وَالَّذِينَ يُحَاجُّونَ فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا اسْتُجِيبَ لَهُ حُجَّتُهُمْ دَاحِضَةٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ
Dan orang-orang yang berhujah tentang Allah setelah diperkenankan baginya, hujah mereka sia-sia di sisi Tuhan mereka, dan atas mereka kemurkaan, dan bagi mereka azab yang keras.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَالَّذِينَ يُحَاجُّونَ فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا اسْتُجِيبَ لَهُwa-lladziina yuhaajjuuna fii llaahi min ba'di maa stujiiba lahudan orang-orang yang berhujah tentang Allah setelah diperkenankan baginya
- حُجَّتُهُمْ دَاحِضَةٌ عِنْدَ رَبِّهِمْhujjatuhum daahidhatun 'inda rabbihimhujah mereka sia-sia di sisi Tuhan mereka
- وَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌwa-'alayhim ghadhabun wa-lahum 'adzaabun syadiidundan atas mereka kemurkaan, dan bagi mereka azab yang keras
Terjemahan per kata (18 kata)
- وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
- يُحَاجُّونَyuhaajjuunamereka berhujah
- فِيfiitentang
- اللَّهِllaahiAllah
- مِنْmindari
- بَعْدِba'disesudah
- مَاmaaapa yang
- اسْتُجِيبَstujiibadiperkenankan
- لَهُlahubaginya
- حُجَّتُهُمْhujjatuhumhujah mereka
- دَاحِضَةٌdaahidhatunyang sia-sia
- عِنْدَ'indadi sisi
- رَبِّهِمْrabbihimTuhan mereka
- وَعَلَيْهِمْwa-'alayhimdan atas mereka
- غَضَبٌghadhabunkemurkaan
- وَلَهُمْwa-lahumdan bagi mereka
- عَذَابٌ'adzaabunazab
- شَدِيدٌsyadiidunyang keras
Inti bacaan
Kata (دَاحِضَةٌ, daahidhatun) muncul satu kali di Al-Qur'an (42:16), dan akar د-ح-ض ada di empat ayat (18:56, 37:141, 40:5, 42:16).
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (يُحَاجُّونَ, yuhaajjuuna) dalam (وَالَّذِينَ يُحَاجُّونَ فِي اللَّهِ, wa-lladziina yuhaajjuuna fii llaahi) berakar ح-ج-ج, berbentuk ketiga, dan muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 42:16. Bentuk ketiga dari akar ini ada di sepuluh ayat, yaitu 2:76, 2:139, 2:258, 3:20, 3:61, 3:65, 3:66, 3:73, 6:80, dan 42:16. Terjemahan memakai "berhujah" untuk bentuk itu di 2:76, 2:139, 2:258, 3:61, 3:65, 3:66, 3:73, dan 6:80, dan memakainya pula di 42:16 sehingga kata kerja ini tersambung dengan kata benda hujah di 42:15 dan 42:16. Susunan berhujah dengan fii llaahi ada tiga kali, yaitu di 2:139, (أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ, atuhaajjuunanaa fii llaahi) yang berarti "apakah kalian berhujah dengan kami tentang Allah", di 6:80, (أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ, a-tuhaajjuunnii fii llaahi) yang berarti "apakah kalian hendak berhujah denganku tentang Allah", dan di 42:16.
Kata (اسْتُجِيبَ, stujiiba) berakar ج-و-ب, berbentuk kesepuluh, dan berbentuk pasif, sehingga artinya "diperkenankan". Bentuk persis ini muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 42:16, dan pelaku yang memperkenankan tidak disebut. Kata (لَهُ, lahu) yang berarti "baginya" tidak diberi rujukan oleh ayat ini. Kata kerja istajaaba yang disusul li- dalam korpus memiliki dua arah. Allah memperkenankan seseorang di (فَاسْتَجَبْنَا لَهُ, fa-stajabnaa lahu) yang berarti "maka Kami memperkenankan baginya" di 21:76, 21:84, 21:88, dan 21:90, serta di (فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ, fa-stajaaba lahum rabbuhum) di 3:195. Manusia memperkenankan Allah di (اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ, stajaabuu li-llaahi wa-r-rasuuli) di 3:172. Surah yang sama memuat ketiganya: Dia memperkenankan orang beriman di (وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا, wa-yastajiibu lladziina aamanuu) di 42:26, manusia memperkenankan Tuhan mereka di (اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ, stajaabuu li-rabbihim) di 42:38, dan perintah memperkenankan Tuhan ada di (اسْتَجِيبُوا لِرَبِّكُمْ, istajiibuu li-rabbikum) di 42:47. Bentuk pasif di 42:16 tidak memilih salah satu arah itu, dan terjemahan "diperkenankan baginya" mempertahankan kata ganti tanpa menamai siapa atau apa yang diperkenankan.
Kata (حُجَّتُهُمْ, hujjatuhum) yang berarti "hujah mereka" muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 42:16. Kata benda hujah dari akar yang sama ada di tujuh ayat, yaitu 2:150, 4:165, 6:83, 6:149, 42:15, 42:16, dan 45:25, dan dua di antaranya, 42:15 dan 42:16, berdampingan. Kata (دَاحِضَةٌ, daahidhatun) yang berarti "sia-sia" muncul satu kali, dan akar د-ح-ض ada di empat ayat, yaitu 18:56, 37:141, 40:5, dan 42:16. Di 18:56, (وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ, wa-yujaadilu lladziina kafaruu bi-l-baathili li-yudhidhuu bihi l-haqqa) berarti "dan orang-orang yang kufur membantah dengan yang batil agar dengan itu mereka melenyapkan kebenaran". Di 40:5, (وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ, wa-jaadaluu bi-l-baathili li-yudhidhuu bihi l-haqqa) berarti "dan mereka membantah dengan yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengannya". Di 37:141, (فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ, fa-kaana mina l-mudhadhiina) berarti "maka tergolong orang-orang yang kalah". Terjemahan memakai kata yang berbeda menurut kalimatnya, yaitu "melenyapkan" di 18:56 dan 40:5, "kalah" di 37:141, dan "sia-sia" di 42:16. Pada 18:56 dan 40:5 pihak yang membantah menjadi pelaku akar itu, dan di 42:16 sifatnya dikenakan pada hujah mereka sendiri. Akar ج-د-ل di 18:56 dan 40:5 diterjemahkan "membantah", sedangkan 42:16 memakai "berhujah" untuk akar ح-ج-ج.
Frasa (عِنْدَ رَبِّهِمْ, 'inda rabbihim) yang berarti "di sisi Tuhan mereka" muncul sembilan belas kali di tiga belas surah, yaitu di 2:62, 2:262, 2:274, 2:277, 3:15, 3:169, 3:199, 6:127, 8:4, 10:2, 32:12, 34:31, 35:39, 39:34, 42:16, 42:22, 57:19, 68:34, dan 98:8. Di 42:16 frasa itu menjadi tempat penilaian bagi hujah, dan di 42:22 menjadi tempat bagi apa yang dikehendaki orang-orang beriman. Kalimat (وَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ, wa-'alayhim ghadhabun wa-lahum 'adzaabun syadiidun) berarti "dan atas mereka kemurkaan, dan bagi mereka azab yang keras". Kata (غَضَبٌ, ghadhabun) tanpa kata sandang muncul lima kali di empat surah, yaitu di 7:71, 7:152, 16:106, 20:86, dan 42:16. Di empat ayat lainnya sumber kemurkaan itu disebut dengan min, misalnya (سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّهِمْ, sa-yanaaluhum ghadhabun min rabbihim) di 7:152 yang berarti "kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka", sedangkan di 42:16 kata min tidak ada dan frasa 'inda rabbihim berada tepat sebelum kalimat kemurkaan itu. Susunan kemurkaan dan azab ada pula di 16:106, (فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ, fa-'alayhim ghadhabun mina llaahi wa-lahum 'adzaabun 'azhiimun) yang berarti "maka atas mereka kemurkaan dari Allah, dan bagi mereka azab yang agung", dengan sifat azab yang berbeda. Susunan (لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ, lahum 'adzaabun syadiidun) muncul enam kali di empat surah, yaitu di 3:4, 35:7, 35:10, 38:26, 42:16, dan 42:26.
Tafsiran
Ayat ini menyebut apa yang terjadi pada orang yang tetap berhujah tentang Allah. Ayat 42:15 menyatakan bahwa tidak ada hujah di antara pembicara dan lawan bicaranya, dan 42:16 menambahkan penilaian atas hujah pihak yang masih berhujah, yaitu sia-sia di sisi Tuhan mereka. Dua ayat itu memakai kata hujah dalam dua kedudukan, yaitu "di antara" dan "di sisi". Yang pertama menyatakan hujah tiada di antara dua pihak menurut pembicara, dan yang kedua menyatakan nilai hujah itu menurut Tuhan pihak yang berhujah. Pernyataan 42:15 dengan demikian tidak berarti hujah pihak lain diterima, dan ayat tidak menyebut hujah itu telah dikalahkan oleh pembicara.
Ayat 42:16 memakai kerangka waktu yang sama dengan 42:14, yaitu min ba'di maa. Di 42:14 perpecahan datang sesudah pengetahuan datang, dan di 42:16 berhujah terjadi sesudah sesuatu diperkenankan. Kedua ayat menaruh kesalahan sesudah titik pemenuhan: pengetahuan sudah datang, dan sesuatu sudah diperkenankan. Ayat 42:16 tidak menyebut apa yang diperkenankan, sehingga pembacaan tentang isinya harus berhenti di batas teks.
Tiga hal yang menimpa orang-orang itu disebut berjajar dengan huruf wa, yaitu hujah mereka sia-sia, kemurkaan atas mereka, dan azab yang keras bagi mereka. Ayat tidak mengatur urutan keparahan dan tidak menyebut kapan masing-masing tiba. Ayat 16:106 memuat susunan kemurkaan dan azab yang serupa untuk kelompok lain dengan sumber yang disebut, dan keduanya tidak disamakan.
Dalam rangkaian 42:13 sampai 42:18, ayat ini menjadi sambungan ketiga sesudah perpecahan di 42:14 dan sikap penyeru di 42:15. Ayat 42:17 kemudian menyebut Allah yang menurunkan Kitab dengan kebenaran dan neraca serta beralih ke hari kiamat, sehingga penilaian atas hujah di sisi Tuhan pada 42:16 disusul pernyataan tentang neraca.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 42:16 menaruh berhujah sesudah sesuatu diperkenankan, dan tidak menyebut apa yang diperkenankan itu. Susunan waktu yang serupa ada di 42:14, tempat perpecahan datang sesudah pengetahuan. Kedua ayat menggambarkan kelompok di tempatnya masing-masing dan tidak disamakan. Ayat 42:16 juga tidak mengatakan bahwa perdebatan itu keliru sejak awal, karena yang disebutnya adalah waktunya, yaitu sesudah. Pembaca dapat bertanya, kapan sebuah pertanyaan dalam dirinya berhenti mencari jawaban dan berubah menjadi cara agar tidak sampai pada jawaban, dan tanda apa yang pernah terlihat saat perubahan itu terjadi?
- Hujah dalam 42:16 dinilai di sisi Tuhan mereka, dan ayat tidak menyebut siapa di antara manusia yang mengagumi atau menolaknya. Ukuran yang dipakai sebuah perdebatan menentukan arti menang dan kalah di dalamnya. Di 42:22 frasa di sisi Tuhan mereka dipakai untuk apa yang dikehendaki orang-orang beriman, sehingga frasa itu menjadi tempat penilaian dalam dua arah yang berbeda. Orang yang berdebat dapat bertanya, penilaian siapa yang sedang dicarinya, tepuk tangan pendengar atau penilaian Tuhannya, dan apakah cara berbicaranya pernah berubah ketika yang dicari berganti?
- Pokok perdebatan di 42:16 adalah Allah sendiri. Di 2:139 perdebatan serupa dijawab dengan pernyataan bahwa Dia Tuhan kami dan Tuhan kalian, dan di 6:80 dijawab dengan pernyataan bahwa Dia telah memberi petunjuk kepada pembicara. Kedua ayat itu adalah ucapan pihak yang dihujah dan bukan penilaian, sehingga tidak dipakai menafsirkan 42:16. Pembaca dapat bertanya, bila Dia, yang memiliki kedua pihak yang berbincang, menjadi pokok perbincangan, apa yang berubah pada cara berbicaranya, dan apakah perubahan itu terjadi bila Dia dianggap hadir di ruangan itu?
- Di 18:56 dan 40:5 orang-orang yang membantah dengan yang batil bermaksud melenyapkan kebenaran lewat akar yang sama dengan sifat hujah di 42:16, sedangkan di 42:16 sifat itu dikenakan pada hujah mereka sendiri di sisi Tuhan mereka. Ayat-ayat itu berbeda kisahnya dan tidak dijadikan satu peristiwa. Pembaca dapat bertanya, usaha apa yang pernah diarahkannya untuk menjatuhkan pendapat orang lain, dan apakah usaha itu sendiri yang akhirnya kehilangan pijakan?
- Dua ayat yang bersebelahan memuat dua sikap atas hujah. Ayat 42:15 meniadakannya di antara dua pihak, dan 42:16 menilai hujah salah satu pihak di sisi Tuhan mereka. Orang yang berhenti berdebat dapat memeriksa alasannya: karena melepaskan beban, atau karena yakin pihak lain sia-sia di sisi Allah. Dua alasan itu bisa tampak sama dari luar, dan dua ayat ini memberi keduanya tempat masing-masing. Alasan mana yang menggerakkan hatinya pada pertengkaran terakhir yang dihentikannya?
- Ayat memakai bentuk pasif untuk yang diperkenankan, sehingga siapa yang memperkenankan tidak tertulis. Di surah yang sama 42:26 menyebut Dia yang memperkenankan orang beriman, dan 42:38 menyebut orang-orang yang memperkenankan Tuhan mereka. Ketiga ayat itu tidak digabung. Pembaca yang pernah merasa doanya diperkenankan atau seruannya ditanggapi dapat bertanya, siapa yang pertama bergerak dalam peristiwa itu, dan apakah jawabannya berubah menurut suasana hatinya?