وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
Dan apa pun yang kalian perselisihkan, putusannya kepada Allah. Itu Allah, Tuhanku; kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya aku kembali.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِwa-maa khtalaftum fiihi min syay'in fa-hukmuhu ilaa llaahidan apa pun yang kalian perselisihkan, putusannya kepada Allah
- ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبِّيdzaalikumu llaahu rabbiiitu Allah, Tuhanku
- عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ'alayhi tawakkaltu wa-ilayhi uniibukepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya aku kembali
Terjemahan per kata (15 kata)
- وَمَاwa-maadan apa yang
- اخْتَلَفْتُمْkhtalaftumkalian berselisih
- فِيهِfiihidi dalamnya
- مِنْmindari
- شَيْءٍsyay'insesuatu
- فَحُكْمُهُfa-hukmuhumaka putusannya
- إِلَىilaakepada
- اللَّهِllaahiAllah
- ذَٰلِكُمُdzaalikumudemikian itu
- اللَّهُllaahuAllah
- رَبِّيrabbiiTuhanku
- عَلَيْهِ'alayhiatasnya
- تَوَكَّلْتُtawakkaltuaku bertawakal
- وَإِلَيْهِwa-ilayhidan kepada-Nya
- أُنِيبُuniibuaku kembali
Inti bacaan
Rangkaian (عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ, 'alayhi tawakkaltu wa-ilayhi uniibu) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 11:88 dan 42:10.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ, wa-maa khtalaftum fiihi min syay'in) yang berarti "dan apa pun yang kalian perselisihkan". Kata kerja (اخْتَلَفْتُمْ, khtalaftum) berakar خ-ل-ف dan ditujukan kepada "kalian". Bentuk persis ini muncul dua kali, yaitu di 8:42 dan 42:10. Di 8:42 bunyinya (لَاخْتَلَفْتُمْ فِي الْمِيعَادِ, la-khtalaftum fii l-mii'aadi) yang berarti "niscaya kalian akan berselisih tentang waktu yang telah ditentukan", dan perselisihan itu berada dalam pengandaian. Di 42:10 perselisihan itu dinyatakan sebagai kenyataan tentang "apa pun", karena (مِنْ شَيْءٍ, min syay'in) tidak membatasi pokoknya. Rangkaian fiihi min syay'in dalam bentuk persis ini hanya ada di 42:10.
Bagian berikutnya adalah (فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ, fa-hukmuhu ilaa llaahi) yang berarti "putusannya kepada Allah". Kata (حُكْمُهُ, hukmuhu) tersusun dari hukmu yang berarti "putusan", dari akar ح-ك-م, dan -hu yang berarti "-nya". Awalan fa yang berarti "maka" tidak diberi kata sendiri dalam terjemahan, dan hubungan itu dibawa oleh koma antara kedua bagian kalimat. Bentuk hukmuhu hanya muncul di 42:10, sedangkan (الْحُكْمُ, al-hukmu) dengan kata sandang muncul tujuh kali di empat surah, yaitu 6:57, 6:62, 12:40, 12:67, 28:70, 28:88, dan 40:12, dan terjemahan memakai "putusan" di semuanya. Di tujuh ayat itu putusan dinyatakan milik Allah dengan huruf li, misalnya (لَهُ الْحُكْمُ, lahu l-hukmu) di 28:88 yang berarti "bagi-Nya segala putusan". Di 42:10 putusan diberi arah dengan (إِلَى, ilaa) yang berarti "kepada", sehingga yang dinyatakan adalah arah perkara itu.
Ayat 4:59 juga menyebut perselisihan dan memakai ilaa llaahi, tetapi bentuknya berbeda. Bunyinya (فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ, fa-rudduuhu ilaa llaahi wa-r-rasuuli) yang berarti "kembalikanlah kepada Allah dan Rasul", berupa perintah kepada pihak yang berselisih dan menyebut dua tujuan. Di 42:10 kalimatnya berupa pernyataan tentang putusan dan menyebut satu tujuan. Perbedaan bentuk itu dijaga: 4:59 dibaca sebagai perintah dan 42:10 sebagai pernyataan.
Kalimat berikutnya adalah (ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبِّي, dzaalikumu llaahu rabbii) yang berarti "itu Allah, Tuhanku". Kata (ذَٰلِكُمُ, dzaalikumu) tersusun dari dzaalika "itu" dan -kum "kalian", sedangkan (رَبِّي, rabbii) berakar ر-ب-ب dan berarti "Tuhanku". Rangkaian (ذَٰلِكُمُ اللَّهُ, dzaalikumu llaahu) muncul sembilan kali di enam surah, yaitu 6:95, 6:102, 10:3, 10:32, 35:13, 39:6, 40:62, 40:64, dan 42:10, dan terjemahan memakai kata penunjuk jauh di kesembilannya, dengan penegas -lah di enam ayat pertama dan tanpa -lah di 40:62, 40:64, dan 42:10. Di tujuh ayat, yaitu 6:102, 10:3, 10:32, 35:13, 39:6, 40:62, dan 40:64, kelanjutannya (رَبُّكُمْ, rabbukum) yang berarti "Tuhan kalian". Di 6:95 kelanjutannya pertanyaan, (فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ, fa-annaa tu'fakuuna) yang berarti "maka bagaimana kalian dapat dipalingkan?". Di 42:10 kelanjutannya rabbii, sehingga kata untuk "kalian" dan kata untuk "aku" bertemu dalam tiga kata yang berurutan.
Penutup ayat adalah (عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ, 'alayhi tawakkaltu wa-ilayhi uniibu) yang berarti "kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya aku kembali". Rangkaian ini muncul dua kali, yaitu di 11:88 dan 42:10. Bagian pertamanya, (عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ, 'alayhi tawakkaltu), muncul lima kali di lima surah, yaitu 9:129, 11:88, 12:67, 13:30, dan 42:10. Kata kerja (تَوَكَّلْتُ, tawakkaltu) berakar و-ك-ل, akar yang sama dengan (بِوَكِيلٍ, bi-wakiilin) yang berarti "wakil" di 42:6, dan menandai perbuatan yang sudah selesai. Kata (أُنِيبُ, uniibu) berakar ن-و-ب, menandai perbuatan yang sedang berlangsung, dan muncul dua kali, yaitu di 11:88 dan 42:10. Akar yang sama muncul lagi di 42:13, (مَنْ يُنِيبُ, man yuniibu) yang berarti "orang yang kembali". Di 13:30, pernyataan yang hampir sama berakhir dengan (وَإِلَيْهِ مَتَابِ, wa-ilayhi mataabi) yang berarti "dan kepada-Nya tempat kembaliku", yaitu memakai kata benda sebagai ganti kata kerja.
Pembicara kalimat orang pertama ini tidak diberi penanda di ayat ini sendiri. Di 9:129 ucapan itu didahului (فَقُلْ, fa-qul) yang berarti "maka katakanlah", di 11:88 oleh (قَالَ, qaala) yang berarti "dia berkata", di 12:67 oleh (وَقَالَ, wa-qaala), dan di 13:30 oleh (قُلْ, qul). Di 42:10 tidak ada kata semacam itu di dalam ayat, dan penjelasan ini tidak mengisi kekosongan tersebut.
Tafsiran
Ayat ini memindahkan pembicaraan dari "kalian" ke "aku" di tengah satu kalimat. Bagian pertama menyapa orang banyak tentang perselisihan mereka dan menyatakan ke mana putusannya pergi, lalu bagian kedua menyebut Allah sebagai Tuhanku dan mengucapkan dua sikap pribadi, bertawakal dan kembali. Perpindahan itu terjadi tepat di kata dzaalikumu rabbii, yang memuat kata ganti kalian dan kata ganti aku dalam tiga kata berurutan. Dengan susunan itu perselisihan orang banyak dan sikap satu orang disatukan oleh satu nama, Allah.
Di antara ayat-ayat sekitarnya ayat ini berfungsi sebagai penghubung. Ayat 42:9 menyebut Allah sebagai Sang Pelindung dan ayat 42:10 menyebut-Nya Tuhanku, dua sebutan untuk satu pihak yang sama. Ayat 42:11 melanjutkan dengan (فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, faathiru s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "Pencipta langit dan bumi" tanpa pelaku baru, sehingga Tuhanku di 42:10 terus berlanjut sebagai pokok kalimat. Bagian yang dibuka dengan perselisihan di 42:10 karena itu merupakan satu mata rantai dalam deretan sebutan Allah dari 42:9 sampai 42:12.
Ayat 42:10 menyatakan arah putusan tanpa memerintahkan siapa pun melakukan sesuatu. Ayat 4:59 memerintahkan pengembalian perselisihan dan menyebut Rasul bersama Allah, sedangkan ayat ini menyatakan bahwa putusan berada pada Allah, tanpa kata kerja perintah. Ayat 42:15 sesudahnya memuat perintah (وَقُلْ آمَنْتُ, wa-qul aamantu) yang berarti "dan katakanlah, aku beriman", sehingga ucapan orang pertama muncul di surah ini tanpa penanda pembicara di 42:10 dan dengan perintah mengucapkannya di 42:15. Ayat 42:10 sendiri tidak menjelaskan siapa yang mengucapkan kalimat "aku".
Renungan dan Hikmah
- Perselisihan disebut sebagai kenyataan, dengan kata apa pun yang kalian perselisihkan, dan ayat ini tidak melarang orang berbeda. Yang diatur adalah ke mana perkara itu pergi sesudah dipertengkarkan, yaitu kepada Allah. Pembaca yang sedang terlibat dalam satu perselisihan, di keluarga, di tempat kerja, atau di antara tetangga, berada di bagian pertama kalimat. Perkara mana dalam hidup pembaca yang sudah dipertengkarkan lama tetapi belum pernah ditaruh sebagai perkara yang putusannya milik Allah?
- Putusan dalam ayat ini diberi arah kepada Allah, sehingga pihak-pihak yang berselisih tidak memegangnya. Perdebatan yang dimenangkan satu pihak tetap berada di bawah putusan itu, dan perdebatan yang dikalahkan satu pihak juga. Pembaca dapat memperhatikan perubahan nada bila kedua pihak mengakui bahwa putusan akhir tidak berada di tangan keduanya. Apa yang berubah dari cara pembaca berbicara bila pendapatnya sendiri diperlakukan sebagai pendapat dan tidak sebagai putusan?
- Ayat ini berpindah dari kalian ke aku di tengah kalimat, dan sikap pribadi yang diucapkannya tidak berbentuk saran kepada orang lain. Kalimat aku bertawakal dan aku kembali menyatakan keadaan satu orang, tanpa menyuruh pendengarnya. Pembaca yang biasa menutup perselisihan dengan nasihat kepada lawan bicaranya melihat di sini penutup yang berbeda, yaitu pernyataan tentang diri sendiri kepada Tuhan. Dalam perselisihan terakhir yang pembaca alami, kalimat apa tentang dirinya sendiri yang bisa diucapkannya kepada Tuhan, dan apakah kalimat itu bisa diucapkan sependek dua kalimat penutup ayat ini?
- Dua kata kerja penutup ayat ini memakai bentuk waktu yang berbeda: aku telah bertawakal menandai perbuatan yang sudah selesai, dan aku kembali menandai perbuatan yang terus berlangsung. Bersandar kepada Allah diucapkan sebagai sesuatu yang sudah dikerjakan, sedangkan kembali diucapkan sebagai sesuatu yang masih diulang. Pembaca dapat memeriksa urutan itu pada dirinya sendiri: dalam urusan yang sedang dihadapi, apa yang sudah diserahkan dan apa yang masih dibawa pulang berkali-kali kepada-Nya? Dari dua itu, mana yang lebih sering pembaca ucapkan?
- Ayat ini tidak menyebut siapa yang mengucapkan kalimat aku, sedangkan ayat-ayat lain yang memuat ucapan serupa menyebut pembicaranya di dalam ayat yang sama. Pembaca yang membaca ayat ini dengan suaranya sendiri mengucapkan kalimat orang pertama itu atas namanya sendiri kepada Tuhan, entah siap atau belum. Apakah pembaca sanggup mengucapkan kedua kalimat penutup itu tanpa mengubah satu kata pun, dan kata mana yang terasa paling berat di lidahnya?
- Ayat 4:59 memerintahkan pengembalian perselisihan kepada Allah dan Rasul, sedangkan ayat ini menyatakan bahwa putusan atas apa pun yang diperselisihkan ada pada Allah. Dua ayat itu berbicara tentang perselisihan dengan bentuk yang berlainan, yang satu sebagai perintah dan yang lain sebagai pernyataan. Pembaca yang mengutip salah satunya sebagai dalil membawa serta seluruh bentuknya, termasuk siapa yang disebut dan siapa yang tidak. Kalau pembaca membaca keduanya berdampingan, apa yang terdapat pada tiap ayat dan tidak terdapat pada ayat yang lain?