وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahan-kesalahan, mengetahui apa yang kalian kerjakan,

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِwa-huwa lladzii yaqbalu t-tawbata 'an 'ibaadihidan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya
  2. وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِwa-ya'fuu 'ani s-sayyi'aatidan memaafkan kesalahan-kesalahan
  3. وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَwa-ya'lamu maa taf'aluunadan mengetahui apa yang kalian kerjakan

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. وَهُوَwa-huwadan Dialah
  2. الَّذِيlladziiyang
  3. يَقْبَلُyaqbalumenerima
  4. التَّوْبَةَt-tawbatatobat
  5. عَنْ'andari
  6. عِبَادِهِ'ibaadihihamba-hamba-Nya
  7. وَيَعْفُوwa-ya'fuudan Dia memaafkan
  8. عَنِ'anidari
  9. السَّيِّئَاتِs-sayyi'aatikeburukan
  10. وَيَعْلَمُwa-ya'lamudan Dia mengetahui
  11. مَاmaaapa yang
  12. تَفْعَلُونَtaf'aluunakalian kerjakan

Inti bacaan

Rangkaian (يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ, yaqbalu t-tawbata 'an 'ibaadihi) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 9:104 dan 42:25.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَهُوَ الَّذِي, wa-huwa lladzii) yang berarti "dan Dialah yang", tersusun dari wa yang berarti "dan", huwa yang berarti "Dia", dan lladzii yang berarti "yang". Pembuka dengan tiga bagian yang sama muncul 28 kali di 13 surah, yaitu 6:60, 6:72, 6:73, 6:97, 6:98, 6:99, 6:114, 6:141, 6:165, 7:57, 11:7, 13:3, 16:14, 21:33, 22:66, 23:78, 23:79, 23:80, 25:47, 25:48, 25:53, 25:54, 25:62, 30:27, 42:25, 42:28, 43:84, dan 48:24. Dua di antaranya ada di surah ini, yaitu 42:25 dan 42:28. Ayat 42:24 menyebut nama Allah berkali-kali, sehingga kata ganti huwa di awal 42:25 menunjuk kepada-Nya, dan terjemahan memakai "Dia" dengan huruf besar.

Kata kerja pertama adalah (يَقْبَلُ, yaqbalu) yang berarti "menerima", dari akar ق-ب-ل. Bentuknya menandai perbuatan yang sedang atau terus berlangsung, dengan satu pelaku laki-laki. Kata kerja itu diikuti (التَّوْبَةَ, t-tawbata) yang berarti "tobat", dari akar ت-و-ب, lalu (عَنْ عِبَادِهِ, 'an 'ibaadihi) yang berarti "dari hamba-hamba-Nya", yang menunjuk asal tobat itu. Rangkaian tiga kata (يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ, yaqbalu t-tawbata 'an 'ibaadihi) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 9:104 dan 42:25. Di 9:104 rangkaian itu berada di dalam pertanyaan (أَلَمْ يَعْلَمُوا, a-lam ya'lamuu) yang berarti "tidakkah mereka mengetahui", sedangkan di 42:25 rangkaian itu berdiri sebagai pernyataan yang langsung mengikuti pembuka. Kata ganti -hi pada 'ibaadihi menunjuk Dia, dan bentuk itu hadir di tiga ayat surah ini, yaitu 42:19, 42:25, dan 42:27.

Kata kerja kedua adalah (وَيَعْفُو, wa-ya'fuu) yang berarti "dan memaafkan", dari akar ع-ف-و. Bentuk kata kerja ini, dengan satu pelaku laki-laki dan tanpa penanda perintah atau tujuan, muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 5:15, 42:25, dan 42:30. Di 5:15 pelakunya rasul yang disebut dalam ayat itu, sedangkan di 42:25 pelakunya Dia yang disebut pada pembuka. Yang dimaafkan ditunjuk oleh (عَنِ السَّيِّئَاتِ, 'ani s-sayyi'aati) yang berarti "dari kesalahan-kesalahan", dan susunan memaafkan dengan kata itu hanya ada di ayat ini. Kata s-sayyi'aati diterjemahkan "keburukan" pada (يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ, ya'maluuna s-sayyi'aati) di 4:18, karena di sana kata itu dikerjakan orang. Di 11:114, pada (يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ, yudzhibna s-sayyi'aati) yang berarti "menghapus kesalahan-kesalahan", kata yang sama berada di tangan pihak yang menghapusnya. Ayat ini sejalan dengan 11:114 dan memakai "kesalahan-kesalahan", sebab sesuatu itu sedang dimaafkan.

Kata kerja ketiga adalah (وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ, wa-ya'lamu maa taf'aluuna) yang berarti "dan mengetahui apa yang kalian kerjakan". Bagian (تَفْعَلُونَ, taf'aluuna) memakai kata ganti kalian, yaitu orang kedua jamak, padahal dua kata kerja sebelumnya menyebut hamba-hamba-Nya dengan -hi, yaitu orang ketiga. Perpindahan itu terjadi di tengah satu kalimat, dan ayat tidak menyebut siapa yang dimaksud dengan kalian. Rangkaian (مَا تَفْعَلُونَ, maa taf'aluuna) muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 16:91, 27:88, 42:25, dan 82:12. Dengan kata kerja mengetahui di depannya, rangkaian itu muncul tiga kali: (يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ, ya'lamu maa taf'aluuna) di 16:91 dan 42:25, serta (يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ, ya'lamuuna maa taf'aluuna) di 82:12 dengan pelaku jamak. Di 27:88 rangkaian itu mengikuti kata lain, yaitu (خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ, khabiirun bimaa taf'aluuna) yang berarti "waskita terhadap apa yang kalian kerjakan".

Terjemahan mengakhiri ayat dengan koma karena kalimatnya berlanjut ke 42:26, yang dibuka dengan (وَيَسْتَجِيبُ, wa-yastajiibu) dan disambung huruf wa seperti ketiga kata kerja di ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini memindahkan pembicaraan dari tuduhan ke sifat. Ayat 42:24 memuat tuduhan bahwa ada yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah dan ditutup dengan pernyataan bahwa Dia berilmu akan isi dada, sedangkan 42:25 tidak lagi menjawab siapa pun dan menyebut tiga pekerjaan Allah yang sedang berlangsung: menerima tobat, memaafkan kesalahan, dan mengetahui perbuatan. Ketiganya disambung dengan huruf wa yang sama, tanpa kata penghubung yang menunjukkan bahwa yang satu membatasi yang lain.

Urutan itu menaruh pengetahuan di ujung. Ayat 42:24 berakhir pada isi dada, yaitu yang tersimpan di dalam, dan 42:25 berakhir pada perbuatan, yaitu yang keluar menjadi tindakan. Dua ayat yang berurutan menutup dengan pengetahuan Allah atas dua sisi manusia, sehingga kalimat tentang tobat dan maaf berada di tengah pengetahuan itu dan tidak dipisahkan darinya.

Ayat ini juga tidak memuat syarat. Ayat 4:17 menyebut tobat yang dilakukan segera setelah kesalahan, dan 4:18 menolak tobat yang baru diucapkan ketika kematian sudah datang. Keduanya berbicara tentang saat dan keadaan orang yang bertobat, sedangkan 42:25 berbicara tentang siapa yang menerima. Karena itu ketiga ayat tidak saling bertentangan. Masing-masing menjawab pertanyaan yang berbeda, dan pembaca perlu membaca ketiganya bersama bila ingin tahu baik penerimanya maupun batas waktunya.

Perpindahan dari "hamba-hamba-Nya" ke "kalian" di akhir ayat membuat pernyataan tentang tobat dan maaf, yang semula terdengar seperti keterangan tentang orang lain, berubah menjadi sapaan kepada pendengar. Kalimatnya belum selesai di sana, sebab 42:26 melanjutkannya dengan hal yang Dia lakukan kepada orang beriman dan yang menanti orang kafir.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja menerima tobat di ayat ini berbentuk perbuatan yang sedang berlangsung, bukan peristiwa yang sudah selesai. Dengan bentuk itu, penerimaan tobat digambarkan sebagai pekerjaan yang terus dilakukan Allah, sehingga orang yang kembali hari ini tidak sedang mengetuk pintu yang hanya terbuka sekali di masa lalu. Orang yang pernah berkata kepada dirinya sendiri bahwa dirinya sudah terlalu sering gagal dapat melihat bahwa ayat ini tidak menghitung jumlah kegagalan. Ayat ini menyebut apa yang Dia kerjakan, dan pekerjaan itu belum berhenti. Bila ayat ini tidak memuat hitungan kegagalan, dari mana datangnya hitungan yang selama ini dibawa seseorang?
  • Menerima tobat, memaafkan, dan mengetahui disambung dengan huruf yang sama dalam satu kalimat. Pengetahuan Allah ditulis sebagai pekerjaan ketiga dengan huruf yang sama, tanpa kata yang menandainya sebagai ancaman atau syarat. Orang yang menyimpan satu kesalahan dapat membayangkan dua pilihan yang tidak bisa dipertemukan: bila Dia tahu, orang itu tidak diampuni, dan bila orang itu ingin diampuni, harapannya adalah Dia tidak tahu. Ayat ini menjadikan Dia pelaku ketiganya: menerima, memaafkan, dan mengetahui. Pembaca bisa memeriksa apakah kesalahan yang paling ingin disembunyikannya adalah kesalahan yang paling takut dibawanya ke hadapan Dia yang sudah mengetahuinya.
  • Orang yang tobatnya diterima disebut dengan satu sebutan, yaitu hamba-hamba-Nya, dan ayat tidak memberi mereka nama lain seperti pendosa atau pelanggar. Sebutan yang sama dipakai di 42:19 untuk hamba-hamba yang kepada mereka Dia halus dan di 42:27 untuk hamba-hamba yang rezekinya Dia ukur. Dalam surah yang sama, orang yang bertobat dan orang yang diberi rezeki memakai nama yang sama di hadapan Allah. Seseorang yang menyebut dirinya dengan kata paling buruk sesudah berbuat salah bisa bertanya, nama manakah yang dipakai Dia ketika menyebutnya, dan dari mana nama yang lebih keras itu diambil?
  • Dua kata kerja pertama berbicara tentang hamba-hamba-Nya sebagai pihak ketiga, lalu kata kerja ketiga tiba-tiba berbicara kepada kalian. Pembaca yang mengikuti ayat ini sebagai keterangan tentang orang lain mendapati dirinya dipanggil pada bagian terakhir, tepat ketika yang disebut adalah perbuatan. Perpindahan itu tidak memberi tahu siapa kalian, sehingga setiap pembaca yang sampai di sana menjadi orang yang dimaksud. Orang yang biasa menyimpan ayat tentang tobat untuk orang lain dapat bertanya, di bagian ayat yang manakah dirinya berhenti menganggapnya sebagai pembicaraan tentang orang lain?
  • Ayat 42:24 menutup dengan pengetahuan Allah atas isi dada, dan 42:25 menutup dengan pengetahuan-Nya atas perbuatan. Satu ayat menyebut apa yang disimpan di dalam, ayat berikutnya menyebut apa yang dikerjakan di luar, dan keduanya berada di sisi kalimat yang sama dengan tobat dan maaf. Seseorang yang pernah melakukan sesuatu tanpa seorang pun melihatnya bisa menemukan bahwa dua ayat yang berdampingan ini tidak menyisakan tempat yang hanya diketahui dirinya. Ayat yang sama juga menyebut bahwa Dia memaafkan. Bila perbuatan yang tak terlihat siapa pun ternyata diketahui Dia, apa yang berubah pada cara seseorang membawa perbuatan itu sepanjang hari?
  • Terjemahan ayat ini berakhir dengan koma, karena kalimatnya terus berjalan ke 42:26. Pembaca yang berhenti di titik ini hanya memegang tiga pekerjaan Allah yang disebut tadi, sedangkan hal berikutnya, yaitu memperkenankan orang beriman, menambah karunia-Nya, dan azab bagi orang kafir, masih berada di ayat sesudahnya. Orang yang bertobat pun dapat berhenti di tengah kalimat, yaitu pada saat orang itu merasa sudah diterima tetapi belum melihat apa yang Dia lakukan sesudahnya. Bila ayat ini sendiri menolak berhenti dengan titik, apakah seseorang boleh menutup cerita tobatnya dengan titik sebelum membaca ayat yang menyusul?