وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

Seandainya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di bumi. Akan tetapi, Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia waskita, melihat hamba-hamba-Nya.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِwa-law basatha llaahu r-rizqa li-'ibaadihi la-baghaw fii l-ardhiseandainya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan melampaui batas di bumi
  2. وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُwa-laakin yunazzilu bi-qadarin maa yasyaa'uakan tetapi, Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki
  3. إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌinnahu bi-'ibaadihi khabiirun bashiirunsesungguhnya Dia waskita, melihat hamba-hamba-Nya

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. وَلَوْwa-lawdan sekiranya
  2. بَسَطَbasathamelapangkan
  3. اللَّهُllaahuAllah
  4. الرِّزْقَr-rizqarezeki
  5. لِعِبَادِهِli-'ibaadihibagi hamba-hamba-Nya
  6. لَبَغَوْاla-baghawsungguh mereka akan melampaui batas
  7. فِيfiidi
  8. الْأَرْضِl-ardhibumi
  9. وَلَٰكِنْwa-laakintetapi
  10. يُنَزِّلُyunazzilumenurunkan
  11. بِقَدَرٍbi-qadarindengan ukuran
  12. مَاmaaapa yang
  13. يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
  14. إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
  15. بِعِبَادِهِbi-'ibaadihipada hamba-hamba-Nya
  16. خَبِيرٌkhabiirunmengetahui
  17. بَصِيرٌbashiirunmelihat

Inti bacaan

Rangkaian (يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ, yabsuthu r-rizqa li-man yasyaa'u) muncul sembilan kali di Al-Qur'an, yaitu di 13:26, 17:30, 28:82, 29:62, 30:37, 34:36, 34:39, 39:52, dan 42:12.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan pengandaian (وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ, wa-law basatha llaahu r-rizqa li-'ibaadihi) yang berarti "dan seandainya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya". Kata (لَوْ, law) yang berarti "seandainya" membuka keadaan yang tidak terjadi, sebab bagian sesudah (وَلَٰكِنْ, wa-laakin) yang berarti "akan tetapi" menyebut keadaan yang sebenarnya. Kata kerja (بَسَطَ, basatha) yang berarti "melapangkan" berakar ب-س-ط, dan bentuk lampaunya ini muncul sekali di Al-Qur'an, yaitu di 42:27. Bentuk yang sedang berlangsung, (يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ, yabsuthu r-rizqa li-man yasyaa'u) yang berarti "melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki", muncul sembilan kali di delapan surah, yaitu 13:26, 17:30, 28:82, 29:62, 30:37, 34:36, 34:39, 39:52, dan 42:12. Di kesembilan ayat itu penerima pelapangan adalah sebagian orang, yaitu "siapa yang Dia kehendaki". Di 42:27 penerimanya ditulis (لِعِبَادِهِ, li-'ibaadihi) yang berarti "kepada hamba-hamba-Nya", yaitu semua hamba, dan susunan (الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ, r-rizqa li-'ibaadihi) hanya ada di ayat ini.

Akibat pengandaian itu ditulis (لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ, la-baghaw fii l-ardhi) yang berarti "niscaya mereka akan melampaui batas di bumi". Awalan la- menegaskan akibatnya, dan kata kerja baghaw berakar ب-غ-ي. Bentuk la-baghaw muncul sekali di Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Ayat ini menyebut tempat perbuatannya, yaitu bumi, dan tidak menyebut pihak yang dirugikan. Dua ayat lain menyebut tempat yang sama dengan kata kerja berakar sama, yaitu (يَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ, yabghuuna fii l-ardhi) di 10:23 dan 42:42, dan keduanya disusul (بِغَيْرِ الْحَقِّ, bi-ghayri l-haqqi) yang berarti "tanpa hak". Di 42:42 kata kerja itu juga bersanding dengan (يَظْلِمُونَ النَّاسَ, yazhlimuuna n-naasa) yang berarti "menzalimi manusia". Ayat 42:27 tidak memuat keterangan semacam itu, sehingga terjemahan memakai "melampaui batas" dan tidak menambahkan sasaran atau kata "tanpa hak".

Bagian kedua adalah (وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ, wa-laakin yunazzilu bi-qadarin maa yasyaa'u) yang berarti "akan tetapi, Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki". Kata kerja (يُنَزِّلُ, yunazzilu) yang berarti "menurunkan" berakar ن-ز-ل dan tidak menyebut apa yang diturunkan. Di 40:13, (وَيُنَزِّلُ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ رِزْقًا, wa-yunazzilu lakum mina s-samaa'i rizqan) yang berarti "dan menurunkan rezeki dari langit untukmu", kata kerja yang sama menyebut rezeki sebagai benda yang diturunkan, dan di 42:28 benda itu adalah hujan. Terjemahan 42:27 mempertahankan ketiadaan objek. Kata (بِقَدَرٍ, bi-qadarin) yang berarti "dengan ukuran" berakar ق-د-ر dan muncul lima kali di lima surah, yaitu 15:21, 23:18, 42:27, 43:11, dan 54:49. Di 23:18 dan 43:11 air diturunkan dengan ukuran, (مَاءً بِقَدَرٍ, maa'an bi-qadarin). Di 15:21 kata kerja penurunan yang sama dipakai untuk segala sesuatu: (وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ, wa-maa nunazziluhu illaa bi-qadarin ma'luumin) yang berarti "dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu". Di 54:49 penciptaan berlangsung dengan ukuran, (خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ, khalaqnaahu bi-qadarin). Terjemahan memakai "ukuran" untuk kelimanya. Kata (مَا يَشَاءُ, maa yasyaa'u) dapat dibaca sebagai penjelas ukuran, yaitu "ukuran yang Dia kehendaki", dan terjemahan memilih bacaan itu. Bacaan lain menjadikannya benda yang diturunkan, yaitu "apa yang Dia kehendaki", dan kedua bacaan menghasilkan hal yang sama: ukurannya ditentukan oleh kehendak-Nya.

Bagian terakhir adalah (إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ, innahu bi-'ibaadihi khabiirun bashiirun) yang berarti "sesungguhnya Dia waskita, melihat hamba-hamba-Nya". Kata (خَبِيرٌ, khabiirun) yang berarti "waskita" berakar خ-ب-ر, dan (بَصِيرٌ, bashiirun) yang berarti "melihat" berakar ب-ص-ر. Kedua kata bersanding di lima ayat pada tiga surah, yaitu (خَبِيرًا بَصِيرًا, khabiiran bashiiran) di 17:17, 17:30, dan 17:96, serta (خَبِيرٌ بَصِيرٌ, khabiirun bashiirun) di 35:31 dan 42:27. Di kelima ayat itu pasangan kata tersebut berhubungan dengan hamba-hamba-Nya. Ayat 17:30 paling dekat dengan 42:27: kalimat tentang pelapangan dan penyempitan rezeki di sana juga ditutup dengan pasangan ini.

Tafsiran

Ayat ini memberi alasan bagi sesuatu yang di ayat lain hanya disebut sebagai kehendak. Sembilan ayat tentang pelapangan rezeki, yang dihitung di bagian penjelasan, menyebut pelapangan dan penyempitan bagi siapa yang Dia kehendaki, tanpa pengandaian bahwa semua hamba dilapangkan. Ayat 42:27 membuat pengandaian itu: bila semua hamba dilapangkan, akibatnya adalah melampaui batas di bumi. Alasan ini bertumpu pada keadaan manusia yang menerima rezeki, dan ayat tidak menyebut seberapa lapang rezeki itu supaya akibat tersebut muncul.

Ayat ini terletak di tengah rangkaian pernyataan tentang apa yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya. Ayat 42:25 menyebut penerimaan tobat dan pemaafan, 42:26 menyebut penambahan karunia bagi orang beriman, 42:27 menyebut rezeki yang diturunkan dengan ukuran, dan 42:28 menyebut hujan sesudah orang berputus asa. Ayat 42:25 ditutup dengan pengetahuan Dia atas perbuatan dan 42:27 dengan sifat waskita dan melihat hamba-hamba-Nya, sedangkan 42:26 ditutup dengan azab bagi orang kafir dan 42:28 dengan dua nama, Sang Pelindung dan Sang Terpuji.

Ada ketegangan yang tidak diselesaikan teksnya. Ayat 42:26 menyebut Dia menambah bagi orang beriman dari karunia-Nya tanpa menyebut batas, dan 42:27 menyebut Dia menurunkan dengan ukuran. Ayat 42:27 tidak menyatakan apakah tambahan karunia itu berada di dalam ukuran atau di luarnya. Pembaca yang menaruh keduanya berdampingan mendapati dua gambaran tentang pemberian: yang satu bertambah, yang lain terukur, dan keduanya diucapkan oleh Dia yang sama dalam surah yang sama.

Pasangan kata di penutup menyertai ukuran itu, sebab yang menurunkannya waskita dan melihat hamba-hamba-Nya. Ayat 42:19 sudah menyebut Dia halus terhadap hamba-hamba-Nya dalam kalimat yang sama dengan pemberian rezeki, sehingga 42:27 dapat dibaca sebagai penjelasan lanjutan dari kalimat itu.

Renungan dan Hikmah

  • Pengandaian ayat ini ditujukan kepada semua hamba-Nya, tanpa memilih kelompok yang sudah dikenal berperilaku buruk. Akibatnya ditulis sebagai melampaui batas di bumi, dan kata mereka di sana mencakup siapa saja yang menerima kelapangan. Orang yang membayangkan dirinya akan tetap lurus seandainya semua kebutuhan terpenuhi dapat membaca bahwa ayat ini menaruh pengandaian itu pada hamba-hamba secara umum, tanpa mengecualikan siapa pun. Bila rezeki dilapangkan seluas-luasnya bagi pembaca, apa yang membuatnya yakin bahwa dirinya akan menjadi pengecualian dari hamba-hamba yang disebut di ayat ini?
  • Ayat ini mengaitkan ukuran dengan kehendak Dia, dan ayat tidak mengaitkannya dengan kedudukan seseorang. Orang yang menjumpai rezekinya lebih sedikit daripada orang lain dapat menyadari bahwa ayat ini tidak memuat kalimat yang menyamakan sedikit dengan rendah. Tidak ada kata di ayat ini yang menyuruh pembaca menarik kesimpulan tentang harga dirinya sendiri dari ukuran yang diterimanya. Apakah kesimpulan seperti itu muncul dari ayat, atau dari perbandingan yang dibawa pembaca sendiri?
  • Ayat ini ditutup dengan dua sifat, yaitu waskita dan melihat, dan keduanya dikenakan kepada Dia yang baru saja menyebut ukuran. Penurunan dengan ukuran dan penglihatan terhadap hamba-hamba-Nya disambung dalam satu kalimat, sehingga pengukuran itu tidak dilakukan dari jauh tanpa mengetahui keadaan penerimanya. Orang yang merasa kebutuhannya tidak diperhatikan dapat menemukan bahwa ayat ini menaruh penglihatan di ujung kalimat tentang ukuran, setelah semuanya disebut. Bila Dia yang menurunkan ukuran juga melihat hamba-hamba-Nya satu per satu, di bagian hidup mana seseorang masih merasa tidak terlihat?
  • Perbuatan melampaui batas di ayat ini ditempatkan di bumi, yaitu ruang yang dipakai bersama banyak orang, bukan di dalam diri. Ayat 42:42 memakai tempat yang sama untuk perbuatan menzalimi manusia dan berbuat aniaya tanpa hak. Ayat 42:27 tidak menyebut korbannya, tetapi tempat yang dipilihnya adalah tempat orang lain berada. Orang yang mengira kelebihan hartanya hanya urusan pribadi dapat memperhatikan bahwa ayat ini membayangkan akibatnya muncul di ruang bersama. Di bagian bumi yang manakah, di sekitar seseorang, kelebihan itu pertama kali akan terasa oleh orang lain?
  • Kata kerja menurunkan di ayat ini berbentuk perbuatan yang sedang berlangsung, bukan peristiwa yang sudah selesai. Ayat berikutnya memakai kata kerja yang sama untuk hujan, sehingga penurunan dengan ukuran dapat terbaca sebagai sesuatu yang terjadi dari hari ke hari. Orang yang menghitung rezekinya sebagai angka sekali jadi di akhir bulan dapat memperhatikan bahwa ayat ini menyebutnya sebagai penurunan yang berlanjut, dan yang menurunkannya tetap Dia. Ayat tidak menyebut apa yang diturunkan, sehingga pembaca dapat mengisinya dengan hal yang diterimanya hari ini. Apa yang diturunkan kepada pembaca pagi ini, dengan ukuran yang tidak pernah ditentukannya sendiri?
  • Dalam surah yang sama, 42:19 menyebut Allah halus terhadap hamba-hamba-Nya dan memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki, lalu 42:27 menyebut Dia menurunkan dengan ukuran dan waskita terhadap hamba-hamba-Nya. Kata halus dan kata waskita sama-sama dikenakan kepada hubungan Dia dengan hamba-hamba-Nya, di kalimat yang sama dengan pemberian. Orang yang merasakan pembatasan sebagai kekerasan dapat membaca dua ayat itu berdampingan dan melihat bahwa surah ini menaruh kehalusan di dekat ukuran. Bila kedua ayat ditulis oleh Dia yang sama, apa yang berubah pada cara seseorang menamai pembatasan yang sedang dialaminya?