مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Siapa yang menghendaki ladang akhirat, Kami tambahkan baginya dalam ladangnya; dan siapa yang menghendaki ladang dunia, Kami beri ia sebagian darinya, dan tidak ada baginya bagian di akhirat.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِman kaana yuriidu hartsa l-aakhirati nazid lahu fii hartsihisiapa yang menghendaki ladang akhirat, Kami tambahkan baginya dalam ladangnya
  2. وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍwa-man kaana yuriidu hartsa d-dunyaa nu'tihi minhaa wa-maa lahu fii l-aakhirati min nashiibindan siapa yang menghendaki ladang dunia, Kami beri ia sebagian darinya, dan tidak ada baginya bagian di akhirat

Terjemahan per kata (22 kata)

  1. مَنْmanorang yang
  2. كَانَkaanaadalah
  3. يُرِيدُyuriiduDia kehendaki
  4. حَرْثَhartsaladang
  5. الْآخِرَةِl-aakhiratiakhirat
  6. نَزِدْnazidKami menambah
  7. لَهُlahubaginya
  8. فِيfiidalam
  9. حَرْثِهِhartsihitanamannya
  10. وَمَنْwa-mandan orang yang
  11. كَانَkaanaadalah
  12. يُرِيدُyuriiduDia kehendaki
  13. حَرْثَhartsaladang
  14. الدُّنْيَاd-dunyaadunia
  15. نُؤْتِهِnu'tihiKami berikan kepadanya
  16. مِنْهَاminhaadarinya
  17. وَمَاwa-maadan tidaklah
  18. لَهُlahubaginya
  19. فِيfiidi
  20. الْآخِرَةِl-aakhiratiakhirat
  21. مِنْmindari
  22. نَصِيبٍnashiibinbagian

Inti bacaan

Sebutan (حَرْثَ الْآخِرَةِ, hartsa l-aakhirati) dan (حَرْثَ الدُّنْيَا, hartsa d-dunyaa) masing-masing muncul sekali di Al-Qur'an, yaitu di 42:20, sedangkan akar ح-ر-ث muncul empat belas kali di sebelas ayat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (مَنْ كَانَ يُرِيدُ, man kaana yuriidu) yang berarti "siapa yang menghendaki", dan susunan yang sama membuka separuh kedua ayat. Susunan itu ada di lima ayat Al-Qur'an, yaitu 4:134, 11:15, 17:18, 35:10, dan 42:20, dengan 42:20 memakainya dua kali. Kata kerja yuriidu berakar ر-و-د, dan seperti di keempat ayat lain, terjemahan tidak memberi kata tersendiri bagi kaana. Benda yang dikehendaki berbeda di tiap ayat: (ثَوَابَ الدُّنْيَا, tsawaaba d-dunyaa) yang berarti "pahala dunia" di 4:134, (الْعَاجِلَةَ, l-'aajilata) yang berarti "kehidupan yang segera" di 17:18, dan (الْعِزَّةَ, l-'izzata) yang berarti "kedigdayaan" di 35:10. Di 42:20 benda itu adalah ladang.

Kata ladang berasal dari akar ح-ر-ث, yang muncul empat belas kali di sebelas ayat, yaitu tiga belas kali sebagai kata benda dan sekali sebagai kata kerja, (تَحْرُثُونَ, tahrutsuuna) yang berarti "kalian tanam" di 56:63. Sebutan lain menunjuk lahan yang nyata. Di 2:71, (وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ, wa-laa tasqii l-hartsa) berarti "dan tidak mengairi ladang", di 21:78, (فِي الْحَرْثِ, fii l-hartsi) berarti "mengenai ladang", dan di 3:117, (حَرْثَ قَوْمٍ, hartsa qawmin) berarti "ladang suatu kaum" yang dibinasakan angin. Di 42:20 kata yang sama dirangkaikan dengan akhirat dan dunia. Sebutan (حَرْثَ الْآخِرَةِ, hartsa l-aakhirati) yang berarti "ladang akhirat" dan (حَرْثَ الدُّنْيَا, hartsa d-dunyaa) yang berarti "ladang dunia" masing-masing hanya ada di ayat ini, dan terjemahan memakai "ladang" untuk keduanya agar gambaran lahan dari ayat-ayat tadi tetap terbawa.

Kedua separuh ayat memakai kata kerja pemberian yang berbeda. Separuh pertama memakai (نَزِدْ لَهُ, nazid lahu) yang berarti "Kami tambahkan baginya", dari akar ز-ي-د, lalu disambung (فِي حَرْثِهِ, fii hartsihi) yang berarti "dalam ladangnya". Susunan nazid lahu muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 42:20 dan 42:23. Separuh kedua memakai (نُؤْتِهِ مِنْهَا, nu'tihi minhaa) yang berarti "Kami beri ia sebagian darinya", dan susunan ini ada di dua ayat, yaitu 3:145, yang memakainya dua kali, dan 42:20. Di 3:145 sisi dunia dan sisi akhirat memakai bunyi yang sama, sedangkan 42:20 membedakannya: tambahan untuk penghendak akhirat, sebagian untuk penghendak dunia. Akhiran -haa pada minhaa berbentuk perempuan, sedangkan hartsa berbentuk lelaki, sehingga "darinya" menunjuk (الدُّنْيَا, d-dunyaa), dan pemberian itu berupa bagian dari dunia, tidak berupa tambahan di dalam ladang.

Penutup ayat, (وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ, wa-maa lahu fii l-aakhirati min nashiibin) yang berarti "dan tidak ada baginya bagian di akhirat", punya kembaran di 2:200, yaitu (وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ, wa-maa lahu fii l-aakhirati min khalaaqin). Kedua ayat sama sampai kata terakhir. Kata nashiib muncul di delapan belas ayat, termasuk 2:202 dan 6:136, dan terjemahan memakai "bagian" untuknya. Kata khalaaq muncul empat kali, yaitu di 2:102, 2:200, 3:77, dan 9:69. Di 2:200 orang yang tidak mendapat bagian itu digambarkan berkata, "Tuhan kami, berilah kami di dunia", sedangkan 42:20 memberi sebutan penghendak ladang dunia kepada pihak yang tidak mendapat bagian itu.

Tafsiran

Ayat ini memisahkan dua penghendak dan memberi tiap pihak keterangan yang panjangnya berbeda. Penghendak ladang akhirat mendapat satu keterangan, yaitu tambahan dalam ladangnya. Penghendak ladang dunia mendapat dua, yaitu pemberian sebagian dari dunia dan ketiadaan bagian di akhirat. Ayat ini tidak menyebut apakah penghendak ladang akhirat juga menerima bagian dari dunia.

Suara dalam ayat ini berganti dari ayat sebelumnya. Di 42:19 Allah disebut dengan kata ganti ketiga, "Dia", dan di 42:20 pemberi berbicara dengan kata Kami, dalam nazid dan nu'tihi. Pergantian itu membuat pemberian di 42:20 terbaca sebagai ucapan langsung. Kehendak juga berganti pemilik. Di 42:19 kata kerja yasyaa'u memuat kehendak Allah, dan di 42:20 kata kerja yuriidu memuat kehendak manusia. Dua ayat berurutan itu diletakkan tanpa kata sambung, sehingga keduanya dapat dibaca berdampingan.

Ayat 17:18 membantu menimbang batas pemberian kepada penghendak dunia. Di sana pemberian itu disertai (مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ, maa nasyaa'u li-man nuriidu) yang berarti "apa yang Kami kehendaki bagi siapa yang Kami kehendaki", jadi dibatasi oleh kehendak pemberinya. Ayat 42:20 tidak memuat batas itu dalam kalimatnya sendiri, tetapi kehendak pemberi baru saja disebut di 42:19 dalam (يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ, yarzuqu man yasyaa'u). Pembacaan yang menghubungkan kedua ayat berurutan itu mungkin, dan tidak ada kata sambung yang memastikannya.

Kata tambah tidak berhenti di ayat ini. Ayat 42:23 mengulang (نَزِدْ لَهُ, nazid lahu) untuk orang yang mengerjakan kebaikan, dan 42:26 memakai (وَيَزِيدُهُمْ, wa-yaziiduhum) yang berarti "dan menambah bagi mereka". Dalam rangkaian 42:19 sampai 42:26, tambahan menjadi gerak yang berulang, sedangkan pemberian "sebagian darinya" untuk penghendak dunia hanya muncul di 42:20 dalam rangkaian itu. Di antara 42:20 dan 42:23, ayat 42:21 membicarakan sekutu yang menetapkan aturan tanpa izin.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 42:19 menyebut kehendak Allah dalam kata kerja memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki, dan ayat berikutnya menyebut kehendak manusia dalam kata kerja menghendaki ladang. Dua kehendak itu berdampingan dalam dua ayat berurutan, dan ayat kedua memperlihatkan apa yang menyusul tiap kehendak. Pembaca dapat memperhatikan bahwa sebelum mengerjakan sesuatu, dirinya sudah menghendaki sesuatu, dan kehendak itu yang ditimbang ayat ini. Apa yang dikehendakinya hari ini, dan ladang mana yang sebenarnya dimaksudkannya dengan kehendak itu?
  • Penghendak ladang dunia tetap menerima sesuatu menurut ayat ini, yaitu sebagian dari dunia, dan ayat tidak mengatakan pemberian itu kosong. Kata sebagian membatasi pemberian itu pada satu bagian dari dunia, sedangkan yang dikehendaki dari dunia dapat berupa keseluruhannya. Pembaca yang pernah mencapai target pekerjaan atau usaha, lalu masih merasa kurang, dapat bertanya apakah yang diterimanya itu sudah sebagian yang disebut ayat ini, dan apakah rasa kurang itu datang dari ukuran yang dipasangnya sendiri atau dari bagian yang Allah berikan?
  • Penghendak ladang akhirat menerima tambahan di dalam ladangnya sendiri, di tempat yang sudah menjadi miliknya sebelum tambahan datang. Allah menyebut ladang itu milik orang tersebut dan tidak menyebut ukurannya. Pembaca yang merasa apa yang dikerjakannya terlalu kecil untuk berarti dapat memperhatikan bahwa kata kerja Kami tambahkan di ayat ini bekerja pada sesuatu yang sudah ada di tangan orang itu. Apa yang ada di ladangnya hari ini yang selama ini dianggapnya terlalu kecil untuk ditambah?
  • Pernyataan ketiadaan di ujung ayat ini hanya ditujukan kepada satu sisi. Penghendak ladang akhirat tidak disebut kehilangan sesuatu, sedangkan penghendak ladang dunia disebut tidak memiliki bagian di akhirat. Di 2:200 bunyi yang hampir sama dipakai bagi orang yang meminta "Tuhan kami, berilah kami di dunia", tanpa permintaan lain yang disebut bersamanya. Pembaca yang pernah berdoa dengan daftar permintaan yang seluruhnya tentang urusan dunia dapat membaca dua ayat itu berdampingan dan bertanya apa yang tidak disebutnya dalam doa itu kepada Tuhannya.
  • Ayat ini menyebut dua ladang tanpa merinci apa isi keduanya. Kata ladang membawa gambaran lahan yang digarap, yang di 2:71 memerlukan air dan di 3:117 dapat dibinasakan angin yang menimpa ladang suatu kaum yang menzalimi diri mereka sendiri. Pembaca dapat menimbang apa saja yang dimasukkannya ke ladang yang dikehendakinya: waktu, tenaga, uang, perhatian. Ayat ini membiarkan isi ladang itu tak bernama, dan angin yang disebut di 3:117 menunjukkan bahwa ladang dapat dibinasakan. Bila angin seperti itu lewat di atas ladang pembaca, apa yang masih tegak?
  • Kata kerja menambah dan memberi di ayat ini berpelaku Kami, yaitu Allah yang sedang berbicara. Pemberian kepada kedua penghendak berasal dari pemberi yang sama, sehingga perbedaan hasilnya terletak pada ladang yang dikehendaki, sedangkan pemberinya tidak berganti. Pembaca yang membayangkan dunia dan akhirat dikelola dua pihak yang berlainan dapat memeriksa bayangan itu dengan ayat ini. Dari tangan siapa pembaca mengharapkan hasil dari kedua ladang itu?
  • Ayat ini memuat apa yang menyusul tiap kehendak dan tidak memuat keterangan kapan tambahan atau bagian itu diterima. Tidak ada kata nanti, segera, atau sekarang pada kedua kalimatnya. Pembaca yang sedang menunggu hasil dari sesuatu yang digarapnya lama dapat memperhatikan bahwa Allah menyebut apa yang akan diberikan tanpa menyebut tanggalnya. Bagaimana pembaca menimbang kesabarannya bila yang dijanjikan tidak bertanggal?