ذَٰلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ۗ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ ۗ وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ

Itu yang dengannya Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Katakanlah, “Aku tidak meminta kepada kalian suatu imbalan pun atasnya, kecuali kasih sayang karena kekerabatan.” Dan siapa yang mengerjakan kebaikan, akan Kami tambahkan baginya kebaikan padanya. Sesungguhnya Allah pengampun lagi pengganjar.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. ذَٰلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِdzaalika lladzii yubasysyiru llaahu 'ibaadahu lladziina aamanuu wa-'amiluu sh-shaalihaatiitu yang dengannya Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal saleh
  2. قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰqul laa as'alukum 'alayhi ajran illaa l-mawaddata fii l-qurbaakatakanlah, aku tidak meminta kepada kalian suatu imbalan pun atasnya, kecuali kasih sayang karena kekerabatan
  3. وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًاwa-man yaqtarif hasanatan nazid lahu fiihaa husnandan siapa yang mengerjakan kebaikan, akan Kami tambahkan baginya kebaikan padanya
  4. إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌinna llaaha ghafuurun syakuurunsesungguhnya Allah pengampun lagi pengganjar

Terjemahan per kata (29 kata)

  1. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  2. الَّذِيlladziiyang
  3. يُبَشِّرُyubasysyirumemberi kabar gembira
  4. اللَّهُllaahuAllah
  5. عِبَادَهُ'ibaadahuhamba-hamba-Nya
  6. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  7. آمَنُواaamanuuberiman
  8. وَعَمِلُواwa-'amiluudan beramal
  9. الصَّالِحَاتِsh-shaalihaatikebajikan
  10. قُلْqulkatakanlah
  11. لَاlaatidak
  12. أَسْأَلُكُمْas'alukumaku meminta kepada kalian
  13. عَلَيْهِ'alayhiatasnya
  14. أَجْرًاajranupah
  15. إِلَّاillaakecuali
  16. الْمَوَدَّةَl-mawaddatakasih sayang
  17. فِيfiidalam
  18. الْقُرْبَىٰl-qurbaakekerabatan
  19. وَمَنْwa-mandan orang yang
  20. يَقْتَرِفْyaqtarifmengerjakan
  21. حَسَنَةًhasanatankebaikan
  22. نَزِدْnazidKami menambah
  23. لَهُlahubaginya
  24. فِيهَاfiihaapadanya
  25. حُسْنًاhusnanyang baik
  26. إِنَّinnasesungguhnya
  27. اللَّهَllaahaAllah
  28. غَفُورٌghafuurunpengampun
  29. شَكُورٌsyakuurunyang bersyukur

Inti bacaan

Bunyi (غَفُورٌ شَكُورٌ, ghafuurun syakuurun) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 35:30, 35:34, dan 42:23.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (ذَٰلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ, dzaalika lladzii yubasysyiru llaahu) yang berarti "hal itu yang dengannya Allah menggembirakan". Kata (يُبَشِّرُ, yubasysyiru) berakar ب-ش-ر dalam bentuk kedua, dan bunyi persis ini ada di lima ayat, yaitu 3:39, 3:45, 9:21, 17:9, dan 42:23. Di 9:21, (يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ, yubasysyiruhum rabbuhum bi-rahmatin minhu) yang berarti "Tuhan mereka memberi kabar gembira kepada mereka dengan rahmat dari-Nya", hal yang dikabarkan ditandai kata bi. Di 42:23 hal yang dikabarkan diwakili kata lladzii sebelum kata kerja dan tidak diikuti bi yang tertulis, sehingga terjemahan memakai "yang dengannya" agar hubungan yang di 9:21 ditandai bi tetap terbaca. Penerima kabar gembira disebut (عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ, 'ibaadahu lladziina aamanuu wa-'amiluu sh-shaalihaati) yang berarti "hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal saleh".

Perintah (قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ, qul laa as'alukum) yang berarti "katakanlah, aku tidak meminta kepada kalian" ada di dua ayat, yaitu 6:90 dan 42:23. Di 6:90, (قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا, qul laa as'alukum 'alayhi ajran) berhenti pada kata ajran, sedangkan 42:23 melanjutkannya dengan pengecualian. Bunyi (عَلَيْهِ أَجْرًا, 'alayhi ajran) ada di empat ayat, yaitu 6:90, 11:51, 18:77, dan 42:23. Kata (عَلَيْهِ, 'alayhi) berarti "atasnya", dan terjemahan memakai "atasnya" seperti di 6:90, 11:51, dan 38:86, tanpa tambahan "seruan" karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya. Kata (أَجْرًا, ajran) tidak tentu dan didahului penyangkalan, sehingga terjemahan memakai "suatu imbalan pun". Pengecualian sesudah penyangkalan serupa berbentuk seseorang di 25:57, (إِلَّا مَنْ شَاءَ, illaa man syaa'a) yang berarti "kecuali orang yang mau", sedangkan di 42:23 berbentuk hal yang berupa hubungan.

Pengecualian itu adalah (إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ, illaa l-mawaddata fii l-qurbaa). Kata (الْمَوَدَّةَ, l-mawaddata) berakar و-د-د dan ada di tujuh ayat, yaitu 4:73, 5:82, 29:25, 30:21, 42:23, 60:1, dan 60:7. Di empat di antaranya, yaitu 4:73, 29:25, 30:21, dan 60:7, kasih sayang itu ditaruh di antara dua pihak dengan kata bayna, seperti (بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً, baynakum mawaddatan) yang berarti "di antara kalian kasih sayang" di 30:21. Di 42:23 kasih sayang itu ditaruh (فِي الْقُرْبَىٰ, fii l-qurbaa) yang berarti "dalam kekerabatan". Kata (الْقُرْبَىٰ, l-qurbaa) berakar ق-ر-ب dan ada di sebelas ayat, yaitu 2:83, 2:177, 4:8, 4:36, 8:41, 16:90, 17:26, 24:22, 30:38, 42:23, dan 59:7. Di sepuluh ayat selain 42:23 kata itu mengikuti kata yang berarti "pemilik", dalam bentuk dzii, dzaa, dzawii, atau uluu, seperti (وَذِي الْقُرْبَىٰ, wa-dzi l-qurbaa) di 2:83 dan (أُولُو الْقُرْبَىٰ, uluu l-qurbaa) di 4:8. Di 42:23 kata itu didahului kata depan fii, sehingga ayat ini tidak menyebut kekerabatan milik siapa. Terjemahan memilih "karena kekerabatan", yang menaruh kekerabatan sebagai alasan kasih sayang itu, dan bacaan "dalam kekerabatan", yang mengikuti arti fii, juga sesuai dengan Arabnya.

Kata kerja (يَقْتَرِفْ, yaqtarif) berakar ق-ر-ف dan muncul lima kali di empat ayat, yaitu dua kali di 6:113, lalu di 6:120, 9:24, dan 42:23. Di 6:120, (يَكْسِبُونَ الْإِثْمَ, yaksibuuna l-itsma) disusul (بِمَا كَانُوا يَقْتَرِفُونَ, bi-maa kaanuu yaqtarifuuna) tentang orang yang mengerjakan dosa, di 9:24, (وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا, wa-amwaalun qtaraftumuuhaa) menyebut harta yang diperoleh, dan di 42:23, (وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً, wa-man yaqtarif hasanatan) menyebut kebaikan. Karena kata kerja ini menampung dosa, harta, dan kebaikan, terjemahan 42:23 memakai kata netral "mengerjakan" dan membiarkan benda yang dikerjakan menentukan muatannya. Kebaikan dan tambahannya berasal dari akar yang sama, ح-س-ن: (حَسَنَةً, hasanatan) ada di tujuh ayat, yaitu 2:201, 4:40, 4:85, 7:156, 16:41, 16:122, dan 42:23, sedangkan (حُسْنًا, husnan) ada di lima ayat, yaitu 2:83, 18:86, 27:11, 29:8, dan 42:23. Di (نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا, nazid lahu fiihaa husnan) kata ganti perempuan pada fiihaa menunjuk hasanah, sehingga tambahan itu terletak di dalam kebaikan yang dikerjakan.

Kata (شَكُورٌ, syakuurun) berakar ش-ك-ر dan ada di empat ayat, yaitu 35:30, 35:34, 42:23, dan 64:17. Bunyi (غَفُورٌ شَكُورٌ, ghafuurun syakuurun) ada di tiga ayat, yaitu 35:30, 35:34, dan 42:23. Di 35:30, (وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ, wa-yaziidahum min fadhlihi) yang berarti "dan menambah bagi mereka dari karunia-Nya" langsung disusul (إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ, innahu ghafuurun syakuurun). Akar yang sama dipakai untuk manusia di 14:7, (لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ, la-in syakartum la-aziidannakum) yang berarti "sungguh jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah bagi kalian". Karena itu terjemahan memakai "bersyukur" bila pelakunya manusia dan "pengganjar" bila pelakunya Allah, dan sifat pengampun yang mendahuluinya diterjemahkan huruf kecil karena tidak bertakrif.

Tafsiran

Ayat ini menaruh kabar gembira di depan dan permintaan sesudahnya. Orang yang digembirakan menerima kabar itu lebih dulu, lalu pembicara diperintahkan mengucapkan kalimat yang menyangkal imbalan dan mengecualikan kasih sayang. Kata ganti pada 'alayhi berbentuk lelaki tunggal, sehingga penyangkalan itu dapat dibaca mengenai kabar gembira yang baru disebut, meski ayat tidak menuliskan rujukannya.

Pembicara dalam kalimat itu diperintah dengan kata qul, dan kata kalian tidak diberi keterangan siapa yang dimaksud. Pengecualiannya diletakkan dalam bentuk hubungan, yaitu kasih sayang yang berkaitan dengan kekerabatan. Pada sepuluh ayat lain tempat kata kekerabatan muncul, pemiliknya dituliskan, sedangkan di sini tidak. Ayat 42:24 menyusul dengan tuduhan bahwa kebohongan diada-adakan atas nama Allah, dan penyangkalan imbalan di 42:23 berada tepat sebelum tuduhan itu.

Janji tambahan di ayat ini mengulang gerak yang sudah muncul di 42:20. Di sana (نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ, nazid lahu fii hartsihi) yang berarti "Kami tambahkan baginya dalam ladangnya" mengikuti orang yang menghendaki ladang akhirat, dan di sini (نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا, nazid lahu fiihaa husnan) yang berarti "Kami tambahkan baginya padanya kebaikan" mengikuti orang yang mengerjakan kebaikan. Kehendak dan perbuatan, dua hal yang berbeda, sama-sama disusul bunyi nazid lahu, dan kedua kali tambahan itu ditaruh di dalam sesuatu yang telah disebut. Ayat 42:26 melanjutkan dengan (وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ, wa-yaziiduhum min fadhlihi) yang berarti "dan menambah bagi mereka dari karunia-Nya", sehingga tambahan hadir tiga kali dalam rangkaian 42:20 sampai 42:26.

Dua sifat penutup menyambung kalimat tambahan itu. Ayat 42:19 ditutup dengan dua sebutan tentang kekuatan, dan 42:23 ditutup dengan dua sebutan tentang pengampunan dan ganjaran. Sebutan pengampun diletakkan lebih dulu daripada pengganjar, dan di 35:30 serta 35:34 urutannya sama.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut kabar gembira dari Allah lebih dulu, dan baru sesudahnya kalimat tentang imbalan. Orang yang digembirakan menerima sesuatu sebelum diminta apa pun. Pembaca yang pernah menolong, mengajar, atau memberi tahu orang lain dapat memeriksa urutan pada dirinya sendiri, yaitu apakah pemberian datang lebih dulu atau tuntutan lebih dulu. Allah memulai dengan kabar gembira dan baru kemudian menyebut apa yang tidak diminta. Dalam hubungan pembaca dengan orang yang pernah dibantunya, kalimat mana yang lebih dulu terucap?
  • Kalimat yang diperintahkan Allah untuk diucapkan menyangkal imbalan lalu mengecualikan sesuatu yang diberi nama. Pembaca yang membantu orang lain dapat menyimpan pengecualian yang tidak pernah diucapkan, misalnya tidak meminta apa pun kecuali rasa hormat, balasan, atau pengakuan. Ayat ini menyebut pengecualiannya dengan jelas, yaitu kasih sayang dalam kekerabatan, sehingga tidak ada yang tersembunyi di balik kata tidak meminta. Apa pengecualian yang tersimpan dalam kalimat aku tidak meminta apa-apa milik pembaca sendiri, dan sudahkah pengecualian itu diberi nama?
  • Kata kekerabatan di ayat ini tidak didahului kata pemilik, sehingga milik siapa kekerabatan itu tidak tertulis. Allah menyuruh mengucapkan kalimat itu tanpa menaruh nama di dalamnya. Pembaca dapat membaca kekerabatan di ayat ini bersama kekerabatan yang dikenalnya sendiri: orang tua, saudara, sepupu, atau kerabat jauh yang namanya hampir terlupa. Siapa dalam lingkar kerabat pembaca yang sudah lama tidak menerima kasih sayang darinya, dan apa yang menahan kasih sayang itu?
  • Tambahan di ayat ini ditaruh di dalam kebaikan yang dikerjakan, dengan kata ganti yang menunjuk kebaikan itu sendiri. Kebaikan yang besar atau kecil, baru atau lama, tidak dibedakan di sana. Pembaca dapat menelusuri satu kebaikan yang dikerjakannya bertahun lalu dan sudah terlupa, lalu bertanya apakah tambahan yang disebut Allah di ayat ini ditujukan juga kepada kebaikan seperti itu. Ayat tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi bentuk kata gantinya menunjuk kebaikan yang sama dengan yang dikerjakan, bukan kebaikan yang lain.
  • Pengampun disebut berdampingan dengan pengganjar di akhir ayat ini, dan keduanya muncul sesudah kalimat tentang tambahan. Pembaca yang menilai dirinya, entah dengan catatan dosa atau dengan catatan kebaikan, dapat memperhatikan bahwa Allah tidak memisahkan kedua sifat itu ke dua ayat. Setelah kalimat tambahan, sifat pengampun disebut lebih dulu dan sifat pengganjar sesudahnya. Sifat mana yang diharapkan pembaca lebih dulu ketika membaca tentang dirinya, dan apakah urutan harapan itu sama dengan urutan di ayat ini?
  • Kata kerja mengerjakan di ayat ini menyertai kebaikan, sedangkan di 6:120 bentuk dari akar yang sama menyertai dosa dan di 9:24 menyertai harta. Kata kerja itu menampung ketiganya, dan muatannya datang dari benda yang dikerjakan. Pembaca yang menimbang kegiatan hari ini dapat memperhatikan bahwa kata kerja yang sama dipakai untuk pekerjaan yang berlainan arah, dan bahwa Allah menyebut tambahan sesudah kata kerja itu bertemu kebaikan. Dari semua yang dikerjakan pembaca hari ini, benda apa yang paling sering menjadi objek kata kerja itu?