kaana n-naasu ummatan waahidatan) yang berarti "manusia itu adalah umat yang satu", dan di 10:19, (وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلَّا أُمَّةً وَاحِدَةً, wa-maa kaana n-naasu illaa ummatan waahidatan) yang berarti "dan tidaklah manusia itu kecuali umat yang satu", pasangan yang sama menyatakan keadaan yang pernah ada, karena kata kerja kaana menandai perbuatan yang sudah selesai. Di 21:92 dan 23:52, (إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً, inna haadzihi ummatukum ummatan waahidatan) yang berarti "sesungguhnya ini umat kalian, umat yang satu", pasangan itu dinyatakan sebagai keadaan yang sedang dibicarakan. Satu pasangan kata dipakai untuk tiga hal yang berlainan, yaitu yang diandaikan, yang pernah ada, dan yang dinyatakan berlaku.

Frasa (يُدْخِلُ مَنْ يَشَاءُ فِي رَحْمَتِهِ, yudkhilu man yasyaa'u fii rahmatihi) yang berarti "Dia memasukkan orang yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya" muncul dua kali, yaitu di 42:8 dan 76:31. Bagian (فِي رَحْمَتِهِ, fii rahmatihi) muncul lima kali di lima surah, yaitu 9:99, 42:8, 45:30, 48:25, dan 76:31, dan di kelimanya pelakunya adalah Allah, yang disebut dengan nama Allah, dengan kata Tuhan mereka, atau dengan kata ganti Dia. Di 9:99 dan 45:30 yang dimasukkan disebut ciri-cirinya. Di 45:30 bunyinya (فَيُدْخِلُهُمْ رَبُّهُمْ فِي رَحْمَتِهِ, fa-yudkhiluhum rabbuhum fii rahmatihi) yang berarti "Tuhan mereka akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya", setelah menyebut orang yang beriman dan beramal saleh. Di 48:25 bunyinya (لِيُدْخِلَ اللَّهُ فِي رَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ, li-yudkhila llaahu fii rahmatihi man yasyaa'u) yang berarti "karena Allah hendak memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya", dan di 42:8 serta 76:31 yang dimasukkan disebut dengan man yasyaa'u. Di 76:31 bagian berikutnya menyebut orang-orang zalim yang disediakan azab pedih, sedangkan di 42:8 bagian berikutnya menyebut orang-orang zalim yang tidak memiliki pelindung dan penolong.

Kata (الظَّالِمُونَ, azh-zhaalimuuna) yang berarti "orang-orang zalim" berakar ظ-ل-م, dan di 42:8 kata itu membuka kalimat baru dengan wa. Susunan (مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ, min waliyyin wa-laa nashiirin) yang berarti "pelindung dan penolong" muncul tujuh kali di empat surah, yaitu 2:107, 2:120, 9:74, 9:116, 29:22, 42:8, dan 42:31. Terjemahan memakai "pelindung" untuk (وَلِيٍّ, waliyyin) dari akar و-ل-ي, dan "penolong" untuk (نَصِيرٍ, nashiirin) dari akar ن-ص-ر, serta "dan tidak pula penolong" untuk (وَلَا نَصِيرٍ, wa-laa nashiirin) seperti di 9:116. Dari tujuh ayat itu, lima memakai kata ganti "kalian" atau "engkau", yaitu 2:107, 2:120, 9:116, 29:22, dan 42:31, sedangkan dua memakai kata ganti "mereka", yaitu 9:74 dan 42:8, dan di 42:8 pemilik kata ganti itu disebut orang-orang zalim.

Tafsiran

Ayat ini menaruh pembelahan dua golongan di 42:7 di dalam kehendak Allah: seandainya Dia menghendaki, manusia dijadikan umat yang satu, dan kenyataannya Dia memasukkan orang yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Pengandaian yang sama dipakai di 5:48, 11:118, dan 16:93, tetapi tiap ayat membawa pengandaian itu ke arah yang berlainan. Ayat 5:48 membawanya ke ujian atas pemberian, 16:93 membawanya ke petunjuk dan kesesatan, 11:118 membawanya ke perselisihan, dan 42:8 membawanya ke rahmat. Konteks keempat ayat itu berbeda, sehingga masing-masing dibaca di tempatnya sendiri dan tidak saling menggantikan.

Kalimat terakhir ayat ini mengganti pokok pembicaraan. Sesudah rahmat disebut, orang-orang zalim muncul sebagai pokok baru, dan mereka digambarkan tanpa pelindung dan tanpa penolong. Pasangan kata itu diulang di 42:31, tetapi di sana ditujukan kepada "kalian" dan dihubungkan dengan "selain Allah". Akar و-ل-ي yang membentuk kata pelindung di 42:8 muncul lagi di ayat sesudahnya, 42:9, dalam dua bentuk, yaitu awliyaa'a "para pelindung" yang diambil orang selain Dia dan al-waliyyu "Sang Pelindung" yang disandangkan kepada Allah. Ayat 42:8 berakhir pada ketiadaan pelindung, dan 42:9 menyebut siapa Sang Pelindung.

Ayat ini menyebut kehendak Allah dua kali dengan bentuk berbeda. Bentuk pertama (شَاءَ, syaa'a) berada dalam pengandaian yang tidak terjadi, dan bentuk kedua (يَشَاءُ, yasyaa'u) berada dalam pernyataan tentang yang berlangsung. Di 45:30 dan 9:99 yang dimasukkan ke dalam rahmat disebut dengan ciri-cirinya, sedangkan di 42:8 disebut dengan kehendak. Dua cara menyebut itu sama-sama ada di Al-Qur'an, dan ayat ini tidak menjelaskan hubungan di antara keduanya.

Renungan dan Hikmah

  • Perbedaan antarmanusia disebut di sini sebagai sesuatu yang bisa saja ditiadakan oleh Allah dan tidak ditiadakan-Nya. Pembaca yang terganggu oleh orang yang berpikir lain dari dirinya, di rumah, di kantor, atau di antara kerabat, bertemu dengan ayat yang menaruh keadaan itu di bawah kehendak Allah. Ayat ini tidak menilai tiap perbedaan sebagai baik. Ayat ini mencatat bahwa keseragaman tidak termasuk apa yang dikehendaki-Nya bagi manusia. Kalau Dia sendiri tidak menyeragamkan, apa yang berubah pada cara pembaca memperlakukan orang yang tidak sepaham dengannya?
  • Kata seandainya dalam ayat ini milik Allah, dan jawabannya adalah umat yang satu. Pembaca punya seandainya sendiri, misalnya seandainya semua orang sependapat atau seandainya orang-orang di sekitarnya berubah. Ayat ini menaruh pengandaian semacam itu pada pihak yang sanggup mewujudkannya, lalu mencatat bahwa pengandaian itu tidak diwujudkan. Pengandaian milik pembaca tidak disebut di ayat ini. Pengandaian mana yang selama ini dipegang pembaca seakan-akan miliknya untuk diwujudkan, dan siapa yang ia anggap menghalanginya?
  • Dia memasukkan orang yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya. Kata kerjanya adalah memasukkan, sedangkan kata memberikan atau menghadiahkan tidak dipakai. Rahmat digambarkan sebagai ruang yang bisa dimasuki, dan 45:30 memakai gambar yang sama untuk orang yang beriman dan beramal saleh. Pembaca yang membayangkan rahmat sebagai benda yang diterima akan membaca ayat ini berbeda dari pembaca yang membayangkannya sebagai tempat yang dimasuki. Seperti apa sebuah ruang yang pintunya dibukakan oleh Dia sendiri, dan apa yang pembaca bawa masuk bersamanya?
  • Orang-orang zalim di ayat ini digambarkan tanpa pelindung dan tanpa penolong, dua kekosongan yang disebut berurutan. Ayat sesudahnya, 42:9, membicarakan orang yang mengambil pelindung selain Dia, dan tidak menyebut bahwa mereka adalah orang-orang zalim yang dimaksud di sini. Pembaca dapat mencatat siapa saja yang ia sebut pelindung dalam urusannya sendiri, lalu menanyakan siapa di antara mereka yang berkuasa menolong pada hari yang di 42:7 disebut tanpa keraguan. Berapa nama yang masih tersisa dalam daftar itu ketika pertanyaannya dibawa sejauh itu?
  • Perbedaan dan nasib orang zalim disebut dalam satu ayat, dan masing-masing memiliki kalimatnya sendiri. Kalimat pertama dan kedua membicarakan kehendak Allah atas umat dan rahmat, kalimat ketiga membicarakan orang zalim. Ayat ini dapat dibaca sebagai pemisahan dua urusan: Allah tidak menyeragamkan manusia, dan dibiarkannya manusia berbeda tidak sama dengan dibiarkannya semua perbuatan tanpa akibat. Pembaca yang menarik kesimpulan dari kalimat pertama saja akan kehilangan kalimat ketiga. Apa yang terjadi pada sebuah kesimpulan tentang menerima perbedaan ketika kalimat penutup ayatnya ikut dibaca?
  • Kehendak disebut dua kali di ayat ini dengan bentuk berbeda: yang pertama berupa pengandaian, yang kedua berupa pekerjaan yang berlangsung, yaitu Dia memasukkan. Pembaca yang menunggu keadaan lain dari yang ada sedang berdiri di sisi pengandaian, sedangkan ayat ini mencatat yang berlangsung di sisi pekerjaan. Ayat 76:31 memuat kalimat yang hampir sama dan menyebut azab pedih bagi orang zalim, sedangkan 42:8 menyebut ketiadaan pelindung dan penolong, dan keduanya dibaca terpisah karena konteksnya berlainan. Dalam hidup pembaca, bagian mana yang masih berada di sisi seandainya padahal sudah lama berada di sisi pekerjaan?