لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Milik-Nyalah kunci-kunci langit dan bumi. Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia berilmu akan segala sesuatu.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِlahu maqaaliidu s-samaawaati wa-l-ardhimilik-Nyalah kunci-kunci langit dan bumi
- يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُyabsuthu r-rizqa li-man yasyaa'u wa-yaqdiruDia melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya
- إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌinnahu bi-kulli syay'in 'aliimunsesungguhnya Dia berilmu akan segala sesuatu
Terjemahan per kata (13 kata)
- لَهُlahubaginya
- مَقَالِيدُmaqaaliidukunci-kunci
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
- يَبْسُطُyabsuthumelapangkan
- الرِّزْقَr-rizqarezeki
- لِمَنْli-manbagi siapa yang
- يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
- وَيَقْدِرُwa-yaqdirudan Dia menyempitkan
- إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
- بِكُلِّbi-kullipada segala
- شَيْءٍsyay'insesuatu
- عَلِيمٌ'aliimunberilmu
Inti bacaan
Rangkaian (لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, lahu maqaaliidu s-samaawaati wa-l-ardhi) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 39:63 dan 42:12.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, lahu maqaaliidu s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "milik-Nyalah kunci-kunci langit dan bumi". Kata (لَهُ, lahu) tersusun dari huruf li yang berarti "milik" dan -hu yang berarti "-Nya", sedangkan (مَقَالِيدُ, maqaaliidu) berakar ق-ل-د dan berbentuk jamak. Rangkaian lengkap lahu maqaaliidu s-samaawaati wa-l-ardhi muncul dua kali, yaitu di 39:63 dan 42:12, dan kata maqaaliidu sendiri hanya muncul di dua ayat itu. Karena tidak ada kemunculan lain, artinya tidak dapat dibandingkan dengan pemakaian lain di korpus. Terjemahan memakai "kunci-kunci" di kedua ayat itu dan tidak memakai "perbendaharaan". Kata "perbendaharaan" sudah dipakai untuk kata lain, yaitu (خَزَائِنُ, khazaa'inu) di 63:7, (وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, wa-li-llaahi khazaa'inu s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "dan milik Allahlah perbendaharaan langit dan bumi". Kalimat itu sejajar dengan lahu maqaaliidu s-samaawaati wa-l-ardhi, dengan kata yang berbeda di tempat yang sama, sehingga memakai "perbendaharaan" untuk maqaaliidu akan menyamarkan perbedaan itu.
Bagian berikutnya adalah (يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ, yabsuthu r-rizqa li-man yasyaa'u wa-yaqdiru) yang berarti "Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya". Kata kerja (يَبْسُطُ, yabsuthu) berakar ب-س-ط dan berarti "melapangkan", kata (الرِّزْقَ, r-rizqa) berakar ر-ز-ق dan berarti "rezeki", dan (وَيَقْدِرُ, wa-yaqdiru) berakar ق-د-ر dan berarti "menyempitkan". Rangkaian yabsuthu r-rizqa li-man yasyaa'u wa-yaqdiru muncul sembilan kali di delapan surah dengan tiga bentuk. Enam kali tanpa tambahan, yaitu 13:26, 17:30, 30:37, 34:36, 39:52, dan 42:12. Satu kali dengan tambahan (مِنْ عِبَادِهِ, min 'ibaadihi) yang berarti "di antara hamba-hamba-Nya", yaitu 28:82. Dua kali dengan tambahan yang sama dan juga (وَيَقْدِرُ لَهُ, wa-yaqdiru lahu) yang berarti "dan menyempitkan baginya", yaitu 29:62 dan 34:39. Surah 34 memuat rangkaian itu dua kali.
Kata kerja (يَقْدِرُ, yaqdiru) dalam bentuk tunggal ini muncul sebelas kali di sembilan surah, yaitu 13:26, 16:75, 16:76, 17:30, 28:82, 29:62, 30:37, 34:36, 34:39, 39:52, dan 42:12, dengan dua arti yang dibedakan oleh pasangannya. Bila kata kerja itu menyertai yabsuthu r-rizqa, seperti di 42:12 dan delapan ayat lain di atas, artinya "menyempitkan". Bila kata kerja itu diikuti (عَلَىٰ شَيْءٍ, 'alaa syay'in) yang berarti "atas sesuatu", seperti (لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَيْءٍ, laa yaqdiru 'alaa syay'in) di 16:75 dan 16:76, artinya "berdaya", yaitu tidak berdaya atas sesuatu pun. Ayat 42:12 termasuk golongan pertama, karena kata itu ada tepat sesudah yabsuthu r-rizqa dan tidak diikuti 'alaa syay'in. Kata kerja yaqdiru tidak memuat objek tertulis di 42:12, dan bahasa Indonesia memerlukan objek untuk "menyempitkan". Objeknya diambil dari r-rizqa di bagian sebelumnya, sehingga terjemahan "menyempitkannya", seperti di 17:30, 28:82, 30:37, 34:36, dan 39:52.
Penutup ayat adalah (إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ, innahu bi-kulli syay'in 'aliimun) yang berarti "sesungguhnya Dia berilmu akan segala sesuatu". Kata (عَلِيمٌ, 'aliimun) berakar ع-ل-م dan diterjemahkan "berilmu". Dari sembilan ayat yang memuat pasangan melapangkan dan menyempitkan, penutupnya beragam. Ayat 29:62 menutup dengan (إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ, inna llaaha bi-kulli syay'in 'aliimun) yang berarti "sesungguhnya Allah berilmu akan segala sesuatu", sama dengan 42:12 kecuali pelakunya disebut dengan nama. Ayat 17:30 menutup dengan (خَبِيرًا بَصِيرًا, khabiiran bashiiran) yang berarti "waskita lagi melihat", dan 34:36 menutup dengan (وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ, wa-laakinna aktsara n-naasi laa ya'lamuuna) yang berarti "akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui". Ayat 30:37 dan 39:52 menutup dengan tanda-tanda bagi kaum yang beriman.
Tafsiran
Ayat ini menutup deretan sebutan yang dimulai di 42:9, yaitu Sang Pelindung, Tuhanku, Pencipta langit dan bumi, lalu pemilik kunci-kunci langit dan bumi. Sebutan terakhir itu membawa pembicaraan dari penciptaan ke kepemilikan, dan dari kepemilikan ke pembagian rezeki. Pembagian itu memakai rumus kehendak yang sama dengan pembagian rahmat di 42:8, yaitu man yasyaa'u, sehingga dua ayat itu menyebut dua hal yang dibagikan, rahmat dan rezeki, dengan satu rumus kehendak. Ayat 42:13 menyusul dengan rumus serupa untuk pilihan: Allah memilih kepada-Nya orang yang Dia kehendaki.
Ayat ini menyebut pembagian dan menutup dengan ilmu. Kalimat terakhir menaruh pengetahuan atas segala sesuatu sesudah pembagian, dan ayat tidak menjelaskan hubungan ilmu itu dengan lapang atau sempit. Alasan lapang dan sempit baru disebut sebagian di 42:27: seandainya Dia melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, mereka akan melampaui batas di bumi, dan Dia menurunkan rezeki (بِقَدَرٍ, bi-qadarin) yang berarti "dengan ukuran". Kata ukuran di sana berakar sama dengan kata menyempitkan di 42:12, sehingga kedua ayat itu memakai akar yang sama untuk pengukuran. Keduanya ditutup dengan sifat yang menyangkut pengetahuan, yaitu berilmu akan segala sesuatu di 42:12 dan waskita, melihat hamba-hamba-Nya di 42:27.
Letak ayat ini di tengah rangkaian 42:9 sampai 42:13 juga memperlihatkan arah pembicaraan. Sesudah 42:8 menyebut orang zalim tanpa pelindung, deretan sebutan Allah di 42:9 sampai 42:12 mengisi ruang itu dengan siapa Sang Pelindung, Tuhan, Pencipta, dan pemilik kunci-kunci. Ayat 42:13 kemudian beralih ke pertanggungjawaban yang diwasiatkan kepada Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa.
Renungan dan Hikmah
- Allah memakai gambaran kunci-kunci langit dan bumi untuk menyebut kepemilikan-Nya. Gambaran kunci menyebut siapa yang membuka dan menutup, dan tidak menyebut isi yang dibuka. Rezeki yang sampai kepada pembaca dapat dibaca sebagai sesuatu yang lewat pintu yang kuncinya dipegang oleh Dia. Pembaca yang menghitung penghasilannya sebagai hasil kerja sendiri dapat menaruh gambaran kunci itu di samping hitungannya. Kunci apa yang pembaca anggap dipegangnya sendiri atas rezekinya, dan apakah kunci itu masih ada ketika gambaran dalam ayat ini dipakai sebagai ukuran?
- Melapangkan dan menyempitkan adalah dua kata kerja yang berlawanan, dan ayat ini menyerahkan keduanya kepada satu pelaku. Pembaca yang pada masa lapang menyebut hasil usahanya dan pada masa sempit menyebut keadaan di luar dirinya memberi dua nama kepada dua kata kerja itu. Ayat ini menaruh keduanya pada Dia yang sama. Pada masa sempit, apakah pembaca mencari pelaku yang berbeda dari yang disebutnya pada masa lapang, dan nama apa yang diberikannya kepada masing-masingnya?
- Ayat ini menyebut dua ukuran untuk pembagian rezeki, yaitu kehendak dan ilmu, dan tidak menyebut ukuran lain seperti jasa, kepintaran, atau keturunan. Pembaca yang membandingkan rezekinya dengan rezeki orang lain sedang memakai satu ukuran dari dirinya sendiri. Ayat ini menaruh pembagian itu pada kehendak Allah dan menaruh pengetahuan-Nya akan segala sesuatu di belakangnya. Ukuran mana yang selama ini dipakai pembaca ketika membandingkan, dan apakah ukuran itu muncul di antara dua yang disebut ayat ini?
- Kata rezeki dalam ayat ini berdiri tanpa jenis, tanpa menyebut uang, makanan, waktu, kesehatan, atau kesempatan. Akibatnya melapangkan dan menyempitkan dapat dibaca pada semua yang sampai kepada seseorang. Pembaca dapat mencatat apa saja yang dihitungnya sebagai rezeki, lalu menandai mana yang lapang dan mana yang sempit pada hari ini. Apa saja yang tidak bisa diukur dengan angka dan tetap masuk dalam rezeki, dan siapa yang melapangkan atau menyempitkannya menurut ayat ini?
- Kalimat penutup menyebut pengetahuan atas segala sesuatu sesudah menyebut pembagian rezeki, sehingga pembagian itu disusul pernyataan tentang ilmu. Pembaca yang menerima bagian kecil atau bagian besar membaca kalimat penutup itu sebagai catatan di ujung pembagian. Ayat ini tidak menguraikan hubungan antara ilmu dan takaran. Bagaimana pembaca membaca bagian yang diterimanya ketika kalimat terakhir yang dibacanya adalah bahwa Dia berilmu akan segala sesuatu, dan di bagian mana kalimat itu terasa paling sulit dipercaya?
- Ayat 42:8 menyebut Dia memasukkan siapa yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya, dan ayat ini menyebut Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Dua kalimat itu berdiri terpisah, dan masing-masing membicarakan hal yang berbeda, rahmat di satu sisi dan rezeki di sisi lain. Pembaca yang menyamakan lapangnya rezeki dengan luasnya rahmat sedang menyatukan dua kalimat yang di dalam surah ini ditulis terpisah. Apakah pembaca pernah menyamakan keduanya, dan ayat mana yang dipakainya untuk menyamakannya?