اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

Allah halus terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Sang Kuat, Sang Digdaya.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِallaahu lathiifun bi-'ibaadihiAllah halus terhadap hamba-hamba-Nya
  2. يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُyarzuqu man yasyaa'uDia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki
  3. وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُwa-huwa l-qawiyyu l-'aziizudan Dialah Sang Kuat, Sang Digdaya

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. اللَّهُallaahuAllah
  2. لَطِيفٌlathiifunMahalembut
  3. بِعِبَادِهِbi-'ibaadihipada hamba-hamba-Nya
  4. يَرْزُقُyarzuqumemberi rezeki
  5. مَنْmanorang yang
  6. يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
  7. وَهُوَwa-huwadan Dia
  8. الْقَوِيُّl-qawiyyuMahakuat
  9. الْعَزِيزُl-'aziizuSang Digdaya

Inti bacaan

Sifat dari akar ل-ط-ف dipakai bagi Allah di tujuh ayat, yaitu 6:103, 12:100, 22:63, 31:16, 33:34, 42:19, dan 67:14, dan susunan (لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ, lathiifun bi-'ibaadihi) hanya muncul sekali di Al-Qur'an, yaitu di 42:19.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (اللَّهُ لَطِيفٌ, allaahu lathiifun) yang berarti "Allah halus". Kata (لَطِيفٌ, lathiifun) berakar ل-ط-ف dan tidak memakai kata sandang al-, sehingga terjemahan menulisnya dengan huruf kecil sebagai keterangan tentang Allah. Akar itu muncul delapan kali di Al-Qur'an. Tujuh di antaranya menjadi sifat Allah, yaitu di 6:103, 12:100, 22:63, 31:16, 33:34, 42:19, dan 67:14, sedangkan satu lagi berupa kata kerja untuk manusia di 18:19. Di 12:100, (لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ, lathiifun li-maa yasyaa'u) yang berarti "halus terhadap apa yang Dia kehendaki", sifat itu diarahkan kepada kehendak. Di 42:19 sifat yang sama diarahkan kepada (بِعِبَادِهِ, bi-'ibaadihi) yang berarti "terhadap hamba-hamba-Nya". Terjemahan memakai "halus" seperti di 6:103, 12:100, 22:63, dan 67:14.

Lima ayat memasangkan sifat itu dengan akar خ-ب-ر yang berarti "waskita", yaitu 6:103, 22:63, 31:16, 33:34, dan 67:14. Ayat 42:19 tidak memakai pasangan itu. Kata (بِعِبَادِهِ, bi-'ibaadihi) muncul enam kali di tiga surah, yaitu 17:30, 17:96, 35:31, 35:45, 42:19, dan 42:27. Pada lima kemunculan yang lain, sifat yang menyusul berakar خ-ب-ر dan ب-ص-ر yang berarti "melihat", dan di 35:45 hanya yang kedua. Sifat halus bersanding dengan kata hamba-hamba itu di 42:19 saja.

Kata (يَرْزُقُ, yarzuqu) yang berarti "memberi rezeki" berakar ر-ز-ق. Bunyi (يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ, yarzuqu man yasyaa'u) yang berarti "memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki" muncul empat kali, yaitu di 2:212, 3:37, 24:38, dan 42:19. Tiga ayat pertama menyambungnya dengan (بِغَيْرِ حِسَابٍ, bi-ghayri hisaabin) yang berarti "tanpa perhitungan", sedangkan 42:19 berhenti pada yasyaa'u, sehingga terjemahan di sini tidak menambahkan "tanpa perhitungan". Kata kerja lain untuk rezeki ada di (يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ, yabsuthu r-rizqa li-man yasyaa'u) yang berarti "melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki". Bunyi itu muncul sembilan kali di delapan surah, yaitu 13:26, 17:30, 28:82, 29:62, 30:37, 34:36, 34:39, 39:52, dan 42:12. Di kesembilan ayat itu kata kerja (وَيَقْدِرُ, wa-yaqdiru) yang berarti "dan menyempitkan" ikut disebut, sedangkan 42:19 menyebut arah memberi saja.

Kata (الْقَوِيُّ, l-qawiyyu) yang berarti "Sang Kuat" berakar ق-و-ي, dan kata (الْعَزِيزُ, l-'aziizu) yang berarti "Sang Digdaya" berakar ع-ز-ز. Kata qawiyy muncul sebelas kali, yaitu di 8:52, 11:66, 22:40, 22:74, 27:39, 28:26, 33:25, 40:22, 42:19, 57:25, dan 58:21. Tujuh di antaranya bergandengan dengan 'aziiz, yaitu 11:66, 22:40, 22:74, 33:25, 42:19, 57:25, dan 58:21. Dengan kata sandang pada keduanya, pasangan ini hanya ada di 11:66 dan 42:19. Karena keduanya memakai kata sandang al-, terjemahan memakai huruf besar dan "Sang" pada keduanya, dan kata ganti (وَهُوَ, wa-huwa) di depannya diterjemahkan "dan Dialah".

Tafsiran

Ayat ini menaruh pemberian rezeki di antara dua kelompok sebutan bagi Allah, yaitu halus di awal dan kuat serta digdaya di akhir. Ayat 42:18 ditutup dengan kesesatan yang jauh bagi orang yang membantah tentang hari kiamat, lalu 42:19 dibuka dengan nama Allah tanpa kata sambung. Tidak ada kata penghubung di antara kedua ayat, sehingga hubungannya terbaca dari urutan saja.

Dari 42:12 sampai 42:27, rezeki disebut tiga kali. Ayat 42:12 menyebutnya sebagai sesuatu yang dilapangkan dan disempitkan, 42:19 sebagai sesuatu yang diberikan, dan 42:27 sebagai sesuatu yang diturunkan dengan ukuran, dalam (يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ, yunazzilu bi-qadarin) yang berarti "Dia menurunkan dengan ukuran". Ayat 42:19 menyatakan bahwa pemberian itu terjadi dan siapa pemberinya. Ukuran dan alasan tidak ada di sana. Alasan tentang ukuran baru muncul di 42:27, yang menyebut bahwa seandainya rezeki dilapangkan bagi hamba-hamba-Nya, (لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ, la-baghaw fii l-ardhi) yang berarti "niscaya mereka melampaui batas di bumi". Ayat itu pun tidak menyebut alasan bagi tiap penerima, dan ditutup dengan (إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ, innahu bi-'ibaadihi khabiirun bashiirun) yang berarti "sesungguhnya Dia waskita, melihat hamba-hamba-Nya". Sifat penutup itu berbeda dari sifat halus di 42:19, padahal yang dibicarakan sama, yaitu hamba-hamba-Nya.

Ayat 42:20 menyusul dengan kehendak jenis lain. Di 42:19 kehendak itu milik Allah, dalam kata kerja yasyaa'u, dan di 42:20 kehendak itu milik manusia, dalam kata kerja yuriidu, sehingga dua ayat berurutan memperlihatkan dua pihak yang menghendaki.

Kata hamba-hamba di ayat ini berdiri tanpa keterangan. Di 42:23 kata yang sama diikuti (عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا, 'ibaadahu lladziina aamanuu) yang berarti "hamba-hamba-Nya yang beriman", dan di sana ayat membicarakan kabar gembira. Ayat 42:19 tidak memuat syarat itu, dan keterangan dari 42:23 tidak dipindahkan ke sini.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut kehalusan Allah terhadap hamba-hamba-Nya lebih dulu dan kekuatan-Nya belakangan, padahal keduanya dikatakan tentang Dia sendiri. Urutan itu mengajak pembaca memeriksa urutan pada dirinya sendiri ketika memegang kuasa atas orang lain, entah sebagai orang tua, atasan, atau pemilik usaha. Pemegang kuasa atas orang lain mengetahui apa yang dapat dilakukannya, dan ayat ini menyebut pemilik kuasa yang paling besar dengan kata halus sebelum kata kuat. Pembaca dapat menanyai dirinya, apakah orang yang berada di bawah kuasanya lebih dulu bertemu dengan kehalusan atau dengan kekuatannya?
  • Ayat ini menyatakan bahwa Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki, dan tidak menyebut berapa bagian yang diterima tiap orang. Orang yang melihat rezeki temannya lebih lapang daripada rezekinya sendiri akan mendapati ayat ini diam tentang sebabnya. Ayat 42:27 menyentuh soal ukuran dengan satu keterangan, yaitu bahwa kelapangan bagi semua hamba membuat mereka melampaui batas, tetapi keterangan itu tidak menjelaskan mengapa penerima tertentu mendapat bagian tertentu. Pembaca dapat bertanya pada dirinya, ketika ukuran rezeki orang lain terasa tidak adil, apakah pembaca sedang mencari alasan yang tertulis atau alasan yang diinginkannya?
  • Kata hamba-hamba-Nya di ayat ini berdiri tanpa keterangan tambahan, sedangkan di 42:23 kata yang sama diberi batas "yang beriman dan mengerjakan amal saleh" ketika ayat membicarakan kabar gembira dari Allah. Dua ayat itu membicarakan hal berbeda, yaitu kehalusan dan rezeki di 42:19 dan kabar gembira di 42:23, sehingga batas pada yang kedua tidak dibawa ke yang pertama. Pembaca yang membaca ayat ini dalam keadaan merasa tertinggal atau merasa bersalah dapat memperhatikan bahwa kalimat ini tidak memasang pagar di sekeliling kata hamba-hamba. Siapa yang terbayang tercakup ketika pembaca membaca kata itu, dan siapa yang dikeluarkannya tanpa menyadarinya?
  • Kata kerja memberi rezeki di ayat ini berpelaku Allah, dan tidak ada pelaku lain yang disebut. Orang yang menerima gaji dari kantor, hasil dari ladang, atau kiriman dari keluarga dapat menyebut sumber terdekatnya dengan mudah. Ayat 42:19 tidak menyebut kantor, ladang, atau keluarga, dan juga tidak membantah bahwa semua itu ada. Pemberi yang disebut berdiri di belakang sumber-sumber itu. Pembaca dapat menimbang bagaimana rezeki bulan ini terasa bila pemberinya disebut dengan nama yang dipakai ayat ini. Kepada siapa pembaca mengucapkan terima kasih lebih dulu?
  • Sebutan Sang Kuat dan Sang Digdaya diletakkan Allah tepat sesudah kalimat tentang rezeki. Orang yang penghidupannya bergantung pada pihak yang kuat, misalnya atasan yang menentukan kontrak atau pejabat yang menentukan izin, mendapati bahwa ayat ini menempatkan pemberi rezeki berdampingan dengan sebutan Sang Kuat dan Sang Digdaya. Atasan dan pejabat tidak disebut, dan peran mereka dibiarkan terbuka. Rasa takut kehilangan pekerjaan atau izin dapat dibaca berdampingan dengan ayat ini. Apakah rasa takut itu berubah bentuk ketika pihak yang kuat dan digdaya di hadapannya disebut ayat ini berdampingan dengan Dia yang memberi rezeki?
  • Ayat 42:18 menyebut orang-orang beriman merasa takut kepada hari kiamat, dan ayat berikutnya membuka dengan sebutan halus bagi Allah. Pembaca yang membawa rasa takut dari 42:18 ke 42:19 bertemu dengan dua keadaan yang kini bersebelahan di bacaannya, yaitu takut dan halus. Teks tidak mengatakan bahwa 42:19 meredakan rasa takut itu, sehingga hubungan keduanya tetap terbuka. Pembaca dapat menimbang apakah rasa takut yang dibawanya dapat bertahan di samping kata halus, dan apa yang terjadi pada rasa takut itu bila sebutan pertama tentang Allah yang ditemuinya sesudahnya berbunyi halus?